Oct 4, 2010

Terlalu Pahit

Semakin dalam saja pekatnya
Pahit terasa
Menjalar ke ubun-ubun
dan mematikan urat untuk berpikir

Sekarang pahitnya sudah menjadi-jadi
Satu tegukan adalah seribu kepahitan bersarang

Baiklah akan kukalahkan pahit ini
Sampai esok fajar menyapa



Sep 21, 2010

Rock In Solo IV: Summer Metal Fest




Jika beberapa hari yang lalu Anda bertanya kepada metalheads yang ada di Solo dan sekitarnya tentang berapakah nomor keramat untuk metal, mungkin yang akan Anda dapati dari sebagian besar mereka adalah bukan 666 melainkan 170910. Itu bukan nomor togel yang tembus tadi malam juga bukan angka setan generasi baru melainkan itu adalah tanggal dimana Rock In Solo IV diadakan. Tak tanggung-tanggung kali ini The Think sebagai event organizer acara ini membawa dedengkot death metal asal Texas, Dying Fetus. Setelah beberapa tahun yang lalu Solo "hanya" disambangi oleh band-band "muda" dari luar negeri, saatnya kini para dedengkot metal bersilaturahmi dengan metalheads kota Solo dan sekitarnya. Ini juga terbukti dengan kumpulnya para dedengkot-dedengkot metal lawas dari Indonesia yang berkumpul dan kembali ke fitri dengan bereuni kembali di Rock In Solo IV beberapa hari yang lalu. Sebut saja Dony Iblis, Man Jasad dan masih banyak lagi dedengkot-dedengkot metal yang menyambangi kota solo di acara Rock In Solo IV.

Rock In Solo tahun ini berbeda dengan Rock In Solo tahun-tahun yang lalu. Karena tahun ini konsep dua panggung menjadi pilihan. Dan sound dengan kekuatan puluhan ribu watt menjadi syarat wajib sebagai unsur penunjang summer metal fest yang konon terbesar di Jawa Tengah ini.
Atau mungkin di Indonesia? Memang jika dilihat dari animo penonton, acara ini memang benar-benar hebat. Stadion Sriwedari hampir terisi penuh. Mereka memang sedang berolahraga, tapi olahraga ala metal yaitu dengan pogo, moshing, slam dance, circle pit, wall of death dan stage diving Benar-benar olahraga yang menguras tenaga.

Berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah dibujuk oleh pawang hujan untuk tidak menurunkan hujan. Entah apa yang dilakukan pawang hujan kepada Tuhan sehingga Tuhan "enggan" mengirimkan air hujan ke kota Solo pada hari Jumat 17 September 2010 itu. Stadion Sriwedari sejak siang hari telah menghitam. Para metalheads mengantri dengan tertib menuju gerbang menuju surga yang telah terbakar. Pesta kali itu dimulai dengan penampilan band dari Sukoharjo bernama Beneath The Burning Skies. Saya tidak melihat mereka perform karena saya belum berada di tempat. Band kedua yang tampil adalah Breathing On Flames, saya hanya menyaksikan mereka sekilas tepatnya di lagu terakhir. Bankeray cukup pede untuk bisa bermain di Rock In Solo kali ini. Mereka juga membawakan lagu hits mereka yaitu "Putra Setan". Sisi Selatan sebuah band yang berasal dari sisi selatan dari Kota Solo yaitu Wonogiri nampaknya merebut hati saya.
Lagu-lagu bertema sosial dan politik nampaknya menjadi andalan dari mereka. Mereka membawakan sebuah lagu yang mereka persembahkan untuk Jalur Gaza. Band ini nampaknya akan menjadi rookie untuk beberapa saat ke depan.

Dan selanjutnya adalah kesempatan tarling pantura dengan kecepatan 200bpm, sebuah band yang terbaptis dari api dan alkohol, mereka menyebut diri mereka Matius III:II. Mereka meng-cover sebuah lagu dari Sepultura, dan selanjutnya biarkan mereka berkhotbah. Di second stage para hardcore kids sedang melompat-lompat dengan diiringi penampilan dari band negative hardcore kota Solo bernama Never Again. Sementara di main stage, band asal Surabaya yang membawakan power metal juga sedang bermain. Valerian menarik perhatian saya. Band ini nampaknya sangat antusias sekali bermain di Rock In Solo, berulang kali personel dari band ini mengangkat jempol untuk penonton.

Dan berlari-lari dari second stage ke main stage ataupun sebaliknya menjadi tontonan yang biasa. Saya juga mengalaminya. Kita harus benar-benar memprioritaskan band yang ingin ditonton ketika ada dua band yang sedang tampil bebarengan di dua panggung yang berbeda. Padahal band yang sedang bermain juga bagus-bagus, jadi pintar-pintarnya kita untuk bisa memilihnya. Setelah Valerian selesai perform, saya menuju second stage yang kala itu sebuah band dari Purwokerto bernama Pernicious Hate sedang melakukan aksi brutalnya. Saya tidak tahu apakah para personil dari band ini adalah petugas Dinas Kesehatan atau bukan, karena di tengah performnya, mereka membagi-bagikan kondom gratis rasa durian. Sambil berpesan, "Sayangi kontol kalian!!!" mereka terus menggempur crowd yang semakin liar. Di main stage ada Spirit Of Life yang menggempur para hardcore kids dan membuat crowd berloncat-loncat. Sementara saya masih berada di second stage tempat di mana salah satu punggawa Jogjakarta Corpse Grinder, Devoured masih setia memainkan death metal. Saya terkagum-kagum melihat mereka. Sementara crowd masih terlihat liar saja. Setelah Devoured tampil, giliran raja grindcore dari Solo, Take And Awake yang mengambil alih kekuasaan. Ketika Take And Awake perform, sebagian besar penonton lebih memilih menuju ke main stage yang ketika itu Bandoso menyihir penonton. Padahal di second stage ada pembagian free tape ketan yang dilakukan oleh Take And Awake. Saya sempat berpikir ketika setelah selesai makin' love dengan aman dengan menggunakan kondom kini saatnya untuk rehat sekejap dengan memakan tape ketan. Tidak sampai selesai saya melihat Take And Awake karena saya nampaknya harus juga memberi perhatian pada Bandoso. Masih seperti Bandoso yang dulu dan fans mereka masih sama juga dengan yang dulu di mana ketika mereka main pasti ada saja yang membawa dupa atau kemenyan. Seperti acara kemarin, ada fans yang membawa dupa untuk memberi sesaji kepada Sang Maha Gelap Maha Sesat.

Dan inilah yang saya nanti-nantikan. Masih legiun dari Yogyakarta. Cranial Incisored masih mengajarkan cara berhitung matematika secara cepat ala metal. Mereka sempat membawakan lagu barunya. Dan crowd masih diam tak berkutik, saya tidak tahu apakah diamnya terkagum-kagum melihat mereka ataukah bingung terhadap musikalitas mereka. Didiet sang vokalis sempat berceloteh agar sekali-sekali penonton sedikit bergerak, karena sama saja ketika mereka main di Yogya ataupun kota lain, penonton hanya bisa diam. Sekali lagi saya tegaskan, saya memuja Cranial Incisored !! Saya melewatkan tiga band terakhir yang perform di second stage yaitu Tragical Memories, From This Day dan Opium. Nama terakhir, menurut teman saya adalah penampil yang paling "gila" di second stage. Band dari Kota Kembang tersebut bermain cukup impresif dan liar, tapi sayang, saya melewatkannya. Saya lebih memilih band dari Singapura yang bernama Fall Of Mira. Band yang bermain di area metalcore ini cukup membuat crowd terpancing untuk moshing (termasuk saya di lagu terakhir mereka). Membawakan kurang lebih lima lagu, band ini juga terkagum-kagum melihat crowd Solo. Hadi, sang gitaris juga beberapa kali tersenyum gembira dan ia pun juga sempat melakukan push-up di atas panggung. Hadi juga sempat berkata, "I love mie bakso so much". Memang band ini sangat antusias untuk bermain di Rock In Solo, ini terbukti dari update status band ini di Facebook. Mereka sangat senang bermain di Rock In Solo.

Setelah Fall Of Mira selesai perform, acara dihentikan sebentar untuk break sholat maghrib dan isya'. Waktu yang lama ini saya sempatkan untuk membeli makanan dan minuman yang saya gunakan untuk mengganjal perut. Memang booth-booth makanan diperlukan di acara-acara seperti ini karena setelah "berolahraga" kita membutuhkan kalori yang cukup untuk "berolahraga" lagi. Sepotong junk food dan minuman dingin dan beberapa batang rokok cukup untuk mengganjal perut yang kosong. Dan setelah kurang lebih satu jam akhirnya suara gitar dan drum yang sedang di-check kembali terdengar, ini menandakan acara siap kembali dimulai. Pasukan Perang dari Rawa, Komunal, menjadi jawaban selama satu jam yang digunakan untuk break. Membuka dengan lagu "Ilmu Tentang Racun", Komunal menghajar crowd malam itu. Lagu yang mereka bawakan kebanyakan berasal dari album kedua mereka, Hitam Semesta. Mereka juga sempat membawakan sebuah lagu yang rencananya akan dimasukkan dalam album baru mereka yang rilis akhir tahun nanti. Saya sempat berharap mereka membawakan "Budaya Purba" dan ber-sing along bersama dalam "Higher Than Mountain II" akan tetapi itu tidak terwujud. Mereka menutup penampilannya dengan lagu "Pasukan Perang dari Rawa".

Selanjutnya bajingan-bajingan Kota Bengawan yang tergabung dalam Down For Life memanaskan ribuan Pasukan Babi Neraka (sebutan untuk fans mereka) untuk melakukan moshing secara berjamaah. Wall of death dan big circle pit juga sempat terbentuk. Akan tetapi menurut saya, performa Down For Life tidak seperti biasanya. Performa mereka kurang menggigit. Dan band selanjutnya yang tampil adalah Siksa Kubur. Ini adalah band yang sangat-sangat saya tunggu (selain Dying Fetus). Sebenarnya sekitar medio April 2009 band ini sempat datang ke Karanganyar, tapi saya hanya mendapatkan mereka membawakan lagu terakhir. Dan bulan April kemarin dalam rangkaian tour album baru mereka Tentara Merah Darah mereka juga sempat main di Solo, akan tetapi karena kesibukan saya akhirnya saya mengurungkan niat melihat mereka main. Dan di Rock In Solo beberapa hari yang lalu adalah penebusan dosanya. Mereka masuk diiringi simfoni dari intro album Tentara Merah Darah. Dilanjutkan dengan lagu "Anak Lelaki dan Serigala" band ini menggempur habis Solo. Japs sang vokalis sempat berkata, "Kami sebenarnya band dari pinggiran kota. Kami sempat merinding dilihat penonton segini banyaknya...". Siksa Kubur tetaplah Siksa Kubur. Walaupun mereka dari pinggiran kota mereka tetaplah Siksa Kubur. Fuck Yeah !!!! Performa mereka bisa dibilang sangat keren. "Pasukan Jiwa Terbelakang" mereka persembahkan kepada para fansnya. Dan mereka menutup penampilan mereka dengan lagu "Memoar Sang Pengobar". Memang lagu tersebut benar-benar menjadi pengobar semangat para metalheads saat itu untuk melihat The Almighty Dying Fetus tampil.

Maju ke depan merupakan pilihan bijak untuk saya. Menikmati mereka dari bagian depan dan melihat mereka secara langsung di depan mata merupakan kebanggaan yang patut untuk dibanggakan. Crowd memanggil-manggil "Dying Fetus...Dying Fetus...Dying Fetus!!!", diiringi dengan suara bass drum Trey Willimas yang hiperblasting yang sedang di-check. Dan tidak menunggu lama akhirnya Dying Fetus menampakkan diri. Crowd berteriak histeris seperti groupies yang melihat Justin Bieber di atas panggung. "Your Treachery Will Die With You" mejadi kickass song pertama. Crowd langsung meresponnya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, dan di bagian depan moshing sedang terjadi. Crowd tambah merangsek ke depan. Dan disalah satu lagu, John Gallagher meminta untuk membuat circle pit dan itu direspon crowd Solo dengan membuat circle pit yang besar. Jujur, Dying Fetus benar-benar gila!! Mereka tidak memberikan kesempatan penonton untuk mengambil nafas sejenak. Jeda antara satu lagu degan lagu lainnya hanya sebentar. Mereka juga hanya sebentar berdiaolog dengan penonton. Selanjutnya: LANGSUNG HAJAR!!! Permainan mereka sangat rapat, walaupun suara growl John kurang terdengar. Mereka juga sempat membawakan nomor-nomor wahid mereka seperti "Killing On Adrenaline", "One Shot One Kill", "Homicidal Retribution" dan mereka juga sempat membawakan lagu lama dari album pertama mereka Infatuation With Malevolence, berjudul "Eviscerated Offspring". Dan tak terasa kurang lebih satu jam Dying Fetus memekakkan telinga malam itu. Mereka menutup malam itu dengan lagu "Kill Your Mother and Rape Your Dog". Crowd berteriak, "we want more..we want more...we want more", tapi teriakan para penonton tidak membuat Dying Fetus untuk melakukan encore, mungkin karena terlalu lelah dan harus langsung menuju Jakarta keesokan paginya. Tapi Dying Fetus malam itu benar-benar memukau. Dan akan menjadi sejarah untuk dunia per-metal-an kota Solo ini, bahwa ada sebuah band dedengkot metal yang pernah bermain di kota kecil ini.

Rock In Solo IV akhirnya telah berakhir. Banyak wajah-wajah gembira dan puas setelah event ini berakhir. Satu hal: semoga Slayer bisa menjadi headliner Rock In Solo V tahun depan.



Sep 9, 2010

Kemenangankah yang Kau Cari?

Lampu merah dan jalanan malam ini tak begitu bersahabat. Menanti lama, tak terasa rintik gerimis membasahi. Di seberang jalan, seiring dengan lampu-lampu motor dan motor dan bunyi kembang api, terlihat sesosok tua. Bungkuknya menandakan betapa dia sudah tua. Berpakain lusuh, membawa tas gembolan dan tanpa alas kaki. Seorang tua renta itu menapaki jalan nan bising ini. Wajahmya tak memancarkan cahaya yang "menyenangkan".


Dalam kebisingan kota ini, bibirnya yang pecah-pecah karena kehausan seperti mengucap sesuatu. Ku ikuti gerak bibirnya. Dan ya, itu adalah kata-kata kemenangan !!! Karena lama kutatap wajahnya, akhirnya ia tersenyum kepadaku. Yah aku melihat cahaya dari wajahnya. dan dari sorotan matanya yang tajam tapi aku tidak tahu apakah usia juga telah "merenggut" kejernihan matanya, ia seolah berpesan. "Maknailah kemenangan. Ini dan itu adalah cara yang salah. Hanya dirimu sendiri lah yang mengetahui hakekat kemenangan itu sendiri. Jangan terbawa arus. Dan ingat, besok ketika mentari terbit, apakah orang-orang itu kembali menjadi dirinya yang lama ataukah berubah menjadi diri yang baru. Aku mungkin hanyalah sebagian kecil dari orang-orang yang terpinggirkan dan tak tahu apa itu makna kemenangan yang hakiki, namun aku mempunyai hati yang menginginkan kemenangan itu benar-benar menghampiri. dan apabila itu terjadi kami yang terpinggirkan ini berada satu derajat di atas kalian. Dan tahukah kau, orang-orang dari kelompokmu itu apakah merayakan kemenangan atau merayakan kebebasan seperti bebasnya iblis yang telah dibelenggu? dan ingatlah besok, ketika mereka mengeluarkan sebagian harta dari kantong mereka, apakah itu suatu kewajiban? Atau malah berlagak memenuhi kewajiban? Atau malah hanya sebuah tradisi tanpa pemaknaan? Beruntunglah Tuhan itu ada, bayangkan kalau Tuhan itu tidak ada? Aku, kamu, mereka, kalian, kita hanyalah sepotong daging berjalan yang tak berguna..."


Tak terasa lampu hijau telah menyala di detik ke 20 sekian, dan klakson kendaraan di belakangku telah berbunyi dengan congkak menandakan aku disuruh jalan. Dan bagaimana dengan seorang tua renta itu? Ia pergi dengan senyum simpul tersungging di bibirnya...

Jul 25, 2010

CANNIBALOGY







Satu hal mengenai tulisan ini adalah:sangat telat menulis ini. Ketika tulisan ini dibuat, hari ini adalah hari Minggu pagi yang cerah dengan sedikit angin semilir atau tepat 12 hari setelah pementasan berjudul "CANNIBALOGY" sebuah pementasan yang dipentaskan oleh Kelompok Teater SOPO Fisip UNS yang bertempat di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah.

Tak usah Anda tanyakan mengapa tulisan ini dibuat, jika memang itu merupakan hal yang perlu ditanyakan maka jawaban saya adalah:saya adalah bagian dari kelompok itu. Memang review-review untuk acara-acara semacam itu jarang dilakukan, karena (menurut kata orang) teater itu sulit dimengerti, sehingga hanya orang-orang yang mempunyai "jam terbang" tinggilah yang mampu mencerna dan me-review acara-acara tersebut.

Langsung kepada pokok permasalahan karena saya tidak suka hal yang bertele-tele seperti yang dilakukan oleh para penguasa di atas sana, proses yang kami jalani kurang lebih adalah dua bulan, sebuah waktu yang bisa dikatakan kurang ideal dan terasa cepat memang karena kita bekerja seperti layaknya kereta Shinkanzen atau mungkin kalau yang lokal adalah secepat sopir Bus Sumber Kencana menrabas lampu merah. Karena waktu yang terkesan singkat itu maka ada beberapa aspek yang kurang "terurus". Sehingga loyalitas dan konsistensi terkesan hilang sesaat. Mungkin juga karena teman-teman yang melalui proses ini adalah anak-anak yang notabene anak baru. Sehingga mereka perlu beradaptasi dengan hal-hal yang baru pula. Kita tak usah saling menyalahkan, jika memang ada satu atau dua teman kita yang bekerja tidak sesuai "harapan" maka itu adalah proses pembelajaran karena proses menerima ilmu antara satu atau dua orang itu berbeda.

Cannibalogy sendiri adalah sebuah karya BenJon. Sebuah karya yang sakral dan mistis. BenJon sangat liar pikirannya sehingga ia (menurut sudut pandang saya) mengobrak-abrik tatanan sebuah karya sastra. Karya sastra yang dulunya statis dan konvensional ia obrak-abrik menjadi sebuah karya yang sangat fenomenal. Sang sutradara pementasan ini pun yaitu Rudyaso Febriadi (saya biasa memanggilnya dengan sebutan Mas Rudy) yang dulu pernah mengikuti workshop penulisan naskah bersama BenJon juga "angkat tangan" terhadap keliaran pikiran BenJon. Perlu diketahui, dalam naskah Cannibalogy, BenJon menggunakan bentuk penulisan bernama intertext. Di mana dalam sebuah naskah itu beberapa kejadian dari masa lampau dan sekarang digabung menjadi satu plot. "Replika-replika" tokoh ia gunakan dalam naskah ini, ini secara tiddak langsung adalah sentilan yang ingin disampaikan BenJon terhadap kejadian-kejadian yang terjadi di negara ini. Siapa tak kenal Soeharto? Mantan presiden kita yang kontroversial dan terkenal otoriter, di naskah ini ia bernama dan diperkecil bentuknya menjadi Suhar yang diperankan oleh teman saya Riswanda Wirayudha. Karakter tokoh Suhar masih :menjiplak" tokoh sebenarnya yaitu Soeharto di mana ia adalah seorang yang ambisius dan sikapnya yang "seperti itu" masih BenJon sajikan bersama bumbu-bumbu kegilaan dan keliaran BenJon. Sumanto (diperankan oleh Dony Setiyawan) yang dulu adalah orang yang terkenal memakan mayat, kini ia masih menebar teror bagi penonton. Tokoh Suman (seperti aslinya) yang merupakan seorang pribadi yang bersifat apa adanya, dan terkesan kolot, masih dikarakterkan oleh BenJon seperti aslinya, akan tetapi ia juga merasakan apa itu cinta. Terbukti ketika ia dan Sinta Salim berdialog di hutan Mojokuto, Suman juga bisa merasakan apa itu cinta. Akan tetapi cinta di sini masih ala Suman....

Sinta Salim sendiri merupakan replika dari anak dari keluarga Salim yang masih merupakan rangkaian dari Orde Baru. Jangan ter-stigma oleh kata-kata "Salim" karena berkebalikan dengan dunia nyata, di "panggung sandiwara" ini ia menjadi tokoh protagonis. Sinta Salim diperankan oleh teman saya, Dirga Ayu Pertiwi. Ia adalah selir dari pemimpin desa Mojokuto bernama Mas Ageng. Sinta Salim adalah seorang wanita lembut, walaupun ia adalah seorang wanita keturunan, tapi ia baik hati kepada pribumi. Tidak seperti awal era Reformasi di mana etnis (terutama Cina) adalah suatu hal yang sensitif untuk dibicarakan apabila dibicarakan akan memantik api nantinya. Mas Ageng sendiri (yang diperankan oleh teman saya, Alief Pandu Irawan "Ahong") merupakan gambaran atau replika Sultan Agung, raja Demak ketika dulu. Seperti layaknya raja atau dalam naskah disebut sebagai pemimpin, ia adalah seorang yang bijaksana dan tegas. Akan tetapi ketika desa Mojokuto diserang oleh Belanda atau Olanda atau kompeni, Mas Ageng pergi melarikan diri ke Batavia untuk mencari perlindungan dan mengimpun kekuatan untuk menyerang penjajah bersama antek-anteknya. Di akhir cerita ketika dimana ia telah menghimpun kekuatan dan berganti nama menjadi Ageng Rais, ia menangkap antek-antek Belanda yaitu Suhar. Suhar di sini telah membinasakan ribuan nyawa penduduk Mojokuto atau katakanlah genosida demi merebut kekuasaan Mojokuto. Seperti halnya ketika G-30SPKI dimana Soeharto dituding sebagai biang keladinya, BenJon juga menyentil itu dengan bahasanya yang khas. Ageng Rais di sini bisa Anda tebak siapakah dia di kehidupan nyata? Yap, dia adalah replika dari Amien Rais. Dan ketika menangkap Suhar itu adalah pendeskripsian dari BenJon ketika terjadi reformasi tahun 1998. Di mana rezim 32 tahun telah diberhentikan dan dikebiri oleh gerakan mahasiswa yang dipelopori oleh Amien Rais.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, naskah ini memang melawan batasan waktu. Ini terbukti ketika BenJon menyuguhkan tokoh bernama Landless dan Hoffman. Dua tokoh ini adalah tokoh yang melakukan penjajahan di desa Mojokuto. Seperti cerita-cerita yang kita kenal baik itu dari buku sejarah ataupun cerita dari kakek-nenek kita, Belanda atau kompeni adalah orang-orang yang anti pribumi dna ingin menguasi tanah jajahan mereka. Sehingga ia berlagak kejam, beringas, sombong dan apapun pikiran Anda tentang sesuatu yang bersifat negatif. Landless adalah replika dari Daendels sedangkan Hoffman adalah replika dari Cornelis De Houtman. Ada satu adegan di mana Landless akan membuat "...jalan yang panjang dari Bantam di barat sampai Banyuwangi di timur...", itu merupakan gambaran dari program dan kekejaman dari Daendels di mana ia dulu membangun jalan Anyer-Panarukan. Masih seperti tokoh aslinya, Landless mengorbankan orang-orang pribumi untuk menyelesaikan proyeknya dengan bantuan Suhar. Tapi santai saja, dalam kehidupan nyata, pemeran Landless ini sebenarnya adalah seorang anak yang baik hati dan tidak sombong, jujur dan rajin menabung karena anak itu adalah saya sendiri:Reza Kurnia Darmawan. Sedangkan Hoffman diperankan oleh Abirama Setiadi yang menjadi Albert Hoffman dan Listiyo Budi Santoso yang menjadi Robert Hoffman. Rencana awal mereka berdua hanya sebagai serdadu dan Hoffman sendiri diperankan oleh teman saya. Karena ada "sesuatu hal" maka mereka berdua di plot sebagai Hoffman Bersaudara. Tapi tak apa, itu tidak mengurangi energi kami sebagai Olanda.

Dalam merengkuh kekuasaanya, Suhar dibantu oleh kekuatan mistik penunggu Bengawan Solo yang bernama Ki Butho. Saya belum paham siapakah Ki Butho dalam persepsi BenJon di kehidupan nyata. Tapi saya menduga-duga (hanya menduga-duga), ketika Soeharto merengkuh kekuasaan dari Soekarno dan menjabat sebagai kepala negara selama 32 tahun dengan rezim tangan besinya dan ke-otoriterannya, apakah mungkin dalam merengkuh semua itu ia dibantu oleh kekuatan magis?? Saya tidak tahu itu... Biarkan Soeharto, BenJon dan Tuhan yang tahu... Ki Butho diperankan oleh teman saya bernama Agung Irawan.

Dalam mengarungi pementasan ini yang berdurasi 2 jam 13 menit ini, tidak hanya itu tokoh-tokoh atau pemain yang tampil. Karena naskah ini terdapat banyak aktor dan juga ketika dihadapkan pada SDM yang ada maka hampir semua tokoh yang ada di naskah ini diperankan double oleh kita atau double cast. Ini merupakan pekerjaan yang berat namun menyenangkan ketika dituntut untuk menjadi diri kita sendiri, orang lain, orang lain 2, orang lain 3, dst, ini menjadikan kita untuk bisa memahami karakter orang lain dan memposisikan diri kita menjadi orang lain.

Pada akhirnya, inilah pentas kita. Akhir ini merupakan hasil kumulatif dari proses yang kita jalani. Baik buruknya kita bisa menilai, tapi alangkah lebih baiknya biar orang lain saja yang menilai. Karena dengan orang lain yang menilai kita bisa tahu di mana letak kesalahan kita, sebuah kesalahan yang kita tutup-tutupi apabila diri kita sendiri yang menilai kerja kita. Kritik itu membangun, kawan...

Dan ketika tulisan ini ditulis, kami sedang mempersiapkan tenaga esktra untuk melawat ke Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pentas insyaallah akan dilaksanakan pada 6 Agustus 2010. Kami juga memohon doa restu supaya pentas ini bisa berjalan dengan lancar. Inilah harga diri kita, kawan. THIS IS OUR PRIDE AND HONOUR!!! Ini akan menjadi pengalaman berharga, kawan..... NEVER SURRENDER!!KEEP FIGHT!!!

-------------
PARA CANNIBAL:


Pimpro: Listyo Budi Santoso
Sekpri : Dony Setiyawan
Bendahara: Hanif L. Nissa "Cecak"
Sponsorship: Ita Purnamasari, Alfin Agung Nugroho
Publikasi: Fay Ziana, Ulul Anggraeni, Tri Arini Purwoningrum

Stage Manager: Heriy Santoso "Sendronk", Apsari Retno W.
Setting: Edi Haryono
Lighting: Intan Ayu Nugraheni
Musik: Arie Fadjar Nugroho "Tokay", Wury Febriani, Noviana Rahmawati, Reni "Rainbow", Dicky Rangga Kusuma, Rudy "Gemphile", Surya Nugraha, Sangaji "Trololo", Susi "Similikiti", Yonek D. Nugroho
Make up&costum: Rani Isnaeni, Retno Utami, Apsari Retno W., Agung Irawan
Koreografer: Agung Irawan

Sutradara: Rudyaso Febriadi

Pemain:

Suman, dancer kera : Dony Setiyawan

Suhar : Riswanda Wira Yudha
Sinta Salim, dancer kontemporer : Dirga Ayu Pertiwi
Ki Butho : Agung Irawan
Landless, massa : Reza Kurnia Darmawan
Mas Ageng&Ageng Rais, massa, dancer kera : Alief Pandu "Ahong"
Daeng, Robert Hoffman, Pasukan, dancer kera: Listyo Budi Santoso
Robert Hoffman, massa, dancer kera: Abirama Setiadi
Mbok Tirah, massa: Hanif L. Nissa "Cecak"
Sentolo: Heri Santoso "Sendronk"
Kuro, Tahanan, dancer kera, Perempuan: Tri Arini Purwoningrum
Kerpo, massa, dancer kera, Perempuan: Joani Twelvia Agustina
Suti, massa, dancer bedhayan: Fay Ziana
Kebo: Erlina Indriani
massa, dancer bedhayan, dancer kontemporer: Rani Isnaeni
dancer bedhayan, dancer kontemporer: Ulul Anggraeni
dancer bedhayan, dancer kontemporer : Rani Mayasari







TEATER SOPO

FISIP UNS GEDUNG 2 LANTAI 3
teatersopo@operamail.com teatersopo.blogspot.com




Jul 18, 2010

UnTiTLed (zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz..................)


Perhaps the title above has been able to describe what I was experiencing. Yep, right on the head there was a large circle that continues to surround ... Like a cartoon, above the heads have the stars.. a circle kept spinning on my head and the longer the faster it spins

Don't blame me if I choose a song from Green Day named "Stuck With Me" as soundtrack of my life
for a few days ahead and some days I have passed.

........
because "the disease" is already severe and spread throughout my body...........

Maybe someday I'll find a cure..........



Disclaimer

Yah, apa kabar kawan??

Lama tak berjumpa. Masih seperti yang dulu, tidak ada perkembangan tulisan di blog yang ibarat pepatah: hidup segan mati tak mau. Tulisan terakhir mungkin saya tulis beberapa bulan yang lalu. Entah kenapa, otak saya ini serasa membeku seperti dibekukan oleh Mr. Freeze musuh Batman. Sama membekunya dengan hati ini yang tidak tahu akan belong kepada "seseorang" atau mungkin bahkan "sesuatu" ??

Rutinitas memang menuntut kita untuk bekerja ekstra. Pikiran, jiwa, raga semua terfosir untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Setiap pekerjaan pasti juga mempunyai konsekuensi, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Dan juga siap atau tidak siapnya kita menerima konsekuensi itu. Jangan sampai menyerah ketika mengerjakan suatu pekerjaan. Dan jangan sampai mengeluh, karena mendengar orang yang mengeluh itu sama saja "menyandarkan" kuping di sound saat sedang konser berlangsung, apalagi sound lokal dari Ken Dedes yang dibilang banyak orang "ampuh".
Because there is a way out.


Enjoy your life...
CHEERS !!!!!!!


May 2, 2010

Mempertanyakan Tua

Seminggu sudah saya menapaki umur terbaru saya. 20. Bisa dikatakan tidak muda lagi. Tidak muda?? Hmmmmm.. Coba saya koreksi sebentar. Tidak muda lagi hanyalah sebuah "mitos" atau sebuah "konon" untuk saya, karena saya berprinsip bahwa setiap bertambah umur kita selalu bertambah muda. Atau intinya adalah tua adalah sebuah kata dimana saya menolaknya. Entah itu adalah "ketakutan pribadi" saya atau malah "pembangkangan" terhadap usia.

Tua memang suatu hal yang sulit, kawan. Karena ketika kita menapaki usia itu kita dihadapkan pada sebuah hal yang sangat krusial, dimana pilihan hidup (mempunyai kehidupan yang sejahtera) adalah pilihan yang sulit. Take it or leave it!!! Tua adalah dimana beban hidup semakin banyak, kita dituntut bekerja ekstra keras dan memutar otak lebih cepat karena dunia ini adalah ibarat belantara, kita harus bisa bertahan hidup di sana.

Seorang teman berkata kepada saya, dia bersabda, "Janganlah berhura-hura untuk merayakan ulang tahun, karena pada dasarnya jika kita ulang tahun umur kita berkurang satu, dan semakin dekat dengan kematian". Yah, itulah kira-kira yang dia sabdakan. Saya jujur tak terlalu mengkawatirkan itu, karena mati itu adala takdir kita bukan? Tuhan telah mempunyai kuasa untuk kita, kita tak bisa memungkirinya.

Dengan kata lain, syukuri dan nikmati hidup ini selagi kau mampu......





Kuhirup udara kebebasan dalam hidup yang terbuang
Hanya 'tuk menikmati indahnya langit malam ini.....

Ketika nasib tak berpihak
Berdendanglah karena malam ini pasti,
cahaya akan menuntunmu pulang

Tak bisa kupungkiri batu yang menyandung tadi
Masih terasa sakit , tapi jadikanlah itu suatu pembelajaran, untuk
melihat sekelilingmu, putar otakmu, lalu berjalanlah capai tujuanmu








Apr 25, 2010

….
Kami tak percaya lagi pada itu,
Partai politik,
Omongan kerja mereka tak bisa bikin perut kenyang,
Mengawang jauh dari kami punya persoalan
Bubarkan saja itu komidi gombal,
Kami ingin tidur pulas,
Utang lunas,
Betul-betul merdeka,
Tidak tertekan,
….
Tegasnya = aku menuntut perubahan!
(Wiji Thukul "Aku Menuntut Perubahan", 1992)

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Yah, sebuah puisi penantang kemapanan. Terbaca pada malam ini dan akan teringat seterusnya.
Dari seorang yang ditakuti oleh pemerintah serupa Nazi dulu. Wiji Thukul, dimanapun engkau berada sekarang , suaramu akan selalu lantang menantang congkaknya zaman....

-------------------------------------------------------------------------------------------------



Apr 17, 2010

Senandung Pemecah Sunyi

Gemuruh langit sama saja dengan gemuruh hati ini yang galau. Ditemani serbuan hentakan penghenti detak jantung , irama pemecah kesunyian , yang mulai menguap seperti beberapa batang angkara yang saya hisap , seperti produk alam yang berkulit dan kadang-kadang peribahasa menyangkutpautkannya dengan perumpamaan "lupa kulitnya" , sebuah analogi usang....

Malam ini , adalah malam di mana kesunyian dan kemarahan memperbudak , merayap memasuki celah-celah hati nurani yang membeku tanpa sebab dan berontak menjadi semacam "kewajiban" tak bersyarat. Berpikir ulang untuk mencari semacam "tumbal" namun ketika otak mulai melakukan "proses ilmiah" yang wajar , maka hal itu nampaknya akan sia-sia. Tak bisakah menantang takdir? Apakah takdir tak bisa dilawan?

Di sana , mereka berjuang mencari "keputusan". Di sini, saya menunggu"hal yang semu" tapi "hal yang semu" itu adalah suatu hal yang saya hormati petuahnya , pengorbanannya dan ketabahannya. Menanti hingga jam membunuh saya , melumat jasad saya dengan kepenatan tak bertuan. Ketika tujuh telah mendekati angka dua puluh , maka saat ini saya masih tersadar bahwa hidup kadang-kadang tak menyenangkan untuk sesaat , tak selamanya.....

Mencoba untuk bertahan , tapi meracau untuk kemudian . Mengadili hidup , bermain takdir...... Semoga "merdeka" suatu saat kelak...

Apr 12, 2010

Antiklimaks ketakutan

Detik ini, menit ini, jam ini
Terasa asing bagiku
Lamban saja langkahku malam ini
Tak peduli seberapa beratkah langkahku

Kepulan asap ini menandakan bahwa,
Separuh dari diriku telah mati
Mata ini, ya mata ini
Terasa berat menahan gemuruh jiwa

Raungan mesin-mesin itu
Adalah sebuah jawaban dari,
Betapa takutnya aku akan hari esok
Masihkah esok adalah suatu yang indah?

Kuhisap batang ini
Sebatang penghabisan
Bara apinya adalah
Kemurkaan, kemarahan dan ketakutan

Cukup segelas saja
Pahitnya tak tergantikan
Walaupun gula telah mencampuri
Tetapi tetap saja pahit...

Berat, masih terasa berat
Malah bertambah berat
Lebih dari yang kukira
Ketakutan tanpa alasan

Hingga saat ini aku masih tersadar
Bahwa esok adalah hari baru
Tak bisa tertawa, tangispun "semoga",
Tak ada merdeka

Esok... Tanda tanya
Mentari... Masih menjadi musuhku
Hari baru.... Persetan denganmu
Adakah yang berani?

Apr 4, 2010

Ironi Pagi

Pagi ini,

Kumulai pagi ini dengan mencari oksigen terbeli
Memacu jantung untuk merayakan hari
Keringnya embun adalah sebuah alibi
Pergi seenaknya untuk menyambut pagi ini
Kicauan burung adalah sebuah ironi
Mengganti pagi ini dengan mimpi
Tataplah pagi ini tataplah bumi ini
Oksigenmu menipis, hampir habis

Oksigen terurai
Bernafas dalam polutan kota ini
Oksigenku hilang
Selamat datang jiwa tak tenang

Pagi ini,

Sinar mentari muram warnanya
Sinarnya tak bisa menembus hitamnya kota
Langitpun tak biru warnanya
Bercampur karbon sehitam jelaga
Laju sepedamu terlalu lamban
Lelah menapaki pagi ini yang telah usang
Tataplah pagi ini tataplah bumi ini
Oksigenmu menipis, hampir habis


Oksigen terurai
Bernafas dalam polutan kota ini
Oksigenku hilang
Selamat datang jiwa tak tenang


Larilah dari pagi ini
Larilah dari hari esok yang tak pasti