Pahit terasa
Menjalar ke ubun-ubun
dan mematikan urat untuk berpikir
Sekarang pahitnya sudah menjadi-jadi
Satu tegukan adalah seribu kepahitan bersarang
Baiklah akan kukalahkan pahit ini
Sampai esok fajar menyapa

Jika beberapa hari yang lalu Anda bertanya kepada metalheads yang ada di Solo dan sekitarnya tentang berapakah nomor keramat untuk metal, mungkin yang akan Anda dapati dari sebagian besar mereka adalah bukan 666 melainkan 170910. Itu bukan nomor togel yang tembus tadi malam juga bukan angka setan generasi baru melainkan itu adalah tanggal dimana Rock In Solo IV diadakan. Tak tanggung-tanggung kali ini The Think sebagai event organizer acara ini membawa dedengkot death metal asal Texas, Dying Fetus. Setelah beberapa tahun yang lalu Solo "hanya" disambangi oleh band-band "muda" dari luar negeri, saatnya kini para dedengkot metal bersilaturahmi dengan metalheads kota Solo dan sekitarnya. Ini juga terbukti dengan kumpulnya para dedengkot-dedengkot metal lawas dari Indonesia yang berkumpul dan kembali ke fitri dengan bereuni kembali di Rock In Solo IV beberapa hari yang lalu. Sebut saja Dony Iblis, Man Jasad dan masih banyak lagi dedengkot-dedengkot metal yang menyambangi kota solo di acara Rock In Solo IV.
Rock In Solo tahun ini berbeda dengan Rock In Solo tahun-tahun yang lalu. Karena tahun ini konsep dua panggung menjadi pilihan. Dan sound dengan kekuatan puluhan ribu watt menjadi syarat wajib sebagai unsur penunjang summer metal fest yang konon terbesar di Jawa Tengah ini. Atau mungkin di Indonesia? Memang jika dilihat dari animo penonton, acara ini memang benar-benar hebat. Stadion Sriwedari hampir terisi penuh. Mereka memang sedang berolahraga, tapi olahraga ala metal yaitu dengan pogo, moshing, slam dance, circle pit, wall of death dan stage diving Benar-benar olahraga yang menguras tenaga.
Berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah dibujuk oleh pawang hujan untuk tidak menurunkan hujan. Entah apa yang dilakukan pawang hujan kepada Tuhan sehingga Tuhan "enggan" mengirimkan air hujan ke kota Solo pada hari Jumat 17 September 2010 itu. Stadion Sriwedari sejak siang hari telah menghitam. Para metalheads mengantri dengan tertib menuju gerbang menuju surga yang telah terbakar. Pesta kali itu dimulai dengan penampilan band dari Sukoharjo bernama Beneath The Burning Skies. Saya tidak melihat mereka perform karena saya belum berada di tempat. Band kedua yang tampil adalah Breathing On Flames, saya hanya menyaksikan mereka sekilas tepatnya di lagu terakhir. Bankeray cukup pede untuk bisa bermain di Rock In Solo kali ini. Mereka juga membawakan lagu hits mereka yaitu "Putra Setan". Sisi Selatan sebuah band yang berasal dari sisi selatan dari Kota Solo yaitu Wonogiri nampaknya merebut hati saya. Lagu-lagu bertema sosial dan politik nampaknya menjadi andalan dari mereka. Mereka membawakan sebuah lagu yang mereka persembahkan untuk Jalur Gaza. Band ini nampaknya akan menjadi rookie untuk beberapa saat ke depan.
Dan selanjutnya adalah kesempatan tarling pantura dengan kecepatan 200bpm, sebuah band yang terbaptis dari api dan alkohol, mereka menyebut diri mereka Matius III:II. Mereka meng-cover sebuah lagu dari Sepultura, dan selanjutnya biarkan mereka berkhotbah. Di second stage para hardcore kids sedang melompat-lompat dengan diiringi penampilan dari band negative hardcore kota Solo bernama Never Again. Sementara di main stage, band asal Surabaya yang membawakan power metal juga sedang bermain. Valerian menarik perhatian saya. Band ini nampaknya sangat antusias sekali bermain di Rock In Solo, berulang kali personel dari band ini mengangkat jempol untuk penonton.
Dan berlari-lari dari second stage ke main stage ataupun sebaliknya menjadi tontonan yang biasa. Saya juga mengalaminya. Kita harus benar-benar memprioritaskan band yang ingin ditonton ketika ada dua band yang sedang tampil bebarengan di dua panggung yang berbeda. Padahal band yang sedang bermain juga bagus-bagus, jadi pintar-pintarnya kita untuk bisa memilihnya. Setelah Valerian selesai perform, saya menuju second stage yang kala itu sebuah band dari Purwokerto bernama Pernicious Hate sedang melakukan aksi brutalnya. Saya tidak tahu apakah para personil dari band ini adalah petugas Dinas Kesehatan atau bukan, karena di tengah performnya, mereka membagi-bagikan kondom gratis rasa durian. Sambil berpesan, "Sayangi kontol kalian!!!" mereka terus menggempur crowd yang semakin liar. Di main stage ada Spirit Of Life yang menggempur para hardcore kids dan membuat crowd berloncat-loncat. Sementara saya masih berada di second stage tempat di mana salah satu punggawa Jogjakarta Corpse Grinder, Devoured masih setia memainkan death metal. Saya terkagum-kagum melihat mereka. Sementara crowd masih terlihat liar saja. Setelah Devoured tampil, giliran raja grindcore dari Solo, Take And Awake yang mengambil alih kekuasaan. Ketika Take And Awake perform, sebagian besar penonton lebih memilih menuju ke main stage yang ketika itu Bandoso menyihir penonton. Padahal di second stage ada pembagian free tape ketan yang dilakukan oleh Take And Awake. Saya sempat berpikir ketika setelah selesai makin' love dengan aman dengan menggunakan kondom kini saatnya untuk rehat sekejap dengan memakan tape ketan. Tidak sampai selesai saya melihat Take And Awake karena saya nampaknya harus juga memberi perhatian pada Bandoso. Masih seperti Bandoso yang dulu dan fans mereka masih sama juga dengan yang dulu di mana ketika mereka main pasti ada saja yang membawa dupa atau kemenyan. Seperti acara kemarin, ada fans yang membawa dupa untuk memberi sesaji kepada Sang Maha Gelap Maha Sesat.
Dan inilah yang saya nanti-nantikan. Masih legiun dari Yogyakarta. Cranial Incisored masih mengajarkan cara berhitung matematika secara cepat ala metal. Mereka sempat membawakan lagu barunya. Dan crowd masih diam tak berkutik, saya tidak tahu apakah diamnya terkagum-kagum melihat mereka ataukah bingung terhadap musikalitas mereka. Didiet sang vokalis sempat berceloteh agar sekali-sekali penonton sedikit bergerak, karena sama saja ketika mereka main di Yogya ataupun kota lain, penonton hanya bisa diam. Sekali lagi saya tegaskan, saya memuja Cranial Incisored !! Saya melewatkan tiga band terakhir yang perform di second stage yaitu Tragical Memories, From This Day dan Opium. Nama terakhir, menurut teman saya adalah penampil yang paling "gila" di second stage. Band dari Kota Kembang tersebut bermain cukup impresif dan liar, tapi sayang, saya melewatkannya. Saya lebih memilih band dari Singapura yang bernama Fall Of Mira. Band yang bermain di area metalcore ini cukup membuat crowd terpancing untuk moshing (termasuk saya di lagu terakhir mereka). Membawakan kurang lebih lima lagu, band ini juga terkagum-kagum melihat crowd Solo. Hadi, sang gitaris juga beberapa kali tersenyum gembira dan ia pun juga sempat melakukan push-up di atas panggung. Hadi juga sempat berkata, "I love mie bakso so much". Memang band ini sangat antusias untuk bermain di Rock In Solo, ini terbukti dari update status band ini di Facebook. Mereka sangat senang bermain di Rock In Solo.
Setelah Fall Of Mira selesai perform, acara dihentikan sebentar untuk break sholat maghrib dan isya'. Waktu yang lama ini saya sempatkan untuk membeli makanan dan minuman yang saya gunakan untuk mengganjal perut. Memang booth-booth makanan diperlukan di acara-acara seperti ini karena setelah "berolahraga" kita membutuhkan kalori yang cukup untuk "berolahraga" lagi. Sepotong junk food dan minuman dingin dan beberapa batang rokok cukup untuk mengganjal perut yang kosong. Dan setelah kurang lebih satu jam akhirnya suara gitar dan drum yang sedang di-check kembali terdengar, ini menandakan acara siap kembali dimulai. Pasukan Perang dari Rawa, Komunal, menjadi jawaban selama satu jam yang digunakan untuk break. Membuka dengan lagu "Ilmu Tentang Racun", Komunal menghajar crowd malam itu. Lagu yang mereka bawakan kebanyakan berasal dari album kedua mereka, Hitam Semesta. Mereka juga sempat membawakan sebuah lagu yang rencananya akan dimasukkan dalam album baru mereka yang rilis akhir tahun nanti. Saya sempat berharap mereka membawakan "Budaya Purba" dan ber-sing along bersama dalam "Higher Than Mountain II" akan tetapi itu tidak terwujud. Mereka menutup penampilannya dengan lagu "Pasukan Perang dari Rawa".
Selanjutnya bajingan-bajingan Kota Bengawan yang tergabung dalam Down For Life memanaskan ribuan Pasukan Babi Neraka (sebutan untuk fans mereka) untuk melakukan moshing secara berjamaah. Wall of death dan big circle pit juga sempat terbentuk. Akan tetapi menurut saya, performa Down For Life tidak seperti biasanya. Performa mereka kurang menggigit. Dan band selanjutnya yang tampil adalah Siksa Kubur. Ini adalah band yang sangat-sangat saya tunggu (selain Dying Fetus). Sebenarnya sekitar medio April 2009 band ini sempat datang ke Karanganyar, tapi saya hanya mendapatkan mereka membawakan lagu terakhir. Dan bulan April kemarin dalam rangkaian tour album baru mereka Tentara Merah Darah mereka juga sempat main di Solo, akan tetapi karena kesibukan saya akhirnya saya mengurungkan niat melihat mereka main. Dan di Rock In Solo beberapa hari yang lalu adalah penebusan dosanya. Mereka masuk diiringi simfoni dari intro album Tentara Merah Darah. Dilanjutkan dengan lagu "Anak Lelaki dan Serigala" band ini menggempur habis Solo. Japs sang vokalis sempat berkata, "Kami sebenarnya band dari pinggiran kota. Kami sempat merinding dilihat penonton segini banyaknya...". Siksa Kubur tetaplah Siksa Kubur. Walaupun mereka dari pinggiran kota mereka tetaplah Siksa Kubur. Fuck Yeah !!!! Performa mereka bisa dibilang sangat keren. "Pasukan Jiwa Terbelakang" mereka persembahkan kepada para fansnya. Dan mereka menutup penampilan mereka dengan lagu "Memoar Sang Pengobar". Memang lagu tersebut benar-benar menjadi pengobar semangat para metalheads saat itu untuk melihat The Almighty Dying Fetus tampil.
Maju ke depan merupakan pilihan bijak untuk saya. Menikmati mereka dari bagian depan dan melihat mereka secara langsung di depan mata merupakan kebanggaan yang patut untuk dibanggakan. Crowd memanggil-manggil "Dying Fetus...Dying Fetus...Dying Fetus!!!", diiringi dengan suara bass drum Trey Willimas yang hiperblasting yang sedang di-check. Dan tidak menunggu lama akhirnya Dying Fetus menampakkan diri. Crowd berteriak histeris seperti groupies yang melihat Justin Bieber di atas panggung. "Your Treachery Will Die With You" mejadi kickass song pertama. Crowd langsung meresponnya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, dan di bagian depan moshing sedang terjadi. Crowd tambah merangsek ke depan. Dan disalah satu lagu, John Gallagher meminta untuk membuat circle pit dan itu direspon crowd Solo dengan membuat circle pit yang besar. Jujur, Dying Fetus benar-benar gila!! Mereka tidak memberikan kesempatan penonton untuk mengambil nafas sejenak. Jeda antara satu lagu degan lagu lainnya hanya sebentar. Mereka juga hanya sebentar berdiaolog dengan penonton. Selanjutnya: LANGSUNG HAJAR!!! Permainan mereka sangat rapat, walaupun suara growl John kurang terdengar. Mereka juga sempat membawakan nomor-nomor wahid mereka seperti "Killing On Adrenaline", "One Shot One Kill", "Homicidal Retribution" dan mereka juga sempat membawakan lagu lama dari album pertama mereka Infatuation With Malevolence, berjudul "Eviscerated Offspring". Dan tak terasa kurang lebih satu jam Dying Fetus memekakkan telinga malam itu. Mereka menutup malam itu dengan lagu "Kill Your Mother and Rape Your Dog". Crowd berteriak, "we want more..we want more...we want more", tapi teriakan para penonton tidak membuat Dying Fetus untuk melakukan encore, mungkin karena terlalu lelah dan harus langsung menuju Jakarta keesokan paginya. Tapi Dying Fetus malam itu benar-benar memukau. Dan akan menjadi sejarah untuk dunia per-metal-an kota Solo ini, bahwa ada sebuah band dedengkot metal yang pernah bermain di kota kecil ini.
Rock In Solo IV akhirnya telah berakhir. Banyak wajah-wajah gembira dan puas setelah event ini berakhir. Satu hal: semoga Slayer bisa menjadi headliner Rock In Solo V tahun depan.
Lampu merah dan jalanan malam ini tak begitu bersahabat. Menanti lama, tak terasa rintik gerimis membasahi. Di seberang jalan, seiring dengan lampu-lampu motor dan motor dan bunyi kembang api, terlihat sesosok tua. Bungkuknya menandakan betapa dia sudah tua. Berpakain lusuh, membawa tas gembolan dan tanpa alas kaki. Seorang tua renta itu menapaki jalan nan bising ini. Wajahmya tak memancarkan cahaya yang "menyenangkan".
Dalam kebisingan kota ini, bibirnya yang pecah-pecah karena kehausan seperti mengucap sesuatu. Ku ikuti gerak bibirnya. Dan ya, itu adalah kata-kata kemenangan !!! Karena lama kutatap wajahnya, akhirnya ia tersenyum kepadaku. Yah aku melihat cahaya dari wajahnya. dan dari sorotan matanya yang tajam tapi aku tidak tahu apakah usia juga telah "merenggut" kejernihan matanya, ia seolah berpesan. "Maknailah kemenangan. Ini dan itu adalah cara yang salah. Hanya dirimu sendiri lah yang mengetahui hakekat kemenangan itu sendiri. Jangan terbawa arus. Dan ingat, besok ketika mentari terbit, apakah orang-orang itu kembali menjadi dirinya yang lama ataukah berubah menjadi diri yang baru. Aku mungkin hanyalah sebagian kecil dari orang-orang yang terpinggirkan dan tak tahu apa itu makna kemenangan yang hakiki, namun aku mempunyai hati yang menginginkan kemenangan itu benar-benar menghampiri. dan apabila itu terjadi kami yang terpinggirkan ini berada satu derajat di atas kalian. Dan tahukah kau, orang-orang dari kelompokmu itu apakah merayakan kemenangan atau merayakan kebebasan seperti bebasnya iblis yang telah dibelenggu? dan ingatlah besok, ketika mereka mengeluarkan sebagian harta dari kantong mereka, apakah itu suatu kewajiban? Atau malah berlagak memenuhi kewajiban? Atau malah hanya sebuah tradisi tanpa pemaknaan? Beruntunglah Tuhan itu ada, bayangkan kalau Tuhan itu tidak ada? Aku, kamu, mereka, kalian, kita hanyalah sepotong daging berjalan yang tak berguna..."




