



Satu hal mengenai tulisan ini adalah:sangat telat menulis ini. Ketika tulisan ini dibuat, hari ini adalah hari Minggu pagi yang cerah dengan sedikit angin semilir atau tepat 12 hari setelah pementasan berjudul "CANNIBALOGY" sebuah pementasan yang dipentaskan oleh Kelompok Teater SOPO Fisip UNS yang bertempat di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah.
Tak usah Anda tanyakan mengapa tulisan ini dibuat, jika memang itu merupakan hal yang perlu ditanyakan maka jawaban saya adalah:saya adalah bagian dari kelompok itu. Memang review-review untuk acara-acara semacam itu jarang dilakukan, karena (menurut kata orang) teater itu sulit dimengerti, sehingga hanya orang-orang yang mempunyai "jam terbang" tinggilah yang mampu mencerna dan me-review acara-acara tersebut.
Langsung kepada pokok permasalahan karena saya tidak suka hal yang bertele-tele seperti yang dilakukan oleh para penguasa di atas sana, proses yang kami jalani kurang lebih adalah dua bulan, sebuah waktu yang bisa dikatakan kurang ideal dan terasa cepat memang karena kita bekerja seperti layaknya kereta Shinkanzen atau mungkin kalau yang lokal adalah secepat sopir Bus Sumber Kencana menrabas lampu merah. Karena waktu yang terkesan singkat itu maka ada beberapa aspek yang kurang "terurus". Sehingga loyalitas dan konsistensi terkesan hilang sesaat. Mungkin juga karena teman-teman yang melalui proses ini adalah anak-anak yang notabene anak baru. Sehingga mereka perlu beradaptasi dengan hal-hal yang baru pula. Kita tak usah saling menyalahkan, jika memang ada satu atau dua teman kita yang bekerja tidak sesuai "harapan" maka itu adalah proses pembelajaran karena proses menerima ilmu antara satu atau dua orang itu berbeda.
Cannibalogy sendiri adalah sebuah karya BenJon. Sebuah karya yang sakral dan mistis. BenJon sangat liar pikirannya sehingga ia (menurut sudut pandang saya) mengobrak-abrik tatanan sebuah karya sastra. Karya sastra yang dulunya statis dan konvensional ia obrak-abrik menjadi sebuah karya yang sangat fenomenal. Sang sutradara pementasan ini pun yaitu Rudyaso Febriadi (saya biasa memanggilnya dengan sebutan Mas Rudy) yang dulu pernah mengikuti workshop penulisan naskah bersama BenJon juga "angkat tangan" terhadap keliaran pikiran BenJon. Perlu diketahui, dalam naskah Cannibalogy, BenJon menggunakan bentuk penulisan bernama intertext. Di mana dalam sebuah naskah itu beberapa kejadian dari masa lampau dan sekarang digabung menjadi satu plot. "Replika-replika" tokoh ia gunakan dalam naskah ini, ini secara tiddak langsung adalah sentilan yang ingin disampaikan BenJon terhadap kejadian-kejadian yang terjadi di negara ini. Siapa tak kenal Soeharto? Mantan presiden kita yang kontroversial dan terkenal otoriter, di naskah ini ia bernama dan diperkecil bentuknya menjadi Suhar yang diperankan oleh teman saya Riswanda Wirayudha. Karakter tokoh Suhar masih :menjiplak" tokoh sebenarnya yaitu Soeharto di mana ia adalah seorang yang ambisius dan sikapnya yang "seperti itu" masih BenJon sajikan bersama bumbu-bumbu kegilaan dan keliaran BenJon. Sumanto (diperankan oleh Dony Setiyawan) yang dulu adalah orang yang terkenal memakan mayat, kini ia masih menebar teror bagi penonton. Tokoh Suman (seperti aslinya) yang merupakan seorang pribadi yang bersifat apa adanya, dan terkesan kolot, masih dikarakterkan oleh BenJon seperti aslinya, akan tetapi ia juga merasakan apa itu cinta. Terbukti ketika ia dan Sinta Salim berdialog di hutan Mojokuto, Suman juga bisa merasakan apa itu cinta. Akan tetapi cinta di sini masih ala Suman....
Sinta Salim sendiri merupakan replika dari anak dari keluarga Salim yang masih merupakan rangkaian dari Orde Baru. Jangan ter-stigma oleh kata-kata "Salim" karena berkebalikan dengan dunia nyata, di "panggung sandiwara" ini ia menjadi tokoh protagonis. Sinta Salim diperankan oleh teman saya, Dirga Ayu Pertiwi. Ia adalah selir dari pemimpin desa Mojokuto bernama Mas Ageng. Sinta Salim adalah seorang wanita lembut, walaupun ia adalah seorang wanita keturunan, tapi ia baik hati kepada pribumi. Tidak seperti awal era Reformasi di mana etnis (terutama Cina) adalah suatu hal yang sensitif untuk dibicarakan apabila dibicarakan akan memantik api nantinya. Mas Ageng sendiri (yang diperankan oleh teman saya, Alief Pandu Irawan "Ahong") merupakan gambaran atau replika Sultan Agung, raja Demak ketika dulu. Seperti layaknya raja atau dalam naskah disebut sebagai pemimpin, ia adalah seorang yang bijaksana dan tegas. Akan tetapi ketika desa Mojokuto diserang oleh Belanda atau Olanda atau kompeni, Mas Ageng pergi melarikan diri ke Batavia untuk mencari perlindungan dan mengimpun kekuatan untuk menyerang penjajah bersama antek-anteknya. Di akhir cerita ketika dimana ia telah menghimpun kekuatan dan berganti nama menjadi Ageng Rais, ia menangkap antek-antek Belanda yaitu Suhar. Suhar di sini telah membinasakan ribuan nyawa penduduk Mojokuto atau katakanlah genosida demi merebut kekuasaan Mojokuto. Seperti halnya ketika G-30SPKI dimana Soeharto dituding sebagai biang keladinya, BenJon juga menyentil itu dengan bahasanya yang khas. Ageng Rais di sini bisa Anda tebak siapakah dia di kehidupan nyata? Yap, dia adalah replika dari Amien Rais. Dan ketika menangkap Suhar itu adalah pendeskripsian dari BenJon ketika terjadi reformasi tahun 1998. Di mana rezim 32 tahun telah diberhentikan dan dikebiri oleh gerakan mahasiswa yang dipelopori oleh Amien Rais.
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, naskah ini memang melawan batasan waktu. Ini terbukti ketika BenJon menyuguhkan tokoh bernama Landless dan Hoffman. Dua tokoh ini adalah tokoh yang melakukan penjajahan di desa Mojokuto. Seperti cerita-cerita yang kita kenal baik itu dari buku sejarah ataupun cerita dari kakek-nenek kita, Belanda atau kompeni adalah orang-orang yang anti pribumi dna ingin menguasi tanah jajahan mereka. Sehingga ia berlagak kejam, beringas, sombong dan apapun pikiran Anda tentang sesuatu yang bersifat negatif. Landless adalah replika dari Daendels sedangkan Hoffman adalah replika dari Cornelis De Houtman. Ada satu adegan di mana Landless akan membuat "...jalan yang panjang dari Bantam di barat sampai Banyuwangi di timur...", itu merupakan gambaran dari program dan kekejaman dari Daendels di mana ia dulu membangun jalan Anyer-Panarukan. Masih seperti tokoh aslinya, Landless mengorbankan orang-orang pribumi untuk menyelesaikan proyeknya dengan bantuan Suhar. Tapi santai saja, dalam kehidupan nyata, pemeran Landless ini sebenarnya adalah seorang anak yang baik hati dan tidak sombong, jujur dan rajin menabung karena anak itu adalah saya sendiri:Reza Kurnia Darmawan. Sedangkan Hoffman diperankan oleh Abirama Setiadi yang menjadi Albert Hoffman dan Listiyo Budi Santoso yang menjadi Robert Hoffman. Rencana awal mereka berdua hanya sebagai serdadu dan Hoffman sendiri diperankan oleh teman saya. Karena ada "sesuatu hal" maka mereka berdua di plot sebagai Hoffman Bersaudara. Tapi tak apa, itu tidak mengurangi energi kami sebagai Olanda.
Dalam merengkuh kekuasaanya, Suhar dibantu oleh kekuatan mistik penunggu Bengawan Solo yang bernama Ki Butho. Saya belum paham siapakah Ki Butho dalam persepsi BenJon di kehidupan nyata. Tapi saya menduga-duga (hanya menduga-duga), ketika Soeharto merengkuh kekuasaan dari Soekarno dan menjabat sebagai kepala negara selama 32 tahun dengan rezim tangan besinya dan ke-otoriterannya, apakah mungkin dalam merengkuh semua itu ia dibantu oleh kekuatan magis?? Saya tidak tahu itu... Biarkan Soeharto, BenJon dan Tuhan yang tahu... Ki Butho diperankan oleh teman saya bernama Agung Irawan.
Dalam mengarungi pementasan ini yang berdurasi 2 jam 13 menit ini, tidak hanya itu tokoh-tokoh atau pemain yang tampil. Karena naskah ini terdapat banyak aktor dan juga ketika dihadapkan pada SDM yang ada maka hampir semua tokoh yang ada di naskah ini diperankan double oleh kita atau double cast. Ini merupakan pekerjaan yang berat namun menyenangkan ketika dituntut untuk menjadi diri kita sendiri, orang lain, orang lain 2, orang lain 3, dst, ini menjadikan kita untuk bisa memahami karakter orang lain dan memposisikan diri kita menjadi orang lain.
Pada akhirnya, inilah pentas kita. Akhir ini merupakan hasil kumulatif dari proses yang kita jalani. Baik buruknya kita bisa menilai, tapi alangkah lebih baiknya biar orang lain saja yang menilai. Karena dengan orang lain yang menilai kita bisa tahu di mana letak kesalahan kita, sebuah kesalahan yang kita tutup-tutupi apabila diri kita sendiri yang menilai kerja kita. Kritik itu membangun, kawan...
Dan ketika tulisan ini ditulis, kami sedang mempersiapkan tenaga esktra untuk melawat ke Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pentas insyaallah akan dilaksanakan pada 6 Agustus 2010. Kami juga memohon doa restu supaya pentas ini bisa berjalan dengan lancar. Inilah harga diri kita, kawan. THIS IS OUR PRIDE AND HONOUR!!! Ini akan menjadi pengalaman berharga, kawan..... NEVER SURRENDER!!KEEP FIGHT!!!
-------------
Tak usah Anda tanyakan mengapa tulisan ini dibuat, jika memang itu merupakan hal yang perlu ditanyakan maka jawaban saya adalah:saya adalah bagian dari kelompok itu. Memang review-review untuk acara-acara semacam itu jarang dilakukan, karena (menurut kata orang) teater itu sulit dimengerti, sehingga hanya orang-orang yang mempunyai "jam terbang" tinggilah yang mampu mencerna dan me-review acara-acara tersebut.
Langsung kepada pokok permasalahan karena saya tidak suka hal yang bertele-tele seperti yang dilakukan oleh para penguasa di atas sana, proses yang kami jalani kurang lebih adalah dua bulan, sebuah waktu yang bisa dikatakan kurang ideal dan terasa cepat memang karena kita bekerja seperti layaknya kereta Shinkanzen atau mungkin kalau yang lokal adalah secepat sopir Bus Sumber Kencana menrabas lampu merah. Karena waktu yang terkesan singkat itu maka ada beberapa aspek yang kurang "terurus". Sehingga loyalitas dan konsistensi terkesan hilang sesaat. Mungkin juga karena teman-teman yang melalui proses ini adalah anak-anak yang notabene anak baru. Sehingga mereka perlu beradaptasi dengan hal-hal yang baru pula. Kita tak usah saling menyalahkan, jika memang ada satu atau dua teman kita yang bekerja tidak sesuai "harapan" maka itu adalah proses pembelajaran karena proses menerima ilmu antara satu atau dua orang itu berbeda.
Cannibalogy sendiri adalah sebuah karya BenJon. Sebuah karya yang sakral dan mistis. BenJon sangat liar pikirannya sehingga ia (menurut sudut pandang saya) mengobrak-abrik tatanan sebuah karya sastra. Karya sastra yang dulunya statis dan konvensional ia obrak-abrik menjadi sebuah karya yang sangat fenomenal. Sang sutradara pementasan ini pun yaitu Rudyaso Febriadi (saya biasa memanggilnya dengan sebutan Mas Rudy) yang dulu pernah mengikuti workshop penulisan naskah bersama BenJon juga "angkat tangan" terhadap keliaran pikiran BenJon. Perlu diketahui, dalam naskah Cannibalogy, BenJon menggunakan bentuk penulisan bernama intertext. Di mana dalam sebuah naskah itu beberapa kejadian dari masa lampau dan sekarang digabung menjadi satu plot. "Replika-replika" tokoh ia gunakan dalam naskah ini, ini secara tiddak langsung adalah sentilan yang ingin disampaikan BenJon terhadap kejadian-kejadian yang terjadi di negara ini. Siapa tak kenal Soeharto? Mantan presiden kita yang kontroversial dan terkenal otoriter, di naskah ini ia bernama dan diperkecil bentuknya menjadi Suhar yang diperankan oleh teman saya Riswanda Wirayudha. Karakter tokoh Suhar masih :menjiplak" tokoh sebenarnya yaitu Soeharto di mana ia adalah seorang yang ambisius dan sikapnya yang "seperti itu" masih BenJon sajikan bersama bumbu-bumbu kegilaan dan keliaran BenJon. Sumanto (diperankan oleh Dony Setiyawan) yang dulu adalah orang yang terkenal memakan mayat, kini ia masih menebar teror bagi penonton. Tokoh Suman (seperti aslinya) yang merupakan seorang pribadi yang bersifat apa adanya, dan terkesan kolot, masih dikarakterkan oleh BenJon seperti aslinya, akan tetapi ia juga merasakan apa itu cinta. Terbukti ketika ia dan Sinta Salim berdialog di hutan Mojokuto, Suman juga bisa merasakan apa itu cinta. Akan tetapi cinta di sini masih ala Suman....
Sinta Salim sendiri merupakan replika dari anak dari keluarga Salim yang masih merupakan rangkaian dari Orde Baru. Jangan ter-stigma oleh kata-kata "Salim" karena berkebalikan dengan dunia nyata, di "panggung sandiwara" ini ia menjadi tokoh protagonis. Sinta Salim diperankan oleh teman saya, Dirga Ayu Pertiwi. Ia adalah selir dari pemimpin desa Mojokuto bernama Mas Ageng. Sinta Salim adalah seorang wanita lembut, walaupun ia adalah seorang wanita keturunan, tapi ia baik hati kepada pribumi. Tidak seperti awal era Reformasi di mana etnis (terutama Cina) adalah suatu hal yang sensitif untuk dibicarakan apabila dibicarakan akan memantik api nantinya. Mas Ageng sendiri (yang diperankan oleh teman saya, Alief Pandu Irawan "Ahong") merupakan gambaran atau replika Sultan Agung, raja Demak ketika dulu. Seperti layaknya raja atau dalam naskah disebut sebagai pemimpin, ia adalah seorang yang bijaksana dan tegas. Akan tetapi ketika desa Mojokuto diserang oleh Belanda atau Olanda atau kompeni, Mas Ageng pergi melarikan diri ke Batavia untuk mencari perlindungan dan mengimpun kekuatan untuk menyerang penjajah bersama antek-anteknya. Di akhir cerita ketika dimana ia telah menghimpun kekuatan dan berganti nama menjadi Ageng Rais, ia menangkap antek-antek Belanda yaitu Suhar. Suhar di sini telah membinasakan ribuan nyawa penduduk Mojokuto atau katakanlah genosida demi merebut kekuasaan Mojokuto. Seperti halnya ketika G-30SPKI dimana Soeharto dituding sebagai biang keladinya, BenJon juga menyentil itu dengan bahasanya yang khas. Ageng Rais di sini bisa Anda tebak siapakah dia di kehidupan nyata? Yap, dia adalah replika dari Amien Rais. Dan ketika menangkap Suhar itu adalah pendeskripsian dari BenJon ketika terjadi reformasi tahun 1998. Di mana rezim 32 tahun telah diberhentikan dan dikebiri oleh gerakan mahasiswa yang dipelopori oleh Amien Rais.
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, naskah ini memang melawan batasan waktu. Ini terbukti ketika BenJon menyuguhkan tokoh bernama Landless dan Hoffman. Dua tokoh ini adalah tokoh yang melakukan penjajahan di desa Mojokuto. Seperti cerita-cerita yang kita kenal baik itu dari buku sejarah ataupun cerita dari kakek-nenek kita, Belanda atau kompeni adalah orang-orang yang anti pribumi dna ingin menguasi tanah jajahan mereka. Sehingga ia berlagak kejam, beringas, sombong dan apapun pikiran Anda tentang sesuatu yang bersifat negatif. Landless adalah replika dari Daendels sedangkan Hoffman adalah replika dari Cornelis De Houtman. Ada satu adegan di mana Landless akan membuat "...jalan yang panjang dari Bantam di barat sampai Banyuwangi di timur...", itu merupakan gambaran dari program dan kekejaman dari Daendels di mana ia dulu membangun jalan Anyer-Panarukan. Masih seperti tokoh aslinya, Landless mengorbankan orang-orang pribumi untuk menyelesaikan proyeknya dengan bantuan Suhar. Tapi santai saja, dalam kehidupan nyata, pemeran Landless ini sebenarnya adalah seorang anak yang baik hati dan tidak sombong, jujur dan rajin menabung karena anak itu adalah saya sendiri:Reza Kurnia Darmawan. Sedangkan Hoffman diperankan oleh Abirama Setiadi yang menjadi Albert Hoffman dan Listiyo Budi Santoso yang menjadi Robert Hoffman. Rencana awal mereka berdua hanya sebagai serdadu dan Hoffman sendiri diperankan oleh teman saya. Karena ada "sesuatu hal" maka mereka berdua di plot sebagai Hoffman Bersaudara. Tapi tak apa, itu tidak mengurangi energi kami sebagai Olanda.
Dalam merengkuh kekuasaanya, Suhar dibantu oleh kekuatan mistik penunggu Bengawan Solo yang bernama Ki Butho. Saya belum paham siapakah Ki Butho dalam persepsi BenJon di kehidupan nyata. Tapi saya menduga-duga (hanya menduga-duga), ketika Soeharto merengkuh kekuasaan dari Soekarno dan menjabat sebagai kepala negara selama 32 tahun dengan rezim tangan besinya dan ke-otoriterannya, apakah mungkin dalam merengkuh semua itu ia dibantu oleh kekuatan magis?? Saya tidak tahu itu... Biarkan Soeharto, BenJon dan Tuhan yang tahu... Ki Butho diperankan oleh teman saya bernama Agung Irawan.
Dalam mengarungi pementasan ini yang berdurasi 2 jam 13 menit ini, tidak hanya itu tokoh-tokoh atau pemain yang tampil. Karena naskah ini terdapat banyak aktor dan juga ketika dihadapkan pada SDM yang ada maka hampir semua tokoh yang ada di naskah ini diperankan double oleh kita atau double cast. Ini merupakan pekerjaan yang berat namun menyenangkan ketika dituntut untuk menjadi diri kita sendiri, orang lain, orang lain 2, orang lain 3, dst, ini menjadikan kita untuk bisa memahami karakter orang lain dan memposisikan diri kita menjadi orang lain.
Pada akhirnya, inilah pentas kita. Akhir ini merupakan hasil kumulatif dari proses yang kita jalani. Baik buruknya kita bisa menilai, tapi alangkah lebih baiknya biar orang lain saja yang menilai. Karena dengan orang lain yang menilai kita bisa tahu di mana letak kesalahan kita, sebuah kesalahan yang kita tutup-tutupi apabila diri kita sendiri yang menilai kerja kita. Kritik itu membangun, kawan...
Dan ketika tulisan ini ditulis, kami sedang mempersiapkan tenaga esktra untuk melawat ke Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pentas insyaallah akan dilaksanakan pada 6 Agustus 2010. Kami juga memohon doa restu supaya pentas ini bisa berjalan dengan lancar. Inilah harga diri kita, kawan. THIS IS OUR PRIDE AND HONOUR!!! Ini akan menjadi pengalaman berharga, kawan..... NEVER SURRENDER!!KEEP FIGHT!!!
-------------
PARA CANNIBAL:
Pimpro: Listyo Budi Santoso
Sekpri : Dony Setiyawan
Bendahara: Hanif L. Nissa "Cecak"
Sponsorship: Ita Purnamasari, Alfin Agung Nugroho
Publikasi: Fay Ziana, Ulul Anggraeni, Tri Arini Purwoningrum
Stage Manager: Heriy Santoso "Sendronk", Apsari Retno W.
Setting: Edi Haryono
Lighting: Intan Ayu Nugraheni
Musik: Arie Fadjar Nugroho "Tokay", Wury Febriani, Noviana Rahmawati, Reni "Rainbow", Dicky Rangga Kusuma, Rudy "Gemphile", Surya Nugraha, Sangaji "Trololo", Susi "Similikiti", Yonek D. Nugroho
Make up&costum: Rani Isnaeni, Retno Utami, Apsari Retno W., Agung Irawan
Koreografer: Agung Irawan
Sutradara: Rudyaso Febriadi
Sekpri : Dony Setiyawan
Bendahara: Hanif L. Nissa "Cecak"
Sponsorship: Ita Purnamasari, Alfin Agung Nugroho
Publikasi: Fay Ziana, Ulul Anggraeni, Tri Arini Purwoningrum
Stage Manager: Heriy Santoso "Sendronk", Apsari Retno W.
Setting: Edi Haryono
Lighting: Intan Ayu Nugraheni
Musik: Arie Fadjar Nugroho "Tokay", Wury Febriani, Noviana Rahmawati, Reni "Rainbow", Dicky Rangga Kusuma, Rudy "Gemphile", Surya Nugraha, Sangaji "Trololo", Susi "Similikiti", Yonek D. Nugroho
Make up&costum: Rani Isnaeni, Retno Utami, Apsari Retno W., Agung Irawan
Koreografer: Agung Irawan
Sutradara: Rudyaso Febriadi
Pemain:
Suman, dancer kera : Dony Setiyawan
Suhar : Riswanda Wira Yudha
Sinta Salim, dancer kontemporer : Dirga Ayu Pertiwi
Ki Butho : Agung Irawan
Landless, massa : Reza Kurnia Darmawan
Mas Ageng&Ageng Rais, massa, dancer kera : Alief Pandu "Ahong"
Daeng, Robert Hoffman, Pasukan, dancer kera: Listyo Budi Santoso
Robert Hoffman, massa, dancer kera: Abirama Setiadi
Mbok Tirah, massa: Hanif L. Nissa "Cecak"
Sentolo: Heri Santoso "Sendronk"
Kuro, Tahanan, dancer kera, Perempuan: Tri Arini Purwoningrum
Kerpo, massa, dancer kera, Perempuan: Joani Twelvia Agustina
Suti, massa, dancer bedhayan: Fay Ziana
Kebo: Erlina Indriani
massa, dancer bedhayan, dancer kontemporer: Rani Isnaeni
dancer bedhayan, dancer kontemporer: Ulul Anggraeni
dancer bedhayan, dancer kontemporer : Rani Mayasari
TEATER SOPO
FISIP UNS GEDUNG 2 LANTAI 3 teatersopo@operamail.com teatersopo.blogspot.com
Suman, dancer kera : Dony Setiyawan
Suhar : Riswanda Wira Yudha
Sinta Salim, dancer kontemporer : Dirga Ayu Pertiwi
Ki Butho : Agung Irawan
Landless, massa : Reza Kurnia Darmawan
Mas Ageng&Ageng Rais, massa, dancer kera : Alief Pandu "Ahong"
Daeng, Robert Hoffman, Pasukan, dancer kera: Listyo Budi Santoso
Robert Hoffman, massa, dancer kera: Abirama Setiadi
Mbok Tirah, massa: Hanif L. Nissa "Cecak"
Sentolo: Heri Santoso "Sendronk"
Kuro, Tahanan, dancer kera, Perempuan: Tri Arini Purwoningrum
Kerpo, massa, dancer kera, Perempuan: Joani Twelvia Agustina
Suti, massa, dancer bedhayan: Fay Ziana
Kebo: Erlina Indriani
massa, dancer bedhayan, dancer kontemporer: Rani Isnaeni
dancer bedhayan, dancer kontemporer: Ulul Anggraeni
dancer bedhayan, dancer kontemporer : Rani Mayasari
TEATER SOPO
FISIP UNS GEDUNG 2 LANTAI 3 teatersopo@operamail.com teatersopo.blogspot.com
No comments:
Post a Comment