Jul 19, 2020

If I Saw You on YouTube, Would I Have You in My Gig Tonight?


Foto: dokumentasi pribadi


YouTube recommendation memang berengsek. Bagaimana tidak, sewaktu nonton video yang disuka, dia secara mak jegagik menyuguhkan thumbnail dan judul yang menghipnotis pengguna untuk mengeklik. Lagi dan lagi, hingga berulang kali. Gara-gara fitur itu, niscaya rebahan kita semakin kafah.

Andai kata YouTube recommendation tidak ada, mungkin saya tak akan pernah berkenalan dengan Alvvays. Perjumpaan perdana itu terjadi pada 2017. Selagi mengulik band-band dream pop, indie pop, dan serumpunnya, video klip “Dreams Tonite” nongol di rekomendasi daftar putar. Saya iseng men-dudul-nya, tanpa ekspektasi apa pun. Beberapa detik berselang, alamak, saya langsung terpana. Eh, bukan, ini sudah tahap jatuh cinta pada pandangan pertama.

Iki aku banget,” pikir saya kala itu. Salah satu single dari album Antisocialites tersebut begitu manis, tetapi memberikan kesan rapuh sekaligus melankolis. Nuansa lagu terasa retro. Apalagi ada efek-efek lo-fi yang bikin konsepnya lebih menggigit. Ditambah dengan video klip yang menampilkan suasana theme park di Montreal, Kanada, semasa era ’60-an. Hebatnya, para personelnya bisa dimunculkan dalam footage lawas koleksi National Film Board of Canada dan Prelinger Archive itu.

Momen terbaik dan yang paling membuat terngiang-terngiang dari video klip “Dreams Tonite” adalah saat monorail melintas di depan dinding warna-warni berlatar suara Molly Rankin menyanyikan bridge, Live your life on merry-go-round. Who starts a fire just to let it go out?” Lalu, kamera menampakkan  Molly yang mengenakan tweed jacket merah sedang menyanyikan chorus, If I saw you on the street, would I have you in my dreams tonight?” Saking terkesimanya, potongan video klip tersebut saya unggah ke Instagram. Ini menjadi bukti bahwa saya menyukai band asal Negeri Pecahan Es itu.

Ya, semakin dalam menyelami, rasa gandrung saya terhadap Alvvays bertumbuh besar. Pastinya bakalan menyenangkan saat bisa menyaksikan mereka tepat di depan mata.
Dan harapan itu pun terjawab sekitar dua tahun kemudian.

Deg-degan, Kampret!
Seusai menemukan permata itu, hampir tiap Minggu, saya menyetel lagu-lagunya. Saya menobati tembang-tembang dari album pertama dan kedua mereka sebagai lagu kebebasan plus weekend anthem. Entah mengapa “Next of Kin”, “Archie, Marry Me”, “In Undertow”, “Lollipop (Ode to Jim)” dan lainnya memberikan warna beda di akhir pekan. Mungkin terdengar klise dan ndakik-ndakik, tetapi ini betul-betul terjadi. Meski penuh infinite sadness, lagu-lagu tersebut seperti merelaksasi tubuh dan pikiran setelah hari-hari sebelumnya diperbudak oleh kerja-kerja-kerja.

Seiring track demi track dilahap, keinginan untuk menonton mereka secara langsung makin menguat. Tak ada angin pun hujan, saya tiba-tiba membuka akun Instagram We the Fest. Ini terjadi pada minggu akhir Februari 2019. Di salah satu unggahannya, mereka sedang memberikan petunjuk tentang tiga belas artis internasional yang bakal main di festival tahun itu. 


Tangkapan layar unggahan akun Instagram @we.the.fest

Awalnya saya cuma, “Oh…” Begitu membuka kolom komentar, banyak yang bilang Alvvays-Alvvays-Alvvays. Sebenarnya saya maido di awal. Eh, lha kok sialnya, saya ikut tersugesti. Apalagi wajah seorang bermasker di pojok kiri atas itu mirip Molly Rankin, vokalis-gitaris Alvvays. Alhasil saya terjerembab dalam kebimbangan.

Line-up fase pertama itu bakal dikuak keesokan harinya (22 Februari). Menunggu pengumuman, jam berdetak begitu panjang. Setiap detiknya beradu dengan irama jantung yang berpacu. Kegelisahan menggelayuti, pikiran tak tentu. Akankah bersambut harapan itu?

Jawabannya iya. Bersama Cigarettes After Sex, Yaeji, Rae Sremund, dan sembilan nama lainnya, Alvvays masuk dalam daftar penampil tahap pertama yang diumumkan. Oh, puja kerang ajaib!
Tanpa berpikir ini-itu, saya memutuskan fix budhal. Sekarang atau tidak sama sekali. Nawaitu niat ingsun nonton Alvvays.

Molly, the Cotton Candy Lady
Sejujurnya, We the Fest (WTF) bukanlah tipe festival yang “gue banget”. Amat gegap-gempita dengan segala hypebeast-nya, pergi ke WTF ibarat meluncur ke medan laga. Terdengar sinis dan konservatif sekali, ya? Hahaha.

Benar saja, sesampai di lokasi konser, JIExpo Kemayoran, saya terasing. Saya terlalu Metallica di antara rerimbunan Coachella. Apalagi waktu itu tiada teman menemani. Akan tetapi, demi merayakan perjumpaan dengan Alvvays, hanya ada dua kata: bodo amat.

Band pujaan saya itu dijadwalkan naik pentas pukul 20.45 di This Stage Is Bananas. Sembari menunggu jam bersua, saya menikmati bintang tamu hari pertama lainnya (19 Juli 2019): Glaskaca, Dewa 19 feat Ari Lasso dan Dul Jaelani, Dean, serta The Adams. Nama terakhir yang disebut tampil di panggung yang sama sebelum Alvvays.

Selepas The Adams merampungkan aksinya, massa makin menyemut di This Stage Is Bananas. “Wih, banyak sekali jamaah Alvvaysiyah,” ujar saya dalam hati. Saya nyempil ke depan-tengah, mencari posisi yang bisa segaris lurus dengan panggung. Saya berhenti di atas instalasi kabel yang mengarah ke FOH, sehingga sedikit lebih tinggi dari penonton lainnya. Kelak, tempat nan pewe ini bakalan mendatangkan rasa ge-er terhadap Molly. Nanti saya ceritakan.

Susah buat tidak deg-degan menunggu momen itu, terlebih pada saat check line, empat anggota Alvvays: Alec O’Hanley (gitar), Kerri MacLellan (kibor, synth), Brian Murphy (bas), dan Sheridan Riley (drum) tampak di panggung untuk menyiapkan alat-alatnya secara mandiri, soalnya mereka tidak membawa kru.

Kemunculan mereka membuat penonton bertambah riuh. Banyak yang memanggil-manggil Molly, bertepuk tangan, atau berceloteh biar menarik perhatian personel. Saya tidak ikut-ikutan dan hanya diam. Mematung lebih tepatnya sambil melayangkan pikiran, “Saya tidak sedang menonton YouTube. Ini bukan mimpi!”

Jatah pemasangan dan pengecekan alat selesai. Personel keluar, lampu panggung dimatikan. Sesaat kemudian, “Indonesia Raya” berkumandang. Lalu, waktu yang dinantikan para Sahabat Alvvays tiba. Personel masuk lagi, dan kini mereka mengajak Molly. Ia unjuk diri paling akhir. Perempuan kelahiran 27 Juli 1987 itu mendapat sambutan paling meriah.

Tatkala Molly menampakkan batang hidungnya, saya cuma bisa bungah dan senyam-senyum sambil mbatin, “Oh, ini to Molly.” Sebagai frontwoman, Molly memang cocok didambakan. Ia juga pas menjadi ikon Alvvays. Salah satu yang menjadi daya tariknya adalah rambut pirang keabu-abuannya. Saya pernah membaca sebuah komentar netizen di  YouTube yang bilang rambut Molly mirip permen kapas. Saya mengamini. Sejak memperhatikannya, saya berpikiran sama seperti si netizen.

Malam itu, wanita berambut permen kapas tersebut hadir di depan mata. Yang bikin kebahagiaan berlapis-lapis, warna baju kami sama-sama kuning. Ah, semesta benar-benar mendukung.

Foto: dokumentasi pribadi

Alvvays membuka pertunjukan perdananya di Indonesia dengan “Hey”. Lagu dari album Antisocialites ini tepat dijadikan sebagai pembuka konser karena iramanya yang rancak. Di bagian intro, seluruh alat musik dimainkan, sehingga bisa sekalian mengecek kualitas sound. Setibanya di part vokal, Alvvayslicious serentak berteriak, “Hey…” Amboi, saya merinding!

Arena WTF kembali dipanaskan dengan tembang menghentak, “Adult Diversion”. “Terima kasih telah sing along bersama kami,” kata Molly.

Sebenarnya sempat ada perasaan was-was terkait durasi. Bermain di festival, waktu sangat terbatas. Apalagi mereka bukan headliner. Saya takut jangan-jangan Alvvays hanya bisa memainkan sembilan hingga sepuluh lagu saja. Maklum, mereka cuma memperoleh jatah beraksi kurang lebih satu jam.

Saya sudah bersiap jika itu terjadi. Eh, ternyata Alvvays cukup cerdik mengakalinya. Caranya mereka langsung tancap gas tanpa ba-bi-bu, bermain dengan ketat, dan meminimalkan berbincang bareng penonton.  Tanpa saya nyana, band yang dibentuk tahun 2011 ini berhasil menyajikan enam belas lagu! Itu termasuk dengan cover version “Divine Hammer” dari The Breeders. “Kami akan memainkan lagu dari The Breeders. Kalian tahu The Breeders? Tahu dari mana? Oh, iya, YouTube,” canda Molly.

Di empat nomor terakhir – yang menjadi hits mereka: “Archie, Marry Me”, “Dreams Tonite”, “Party Police”, dan “Next of Kin”, penonton bertambah panas. Crowd surfing mulai terlihat, jingkrak-jingkrak dan angguk-angguk kepala semakin intens, serta karaoke massal kian bergemuruh. Hari itu, kami merayakan kesenduan bersama-sama. Memang benar kata orang-orang, “Perkara ati paling penak dijogeti.

“Next of Kin” menjadi lagu pamungkas. Seusai melambaikan tangan, Molly dan teman-temannya meninggalkan panggung dengan iringan teriakan we want more. Saya termasuk yang masih berdiam di depan panggung, berharap mereka muncul lagi dan membawakan lagu encore “Saved by a Waif”, seperti yang kerap mereka lakukan. Namun, mereka tak kembali.

Ah, ya sudahlah, tak jadi soal. Toh, kadar suka cita saya sudah membeludak karena bisa menyaksikan idola. Hari itu adalah salah satu yang terbaik dalam hidup.

Tahukah kenapa kebahagiaan saya sampai tumpah-tumpah? Dari setlist yang dihidangkan, yang paling terkenang hingga sekarang adalah ketika “Lollipop (Ode to Jim)” dibawakan. Di lagu kelima ini, saya ge-er banget sama Molly. Alkisah sewaktu menyanyikan lirik, “You’re alone in this picture…,” sambil tersenyum, Molly menunjuk ke arah tengah penonoton. Karena posisi saya lebih tinggi dari penonton lainnya – ditambah bibir saya terus komat-kamit di tiap lagu, telunjuk itu rasa-rasanya tertuju tepat ke saya.  Saya beranggapan itu adalah reward yang Molly berikan karena saya hafal lagunya. Alhasil saya sumringah. Senyuman Molly saya balas dengan senyuman termanis yang saya miliki.

Tolong, bagi siapa pun, jangan patahkan kegembiraan ini. Saya juga meminta usah mengocehi bahwa saya sedang halu. Dan mohon pantang bisikkan kalau saya tengah berandai-andai karena itu adalah pelita bagi jiwa saya yang ditumbuhi lara.

Mampus, kau, dikoyak-koyak bucin!

May 30, 2020

Selamat Ulang Tahun, Sebuah Ode Menuju Dewasa



Tirai panggung tersingkap. Di bawah lampu sorot, seorang gadis bergaun putih berjalan tanpa gontai. Di latar pentas, terpampang kolase fotonya sedari kecil hingga remaja. Dia berhenti di satu titik, lantas berucap, “Berbaring, tersentak, tertawa. Tertawa dengan air mata. Mengingat bodohnya dunia. Dan kita yang masih saja berusaha.

Mata perempuan itu menatap tajam ke depan. Romannya penuh keyakinan. Selintas senyum mendarat di bibirnya. Seiring cahaya memudar, ia berkata dalam hati, “Aku siap.”

Kelir mulai tertutup. Tepukan tangan penonton riuh membahana. Berkali-kali namanya dielu-elukan. Hari itu, Nadin Amizah berhasil menyihir lewat pementasannya yang berjudul “Beranjak Dewasa”.

Andaikan “Beranjak Dewasa” diangkat ke panggung pertunjukan, seperti itulah gambaran di benak saya. Sebuah ode manis nan teatrikal bagi mereka yang selangkah lagi mentas dari masa remaja.

Lagu tersebut merupakan secuil kebahagiaan dari kelahiran sang perdana, Selamat Ulang Tahun. Album ini dirilis pada 28 Mei 2020 bertepatan saat Nadin menggenapi dua dekadenya. Kata Nadin, di takarir Instagram-nya, karyanya ini adalah rangkaian padat dari fase remajanya. “Satu untuk yang terakhir dari masa remajaku,” tulisnya.

Kemunculan Selamat Ulang Tahun di masa-masa penuh keprihatinan ini tak ubahnya pendar suar di lorong panjang kegelapan. Ia turut pula menjelma teh hangat yang disesap kala butir hujan turun dengan rapat. Ia membawa kabar gembira bagi pendengarnya yang telah menunggu lama. Pun ia meninggikan harapan di derasnya kecamuk badai kehidupan. Tak perlu bedil tak perlu senjata, melainkan hanya butuh, “Tapi kita punya kita yang akan melawan dunia.

Paragraf di atas bukan suatu yang mengada-ada. Memang benar Selamat Ulang Tahun dikemas sederhana, tetapi dia tak apa adanya. Justru keminimalisan itulah yang membentuk sisi magis. Materi-materinya tidak ada yang mubazir. Mereka saling mengisi dan menguatkan serta masing-masing punya keunikan. Ambil contoh “Kereta Ini Melaju Cepat”, denting piano yang ditimpali vokal melambai, sangat serasi menjadi pengiring kala rinai membasahi jendela. Atau “Bertaut”, ini paling favorit. Dengarkanlah bersama orang terkasih; dia yang menguatkan, membasuh luka, dan memberikan nyawa dari bajingannya hidup.

Selainnya, album ini cemerlang berkat penggunaan lirik yang rupawan. Nadin lihai menari-nari di atas pena. Dalam imannya kepada rima, dia mencuplik tawa, membingkai  lara, dan menumbuhkan asa menjadi kalimat-kalimat yang eloknya semirip surga.

Barang siapa dengan khidmat menyimaknya akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan usai album ini diputar hingga detik terakhir, entah mengapa ada perasaan lega dan helaan nafas bahagia. Demi apa pun, Nadin, jampi-jampimu memikat kalbu.

Dalam Selamat Ulang Tahun, Nadin menyampaikan episode-episode hayatnya secara jujur. Ada yang manis, begitu juga getir. Bagi beberapa orang, fragmen menyayat itu akan lebih baik bila dipendam jauh. Namun, Nadin memilih jalan beda. Dia tak berusaha menutup-nutupi dan sepakat berdamai dengan masa lalu dan diri. Lewat “Taruh”, “Cermin”, “Mendarah”, kita tahu bahwa Nadin pernah melewati babak-babak penuh pergulatan. Menjadi jujur adalah hal berat. Sungguh, ini merupakan tapakan berarti dalam tahap mendewasa.

Selebihnya, terima kasih atas Selamat Ulang Tahun, Nadin. Semoga tuturmu menjadi pijakan bagi mereka yang turut bertumbuh. Sentosa selalu di dua dasawarsamu. Masa depan cerah menanti dan semesta memberkati. Teruslah bersinar.