Sebenarnya
ada pergulatan dalam pikiran, apakah saya harus menuliskannya atau tidak. Di
satu sisi saya sudah capek menatap laptop selama berjam-jam untuk merampungkan
tulisan pertama. Lama tidak menulis panjang; otak, mata, leher, dan jemari
sudah menemui titik jenuh nan menyebalkan. Namun jika tidak dituliskan, ada
perasaan mengganjal.
Saat
memantau tulisan kompetitor, earphone yang
menyumbat kuping mengalunkan lagu-lagu mereka. Sengaja memang. Siapa tahu tembang-tembang
mereka punya efek magis untuk menyusun energi ekstra di tenggat waktu yang
semakin mepet.
Akhirnya
saya mengambil keputusan: Baiklah saya akan menulisnya!
Mimpi Itu Menjadi Nyata
Bagi
Iga Massardi, impian punya bus pribadi yang digunakan buat tur akhirnya
terwujud pada Mei 2016 lalu. Walaupun masih menyewa, tetapi paling tidak mimpi
bertandang dari satu kota ke kota lain menggunakan bus, terealisasi.
Bersama
rekan-rekannya dari Barasuara, Iga dkk. menjelajah enam kota di Pulau Jawa
secara maraton dari tanggal 2-15 Mei 2016. Petualangan itu terangkum dalam Taifun Tour. Tur perdana Barasuara ini
ibaratnya menjadi poin pelengkap kegemilangan karir mereka usai merilis debut
album fenomenal, Taifun, pada 2015.
Pasca
Taifun beredar, nama Barasuara
semakin meroket. “Barasuara adalah pengalaman yang luar biasa. Banyak sekali
yang harus disyukuri. Wong modal awalnya
cuma cinta dan nekat, tanpa rencana yang hebat serta tanpa ekspektasi yang
tinggi. Latihan, latihan, latihan, cuma itu saja [kuncinya]," tulis Iga dalam
salah satu unggahan fotonya di Instagram.
Kualitas
adalah prioritas mereka. Berbicara mengenai kualitas, salah satu yang disorot
dari Barasuara adalah kedahsyatan saat tampil live. Di kamus hidup Barasuara, performa apik menjadi kewajiban.
Semangat itulah yang dibawa dalam Taifun
Tour.
Barasuara
berjanji Taifun Tour bakalan berbeda dari panggung-panggung regulernya.
Di edisi spesial ini mereka memanjakan penggemar dengan tata artistik panggung
dan tata cahaya yang selaras dengan konsep musik Barasuara.
Untuk itu, Barasuara menggandeng dua orang yang jago di bidangnya: Ezar P. Darnady sebagai Stage Designer dan Lighting Designer, serta Isha Hening yang menjabat Visual Animation Artist.
Untuk itu, Barasuara menggandeng dua orang yang jago di bidangnya: Ezar P. Darnady sebagai Stage Designer dan Lighting Designer, serta Isha Hening yang menjabat Visual Animation Artist.
Taifun Bergemuruh di
Solo
Salah
satu destinasi yang disinggahi Barasuara dalam Taifun Tour adalah Solo. Pentas di Kota Bengawan digelar di Teater
Arena Taman Budaya Jawa Tengah, 10 Mei 2016.
Dalam
hati sebenarnya ada keraguan: Apakah bisa Taifun
Tour mendatangkan banyak penonton? Pasalnya, panggung perdana Barasuara di
Kota Solo hanya berjarak satu bulan sebelum Taifun
Tour digelar. Namun, dugaan saya salah. Penonton membludak. Bahkan, dari kabar
yang saya dapat, tiket konser tak
meninggalkan sisa.
Lalu
pertanyaan kedua menghampiri: Seperti apa performa Barasuara di Taifun Tour ini? Apakah janji untuk
tampil prima akan dipenuhi, atau itu hanya menjadi strategi marketing belaka?
Jawaban
itu mulai muncul pada jam 19.30 WIB. Derau angin yang keluar dari soundsystem mengiringi langkah sepasang
kakak-beradik, Marco Stefianno dan Enrico Octaviano, memasuki panggung. Usai
duduk di balik set drum, mereka langsung menghentakkan pukulan eksplosif yang
membuat lantai Teater Arena bergetar. Kombinasi pukulan drum dan lighting menjadi menu pembuka yang
manis.
Pukulan
itu kemudian melebur menjadi nomor pembuka, “Hagia”. Saat Iga beserta dua
biduan Barasuara, Puti Chitara dan Cabrini Asteriska, menyanyikan lirik yang
dikutip dari Doa Bapa Kami, bulu kuduk saya tiba-tiba berdiri. “Hagia” versi Taifun Tour terasa menyayat dan lebih
menampar dibanding versi album.
Di
dua nomor selanjutnya, “Nyala Suara” dan “Tarintih”, Puti dan Asteriska semakin
menjadi-jadi dalam tariannya. Terkhusus di judul yang disebut di akhir,
hentakan rancak drum Marco yang ditambah perpaduan irama gitar memabukkan milik
Iga dan TJ Kusuma, membuat penonton tak segan untuk bergoyang. Jangan lupakan
pula peran Si Lincah pembetot bas, Gerald Situmorang, yang menjadi pemantik massa
untuk headbang.
Kini
giliran lagu paling favorit saya yang dikumandangkan. “Taifun”, lagu paling
kontemplatif yang ada di album, didendangkan dengan lirih oleh tiga vokalis.
Seketika lagu ini melumat ingar-bingar nomor-nomor sebelumnya.
Bebunyian
blues padang pasir menemani saya
merenungi ucapan Iga yang dihantarkan sebelum lagu ini dimulai. “Ini lagu
paling sunyi di album Taifun. Karena
dalam kesunyian ada rintihan paling dalam,” katanya.
Lagu
favorit lain di album Taifun, “Mengunci
Ingatan”, didendangkan penuh melankolia. Suasana sendu semakin membuncah berkat
tempo yang dipelankan. Diterangi lighting
berwarna biru, lirik lagu ini memberi bogem mentah kepada diri saya.
Alhasil, mulut yang sedianya kepingin ber-sing
along hanya bisa mengatup.
Dalam
Taifun Tour, Barasuara turut
memamerkan karya terbarunya yang diberi judul “Samara”. Jika diperhatikan dari
penulisan lirik, lagu ini rasanya masih punya benang merah dengan lagu-lagu
lain di album Taifun. Nomor paling
gres ini dipenuhi irama funk.
Di
lagu “Menunggang Badai”, Gerald Situmorang menunjukkan gemuruh permainan
basnya. Sedangkan “Sendu Melagu”, menjadi arena Iga untuk unjuk kebolehan.
Teater
Arena yang sedang gerah-gerahnya semakin dibakar oleh Barasuara. “Api dan
Lentera” adalah pemantiknya. Tak bisa
dipungkiri lagu ini mempunyai daya destruktif tinggi. Apalagi saat berada di
lirik “Lepaskan rantai yang membelenggu,
nyalakan api dan lenteramu”, penonton ibarat berada dalam posisi trance.
Sisa-sisa
energi yang dipunyai penampil maupun penonton akhirnya dilampiaskan di nomor
penutup, “Bahas Bahasa”. Bukannya melambat, mereka malah semakin meliar.
Bahkan, Iga dan Gerald sempat berseluncur di antara kerumunan penonton sambil
memainkan instrumennya. Epic!
Melihat
respon masyarakat, sepertinya Iga dan kawan-kawan harus merevisi mimpinya. Impian
punya tour bus saya rasa terlalu
ringan bagi band sekelas Barasuara.
Sekarang adalah saat yang tepat bagi mereka untuk bermimpi menjadi legenda
musik Indonesia.


