Jul 27, 2013

Lembaran Kertas

Kali ini akan mencoba menyapa lembaran kertas tersisa
Lembaran kertas yang belum bertinta
Usahlah kau tanyakan bahagia

Lembaran itu hanya tergeletak di antara rak berisi buku-buku usang
Berdebu hingga hampir menjadi abu
Disengaja tak disapa, melihatnya pun aku tak tega
Lembaran itu menyiratkan diam yang entah sampai kapan
Tapi pasti diamnya tak akan mungkin bertahan lama
Akan datang suatu masa aku butuh tinta
Bukan, ini bukan seperti yang kau duga
Namun percayalah, ini sama dengan yang kau rasa

Lembaran itu tergeletak bertiraikan suara-suara malam
Dijaga oleh peri, mereka memainkan lagu-lagu surgawi
Harpa mereka petik, detak jantung berdegup berdenting-denting
Mengalunkan kesenduan, mengoyak-moyak tegar mendalam
Ingin rasanya menulisinya dengan huruf-huruf yang bertinta sinar bulan
Lalu menerbangkannya bersama angin pancaroba, hingga akhirnya teraba dan terbaca
Bukan, ini bukan seperti yang kau duga
Namun percayalah, ini sama dengan yang kau rasa

Biarlah lembaran kertas ini menjadi saksi tentang rasa


-------------------------------------------------

Wah, saya nampaknya terlambat satu hari merayakan Hari Puisi Nasional. Tapi tak apalah, kata orang sih "lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali", hehehe. Puisi di atas saya buat untuk ikut merayakan Hari Puisi Nasional. Karena inti dari puisi adalah menuliskan dan membacanya dengan rasa. Maka, selamat merasa :)

Jul 26, 2013

Ahhh, Untung Cuma Mimpi

Entahlah, saya bingung. Kenapa mimpi-mimpi yang hadir dalam tidur saya itu selalu berkaitan dengan hal yang absurd? Dulu saya bermimpi tentang Ustad Fotocopy, tadi pagi lebih absurd lagi, atau malah sudah masuk level “menyeramkan”. Ngomong-omong, keren ya mimpi-mimpi saya ada level-levelnya? Berasa kaya’ Maicih.

Kenapa “menyeramkan”? Karena pagi tadi saya bermimpi menjadi seorang yang mempunyai sixth sense. Jadi inti mimpi tersebut, saya bisa melihat hal-hal yang tak kasat mata. Saya lupa bagaimana cerita awalnya, yang saya ingat ketika itu saya berada di sebuah gedung mirip kampus, entah kampus mana. Di setiap pojokan, di tengah kerumunan, saya selalu bertemu “mereka”.  Bahkan ada juga salah satu dari “mereka” yang berbentuk perempuan, ia selalu menguntit seorang mas-mas kemanapun ia pergi. “Za, Za, kui tontonen, ana “cewek” sing melu mas e terus”, begitu ucap teman saya – yang juga punya kemampuan melihat hal-hal tak kasat mata – ketika melihat “perempuan” tersebut. 

Saya lupa mimpi saya tersebut berakhir seperti apa. Yang jelas ini merupakan sebuah pengalaman yang baru bagi saya. Dan yang pasti setelah terbangun dari mimpi tersebut hal yang pertama saya lakukan adalah melihat kondisi di dalam kamar saya. Ketika keluar kamar, saya pun masih celingukan, berharap apa yang saya alami di mimpi tidak terjadi di kehidupan nyata. Bahkan ketika tulisan ini dibuat, saya masih merasa parno, hahaha.

Jika berbicara tafsir, saya tidak tahu apa tafsir dari mimpi tersebut. Yang jelas, itu seperti shock therapy bagi saya, hahaha. Sempat juga sih terlintas, “Apa jangan-jangan ini pertanda kalau saya akan memiliki sixth sense, ya?”. Ahhh, tidak, tidak. Just kidding.

Jul 19, 2013

Untitled

Tuhan itu lucu. Jangan salah sangka dulu, ini bukanlah bentuk peremehan atau ketidakpercayaan saya terhadapNya. Melainkan ini hanyalah ekspresi kekaguman saya terhadapNya. Saya suka dengan caraNya bekerja. Kadang Dia menunjukkan KuasaNya di saat yang tak terduga dan secara tiba-tiba, misalnya dengan pertanda. Dan lewat pertanda pulalah dia menyentil umatnya. Jika kamu menyadarinya, mungkin kamu akan tersenyum geli.

Apa yang saya alami hari ini, saya yakin adalah sebuah pertanda dari Dia. Sebuah sentilan yang manis, hahaha. Jadi alkisah, sebelum tulisan ini dibuat, saya iseng-iseng membuka Twitter. Saya scroll Timeline dan mendapati perbincangan dua teman saya yang sedang mengobrolkan jurnal abstrak skripsi. Dari sini pasti kamu sudah tahu arah tulisan ini, kan? Hahaha. Dan entah kenapa tiba-tiba saja saya teringat koran yang saya baca tadi siang, salah satu artikelnya membahas tentang obyek penelitian skripsi saya. Sudah semakin jelas, kan, arah tulisan ini? Hahaha. Suatu kebetulan yang, entahlah, mungkin sudah Dia rencanakan untuk saya. Hanya melalui sunggingan bibir dan senyuman geli saya menyimpulkan peristiwa ini. Ngomong-omong tak perlu, kan, saya menulis kesimpulan peristiwa tersebut? Karena saya tahu kamu pasti sudah you know me so well, begitu kata SM*SH.

Kamu pasti juga pernah mengalami itu, kan? Apa yang kita lakukan setelahnya adalah tergantung penyikapan kita. Jika kamu bertanya apa yang akan saya lakukan, jawaban saya adalah, “Si anak pemalas ini kemungkinan besar telah menemukan niatnya.”

Jul 17, 2013

Ini Bukan Tulisan Pembangkit Motivasi

Pernahkah di suatu kesempatan temanmu berkata, “Sudahlah, pasti ada hikmahnya” atau “Udahlah, positive thinking aja”? Jika kamu pernah mengalaminya, saya yakin pasti kamu sedang memasuki sebuah fase hidup bernama kalut. Ya, semua orang berhak kalut terhadap masalahnya sendiri-sendiri. Jika ada orang yang mengklaim bahwa dirinya tidak pernah kalut, pastilah derajatnya melebihi superhero. Spiderman, yang notabene seorang superhero, pernah dibuat kalut ketika pamannya meninggal. Bukan begitu?

Setiap orang pasti bereaksi ketika sedang dilanda kekalutan. Reaksinya pun beragam dan kadang “pengaktualisasiannya” aneh-aneh. Ada yang memandangi langit, ada yang makan dengan porsi besar, ada yang memutar lagu-lagu melankolis hingga membuatnya menangis, dan berbagai bentuk jamak “pengaktualisasian” yang pastinya sudah sering kamu lihat dan ketahui. Tidak, saya tidak akan bertanya: Dari berbagai ciri-ciri “pengaktualisasian” kekalutan di atas, manakah yang identik denganmu?

Namun selain ciri-ciri di atas, ada juga orang yang tidak terlalu reaksioner terhadap kekalutannya. Mungkin lebih tepatnya, dia hanya sejenak merasakan kalut – atau mungkin malah tidak pernah merasakan, dan langsung kembali ke realita hidupnya. Karena memang orang yang kalut akan terlena dengan “pakem” kekalutan yang biasanya dilandasi dengan kalimat: seharusnya seperti ini. Orang-orang semacam tadi, tidak terlena di tahap ini. Ia segera moving forward untuk menatap rencana-rencana yang telah dipersiapkan oleh kehidupan. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang langka dan seakan-akan congkak terhadap permasalahan kehidupan.  Setiap masalah yang menerpa hidupnya, ia anggap angin lalu. Karena menurutnya setiap masalah pasti sudah ada solusinya sendiri, entah akan terjawab hari ini atau esok atau beberapa hari ke depan. Sebelum masuk ke fase kalut, mereka sudah memfilterisasinya. Lalu berbentuk apakah filter tersebut? Filter tersebut berbentuk positive thinking. 

Positive thinking memang sulit. Perlu proses untuk bisa mendapatkannya. Saya jadi teringat nasehat Pak Quraish Shihab di acara sahur tadi malam, yang intinya adalah kita sebagai manusia harus selalu berharap dan tidak boleh berputus asa.  Nasehat beliau memang benar. Putus asa adalah musuh terbesar manusia. Manusia adalah makhluk yang mudah dalam berangan-angan/bercita-cita, dan juga manusia adalah makhluk yang dengan mudahnya berputus asa ketika angan-agan/cita-citanya tidak terealisasi. Jika tulisan ini ditarik ke ranah religius, Tuhan pun sudah mengingatkan kita untuk selalu berpikir positif. Melalui ayatnya, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Dari ayat tersebut – yang diulang dan ditekankan – berarti Tuhan telah menjamin umatnya untuk terus berpikir positif serta menjamin bahwa pertolonganNya akan selalu ada. Yakinlah…

Oh hampir kelupaan, yang menarik  dari berpikir positif adalah kata-kata, “Udahlah, positive thinking aja. It’s gonna be fine” sudah menjadi semacam kalimat penghibur permasalahan di ranah global. Orang dengan mudah berkata atau menasehati kita supaya berpikir positif dan mengambil hikmah dari permasalahan yang kita hadapi. Padahal orang yang menasehati tersebut belum tentu bisa berpikiran positif. “Jadi orang yang menasehati supaya berpikiran positif itu gampang, tapi susah dijalanin”, begitu kata iklan salah satu provider edisi positive thinking.

Jika sebelum paragraf ini kamu berpikir bahwa tulisan ini anti klimaks dan terkesan tidak serius, maka sesungguhnya pikiran kamu benar. Saya memang sengaja tidak memberikan apa itu definisi positive thinking, cara-cara agar kita dapat dengan mudah ber­-positive thinking atau keuntungan positive thinking, karena tulisan ini bukanlah tulisan dengan title “Kiat-Kiat Sukses”. Jika kamu ingin mencari itu semua, silakan mencarinya di Google, silakan menonton Golden Ways, dan silakan membaca buku The Secret. Oh, ngomong-ngomong soal The Secret, buku tersebut sudah saya beli sekitar tiga tahun yang lalu tapi sampai sekarang saya belum membacanya, apakah ini merupakan tanda-tanda bahwa saya tidak bisa ber-positive thinking? Entahlah… Yang jelas Luwak White Koffie yang menamani saya merampungkan tulisan ini berasa lebih nikmat.

Jul 14, 2013

Harmoni Amourest - Luar Biasa


Foto diambil dari akun Facebook Harmoni Amourest

Lagu ini memang mengingatkan kita kepada Sang Pencipta. Tapi bukan, ini bukan lagu religi Ramadhan seperti yang sering dibuat oleh band-band di luar sana demi “menyemarakkan” bulan tersebut. Disengaja atau tidak, menurut saya, momentum perilisan lagu ini sungguh tepat. Dirilis di awal Ramadhan, lagu ini bagaikan asupan gizi bagi jiwa kita di bulan tersebut.

Jika setiap lagu yang dirilis pada saat Ramadhan diasosiasikan sebagai lagu reiligi, maka saya katakan tidak untuk lagu ini. Menurut saya lagu ini lebih bersifat universal dan tidak terlalu terkotak dalam nama religi. Lagu ini juga fleksibel didengarkan di segala waktu. Apalagi waktu di mana kamu muak dengan kehidupanmu dan berkata, “Hidup ini tak adil”. Secara lirikal, lagu ini telah menyediakan solusi ketika kamu dibuat muak oleh hidup. Saya percaya bahwa lagu lebih bisa bercerita dan lebih bisa memberikan motivasi jika dibandingkan dengan para motivator yang ada di TV, maka sama halnya dengan lagu ini. Lagu ini dibuat dengan harapan bahwa, ketika kamu muak dengan hidupmu, dengarkanlah lagu ini, dan semoga kamu menemukan jalanmu kembali, serta, “Tetaplah melangkah dan selalu tersenyum”.

Dua paragraf di atas menceritakan tentang single baru dari Harmoni Amourest, sebuah band syahdu dari Karanganyar, Jawa Tengah. “Luar Biasa” adalah judul dari single tersebut. Oh iya, di lagu ini mereka berkolaborasi dengan empat siswi SD – murid les sang gitaris – yang menyumbangkan suaranya dalam koor di bagian akhir lagu, yang seakan-akan mengajak pendengar untuk:  let’s celebrate our life!

Bagi kamu yang suka pop balada semacam Payung Teduh atau Ballads of the Cliché, kamu bisa mendengarkan dan mengunduh lagu mereka di bawah ini


Jul 5, 2013

Yang (Tak) Terlewatkan

Karl Marx benar. Ternyata alienasi itu ada. Alienasi tidak hanya terjadi pada buruh tapi juga pada seorang penikmat musik yang selektif. Dan seorang itu adalah saya. Selasa kemarin tujuan saya hanya satu sebenarnya: menonton Sheila On 7 live. Tapi sebelum Sheila On 7 naik ke panggung, ada dua band prmbuka. Dua band inilah yang membuat saya teralienasi dan berujung dengan keluarnya kalimat “aku kudu piye?”. Bayangkan saja bagaimana “tersiksa”nya saya, seorang yang mengaku non mainstream, dan tiba-tiba “dipaksa” melihat dua band bertemakan cinta mainstream nan komersil – atau maaf kalau saya bilang murahan – tampil membawakan lagu-lagu yang tidak dikemas secara indah. Jika bukan karena band idola saya waktu remaja, saya tidak akan pernah singgah ke Alun-Alun Utara Surakarta malam itu. Sheila On 7 memang band mainstream dengan lagu-lagu yang juga kebanyakan bercerita tentang cinta, tapi secara pengemasan mereka tetap juara dibandingkan dua band pembuka mereka. Tapi sudahlah, lupakan saja. Selera orang itu berbeda-beda.

Kalau saja saya tidak mendengar mereka check sound, saya tidak akan pernah tahu kalau ternyata Sheila On 7 manggung di dekat rumah. Malam harinya teman-teman saya berdatangan untuk menitipkan motor di rumah saya. Yap, mereka lebih suka menitipkan motor di rumah saya daripada harus parkir di sekitaran venue dengan biaya parkir yang kadang bisa mencapai 2x dari tarif normal. Acaranya sih gratis, tapi biaya parkirnya itu lho yang tidak gratis. Duh dek…

Acara malam itu disponsori oleh salah satu pabrikan ponsel pintar yang sedang merajai pasar sekarang ini. Dari background panggung bisa kita tahu bahwa mereka sedang me­-launching produk terbaru mereka. Dan saya berterimakasih kepada pabrikan ponsel pintar tersebut yang mau menggratiskan acaranya, sehingga saya dan teman-teman bisa bernostalgia dengan masa remaja kami bersama Sheila On 7. Momen nostalgia tersebut benar-benar dimulai ketika Sheila On 7 membuka perform mereka dengan “Bila Kau Tak Di Sampingku”, disusul kemudian dengan – kalau tidak salah – “Seberapa Pantas”. Karena ini bukan konser tunggal, maka set list lagu yang mereka bawakan pun beragam. Tidak semua lagu hits mereka bawakan. Mereka tidak hanya membawakan lagu-lagu dari album-album yang tergolong keluaran baru saja, tapi lagu-lagu dari album-album lama pun juga mereka tampilkan. Pilihan yang cukup cerdas untuk bisa menjembatani antara pendengar lama dan baru. Karena di acara gratisan semua segmen pendengar (pendengar lama, pendengar baru, dan orang-orang yang hanya sekedar menonton untuk mendapatkan hiburan) tumplek menjadi satu. 

“Namanya juga acara gratisan”, celetuk seorang teman mengomentari sound pada malam itu. Bisa saya bilang sound pada malam itu tidak maksimal. Tapi kami harus bersyukur karena output yang dikeluarkan Sheila On 7 lebih bagus daripada dua band pembuka. Jam terbang dan pendaulatan mereka sebagai headliner mungkin adalah penyebabnya. Lagu-lagu yang diaransemen ditambah lagi stage act yang mencitrakan bahwa Sheila On 7 adalah band kocak dan band yang tampil lepas ketika di panggung, bisa menutupi kekurangan dari segi sound. Kurang lebih 13 lagu mereka bawakan malam itu. Mereka juga membawakan sebuah lagu baru. Liriknya cukup menyayat, kira-kira bait pertamanya seperti ini, “Melupakan tak akan mudah. Walau kau yakin telah merelakan. Lihat nanti, lihat sendiri. Saat waktu yang ditentukan datang. Saat bertemu lagi yang telah hilang”. Ketika mendengar lagu itu, seakan-akan pedagang asongan di sekililing saya tidak menjajakan “Aqua, mas, Aqua”  tapi “Silet, mas, silet”.

Saya dan Sheila On 7

Jujur saja, Selasa malam kemarin adalah pertama kalinya saya menonton Sheila On 7 live. Padahal saya sudah mengenal mereka sejak  SD, hehehe. Saya masih menyimpan dua album awal mereka Sheila On 7 (1999) dan Kisah Klasik Untuk Masa Depan (2000), lalu setelah itu saya melewatkan mereka. Bisa dikatakan saya termakan oleh idealisme saya sendiri ketika itu. Idealisme saya adalah: tidak akan pernah mendengarkan lagu cinta Indonesia. Atau dalam bahasa akademiknya adalah: segmented. Saya hanya mau mendengar dua segmen musik: band-band luar negeri dan band-band indie.

Kini saya menyadari bahwa idealisme saya tersebut salah. Dan kini saya mencoba lebih terbuka – walaupun masih selektif – terhadap lagu-lagu cinta dalam pasaran mainstream Indonesia. Adalah suatu kesalahan ketika saya melewatkan album-album Sheila On 7 pasca Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Sudah banyak waktu berlalu saya melewatkan sebuah band berkualitas asal Indonesia. Jika membicarakan industri, walaupun Sheila On 7 berada di mayor label tapi kualitas mereka masih terjaga. Itulah yang membuat saya meratapi kebodohan saya sendiri, ke manakah saya selama ini? 

Motivasi saya menonton mereka Selasa malam lalu awalnya adalah hanya untuk bernostalgia dengan masa-masa remaja saya. Alangkah beruntungnya saya, karena dari acara tersebut pada akhirnya saya bertekad untuk mendengarkan Sheila On 7 kembali. Ya, sama seperti masa-masa remaja dulu di mana istilah segmented belum berlaku di kehidupan saya.