Kali ini akan mencoba menyapa lembaran kertas tersisa
Lembaran kertas yang belum bertinta
Usahlah kau tanyakan bahagia
Lembaran itu hanya tergeletak di antara rak berisi buku-buku usang
Berdebu hingga hampir menjadi abu
Disengaja tak disapa, melihatnya pun aku tak tega
Lembaran itu menyiratkan diam yang entah sampai kapan
Tapi pasti diamnya tak akan mungkin bertahan lama
Akan datang suatu masa aku butuh tinta
Bukan, ini bukan seperti yang kau duga
Namun percayalah, ini sama dengan yang kau rasa
Lembaran itu tergeletak bertiraikan suara-suara malam
Dijaga oleh peri, mereka memainkan lagu-lagu surgawi
Harpa mereka petik, detak jantung berdegup berdenting-denting
Mengalunkan kesenduan, mengoyak-moyak tegar mendalam
Ingin rasanya menulisinya dengan huruf-huruf yang bertinta sinar bulan
Lalu menerbangkannya bersama angin pancaroba, hingga akhirnya teraba dan terbaca
Bukan, ini bukan seperti yang kau duga
Namun percayalah, ini sama dengan yang kau rasa
Biarlah lembaran kertas ini menjadi saksi tentang rasa
-------------------------------------------------
Wah, saya nampaknya terlambat satu hari merayakan Hari Puisi Nasional. Tapi tak apalah, kata orang sih "lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali", hehehe. Puisi di atas saya buat untuk ikut merayakan Hari Puisi Nasional. Karena inti dari puisi adalah menuliskan dan membacanya dengan rasa. Maka, selamat merasa :)
