“Mas, tak mat-matke,
sampeyan ternyata mirip Mohammed Salah, ya?” kata tukang cukur yang sedang
memangkas rambut belakang saya.
Kala itu, Mo Salah sedang panas-panasnya. Pesepakbola Mesir
yang bermain di Liverpool itu punya (sedikit) kesamaan dengan saya. Rambut kami
sama. Wajah saya pun banyak dibilang mirip orang Timur Tengah. Ya, jadi saya
maklum kalau si mas tukang cukur ngomong
seperti itu sama saya. Yang membedakan saya dengan Mo Salah cuma nasib: dia
kaya, saya papa.
Eh, betewe, baru
kali itu, lo, ada orang dari golongan mayoritas (baca: berambut lurus) yang
menyebut saya mirip Salah. Kebanyakan yang saya temui mengatakan kalau saya
11-12 dengan Kunto Aji. Versi ini lebih saya “terima”. Dari sisi rambut jelas
tak disangkal. Hidung kami juga agak lebar, pun kami sama-sama berkacamata.
Yang cukup menantang adalah saat saya nonton penampilan live Kunto Aji. Di mana pun bumi
dipijak, di situ ada saja orang-orang yang berbisik-bisik agak keras ke
temannya, “Eh, Kunto Aji, Kunto Aji,” sewaktu saya melintas di depan mereka.
Pernah suatu kali saya berkesempatan foto bareng alumni Indonesian Idol itu. Setelah saya unggah
ke Instagram, banyak yang berkomentar
seperti yang sudah-sudah. “Yang kiri Kunto Aji, yang kanan Kunto Ejak,” tulis salah
satu teman.
Sebagai seorang yang berambut sedikit keriting banyak
kribonya, saya sudah kenyang dibanding-bandingkan dengan artis atau tokoh
tertentu. Sebelum dua nama di atas, saya pernah dipanggil Giring Nidji dan Achmad
Albar.
Tahukah kamu, sebenarnya punya rambut keriting/kribo itu
bisa menjadi indikator seberapa terkenalkah seorang artis atau tokoh. Ambil
contoh Kunto Aji. Tak sedikit yang melabelinya sebagai salah satu solois pria
terfavorit di Indonesia untuk saat ini. Album keduanya, Mantra Mantra, menuai respon positif dari media dan pengulas musik.
Karena Aji mendapat banyak sorotan, ditambah lagi dia kerap
nongol sebagai model iklan dan bintang tamu di beberapa program hiburan,
orang-orang mulai mengenal dan memerhatikannya. Jika itu terus-menerus diulang,
orang akan semakin familiar dengan perawakannya. Makanya, saat mereka melihat
saya, orang bakal dengan mudah menyebut saya dengan, “Eh, Mas Kunto Aji.”
Hal ini juga berlaku kepada Giring Ganesha alias Giring
(eks) Nidji. Di era keemasannya bersama Nidji, saya sering menjumpai
orang-orang yang memanggil saya dengan Giring. Sehabis Giring memotong rambut, hampir
tidak ada lagi yang bilang seperti itu. Apalagi saat dia berganti halauan
menjadi politisi, belum ada seorang pun menyapa saya dengan, “Halo, Mas Giring
PSI.”
Padahal masih banyak, lo, artis pria berambut keriting/kribo
lainnya. Tapi kenapa selalu Kunto Aji dan Giring yang selalu disebut?
Jangan-jangan dua artis itu berada di kasta teratas artis-berambut-keriting/kribo-terbaik?
Entahlah.
Pemilik rambut kribo/keriting/ikal juga dapat menerka dari
generasi mana seseorang berasal. Berdasar pengamatan, yang menyebut saya Kunto
Aji pasti adalah generasi Y, persebaran usianya mulai dari 20 sampai 30-an
tahun. Sebenarnya Giring juga sama. Untuk Giring, rentang umurnya ditambah
sampai 40-an.
Lalu, orang-orang di atas generasi Y apakah memanggil saya
dengan dua nama itu? Tidak. Mereka punya “idolanya” sendiri, yakni Achmad
Albar. Memang populasi mereka lebih sedikit. Dan sampai 2019 ini pun, masih ada
segelintir orang yang menyapa saya dengan nama vokalis band God Bless itu.
Ini menandakan dua hal: Pertama,
Achmad Albar memang benar-benar living
legend; Kedua, tingkat perhatian mereka ke dunia showbiz Tanah Air rendah. Di kalangan ini, televisi dan YouTube sepertinya kalah bersaing dengan grup WhatsApp
dan status teman Facebook.
Sedikit tambahan, ada juga sebagian kecil dari mereka yang
menyebut saya Giring, tetapi tidak
dengan Kunto Aji.
Sebagai lelaki berambut kribo/ikal yang lahir di tahun 1990,
saya punya keinginan mengunjungi akhir era ’60-an dan awal ’70-an. Berdasar
buku Dilarang Gondrong, di
tahun-tahun itu pemerintah Orde Baru sedang gencar-gencarnya merazia rambut
gondrong.
Mengutip tulisan Aria Wiratma Yudhistira di halaman 106, pada
1 Oktober 1973 di sebuah acara bincang-bincang di TVRI, Pangkopkamtib Soemitro
menjelaskan, “Mode rambut gondrong
merupakan bagian dari gaya hidup yang menurut mereka urakan, yang menyimbolkan
ketidakacuhan anak-anak muda terhadap keadaan di sekitarnya, terutama masa
depan yang bakal dihadapinya sebagai ‘harapan bangsa’.”
Saya ingin mampir ke era itu karena saya mau menjajal
peruntungan apakah rambut saya lolos dari razia aparat. Karena menurut KBBI, gondrong berarti panjang karena lama tidak dipangkas. Ini sangat berlainan dengan kribo. Kribo itu
tidak memanjang, melainkan melebar – atau lebih tepat dikatakan mengembang.
Ditambah lagi, di buku itu, hanya orang-orang berambut gondronglah yang kena
razia. Kribo tidak. Mungkin ini menjelaskan bahwa rambut kribo punya semestanya
sendiri.
Keuntungan lain memiliki rambut minoritas adalah saya tidak
perlu capek-capek memikirkan rambut bercabang, lepek, kucel, kusam, lembab, ketombean,
rontok, kering, rapuh, berminyak, dan segala ke-grundelan lainnya dari para pemilik rambut panjang. Otomatis saya
tidak perlu memikirkan perawatan, segala merk sampo pun bisa dipakai, dan yang
jelas bisa menghemat pengeluaran. Piye, penak rambutku, to?
Namun, kekurangan dari rambut kribo adalah saya tidak bisa
mengunggah ke sosial media foto muka kusam saya yang ber-caption, “Aduh, bad hair day,
nih.”
