Sep 27, 2019

Rambut Kribo Itu Sugoi!




“Mas, tak mat-matke, sampeyan ternyata mirip Mohammed Salah, ya?” kata tukang cukur yang sedang memangkas rambut belakang saya.

Kala itu, Mo Salah sedang panas-panasnya. Pesepakbola Mesir yang bermain di Liverpool itu punya (sedikit) kesamaan dengan saya. Rambut kami sama. Wajah saya pun banyak dibilang mirip orang Timur Tengah. Ya, jadi saya maklum kalau si mas tukang cukur ngomong seperti itu sama saya. Yang membedakan saya dengan Mo Salah cuma nasib: dia kaya, saya papa.

Eh, betewe, baru kali itu, lo, ada orang dari golongan mayoritas (baca: berambut lurus) yang menyebut saya mirip Salah. Kebanyakan yang saya temui mengatakan kalau saya 11-12 dengan Kunto Aji. Versi ini lebih saya “terima”. Dari sisi rambut jelas tak disangkal. Hidung kami juga agak lebar, pun kami sama-sama berkacamata.

Yang cukup menantang adalah saat saya nonton penampilan live Kunto Aji. Di mana pun bumi dipijak, di situ ada saja orang-orang yang berbisik-bisik agak keras ke temannya, “Eh, Kunto Aji, Kunto Aji,” sewaktu saya melintas di depan mereka.

Pernah suatu kali saya berkesempatan foto bareng alumni Indonesian Idol itu. Setelah saya unggah ke Instagram, banyak yang berkomentar seperti yang sudah-sudah. “Yang kiri Kunto Aji, yang kanan Kunto Ejak,” tulis salah satu teman.

Sebagai seorang yang berambut sedikit keriting banyak kribonya, saya sudah kenyang dibanding-bandingkan dengan artis atau tokoh tertentu. Sebelum dua nama di atas, saya pernah dipanggil Giring Nidji dan Achmad Albar.

Tahukah kamu, sebenarnya punya rambut keriting/kribo itu bisa menjadi indikator seberapa terkenalkah seorang artis atau tokoh. Ambil contoh Kunto Aji. Tak sedikit yang melabelinya sebagai salah satu solois pria terfavorit di Indonesia untuk saat ini. Album keduanya, Mantra Mantra, menuai respon positif dari media dan pengulas musik.

Karena Aji mendapat banyak sorotan, ditambah lagi dia kerap nongol sebagai model iklan dan bintang tamu di beberapa program hiburan, orang-orang mulai mengenal dan memerhatikannya. Jika itu terus-menerus diulang, orang akan semakin familiar dengan perawakannya. Makanya, saat mereka melihat saya, orang bakal dengan mudah menyebut saya dengan, “Eh, Mas Kunto Aji.”

Hal ini juga berlaku kepada Giring Ganesha alias Giring (eks) Nidji. Di era keemasannya bersama Nidji, saya sering menjumpai orang-orang yang memanggil saya dengan Giring. Sehabis Giring memotong rambut, hampir tidak ada lagi yang bilang seperti itu. Apalagi saat dia berganti halauan menjadi politisi, belum ada seorang pun menyapa saya dengan, “Halo, Mas Giring PSI.”

Padahal masih banyak, lo, artis pria berambut keriting/kribo lainnya. Tapi kenapa selalu Kunto Aji dan Giring yang selalu disebut? Jangan-jangan dua artis itu berada di kasta teratas artis-berambut-keriting/kribo-terbaik? Entahlah.  

Pemilik rambut kribo/keriting/ikal juga dapat menerka dari generasi mana seseorang berasal. Berdasar pengamatan, yang menyebut saya Kunto Aji pasti adalah generasi Y, persebaran usianya mulai dari 20 sampai 30-an tahun. Sebenarnya Giring juga sama. Untuk Giring, rentang umurnya ditambah sampai 40-an.

Lalu, orang-orang di atas generasi Y apakah memanggil saya dengan dua nama itu? Tidak. Mereka punya “idolanya” sendiri, yakni Achmad Albar. Memang populasi mereka lebih sedikit. Dan sampai 2019 ini pun, masih ada segelintir orang yang menyapa saya dengan nama vokalis band God Bless itu.

Ini menandakan dua hal: Pertama, Achmad Albar memang benar-benar living legend; Kedua, tingkat perhatian mereka ke dunia showbiz Tanah Air rendah. Di kalangan ini, televisi dan YouTube sepertinya kalah bersaing dengan grup WhatsApp dan status teman Facebook.

Sedikit tambahan, ada juga sebagian kecil dari mereka yang menyebut saya  Giring, tetapi tidak dengan Kunto Aji.

Sebagai lelaki berambut kribo/ikal yang lahir di tahun 1990, saya punya keinginan mengunjungi akhir era ’60-an dan awal ’70-an. Berdasar buku Dilarang Gondrong, di tahun-tahun itu pemerintah Orde Baru sedang gencar-gencarnya merazia rambut gondrong.

Mengutip tulisan Aria Wiratma Yudhistira di halaman 106, pada 1 Oktober 1973 di sebuah acara bincang-bincang di TVRI, Pangkopkamtib Soemitro menjelaskan, “Mode rambut gondrong merupakan bagian dari gaya hidup yang menurut mereka urakan, yang menyimbolkan ketidakacuhan anak-anak muda terhadap keadaan di sekitarnya, terutama masa depan yang bakal dihadapinya sebagai ‘harapan bangsa’.”

Saya ingin mampir ke era itu karena saya mau menjajal peruntungan apakah rambut saya lolos dari razia aparat. Karena menurut KBBI, gondrong berarti panjang karena lama tidak dipangkas.  Ini sangat berlainan dengan kribo. Kribo itu tidak memanjang, melainkan melebar – atau lebih tepat dikatakan mengembang. Ditambah lagi, di buku itu, hanya orang-orang berambut gondronglah yang kena razia. Kribo tidak. Mungkin ini menjelaskan bahwa rambut kribo punya semestanya sendiri.

Keuntungan lain memiliki rambut minoritas adalah saya tidak perlu capek-capek memikirkan rambut bercabang, lepek, kucel, kusam, lembab, ketombean, rontok, kering, rapuh, berminyak, dan segala ke-grundelan lainnya dari para pemilik rambut panjang. Otomatis saya tidak perlu memikirkan perawatan, segala merk sampo pun bisa dipakai, dan yang jelas bisa menghemat pengeluaran.  Piye, penak rambutku, to?

Namun, kekurangan dari rambut kribo adalah saya tidak bisa mengunggah ke sosial media foto muka kusam saya yang ber-caption, “Aduh, bad hair day, nih.”