May 30, 2013

Selamat! Selamat! Selamat! Selamat!

Tulisan ini bukan tentang wafer!

Setelah saya pikir-pikir dan saya coba flashback, empat hari berturut-turut sebelum hari ini ternyata mempunyai kisah yang unik. Saking uniknya, mungkin keempat hari tersebut layak masuk dalam segmen “Empat Hari Unik” versi program On the Spot. Di Hari Jumat, Sabtu, Minggu, Senin, banyak orang memberikan ucapan selamat kepada orang atau kumpulan orang yang sedang berbahagia kala itu. Kebahagiaan yang diraih tidak serta-merta mereka dapatkan, melainkan harus membutuhkan perjuangan (dan mungkin sedikit faktor luck), sehingga banyak orang  menaruh respect yang kemudian diungkapkan melalui pemberian ucapan selamat. Seperti sebuah kebiasaan yang turun-temurun, pemberian ucapan selamat selalu menggandeng ucapan “semoga”. Mungkin dua kata tersebut adalah sejoli yang sedang dimabuk asmara, jadi tidak bisa dipisahkan. 

Ah, sudahlah lupakan jokes garing di paragraf pertama. Inilah momen kebahagiaan di empat hari tersebut.

Jumat. Jumat malam lebih tepatnya. Adalah suatu hari di mana para aktivis Twitter mebobardir timeline dengan kicauannya. Kicauan-kicauan tersebut pasti sering kita baca dalam beberapa bulan terakhir ini, dan kebanyakan mereka menjadi komentator dadakan. Like or dislike, begitu kira-kira idealisme mereka. Mungkin bagi orang “awam”, kondisi timeline Twitter ibarat arisan ibu-ibu PKK: kemriyek. Yang menyebabkan orang “awam” tersebut menjadi semruweng. Untuk dua kata bercetak miring sebelum kalimat ini, silakan cari artinya di Google. Tapi puji syukur, kemriyekan yang berujung pada kesemruwengan tidak akan ada lagi di minggu depan karena satu hal: Fatin Shidqia Lubis telah terpilih sebagai Juara  X Factor Indonesia! Secara de facto dan de jure berarti tidak akan ada lagi tayangan bernama X Factor.

Ya, yang saya maksud di sini adalah ajang pencarian bakat menyanyi tersebut. Betapa hebohnya Twitter ketika Gala Show sedang disiarkan oleh TV. Setelah menempuh banyak edisi, akhirnya pada Jumat kemarin terpilihlah seorang yang mempunyai x factor. Fatin berhasil mengalahkan Novita Dewi di babak Grand Final X Factor. A new idol was born. Usia yang masih 16 tahun dan dengan dianugerahi suara yang unik mungkin menjadikan banyak orang memuja-muja dirinya. Mungkin para Fatin haters tidak akan setuju dengan kalimat sebelum ini, tapi sudahlah… Fatin telah terpilih menjadi seorang idol baru di Indonesia. Bisa kamu cek di infotainment, bagaimana reaksi tetangga-tetangga Fatin ketika ia “pulang kampung” setelah enam bulan dikarantina, banyak dari mereka rebutan memberikan ucapan selamat. Bisa kamu cek di Trending Topic Twitter, bagaimana Fatinisti (sebutan untuk fans Fatin) selalu mengelu-elukan namanya, seakan-akan di dunia ini hanya Fatin seorang yang bisa bernyanyi. Bisa juga kamu cek di Youtube, bagaimana situs video sharing itu begitu nge-fans dengannya sehingga video-videonya ditampilkan di halaman pertama.

Popularitas memang seperti granat. Daya ledaknya sangat besar. Selamat kepada Fatin! Semoga bisa bersaing di industri musik Indonesia, dan semoga kepopulerannya masih bisa dilihat hingga satu tahun mendatang.

Sabtu. Saya berusaha untuk menulis seobjektif mungkin di bagian ini. Karena kalau boleh jujur, saya masih agak menyimpan tendensi dengan apa yang akan tulis di sini. Peristiwa ini terjadi pada Hari Minggu jika berdasarkan waktu Indonesia, akan tetapi jika didasarkan pada tempat terjadinya peristiwa, peristiwa ini terjadi pada Hari Sabtu malam. Jika kamu penggila sepakbola pasti sudah tahu peristiwa apakah itu. Ya, di Hari Sabtu malam waktu Stadion Wembley, Bayern Munich berhasil menambah pundi-pundi gelar Liga Champions-nya setelah mengalahkan Borussia Dortmund. Bayern Munich memang klub istimewa, bahkan saking istimewanya, mereka bisa mengalahkan klub paling istimewa di muka bumi ini di perempat final yaitu Juventus. Membanggakan klub idola boleh,kan? 

Acungan jempol untuk Bayern Munich. Mereka mengajarkan kita bagaimana sebuah tim harus menjadi kompak dan gigih dalam mencapai tujuannya. Sebuah pertandingan final yang begitu mendebarkan. Pertandingan Sabtu malam itu layak disebut sebagai a true final match. Banyak orang memuji pertandingan tersebut, terutama performa Bayern Munich. Jika diibaratkan film, pertandingan final tersebut layak bergenre action. Saling serang tiada henti. Menyebabkan rasa deg-degan yang teramat sangat bagi kedua fans klub, penonton final Liga Champions, dan juga bandar judi.

Sudahlah, saya tidak akan berpanjang-panjang lagi menulis tentang keperkasaan Bayern Munich dan bagaimana jalannya final Liga Champions. Ini karena saya tidak jago dalam menganilisis pertandingan sepakbola, serahkan itu semua saja pada Bung Towel. Yang jelas, selamat kepada Bayern Munich! Semoga mendapatkan treble winner di musim ini. Dan semoga Juventus bisa merebut gelar dari tangan mereka di musim depan.

Minggu. Jawa Tengah memilih. Pada Minggu26 Mei 2013, Jawa Tengah mengadakan pesta demokrasi untuk memilih siapa calon yang akan menduduki posisi paling atas di kursi pemerintahan Jawa Tengah. Warga berbondong-bondong mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Setidaknya itulah kegiatan yang dilakukan oleh warga negara yang “baik” karena mau menggunakan hak suaranya. Bagi yang tidak menggunakan hak suaranya, tidur merupakan pilihan yang tepat setelah begadang nonton final Liga Champions. Omong-omong, memang benar final Liga Champions lebih menarik daripada Pemilu. Begitulah kata seorang apatis, seperti saya ini. 

Lupakan masalah menggunakan hak suara atau tidak. Sebenarnya saya sudah bisa menduga siapakah yang akan memimpin Jawa Tengah untuk lima tahun ke depan. Dari tiga calon yang bertarung di Pilgub kali ini, sosok Ganjar Pranowo benar-benar menarik perhatian masyarakat. Masyarakat pasti menganggap Ganjar adalah “duplikat” dari Jokowi. Dia muda, kharismatik, dan yang penting dia suka rock! Dan mungkin bagi beberapa warga dia adalah sosok ideal yang pro rakyat. Banyak warga yang jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Jargonnya “mboten ngapusi, mboten korupsi” selalu terpampang di spanduk dan banner yang berada di jalanan. Metode kampanye yang seperti itu pasti membuat rakyat klepek-klepek.

Benar saja. Melalui hasil quick count yang dipublikasikan di media elektronik, pasangan Ganjar-Heru benar-benar mendominasi Pemilu. Pada Minggu sore, para pendukung Ganjar-Heru melakukan konvoi ke jalan-jalan untuk merayakan kemenangan pasangan tersebut. Saya bahkan sampai terkaget-kaget membaca berita di koran keesokan paginya. Menurut berita di koran tersebut, prosentase suara Ganjar-Heru untuk wilayah Solo mencapai 78,81%. Unggul jauh dari kedua pasangan lainnya yang hanya mendapatkan 12,27% (pasangan HP-Don) dan 8,92% (pasangan Bibit-Sudijono). 

Sebagai warga Indonesia yang baik pada umumnya, dan warga Jawa Tengah pada khususnya, saya ingin mengucapkan selamat kepada Pak Ganjar dan Pak Heru. Semoga apa yang dijanjikan pada waktu kampanye bisa segera terealisasi. Terutama untuk Pak Ganjar, semoga Anda bisa mendatangkan Metallica atau Guns ‘n Roses ke Solo.

Senin. Tulisan di bagian ini akan mengembalikan memori saya (dan mungkin kamu) ke beberapa tahun yang lalu. Ya, beberapa tahun yang lalu. Baiklah, yang terjadi pada Hari Senin tanggal 28 Mei adalah pengumuman serentak hasil seleksi SNMPTN 2013. Bagi para lulusan SMA yang mendaftar masuk ke universitas melalui jalur SNMPTN, Hari Senin kemarin bisa menjadi hari yang cerah ataupun berawan. Wajah-wajah cerah nan gembira pasti tampak pada 2.720 lulusan SMA yang diterima di Universitas Sebelas Maret Solo, universitas negeri favorit yang masih menjadi tempat saya menuntaskan “hari akhir”. Sedangkan wajah-wajah berawan nan murung mungkin tampak pada sekitar 51.280 lulusan SMA yang kurang beruntung untuk melanjutkan studi di UNS. 

Mendengar berita tersebut, melalui jejaring sosial, beberapa akun himpunan jurusan; Unit Kegiatan Mahasiswa; maupun akun pribadi yang kelak akan menjadi calon-calon kakak tingkat mereka, langsung memberikan ucapan selamat dan tak lupa mengucapkan selamat datang kepada mereka. Kira-kira seperti itulah hasil pantauan saya. FYI, saya tidak termasuk yang melakukan itu karena saya “sadar diri”, atau lebih tepatnya terlalu tua untuk melakukan itu. Dan oh ya, adik keponakan saya juga termasuk ke dalam lulusan-lulusan SMA yang berwajah cerah, karena ia berhasil mendapatkan satu kursi di Fakultas Teknik UGM.

Selamat atas kelulusannya! Dan juga selamat datang di UNS, terutama bagi kalian yang berhasil masuk ke FISIP. Semoga kalian bisa menjadi mahasiswa yang teladan, rajin, dan berprestasi. Jangan jadi mahasiswa yang malas-malasan dan sembrono. Tapi jika kalian ingin mengetahuinya sebagai pembelajaran, silakan hubungi orang yang menulis tulisan ini.

May 22, 2013

Aduh Dek....

Minggu sore, 19 Mei 2013. Saya mencoba menaati apa yang Bruno Mars katakan, “Today I don’t feel like doing anything. I just wanna lay in my bed….”. Menikmati Minggu siang dengan rebahan di kasur sambil menonton TV adalah hal indah yang pernah manusia lakukan, inikah surga dunia yang banyak orang katakan? Entahlah.  Acara TV siang itu monoton sehingga memaksa saya untuk memindah-mindah channel, dari satu program ke program lain. Harapan saya siang itu bisa menonton FTV yang mana Ariel Tatum sebagai aktrisnya, tapi harapan itu akhirnya pudar tatkala tidak ada FTV pun dengan Ariel Tatum karena siang itu TV “Satu Untuk Semua” sedang menanyangkan kontes pencarian bakat adik-adik imut. Kamu pasti sudah tahu nama acaranya, kan? Ya, sebut saja dengan Little Miss Indonesia. Sebagai tombo gelo, okelah saya menonton acara itu saja. Menonton adik-adik yang rata-rata berusia sekitar 5 tahunan, mereka didandani sedemikian rupa, mereka berakting, mereka bernyanyi, pada intinya mereka mencoba memperlihatkan talenta yang mereka punyai, dan goal-nya adalah mengenalkan kepada masyarakat bahwa  mereka siap menjadi the next rising star. Tapi, tapi, tunggu dulu. Ada yang janggal dengan acara tersebut, bukan karena pesertanya, bukan karena host-nya, apalagi yang menonton (baca: penulis), tapi bintang tamunya: SM*SH. 

Kak Morgan, Kak Rangga, Kak Rafael, Kak Dicky, Kak Reza, Kak Ilham, Kak Bisma, Aku Nge-fans Sama Kalian! Aaakkk…

SM*SH (tulisannya benar seperti itu, kan?) adalah salah satu fenomena  industri musik Indonesia yang sekitar satu setengah tahun belakangan ini sedang naik daun. Jika indikator tenar adalah menjadi bintang iklan sosis, maka mereka telah membuktikannya. Mereka lebih tampan, mereka lebih bisa bernyanyi sambil nge-dance, dan mereka lebih terkenal, itulah yang membuat mereka banyak digandrungi oleh kaum hawa. Sangat berkebalikan dengan saya. 

Fans. Mereka nampaknya telah menjadi boyband sejuta umat di Indonesia. Coba tebak, ada berapa wanita yang terus memanggil nama mereka, membawa poster mereka, dan bahkan menangis ketika melihat mereka tampil? Jika para wanita ABG menaruh kekaguman yang berlebihan kepada mereka, yang ditunjukkan dalam beberapa kalimat sebelum ini, maka bagi saya itu adalah hal yang wajar. Namun bagaimana jadinya jika yang nge-fans dengan mereka adalah anak-anak? Itulah yang saya maksud dengan janggal.

Ketika saya menonton, ada satu peserta yang memanggil-manggil nama Rangga. Sambil membawa foto para personel SM*SH, dia berdialog yang pada intinya menantikan kehadiran Rangga untuk menemaninya bermain. Yang membuat saya terkejut no. 1 adalah ia mencium foto itu! Melihat hal tersebut, penonton pun bersorak.  Rangga belum juga datang, ia akhirnya mengambil handphone-nya dan kemudia ia mem-BBM Rangga. Inilah yang membuat saya terkejut no. 2. Dan pada akhirnya yang ia nantikan datang juga. Rangga datang dari belakang, mengendap-endap, setelah dekat dengannya, Rangga langsung memeluk peserta tersebut dari belakang.  Kamu pasti sudah tahu bagaimana reaksi penonton, kan? Lalu peserta tersebut berbalik badan dan memeluk Rangga balik sambil berkata, “Kak Rangga, I lap yu”. Perlukah saya menuliskan reaksi penonton melihat adegan itu? Dan hal itulah yang membuat saya terkejut no. 3.

Paragraf di atas adalah salah satu adegan dari Little Miss Indonesia, sebuah ajang pencarian bakat yang mana pesertanya berusia 2-7 tahun, sekali lagi, 2-7 tahun! Saya tidak tahu apakah adegan di atas merupakan skenario di mana para peserta seolah-olah menjadi penggemar SM*SH, atau memang dalam kehidupan nyata, adik-adik tersebut benar-benar menjadi die hard fans SM*SH. Tapi yang jelas adegan tersebut adalah suatu ironi. Ironi ini terjadi karena adik-adik tersebut menggemari artis yang tidak seharusnya mereka gemari. SM*SH adalah boyband yang menyanyikan lagu-lagu cinta, jika membicarakan pasar, lagu-lagu mereka kebanyakan dinikmati oleh kalangan remaja-dewasa, bukan anak-anak. Apakah para peserta (pada khususnya) dan anak-anak (pada umumnya) yang menggemari SM*SH sudah paham tentang lagu-lagu mereka? Jika mereka sudah paham, berarti ada yang salah dengan sistem, dan pastilah Kak Seto semakin dibuat cenat-cenut.

Sistem yang Salah

Berdasar penggalan cerita di atas, menurut saya, memang ada suatu sistem yang salah. Adalah suatu keanehan di mana anak-anak sekarang lebih hafal lagu dari SM*SH, Cheryybelle, Coboy Junior, dan musisi-musisi sejenis dibanding lagu anak-anak, lagu daerah dan bahkan lagu nasional. Anak-anak sekarang terlalu mudah untuk mengonsumsi sesuatu, lagu cinta misalnya (cinta di sini adalah cinta kepada lawan jenis; romansa). Anak tetangga saya yang berumur sekitar 5 tahun, dulu pernah menyanyikan, “….Never never want you, really really love you, maafkan aku mengecewakanmu….”. Miris. 

Proses globalisasi yang ditandai dengan teknologi yang semakin meningkat seakan menjadi pembunuh bagi masa anak-anak. Masa anak-anak adalah masa bermain, mereka seperti mempunyai dunia mereka sendiri. Seorang ahli psikologi dari Rusia, Ljublinskaja, memandang bahwa permainan sebagai pencerminan realitas, sebagai bentuk awal memperoleh pengetahuan. Dari bermain mereka belajar bagaimana berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Pembentukan karakter seseorang dimulai dari ia kecil berdasarkan cara interaksi dan adaptasi yang ia peroleh. George Herbert Mead menyebutkan bahwa salah satu tahapan seseorang bersosialisasi adalah ditandai dengan proses peniruan, bahasa akademisnya adalah play stage. Seorang sastrawan Amerika, Arthur Baldwin, berkata, “Anak-anak memang tidak begitu baik dalam mendengar nasehat orangtua mereka, tapi mereka tidak pernah gagal dalam meniru”. Lingkungan yang semakin hari semakin terbuka, ditambah dengan intervensi dari media massa dan teknologi, menyebabkan anak berkembang tidak sesuai dengan usianya. Proses filterisasi yang kurang dari lingkungan sosial dan terutama dari lingkungan keluarga, berujung dengan mudahnya anak mengkonsumsi apa yang seharusnya tidak ia konsumsi. Salah satunya adalah lagu romansa. Padahal Pak Kasur&Bu Kasur, Ibu Sud,  A.T. Mahmud, Kak Seto, Papa T. Bob, telah menciptakan lagu anak-anak yang berfungsi untuk mengedukasi anak-anak. Nilai-nilai yang terkandung dalam lagu-lagu tersebut sangat tinggi, dan bahkan saya pun sampai sekarang masih dibuat merinding ketika membaca/mendengarkan karya mereka. Nilai-nilai inilah yang seharusnya ditanamkan kepada anak-anak ketika mereka masuk ke dalam tahap bermain ini, supaya pola pikir mereka berkembang secara natural. Apa jadinya jika anak-anak yang berumur 5 tahunan sudah dicekoki dengan lagu-lagu dewasa? Bisa jadi kelakuan, gesture, dan bahkan sampai gaya hidup pun akan menjadikan mereka anak-anak yang dewasa secara prematur. Ini merupakan sebuah hal yang abnormal, sama abnormalnya ketika kita tanyai mereka besok mau jadi apa. Lalu mereka pun menjawab, “Pengin jadi  girlband”.

Maisy-Maisy Generasi Baru Di Manakah Engkau Berada?

Mungkin yang juga melatarbelakangi kenapa anak-anak zaman sekarang mengidolakan penyanyi dewasa adalah minimnya penyanyi cilik di Indonesia. Pun ditambah juga dengan minimnya program-program yang berbau anak-anak. 

Saya besar di era 90-an, di mana ketika itu penyanyi cilik masih menjamur, sama menjamurnya dengan boyband/girlband sekarang namun dengan segmen yang berbeda. Saya masih ingat ketika saya dulu mengidolakan Maisy, Chikita Meidy, Trio Kwek-Kwek, Ria Enes&Susan dan lagu-lagu mereka dulu juga sering dinyanyikan oleh teman-teman saya di sekolah. Saya dulu bahkan sampai membujuk orangtua saya agar membelikan albumnya Maisy dan Ria Enes&Susan karena begitu nge-fans-nya saya dengan mereka. Maisy, jika kamu membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa saya nge-fans dengan kamu! 

Dulu penyanyi cilik begitu populer, saking populernya, pangkat mereka naik menjadi artis cilik. Sangat berkebalikan dengan sekarang. Penerus tongkat estafet penyanyi cilik hampir tidak ada. Maisy-Maisy generasi baru hampir tidak pernah menghiasi TV. Atau mungkin ada tapi tidak di-support oleh media? Dan mentoknya paling videonya hanya bisa kita dapatkan di lapak-lapak VCD bajakan. Kalaupun ada ajang pencarian bakat menyanyi yang katanya mencari calon idola anak-anak, maka itu sama saja kita ngupil dengan memakai sarung tinju. Sia-sia! Karena dulu saya sempat melihat para kontestan di ajang pencarian bakat menyanyi tersebut telah terkontaminasi dengan lagu-lagu dewasa. Mereka dibentuk sebagai calon idola anak-anak tapi secara ideologi, tidak ada ideologi anak-anak di sana. Hampir sama dengan anggota BEM yang berkoar-koar di jalan, tapi dia tidak memiliki ideologi yang pasti, dan berkoar-koarnya hanya karena dia tuntutan dia adalah anggota BEM. Loh, kenapa tulisan ini sampai ke situ?

Sebegitu populernya lagu-lagu itu zaman dulu, yang bahkan masih bisa diwariskan hingga anak zaman sekarang. Ini karena, dulu, media membantu mem­-blow up lagu-lagu tersebut. Lagu-lagu tersebut diputar di acara-acara anak. Masih ingatkah kamu dengan Tralala Trilili, Dunia Ceria, Cilukba? Jika tidak ada Tralala Trilili mungkin tidak akan pernah ada twitwar antara fans Agnes Monica dan Anggun C. Sasmi di timeline Twitter.
Di tambah lagi, dulu, televisi masih “berbaik hati” menanyangkan kartun-kartun dan film anak-anak, sehingga, dulu, konsep bermain dalam fase anak benar-benar terwujud. Berapa banyak anak yang dulu bermimpi menjadi Power Rangers?

Berbeda dengan sekarang, silakan hitung ada berapa acara anak-anak pada jam 16.00-18.00? Dulu saya ingat Hari Minggu adalah “hari besarnya” anak-anak. Anak-anak begitu dimanjakan dengan tayangan kartun dan film-film anak dari pagi hingga siang. Tapi sekarang, porsi tayangan anak sudah berkurang, bahkan di Hari Minggu. Ketika sore-menjelang malam, televisi malah berlomba-lomba menanyangkan konflik Eyang Subur-Adi Bing Slamet, affair Ahmad Fathanah dengan Vitalia Sesha, dan update terbaru dari Arya Wiguna. Demi Tuhan, itu membuat anak kehilangan imajinasinya!

Dengan tidak adanya “pelampiasan” masa anak-anak, maka anak-anak zaman sekarang mencari “pelampiasannya” dengan mendengarkan/menonton materi-materi yang bukan masanya. Filterisasi konten seharusnya dilakukan oleh orangtua. Orangtua seharusnya pintar memilih konten-konten yang cocok dikonsumsi oleh anaknya, bukan malah membiarkan anaknya mengkonsumsi konten-konten yang tidak mencerminkan masanya atas alasan: biar tidak ketinggalan zaman. Media (terutama televisi) juga berperan penting terhadap perkembangan anak. Wahai media, ayo buatlah acara-acara yang mana anak-anak bisa merasakan dirinya sebagai anak-anak! Kalian tidak ingin, kan, anak-anak sekarang didewasakan sejak dini? Bayangkan saja, apa jadinya bila anak laki-laki berumur lima tahun sudah memiliki kumis dan yang perempuan sudah menimang anaknya?


"Susan, Susan, Susan
Besok gede mau jadi apa?
Aku kepingin pinter
Biar jadi dokter"
(Ria Enes&Susan-Susan Punya Cita-Cita) 



May 15, 2013

Banda Neira: Berjalan Lebih Jauh ke Entah Berantah

Foto diambil dari http://dibandaneira.tumblr.com/
  "Band nelangsa riang". Itulah pendeskripsian diri Banda Neira melalui akun Twitter mereka. Melalui album Berjalan Lebih Jauh, deskripsi itu sungguh cocok disematkan ke dalam nama tengah mereka. Setelah meluncurkan dua EP di tahun 2012 yaitu Di Paruh Waktu dan Live (yang mendapatkan banyak respon positif), dengan dirilisnya Berjalan Lebih Jauh pada April kemarin, mereka mengerti bagaimana caranya mencari massa untuk nelangsa bersama. Dan menjadi nelangsa itu mudah, tinggal putar musik mereka maka akan kamu temui musik melankolis nan teduh, vokal berat Ananda Badudu yang diimbangi dengan suara lembut Rara Sekar, dan lirik yang puitis. Poin yang disebutkan terakhir adalah salah satu nilai lebih dari duo ini. Mereka konsisten menggunakan lirik berbahasa Indonesia yang ringan, dengan tatanan dan pemilihan kata yang indah, dan mengajak kita untuk "memecahkan" apa makna di balik lirik lagu mereka. Sama seperti membaca novel, album ini mengajak pendengar berjalan-jalan dan berfantasi dalam panggung semesta imajiner kita masing-masing. Masih seperti novel, menurut saya ada beberapa lagu di album ini yang saling berkaitan, sehingga memudahkan kita untuk mengikuti alurnya sesuai interpretasi kita masing-masing.

Perjalanan pun dimulai dari lagu "Berjalan Lebih Jauh". Lagu yang catchy dan up beat ini diawali dengan lirik yang tegas, "Bangun, sebab pagi terlalu berharga, tuk kita lewati dengan tertidur...". Lirik ini merupakan negasi dari kehidupan saya, seorang yang menyambut sang surya pada jam 09.00 ke atas. Di lagu ini Banda Neira mengajak kita agar terus menjalani kehidupan dan jangan menyerah dalam mengarungi hari. Demi Tuhan, ini adalah lagu yang tepat untuk mengawali sebuah album dan hari.

Track 02, "Di Atas Kapal Kertas", sekelebat dari judulnya, saya teringat akan sosok Maudy Ayunda. Dan "...Gadis kecil ingin keluar menantang alam..." dalam imajinasi saya diperankan olehnya. Tapi, hey, ini bukan Perahu Kertas! Di lagu ini masih membuat kepala bergoyang maju mundur sambil membuat bibir ber-sing along dibagian reffrain-nya. Berbeda dari track 01, dan saya analogikan seperti jalan gunung yang menanjak, mulai lagu kedua ini hingga ke belakang, kita dihadapkan pada lirik-lirik yang mengharuskan kita menginterpretasikannya. Dan menurut interpretasi saya, lagu ini bercerita tentang seseorang yang ingin mencoba sesuatu yang baru, sesuatu yang belum ia kenal, boleh dikatakan "sesuatu" tersebut adalah pekerjaan.

 Kita diajak "Ke Entah Berantah". Sebuah lagu dengan tempo sedang yang memang tepat untuk berfantasi, di manakah entah berantah itu? Apakah di sana kita bisa bertemu Alice? Entahlah, yang jelas entah berantah itu ada karena suatu "kuasa". Ketika "kuasa" tersebut menguasai diri kita, kita akan, "...terbawa suasana..." lalu "...tersaru antara nikmat atau lara..."

"Semesta bicara tanpa bersuara. Semesta ia kadang buta aksara. Sepi itu indah, percayalah. Membisu itu anugerah", bait-bait tersebut adalah bait favorit saya di album ini, dan menjadikan "Hujan di Mimpi" sebagai lagu favorit saya. Lagu yang pelan, perpaduan vokal yang aduhai dengan diiringi petikan gitar manis, telah berhasil mengungkapkan bahwa di luar memang sedang hujan, walau dalam realitanya berkebalikan. Sungguh, lagu ini akan menjadi hujan anthem, karena ketika hujan itu ada banyak pikiran-pikiran yang melayang tentang seseorang, tentang kekuatan semesta yang telah maupun akan mempertemukan dua hati manusia, dan menurut saya inti dari lagu ini adalah kita harus mempercayai kekuatan semesta (baca: takdir). Bagi kamu yang suka galau, hati-hati lagu ini adiktif!

Dari lagu "Esok Pasti Jumpa (Kau Keluhkan)" saya mengerti apa itu yang dimaksud dengan impersonisasi terompet. Dengan ditambahkannya unsur bass, menjadikan lagu ini lebih meriah. Apkah nelangsa akibat tidak kunjung menemukan tambatan hati merupakan suatu hal yang meriah? Jika pertanyaan itu kamu tanyakan di acara Eat Bulaga pasti jawabannya adalah, "Bisa jadi!"

Namanya juga Jakarta, bukan Amsterdam. "Senja di Jakarta" menyuguhkan sebuah ironi tentang kondisi kota metropolitan yang tidak bersahabat dengan para pesepeda. Ironi akan bertambah manis ketika kamu mainkan dengan xylophone dan kamu dendangkan dengan riang, yang seakan-akan mengajak Jokowi-Ahok untuk berdendang bersama dalam ironi ini. 

"Kisah Tanpa Cerita" adalah salah satu lagu yang sangat bernuansa folk. Aura lagu ini kelam. Sama kelamnya dengan cerita laki-laki dan perempuan dalam lagu ini. Sampai saat ini pun saya tidak yakin betul apa arti "...sekisah tanpa cerita...". Tapi interpretasi ugal-ugalan saya berpendapat bahwa lagu ini bercerita tentang hubungan seorang pria hidung belang dengan wanita simpanannya. Sebuah hubungan yang tidak sakinah, mawaddah, dan Ahmad Fathanah, hahaha...

Saya sangat suka permainan xylophone dalam lagu "Di Beranda", permainan xylophone di lagu tersebut sangat pas karena mengisi kekosongan yang ada, dan mempertegas bahwa sebenarnya tak ada ruang kosong yang tertinggal akibat seorang anak yang melangkah ke luar rumah demi mengejar masa depannya. Jika dalam aransemen kekosongan diisi oleh xylophone, maka dalam kehidupan berumah tangga (dalam sudut pandang ayah-ibu) kekosongan diisi oleh keyakinan bahwa "...kita berdua tahu, dia pasti pulang ke rumah...". Lagu ini merupakan ode bagi para anak kost.

Dua lagu terakhir di album Berjalan Lebih Jauh ini mempunyai daya ledak besar. Daya ledak yang disampaikan dengan cara ringan, bukan berapi-api. Dan daya ledak itu bernama protes. Musikalisasi puisi "Rindu" karya Subagio Sastrowardoyo yang bercerita tentang rasa rindu keluarga para korban penghilangan paksa. Lagu "Mawar" didedikasikan kepada para korban penculikan dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh tim Mawar dari satuan Koppassus. Ketika mendengarkan "Mawar", saya teringat kepada Homicide (yang juga sering mengkritisi tentang "kegiatan-kegiatan" TNI), namun Banda Neira paham bahwa mereka bukan Homicide sehingga lagu yang mereka buat dibungkus secara rapi dalam balutan pop kelam yang ditambahi oleh puisi Wiji Thukul, maka protes sudah berhasil dilakukan. Lagu ini tidak diakhiri dengan, "Hanya ada satu kata: lawan!", tapi, "Lalu kita lupa". Sebuah akhir yang menggantung tapi malah merupakan realitas karena masyarakat kita tidak lagi tahu bahwa kasus-kasus tersebut ada, dan kasus tersebut akan dilupakan dengan sendirinya. 

Secara keseluruhan, album ini berkualitas. Karena selain mengajak kita bermain dalam interpretasi lirik, kita juga diajak untuk berimajinasi dari lirik-lirik tersebut. Plus, Banda Neira berani menampilkan lagu yang beraroma politik, sebuah tema yang jarang diangkat oleh musisi yang setipe dengan mereka. Jika ingin berkomunikasi dengan mereka, silakan mention mereka di sini, mereka musisi yang ramah dengan fans kok :)

May 14, 2013

KINI

(Derap langkah orang, mereka meneriaki, memaki, menghakimi, “Singkirkan dia! Asingkan dia! Hakimi dia! Dia hanya seonggok kotoran di sini!”)

Jangan… Jangan sekarang… Jangan esok… Jangan… Jangan hari ini… Jangan lusa… Jangan nanti… Jangan sedetikpun… Jangan… Aaahhh… jangan!

(Suara derap dan makian pun hilang)

Tik tik tik, bunyi hujan di atas genting. Airnya turun, tidak terkira. Cobalah tengok, dahan dan ranting. Pohon dan kebun basah semua.

Aku masih ingat ketika kau pertama kali menyanyikan lagu ini. Di luar memang sedang hujan, langit memang tidak bersahabat, tak bermahkotakan cahaya. “Sapalah hujan di luar sana, nak. Tak usah kau cemas terhadap hujan, sesungguhnya rintik airnya adalah anugerah.”, begitu ucapku ketika itu. Sama sepertimu, kau ada hari ini adalah sebuah anugerah. Maka sapalah setiap rintik air hujan yang turun di kotamu, karena di balik rintik hujan itu ada sebuah cinta, hangat peluk, dan rindu yang menunggu.

“Sebelum tidur, gosok gigi; cuci kaki tanganmu; dan berdoalah kepada Tuhan supaya hidupmu tak ragu”, kalimat itu sudah hampir terlupakan olehku. Kalimat itu hanyut ditelan waktu. Semoga kau di sana masih mengingat itu. 

Waktu cepat berlalu. Semakin cepat waktu berganti, semakin cepat pula tuntutan dalam hidup ini. Memang, praktek hidup tak semudah yang ada TV, kau pun tahu itu dan memilih meninggalkan tempat di mana memori hidupmu tumbuh. Kadang setiap pilihan menumbuhkan sebuah harapan dan kadang setiap pilihan meninggalkan sebuah kepiluan. Hiruk pikuk suasana kota seperti menyihirmu untuk membawamu mengadu, menghamba pada setiap denyut-denyut penghasil keping materi. Meninggalkanku sendiri dalam wangi sabunmu, meninggalkanku sendiri dalam dinding-dinding papan yang tak berbicara, meninggalkanku sendiri dalam sujud simpuhku supaya kau tak terbuai dengan fatamorgana kota. Dalam deru air mata rindu aku berdoa kepada-Nya:

(Tim Musik)

Lindungilah setiap langkahnya. Singkirkanlah dari setiap perbuatan durjana. Berikanlah secuil materi untuk hidupnya nanti. Ingatkanlah untuk selalu mengerti diri. Terangilah jalannya di kala cahaya hidupnya mulai meredup dalam kabut. Kabulkanlah, kabulkanlah, kabulkanlah…

Suara itu… Bayangan itu… Suara itu… Bayangan itu… “Apakah kau di sana baik-baik saja, nak? Demi Tuhan, katakanlah, apakah kau di sana baik-baik saja?” Bayang-bayang itu menghantuiku. Dia menyergapku dalam bisu, menguburku dalam beribu tanya, apakah kau di sana masih seperti yang dulu? Dalam mimpi ku bertemu, banyak luka di raut wajahmu, tubuhmu tak lagi kebal menantang congkak murka sang surya, tubuhmu tak lagi kebal menantang dingin sang purnama. “Kembalilah, nak… Kembalilah…”

(Derap langkah orang, mereka meneriaki, memaki, menghakimi, “Singkirkan dia! Asingkan dia! Hakimi dia! Dia hanya seonggok kotoran di sini!”)

Jangan… Jangan sekarang… Jangan esok… Jangan… Jangan hari ini… Jangan lusa… Jangan nanti… Jangan sedetikpun… Jangan… Aaahhh… jangan!

(Suara derap dan makian pun hilang)

Jangan… Jangan… Tidak… Jangan… Persetan dengan kalian semua! Para bangkai berjalan, pemakan sesama, kanibal! Mana hati manusiamu? Mana nuranimu? Mana akal sehatmu? Dia manusia, engkau manusia, tak ada yang perlu diragukan! Sesungguhnya tak ada yang perlu diragukan! Akan tetapi kau malah membawa kerikil-kerikil tajam lalu kau lemparkan pada hidup seseorang yang menurutmu berseberangan denganmu! Kau hakimi, kau rajam, kau nistakan! Kau ambil karung, kau masukkan tubuh lemah itu, kau tembaki dengan senapan berisi umpatan-umpatan, lalu kau buang jauh-jauh tubuh itu karena menurutmu mengganggu. Itukah yang kau namakan kebersamaan?! Itukah yang kau namakan kebersamaan?! Seharusnya kau tahu, bahwa ada orang-orang yang tak seberuntung dirimu. Dia berjuang dalam kehidupannya yang tak lagi tegar. Dia berpeluh dalam kehidupannya yang sudah luluh. Sudahkah kalian mengerti? Masihkah kalian terbahak-bahak??

Tuhan… Yang Maha Perkasa, berikanlah hamba-Mu kekuatan untuk melaluinya. Gontainya adalah gontaiku, kesedihannya adalah kesedihanku, kesakitannya adalah kesakitanku. Berikanlah hamba-Mu kesabaran. Jikalau rasa putus asa itu ada, bolehkah hamba menikmatinya?

(Lirih menyanyikan)

Tik tik tik, bunyi hujan di atas genting. Airnya turun, tidak terkira. Cobalah tengok, dahan dan ranting. Pohon dan kebun basah semua. 

Aku masih ingat ketika kau pertama kali menyanyikan lagu ini. Di luar memang sedang hujan, langit memang tidak bersahabat, tak bermahkotakan cahaya. “Sapalah hujan di luar sana, nak. Tak usah kau cemas terhadap hujan, sesungguhnya rintik airnya adalah anugerah.”, begitu ucapku ketika itu. Sama sepertimu, kau ada adalah sebuah anugerah. Maka kini sapalah setiap rintik air hujan yang turun di kotamu, karena di balik rintik hujan itu ada sebuah cinta, hangat peluk, dan rindu yang akan terus menunggu. Selamanya…
                                 -------------------------------------------------------------------
"Ibukota lebih kejam daripada ibu tiri". Ungkapan tersebut yang mendasari saya dalam menulis naskah di atas. Banyak orang meninggalkan tempat di mana ia dilahirkan, tempat di mana memori-memori hidupnya tumbuh, demi mencari peruntungan di ibukota dengan dalih, "Ibukota mempunyai sejuta mimpi". Kadang, ibukota tidak hanya berperan sebagai pencipta keping-keping materi, tempat orang-orang bisa merealisasikan mimpi-mimpinya, tapi juga sebagai pencipta luka, yang menyebabkan orang yang "terluka" tersebut disingkirkan dan diasingkan dibalik gemerlap kota. Hanya dukungan dari diri sendiri, keluarga dan doalah yang mampu membuat orang yang "terluka" tersebut menjadi kuat.
Naskah ini saya pentaskan bersama teman-teman Teater SOPO dalam rangka "Malam Renungan AIDS Nasional" pada 12 Mei 2013 di Sriwedari, Solo.