Jul 31, 2012

Ramadhan Ohh Ramadhan: Yang Unik Dari Ramadhan #03. Edisi MC Sahur

Untuk sebagian orang momen sahur bisa jadi adalah sebuah momen yang tidak menyenangkan. Kenapa? Karena posisi mereka tertidur, dan tiba-tiba dibangunkan oleh suara membahana toa masjid yang memberitahu jika waktu sahur sudah datang. Biasanya orang yang bertugas menjadi MC Sahur (kita sebut "MC Sahur" saja ya, karena saya tidak tahu sebutan nama untuk seseorang yang bertugas membangunkan warga ketika waktu sahur) berteriak kencang melalui toa masjid, tujuannya mulia sebenarnya. Tapi mungkin karena saking kerasnya teriakan dan volume toa, menyebabkan warga yang sedang tidur menjadi terbangun dalam suasana yang kaget.

Dari sedikit kisah tersebut sebenarnya saya bisa merasakan kebesaran Tuhan. Kebesaran-Nya diwujudkan dengan Ia telah menempatkan posisi seseorang dengan pas. Contohnya adalah Tuhan telah berbaik hati menjadikan Candil sebagai rocker. Bakatnya sebagai rocker bisa tertuang di industri musik. Coba bayangkan kalau Candil bertugas sebagai MC Sahur? "Saaahhhuuurrrr!!! Saaaahuuurrrr!!" *dengan nada ala Candil

Dan sesungguhnya MC Sahur itu tidak boleh menyelipkan motivasi lain ketika ia bertugas untuk membangunkan orang sahur. Contohnya: "Kanggo si A, si B, si C, ayo utangmu ndang di SAHUUUURRR!! SAHUUURRRR!!" . Dalam versi Indonesia: "Kepada si A, si B, si C, utangmu buruan di BAYYYAAARRR!! BAYYAAARRR!!" . 

nb: dalam Bahasa Jawa, sahur (santap malam untuk mengawali puasa di Bulan Ramadhan) dan saur (bayar, lunas) bisa digolongkan dalam kata homofon, yaitu kata yang sama dalam pelafalan tapi berbeda dalam ejaan dan arti.

Jul 29, 2012

Dikhianati Oleh On Time

Orang berkata "time is money" atau dalam versi Indonesianya "waktu adalah uang". Beberapa orang percaya kalau waktu sangat berharga, dan mungkin beberapa orang lainnya tidak mempercayai itu. Dan saya adalah orang yang, mulai hari kemarin, tidak mempercayai peribahasa tersebut. Terkesan frontal, ya? Memang, sih..

Saya bisa dikatakan sudah muak dengan peribahasa itu. Muak karena pengaplikasian peribahasa itu dengan kata-kata: on time, sering sekali disepelekan orang. Sudah sering saya tertipu oleh kata-kata on time, kamu mungkin juga pernah mengalaminya. 

Janjian jam sekian, baru datang 30 menit atau 1 jam kemudian atau bahkan lebih. Ketika datang, dengan wajah tanpa dosa, senyam senyum, sambil berkata, "Sorry ya telat, tadi macet banget jalannya" atau, "Sorry telat, tadi ada kerjaan yang penting". 

Dan yang lebih bikin muak, dongkol, marah, atau kata kerja lain yang mempunyai konotasi negatif, adalah ketika saya dengan sengaja menelatkan diri, berharap sampai di tempat tujuan sudah banyak orang, tidak usah menunggu lagi. Tapi yang terjadi justru kebalikannya, saya adalah manusia pertama yang berada di tempat itu. Teman-teman saya lain, entah kemana.. Dan akhirnya dengan terpaksa menunggu, menunggu, dan menunggu lagi..

Sebegitu kejamnya kah orang-orang  yang telah "mengkhianati" seseorang yang berniat baik untuk on time? Menunggu kedatangan teman-teman seperti menunggu datangnya inspektur Vijay di film India: LAMAAA!!

Untuk Anda-Anda yang mungkin hobbinya adalah tidak pernah on time ketika janjian, buatlah satu alasan yang unik supaya perasaan kita yang tersakiti karena ketidak-on time-an bisa terhapuskan. Tidak dengan alasan jalan yang macet atau ada kerjaan penting, cobalah yang lebih baru seperti, "Sorry telat, aku tadi diculik alien" atau "Sorry telat, aku tadi menumpas kejahatan dulu, kan aku Batman!". Ya begitulah derita orang on time.. Jika Anda-Anda adalah orang yang selalu tepat waktu, semoga niat iklhasmu dibalas oleh Yang Maha Esa. Dan masih untuk kamu yang ikhlas untuk datang tepat waktu, semoga lirik dari Funeral For A Friend dari lagu "Walk Away", liriknya seperti ini, "...And the waiting is the hardest thing to take...", semoga menginspirasi kamu untuk datang dengan menelatkan diri, karena peribahasa baru menyebutkan: lebih baik telat daripada menunggu terlalu lama.

Jul 22, 2012

Ramadhan Ohh Ramadhan: Yang Unik Dari Ramadhan #02. Edisi Level Buka Puasa

Ini adalah tulisan tentang kondisi saat kita berbuka puasa. Buka puasa adalah saat yang dinanti-nanti oleh kita. Haus pastinya. Lapar apalagi. Ibarat sebuah lagu berjudul "Bang Toyib", buka puasa adalah si Bang Toyib yang selalu dinanti-nantikan kehadirannya. Dan tahu tidak, buka puasa dan proses menjalin hubungan dengan seseorang itu ada hubungannya, loh. Jadi begini, saudra-saudara, setelah kita buka puasa pastinya kita akan menemui sebuah keadaan di mana perut kita kenyang. Nah, kenyang itu ada 3 level.

  1. Level pertama ini disebut "Setia". Level ini adalah ketika kamu selesai makan dan melihat ada makanan yang masih nganggur. Kamu ingin untuk mencicipinya tapi kamu sadar kalau kamu sudah kekenyangan. Dan kamupun bilang ke makanan itu seperti ini,  "Maaf, aku telah berikrar setia dengan perutku yang sudah kekenyangan. Tolong, pergi dari hidupku dan jangan dekati aku lagi. Kututup ceritamu dengan tudung saji.". Sama dalam kondisimu ketika menjalin hubungan dengan seseorang. Kamu tahu ada seseorang yang jomblo, dan pengin mendekatinya, sudah dekat dengannya mungkin, tapi kamu sadar kamu telah mempunyai seseorang. Akhirnya kamu membuat manuver untuk meninggalkannya dan lebih memilih setia kepada pacarmu.
  2. Level kedua disebut "Sepik". Adalah ketika perutmu kekenyangan, dan melihat ada makanan yang masih nganggur. Otakmu berkata, "Dekati dia! Dekati dia! Ayo! Cuma kamu dan Tuhan yang tahu!". Dan akhirnya kamu terbujuk pula dan akhirnya lagi kamu mencicipinya cuma secuil dan tidak kamu habiskan, langsung kamu buang begitu saja karena kamu sadar kalau kamu kekenyangan. Ini sama dengan kondisi ketika kamu sudah mempunyai pacar, tapi kamu lihat ada satu gebetan lagi yang hendak kamu sepik. Dengan ajian-ajian yang entah bagaimana kamu mengucapkannya akhirnya seseorang tersebut luluh lantak dan ia adalah ratu lebah karena telah menyarangkan hatinya di hatimu. Tapi karena kamu sadar kalau kamu sudah punya pacar, akhirnya sepikan kamu tersebut kamu tinggalkan, mumpung belum jalan begitu lama. Bisa kita bayangkan bagaimana pecah belah hatinya.
  3. Level ketiga disebut "Dusta". Kamu tahu kan bagaimana rasanya perut kekenyangan itu? Tapi nalurimu memang buas. Kamu tidak sadar kalau perut sudah terisi penuh dan akhirnya memaksakan untuk makan makanan yang masih nganggur di meja makan. Muntah-muntah atau mual itu dipikirkan belakangan, yang penting kamu puas perut kamu terisi penuh. Sama kasusnya ketika kamu sudah punya pacar, tapi kamu lirak-lirik sana-sini dan mendapati ada satu orang yang "nganggur". Kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Resiko kamu kepergok selingkuh sama pacar kamu dengan resiko terbesar adalah putus, kamu pikir belakangan. Yang penting kamu puas
Begitulah sekelumit tulisan dari saya. Kamu termasuk kriteria mana? 

Ramadhan Ohhh Ramadhan: Yang Unik Dari Ramadhan #01

Alhamdulilah..

Akhirnya saya bisa berjumpa dengan Bulan Ramadhan lagi. Tahun ini Bulan Ramadhan menginjak tahun ke 1433 dari penanggalan Hijriah. Yang artinya tahun ini adalah tahun setelah 1432 Hijriah yang sudah terlewati pada 2011 kemarin. 

Tidak ada persiapan yang spesial dalam menyambut bulan yang suci ini. Karena yang spesial biarkanlah milik martabak telor saja. Tidak ada acara padusan atau nyadran. 2 kegiatan tersebut adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa ketika menyambut Bulan Ramadhan. Padusan adalah sebuah acara yang dilakukan dengan tujuan membersihkan diri dengan cara mandi, filosofinya adalah ketika kita padusan kita membersihkan jiwa dan raga kita supaya ikhlas dalam menjalani ibadah selama Bulan Ramadhan. Kegiatan itu tidak saya lakukan karena menurut saya mandi tidak mengurangi dosa. Saya setiap hari mandi tapi tidak tahu apakah dosa saya diampuni oleh Tuhan atau tidak, hehehe. Yang jelas, saya berniat untuk membersihkan jiwa saya selama Bulan Ramadhan ini.

Yang kedua adalah nyadran. Sebuah kegiatan dimana kita mengunjungi makam keluarga/sahabat/orang-orang yang telah mendahului kita. Prosesi yang biasanya dilakukan dengan menabur bunga dan berdoa di makam seseorang tersebut. Ini juga tidak saya lakukan karena bagi saya mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita dengan ikhlas itu lebih baik. 

Dan Bulan Ramadhan tahun ini adalah bulan yang unik bagi saya, dan seumur hidup saya baru mengalaminya sekarang ini. Apakah itu? Yang saya maksud dengan itu adalah awal puasa yang berbeda antara pemerintah dan Muhammadiyah. Muhammadiyah lebih duluan puasanya, mereka berpuasa pada tanggal 20. Sedangkan pemerintah melalui sidang Isbat pada hari Kamis menetapkan bahwa awal puasa jatuh pada tanggal 21. Unik ya? Tapi lebih unik lagi ketika media massa dan para pejabat dan juga para aktivis sosial media berpendapat untuk menghargai perbedaan terkait penetapan awal puasa. Memang sih, perbedaan itu suatu hal yang lumrah, tapi sampai kapan perbedaan itu akan ada? Bukankah kalau sama itu lebih enak, ya? Yang saya pertanyakan adalah: kenapa harus ada perbedaan di antara kita? Belum lagi kalau besok Idul Fitri-nya juga berbeda. Seperti itulah Indonesia. Unik.

Itu adalah kisah unik yang pertama. Mau tahu kisah unik lainnya? Tunggu saja, karena saya mau observasi keunikan Bulan Ramadhan lainnya. Jadi kamu tahu tidak kalau tulisan ini bersambung?

Jul 17, 2012

Merasa Bersalah

Pernahkah kamu merasa bersalah? 

Merasa bersalah kepada diri sendiri atau merasa bersalah kepada orangtua atau merasa bersalah kepada kawan, atau merasa bersalah kepada Tuhan mungkin? Itu yang saya rasakan sekarang. Untuk rasa bersalah yang hinggap  di diri saya sekarang adalah rasa bersalah nomor dua, yaitu rasa bersalah kepada orangtua. Terutama kepada ibu.

Kemarin saya semacam "disidang" oleh ibu saya. Penyebabnya adalah masalah kuliah, skripsi lebih tepatnya. Ibu saya menanyakan hal yang macam-macam tentang skripsi saya yang memang belum saya kerjakan sama sekali. Sudah diambil sebenarnya di KRS, tapi seperti itulah... Belum ada "sinar yang terang" yang membuat saya bergegas untuk mengerjakan skripsi.

Ibu saya kemudian membandingkan dengan teman-teman sepermainan saya yang sudah melilitkan ikat kepala ala orang Jepang untuk mengerjakan skripsi. Dan ketakutannya adalah jika saya harus bertahan di kampus dalam waktu yang lama. Dan yang membuat ibu saya jengkel adalah saya tidak menggubrisnya sama sekali. Saya tidak menjawab karena jika saya paparkan fakta yang sebenarnya tentang kuliah saya, beliau pasti langsung shock dan proses "persidangannya" semakin panjang dan melebar.

Ketakutan seorang ibu terhadap anaknya itu adalah hal yang lumrah. Itu adalah bentuk kasih sayangnya kepada sang anak. Dan sadarkah, segalak atau seprotektif apapun ibu kamu, itu dilakukan demi sang anak. Kekhawatiran itu ada. Apalagi yang menyangkut masa depan. Seorang ibu pastinya ingin agar anaknya mempunyai masa depan yang cerah. 

Dan hal itulah yang membuat saya merasa bersalah. Di saat orangtua saya bekerja keras demi masa depan saya, justru saya yang berleha-leha di atas jerih payah orangtua saya tanpa ada progress apapun. Kerja keras orangtua saya saya bakar dengan pribadi saya, hingga tak bersisa. Seharusnya kerja keras orangtua saya menjadikan inspirasi untuk saya. Sebegitu durhakanyakah saya? 

Yang lebih bikin nyesek dan sangat-sangat merasa bersalah adalah ketika ibu saya berkata kepada saya, "muga-muga suk mben kowe dadi wong apik, uripmu kepenak" , dalam versi Bahasa Indonesia-nya "semoga kelak kamu jadi orang baik, dan hidupmu tidak susah". Seketika itu saya seakan berkaca dan mendapati tubuh saya menjadi batu seperti Malin Kundang.

Jul 6, 2012

Merakit Mesin Waktu

Jika mesin waktu/wormhole itu ada, entah bagaimana caranya saya harus bisa mendapatkannya sekarang. Saya sedang membutuhkan barang itu! Mungkin barang tersebut, untuk saat ini bagi saya, adalah barang kebutuhan primer.

Akhir Juli-awal Agustus tahun lalu adalah sebuah waktu yang tak bisa saya lupakan. Bersama 3 orang teman saya, kami menetap di Jogja selama kurang lebih 1,5 bulan untuk menjalani sebuah tugas dengan berat 2 SKS bernama: magang. Kami magang di sebuah yayasan di Jogja, Yayasan Pondok Rakyat itulah tempat magang saya dan teman-teman saya satu tahun yang lalu. Kampung Bumen yang terletak di Kotagede adalah tempat kami "praktek", di sanalah kami terjun lapangan. Manis, asam, asin, pahit bahkan, kami habiskan bersama. Kost kami di belakang benteng di Jalan Nagan Kulon adalah tempat kami berteduh. Saya masih ingat betul sampai sekarang bagaimana suasananya, bagaimana keadaan kamarnya, masih saja terngiang tentang itu. Sabtu pagi kami pulang ke Solo dan balik ke Jogja Minggu malam, aspal panas Solo-Jogja kami lumat selama 1,5 bulan tersebut. Belum lagi ketika Bulan Ramadhan datang, banyak kenangan di bulan tersebut. Saya baru merasakan bagaimana rasanya makan sahur tanpa keluarga, mencari makanan sendiri, dan akhirnya menikmati bersama teman-teman. Saya juga merasakan "kebejatan" teman-teman ketika sholat berjamaah tapi alangkah bejatnya kami karena waktu komunikasi dengan Tuhan tersebut kami gunakan sebagai "bahan bercandaan". Dan ditambah lagi ketika di perantauan saya sedang menderita galau, teman-teman saya dengan baik hatinya menghibur saya. Memori-memori yang tertulis di sini maupun yang tidak tertulis di sini, tidak akan pernah saya lupakan.

 Ijinkanlah saya mengumpati diri saya sendiri, karena kebodohan saya yang teramat dalam, bahkan menuliskan bagaimana bodohnya saya dalam kata-kata sampai tak bisa, membuat memori-memori itu hanya sebagai titik kecil. Seharusnya memori-memori tersebut menjadikan saya tersenyum manis, akan tetapi sebaliknya, malah membuat diri ini menderita. Tak ada asap jika tak ada api. Semua pasti ada sebab-akibat. Karena, sekali lagi, kebodohan saya, akhirnya diri saya sendirilah yang membuat memori-memori itu hangus terbakar. Abunya masih saya simpan, tapi abu tersebut terlapisi oleh kebodohan saya. Sangat sulit melihat memori-memori tersebut secara langsung tanpa harus melewati bayangan kebodohan saya. Sangat-sangat sulit. Apalagi jika saya menoleh ke belakang, dimana orangtua saya bekerja keras demi saya, mengeluarkan banyak uang untuk membiayai saya, akan tetapi uang dan pengorbanan tersebut saya hambur-hamburkan tanpa suatu yang berarti.

Sekarang, tugas dengan berat 2 SKS tersebut harus kembali saya lakoni. Dengan wajah-wajah yang berbeda, dengan tempat yang berbeda, dengan kondisi yang berbeda, entah apakah ada kebodohan yang sama di diri saya..