Aug 29, 2013

Claustrophobia

Mendekap kedua kaki di ruang penuh sesak
Tak ada sempat ‘tuk berontak
Bayangan pucat pasi
Tertunduk lesu, mengingkari

Jendela berderat
Peluh menjamah tubuh
Tak ada udara bebas di sini
Tak ada udara bebas di sini

Dari luar seorang berteriak, “Matikan TV-mu!”


Aug 12, 2013

Ode Buat Kota


“Tuk suara bising di tengah jalan
Tuk suara kaki yang berlalu-lalang
Tuk suara sirene raja jalanan
Tuk suara sumbang yang terus berdentang”
(Bangkutaman-Ode Buat Kota)

Assss kampret!”, umpat saya dalam hati. Jalanan kota Solo siang itu memang layak umpat. Coba bayangkan , baru jalan berapa meter, eehhhh, udah ngerem lagi. Jalan lagi, ngerem lagi. Belum lagi suara klakson yang bersahut-sahutan ibarat koor massal di jalanan. Siang panas yang terik juga berkontribusi menambah emosi, terutama bagi pengendara motor. Sungguh, jalanan siang itu cocok dijadikan media terapi pengendalian emosi.

Yah, begitulah kondisi Kota Solo menjelang perayaan Idul Fitri. Solo sukses berubah menjadi Jakarta versi mini. Pantas saja koran lokal Solo pada H-2 Idul Fitri menulis headline “Solo Macet” yang disertai perbandingan gambar kondisi jalanan Solo dan Jakarta. “Kemacetan mengepung Kota Solo pada H-3 Lebaran, Senin (5/8). Bahkan sejumlah ruas jalan kondisinya nyaris lumpuh.”, begitulah kalimat pembuka berita tersebut. Solo memang tidak bersahabat ketika momen Idul Fitri datang. Sudah seharusnya slogan “Berseri” kota ini diubah menjadi “Bersabar” setiap akan memperingati Idul Fitri. 

Yap, kita memang harus bersabar menghadapi kondisi ini. Menjelang Idul Fitri, jalanan di kota ini didominasi oleh:  40% motor, 35% mobil, dan 25% emosi. Limpahan kendaraan baik itu warga asli maupun pendatang seakan-akan menjadikan jalanan seperti showroom dadakan. Jalanan Solo yang tidak selebar Jakarta, ditambah muatan jalan yang sudah overload, menjadikan kita harus ekstra berlapang dada. Apalagi ketika melintasi titik-titik kemacetan seperti Gladag, area Pasar Klewer, dua mall di Slamet Riyadi, kita harus mempersiapkan kesabaran sejak keluar dari pintu rumah. Apa mau gara-gara macet orang berbuat anarki? Bayangkan, pengendara berkelahi dengan pengendara lain, kaca-kaca mobil dipecahi, bus dibakar, truk dirampas muatannya. Jika itu benar-benar terjadi, maka macet tak ubahnya Reformasi ’98.

Kadang macet membuat orang kehilangan sisi rasionalitasnya. Apa yang saya tulis di paragraf pertama bisa dijadikan contoh. Kita tahu kalau jalanan sedang macet parah, tapi ada beberapa orang yang ngeyel membunyikan klakson. Kamu pasti pernah menjumpai orang-orang seperti mereka. Ada lagi orang-orang yang ingin mencari jalan pintas dari penuh sesaknya jalanan. Mereka adalah orang-orang yang biasanya melanggar peraturan lalu lintas. Padahal jika disadari, “aksi” mereka malah membuat kemacetan baru dan membahayakan dirinya sendiri juga orang lain. Emosi ketika macet adalah hal yang manusiawi. Walaupun emosi tapi tetap harus berlandaskan pada rasional. Jangan malah kita melakukan hal-hal yang justru memancing emosi orang lain. Karena kata Aa’ Gym kesabaran orang itu ada batasnya, betul tidak?

Adalah hal yang lumrah ketika orang rantau merindukan keluarga dan tanah kelahirannya pada saat Idul Fitri tiba. Tapi ya itu tadi, kehadiran mereka di tempat asal malah membuat “fenomena” baru: macet. Di luar Idul Fitri, kadang Solo juga macet sih. Mmmm, saya malah kepikiran, jika saja urbanisasi itu tidak ada. Jika saja mindset orang tidak menjadikan Jakarta atau kota-kota besar lainnya sebagai Kota Impian dan Kota Harapan. Jika saja Solo mempunyai banyak lapangan pekerjaan dengan pendapatan yang lumayan. Jika saja Solo adalah kota awal hidup dan mati.

Saya juga kepikiran, apa jadinya saya bila saya harus merantau ke Jakarta, berkeluarga di sana, berganti KTP sebagai warga Jakarta, dan menjadikan Idul Fitri sebagai momen pulang kampung? Pastilah jika itu terjadi, akan ada orang lain yang menulis semacam ini, menceritakan kepenatannya tentang Solo yang macet saat Idul Fitri tiba. Entahlah…




Aug 7, 2013

Mengulas Re-anamnesis: Bahtera Diksi Melancholic Bitch


 
Adalah sebuah kenekatan yang diorganisir oleh keinginan, maka tulisan ini dibuatlah. Benar-benar sebuah kenekatan dikala tidak selamanya jatuh cinta itu pada pandangan pertama melainkan ketiga, adalah perumpaan yang saya gunakan dalam pertemuan dengan Melancholic Bitch (Melbi). Lewati Anamnesis dan Balada Joni dan Susi, cinta itu bersemi di album ketiga mereka Re-anamnesis. Segala gegap gempita dan puji-pujian kepada Balada Joni dan Susi hanya saya simak kala itu, maka termasuklah saya ke dalam golongan manusia bodoh. Benar-benar sebuah kenekatan dikala belum pernah ada pertemuan tetapi sudah bisa mencintai, begitulah kiranya saya dan Melbi. Saya belum pernah menemui mereka dalam sebuah acara, dan hanya lewat Youtube-lah omongan orang tentang mereka saya buktikan, hanya saja saya belum bisa merasakan atmosfer dan euforianya. Benar-benar sebuah kenekatan dikala membaca departemen lirik mereka seakan saya dan juga kamu berada dalam ruangan penuh sesak dengan bahasa, sastra dan filsafat. Jika diasosiasikan, Melbi cocok dengan ungkapan: mengernyitkan dahi. Ugoran Prasad adalah aktor intelektual di balik lirik-lirik yang tercipta. Di album ini mereka “berkolaborasi” dengan Rudyard Kipling dan Sapardi Djoko Darmono, dan sungguhlah, mereka layak mendirikan Persaudaraan Penyair. Akan sangat sia-sia jika setiap keindahan lirik yang tertulis yang merupakan sebuah nilai artistik, tidak diinterpretasi dengan “liar”. Maka marilah kita membebaskan pikiran pada saat mengarungi lautan bahasa di dalam sebuah bahtera bernama Melancholic Bitch. 

Kita telaah terlebih dahulu apa arti anamnesis. Anamnesis adalah sebuah teknik pemeriksaan dalam kedokteran, pemeriksaan tersebut dilakukan lewat suatu percakapan antara seorang dokter dengan pasiennya secara langsung atau dengan orang lain yang mengetahui tentang kondisi pasien, untuk mendapatkan data pasien beserta permasalahan medisnya. Anamnesis dilakukan untuk memperoleh sebuah diagnosa. Jadi apa yang mereka rilis pada 2004 lalu, adalah suatu bentuk “percakapan” (baca: observasi) mereka terhadap kondisi-kondisi masyarakat yang sudah tergejala, dan dimungkinkah hampir atau sudah menjadi pesakitan. Melalui kaset pita yang didistribusikan, mereka mencoba mengajak pendengarnya untuk merasakan gejala-gejala tersebut. Goal-nya adalah bersama-sama mendiagnosanya. Tapi entahlah, apakah gejala-gejala tersebut bisa dicarikan obatnya atau tidak? Saya cenderung skeptis.

Beberapa bulan lalu, mereka kembali membuat “percakapan” dengan pendengarnya. Istilah “kemungkinan” itu berada di sebuah lingkaran besar bernama “kemutlakan”. Anamnesis dikonstruksi ulang agar fleksibel dengan zaman. Teknologi kaset pita dinilai telah uzur, dan digantikan dengan cakram CD. Packaging dan artwork dibenahi untuk memperkuat rasa percakapan kepada pendengar. Tiga tracks baru ditambahkan untuk menambah perspektif pendengar. Distribusi yang lebih besar dilakukan untuk mencakup massa yang lebih massif dan pendengar “baru”. Sehingga beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan kemungkinan, bisa mereka coret dan menggantinya dengan kemutlakan. Sebuah prasasti lama yang merupakan “awal peradaban” dapat terjaga dan terbaca oleh zaman yang lebih baru.

Prasasti itu mulai terdengar dan terbaca dari Departemental Deitiess and Other Verses (General Summary). Adalah sebuah pilihan tepat memasukkan tulisan Rudyard Kipling dan menempatkannya sebagai pembuka. Sebuah perjalanan hidup manusia yang terangkum secara rapi. Intro di lagu ini berusaha menampilkan jejak-jejak sejarah tersebut dalam bentuk diorama, dan diakhiri dengan Ugoran Prasad berlutut di altar yang dikelilingi lilin sambil membawa buku yang sampul dan isinya hanya terdapat tulisan “Cogito ergo sum”. Sambil berlutut ia mengucap, “….O’ Lord, please lead me; from the unreal, from the real; lead me from darkness, from the light; from death, nor eternal life…”. Lagu yang bernuansa kelam ini cocok sebagai media perenungan, apa jadinya kita jika zaman pra sejarah itu abadi?

Sepasang Kekasih yang Bercinta di Luar Angkasa. Lagu ini identik dengan Frau, dan orang pasti lebih menyukai lagu ini versi Frau, tapi sebenarnya Frau hanya menyajikan perspektif baru bagi pendengar. Di tangan penyanyi aslinya, lagu ini seakan soundtrack opera tanpa dialog. Permainan piano, ketukan drum, petikan bass dan Ugo yang bernyanyi cukup membentuk suasana sepasang sejoli yang disengaja dikirim pemerintah ke luar angkasa karena mereka mengidap virus menular yang mematikan. Setelah di luar angkasa, dan berjuang melawan virusnya, akhirnya salah satu dari mereka meninggal. Hanya kehampaan dan bayangan kematianlah yang menemani satu orang tersisa tersebut.

Sebuah perpaduan yang manis antara Melbi dan Leilani Hermiasih atau yang lebih dikenal dengan Frau di lagu Off Her Love Letter. Karakter vokal Ugo yang berat diimbangi suara manis Frau menjadikan lagu seperti sebuah kepastian bahwa, “Wake up, don’t you hide now. Sometime this morning someone will take you on the run”. Dan sebuah akhir yang dramatis dan kadang membuat kepastian terasa menjengkelkan dengan teriakan, “Somebody someone to feel you, somebody someone to heal you, somebody someone to kill you, ever and ever”.

Mendengarkan On Genealogy of Melancholia membuat kita seperti diinterogasi di sebuah ruangan gelap, hanya ada meja, kursi, dan lampu 5 watt yang digantung, sementara tangan kita diikat di belakang. Sang interogator menyatakan, “Violence is what you are, is what you’ll be, is what you’ll take in everyday”. Pernyataan dan refrain yang catchy. Dalam Kitab disebutkan bahwa manusia adalah pemimpin di muka bumi tapi ternyata sekarang kita malah membuat kerusakan lagi, lagi, dan lagi. 

Entah mengapa ketika mendengarkan Tentang Cinta saya jadi kepikiran Lagu Hujan-nya Koil dan Cinta Melulu-nya Efek Rumah Kaca. Lagu yang manis dengan lirik yang manis pula, walau kadang jika terlalu manis bisa berubah pahit. Yah, cinta. Semua orang pasti merasakan cinta. Tapi sekarang malah banyak orang yang menyalahi aturan cinta sehingga membuat cinta tidak natural dan terkesan seperti “barang jualan”. “Jika saja ada jendela dan jika saja ada jendela” adalah pelarian yang tepat.

Efek gitar di Debu Hologram benar-benar memenuhi kepala, menambah rasa skeptis kepada hidup dengan kalimat, “Yang kau inginkah takkan kau dapatkan”. 

Sebuah ode kepada hidup yang telah mati dalam Requiem. Dengan tempo pelan ditambah efek-efek bebunyian benar-benar membuat hidup penuh kenangan dan realitas yang buruk. Tapi dalam sisa-sisa itu muncul sedikit harapan dengan, “Bernapaslah denganku, kuberjanji kita tak akan terengah”.

“Kabut yang likang dan kabut yang pupu. Lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan. Matahari menggeliat dan kembali gugur. Tak lagi di langit berpusing, di perih lautan.” Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika mendengarkan lagu ini, yang bisa saya lakukan hanya melamun dan kadang menghela nafas panjang. Lagu ini berjudul Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate, San Fransisco. Melbi mencoba menyenandungkan puisi karya Sapardi Djoko Darmono.

Kita Adalah Batu” adalah salah satu tipikal manusia: bebal. Rasa benci benar-benar terwujud lewat distorsi. Dan, entahlah, saya pikir lagu ini cukup “keras”. Akan lebih menarik lagi jika Ugo meneriakkan “Kita adalah batu” dengan keras.

Membaca lirik “The Street” pikiran saya melayang kepada novel karya J.R.R. Tolkien: The Hobbit, ketika Bilbo dan segerombolan kurcaci melintasi Mirkwood. Mereka tidak mematuhi perkataan Gandalf agar tetap berada di jalan setapak, dan akhirnya petaka menghampiri mereka walaupun pada akhirnya mereka bisa keluar dari “kegelapan”. Lagu ini Melbi terdengar nge-blues dengan perpaduan efek pipe organ, menambah catchy lagu ini.

Tiga lagu terakhir adalah Requiem Reprise versi Requiem dengan suasana lebih kelam, The Street Remix (di-remix oleh WVLV), Tentang Cinta Remsx (di-remix oleh Bottlesmoker). 

Satu hal yang harus dilakukan ketika mendengarkan Melancholic Bitch adalah perlu pemahaman ekstra dan lagu-lagu mereka bukanlah tipe lagu yang langsung klop dengan indera pendengaran kita. Kita perlu melakukan pengulangan supaya kita merasa nyaman. Tutup mata, dengarkan, nikmati, rasakan. Begitulah pola mendengarkan Melancholic Bitch. Dan akhirnya, selamat menyelami ruangan penuh nilai artistik.

Aug 3, 2013

Sayur Gombel


Ada sedikit perbedaan antara Ramadhan tahun ini dengan tahun lalu. Walaupun sedikit tapi diperlukan adaptasi yang lumayan berat. Jadi ceritanya puasa tahun ini adalah puasa pertama saya sebagai seorang vegetarian, atau lebih tepatnya lacto ovo vegetarian. Meskipun masih mengkonsumsi telur, susu, atau bahan olahan lainnya (kecuali daging), tetapi menjadi vegetarian di bulan Ramadhan itu ternyata susah juga, ya? Diperlukan adaptasi yang baik dalam pemilihan menu dan kondisi lingkungan. Walaupun sudah hampir sembilan bulan menjadi vegetarian, tapi banyak sekali godaan-godaan yang muncul, hahaha.

Buka puasa dan sahur adalah waktu-waktu di mana rindu kepada rasa daging benar-benar mengoyak jiwa dan pikiran. Apalagi jika kamu berasal dari keluarga non vegetarian, sudah pastilah akan kamu temui olahan daging di meja makanmu. Begitu juga dengan saya. Ketika kamu melihat meja makan dan menemukan ada daging-daging tergeletak dengan bermacam-macam bumbu, maka sesungguhnya itulah yang dinamakan godaan seorang vegetarian (newbie). Belum lagi jika otak ini “nakal” dengan memutar ingatan-ingatan nikmatnya rasa daging. Seolah-olah dalam dirimu ada pemberontakan dengan berbagai pertanyaan, “Kenapa saya memilih jalan ini? Kenapa?”. Dan saat itulah prinsipmu sebagai vegetarian diuji. Jika kamu berhasil mengatasinya, selamat menempuh level selanjutnya, hehehe.

Beruntunglah kamu yang berasal dari keluarga vegetarian. Karena keluargamu pasti tahu bahan-bahan dan menu apa yang cocok disajikan untuk vegetarian. Keluarga saya sebenarnya cukup menerima kehadiran saya sebagai seorang vegetarian, meskipun ibu saya kadang complain dengan kalimat yang hampir sama: “Mbok aja neka-neka”  dan “Bingung ameh masak apa”. Tapi keluarga pun akhirnya juga akan beradaptasi, walaupun adaptasinya juga sedikit-dikit. Contoh: dulu ibu saya suka memasak sayur dengan berbahan dasar ayam. Tapi setelah saya menjadi vegetarian, dia tetap memasak sayur tapi ayamnya disajikan terpisah, sehingga sayurnya netral dari kandungan hewani. Namun ketika ibu saya “lalai”, maka sayalah yang harus mengalah dengan cara memilah-milah mana sayur mana daging dan kadang juga “terpaksa” membuat menu sendiri (baca: goreng telur). 

Bukan Ramadhan namanya jika tidak ada buka puasa bersama. Di saat itulah level kevegetarianmu benar-benar diuji. Kadang saya terbesit pikiran, “Wah ikut nggak ya?”, karena biasanya menu yang disajikan ketika buka puasa bersama berupa daging. Inilah yang membuat saya dilema. Ketika saya memutuskan untuk tidak ikut, pasti ada konsekuensinya. Dan ketika saya ikut pun pasti juga menghadapi konsekuensi. Akan semakin berat ketika pilihan tempat buka puasa bersamanya hanya menyajikan olahan daging dan setelah dibolak-balik daftar menunya ternyata restoran/warung makan tersebut sama sekali tidak menyediakan olahan sayur. Nggak enak dong sama teman-teman, yang lainnya makan daging, tapi kitanya sendiri cuma makan menu ekstrem: nasi+sambal+lalapan. Seperti kemarin. Saya kemarin buka puasa bersama di warung yang, dari namanya saja, orang sudah bisa menebak kalau menu utamanya adalah daging. Cukup hopeless melihat daftar menunya dalam kacamata seorang vegetarian. Momen mendata daftar pesanan adalah momen yang simple tapi bagi saya kemarin cukup membuat deg-degan. Serius. Karena seakan-akan waktu sembilan bulan hanya akan berakhir di tubuh seekor ikan lele. Kata orang pertolongan itu ada di saat kamu benar-benar membutuhkannya, dan benar saja, dewa penolong saya kemarin berupa nasi goreng. Ternyata warung itu menjual nasi goreng juga, ngapa ra ditulis ning daftar menu? Gawe deg-degan wae! Huft! Cebel!

Oh iya, buat kamu yang vegetarian, jika kamu mendapat undangan buka puasa bersama, kamu bisa kok membawa lauk sendiri. Itu sudah pernah saya lakukan beberapa minggu yang lalu. Saat teman-teman makan nasi kotak dengan lauk ayam, saya melakukan hal yang anti mainstream dengan membawa perbekalan berupa telur dadar dan tempe bacem. Itu lebih baik daripada kamu menjadi seorang extremis lacto ovo vegetarian yang hanya makan nasi+sambal+lalapan.