Seperti biasa, tidur setelah Sholat Subuh adalah sebuah kenikmatan dunia yang tidak dilarang oleh-Nya. Hampir setiap hari saya selalu tidur setelah menunaikan kewajiban kepada-Nya di pagi hari tersebut. Kamu mungkin juga sering melakukannya, kan?
Tapi baru hari ini saya tidak bisa merasakan kenikmatan itu. Kenapa? Karena saya mengalami suatu hal yang absurd yang berkaitan dengan mimpi di kala tidur saat itu. Ketika tidur, semua orang pasti bermimpi, bukan? Mimpi konon katanya adalah sebuah bunga tidur, walaupun tidurmu ketika musim kemarau, tapi tidurmu tetap berbunga kok. Semua orang menginginkan untuk bermimpi indah, contohnya mimpi menjadi sarjana. Tapi tidak selamanya mimpi itu indah, kadang ada yang buruk, misal Nightmare on Elm Street, mimpi itu bahkan sudah diangkat ke layar lebar. Atau mimpi yang absurd, contohnya akan saya jelaskan di paragraf tiga.
Akhir-akhir ini saya sering menonton sinetron Ustad Fotocopy, perlu digarisbawahi saya hanya menonton sinetron ini, tidak dengan sinetron yang lain, karena saya sudah mempunyai antibodi untuk menangkal virus yang berbahasa ilmiah "MNTN SNTRN" atau dalam Bahasa Indonesia adalah "MENONTON SINETRON", yang sudah diidap ibu saya selama bertahun-tahun. Saya memang telat menonton sinetron tersebut, dan hanya sekilas-sekilas saja menontonnya, tapi lama kelamaan Ustad Fotocopy memiliki zat adiktif yang tinggi. Saya kecanduan (baca: tertarik) menonton sinetron tersebut karena karakternya yang unik-unik. Lalu apa hubungannya dengan mimpi saya yang absurd? Jawabannya ada di paragraf empat...
Di mimpi itu, saya berada di sebuah desa. Entah kenapa di mimpi itu saya berteman dengan Syafii (tokoh yang diperankan oleh Ramzi di Ustad Fotocopy). Mimpi kadang-kadang perpindahan plotnya sangat cepat, tiba-tiba saja Syafii dituduh telah melakukan perbuatan kriminal (kalau saya tidak lupa, di mimpi saya ia melakukan pencurian). Karena desa tersebut mempunyai hukum yang kuat, akhirnya Syafii dituntut hukuman gantung. Eksekusi dilakukan di balai desa. Pada saat hari eksekusi, warga desa dikumpulkan untuk menonton proses eksekusi tersebut. Di dalam rombongan warga, anehnya, terdapat keluarga saya, mulai dari orangtua, pakdhe dan om. Bahkan teman-teman saya dari Teater SOPO juga ikut hadir sebagai warga desa. Mereka berpakaian batik. Dan di dalam balai desa tersebut sudah ditata kursi-kursi besi yang biasanya kita lihat di acara pernikahan.
Di tengah balai desa terdapat sebuah pohon besar, dan di batang bagian atas terdapat tali yang digunakan untuk menggantung Syafii (For your information, pohon dan gantungan tersebut adalah dua hal yang masih melekat di ingatan saya hingga kini). Acara dimulai dengan sambutan kepala desa, lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat Al Quran. Pada saat pembacaan Al Quran tersebut, saya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu karena saya tidak tega melihat teman saya akan dihukum gantung. Saya yakin bahwa Syafii tidak melakukan perbuatan itu. Ketika akan meninggalkan tempat itu saya berpesan kepada Syafii, "Gua pulang dulu. Lu yang tabah. Lu jangan lupa doa. Kalau memang kodrat lu mati, lu pasti mati.". Dada saya sesak karena saya ingin menangis dan juga ingin marah tapi tidak bisa meluapkannya.
Akhirnya saya pun meninggalkan tempat itu. Saya menuju rumah Syafii untuk melihat kondisi di sana. Di depan rumah, ibu-ibu sedang bergosip ria tentang Syafii. Tiba-tiba kondisi saya berada di ambang antara akan terbangun dari tidur dan masih berada di alam mimpi, kemudian ada suatu bisikan yang berkata, "Pelakunya adalah Jaya". Setelah mendengar bisikan tersebut, saya pun terbangun, dan agak kaget campur shock bahkan. Mimpi absurd saya pun berakhir.
Saya mendapatkan mimpi tersebut mungkin karena keseringan saya menonton Ustad Fotocopy. Karena menurut omongan orang-orang, mimpi bersumber dari hal terakhir yang kita jumpai/pikirkan/alami. Saya belum mengerti hikmah/arti dari mimpi saya tersebut. Semoga mimpi tersebut pertanda positif untuk kehidupan saya. Mario Teguh selalu mengajari kita untuk positive thinking, bukan?




