Jan 30, 2013

Ada Ustad Fotocopy di Mimpi Saya yang Absurd

Seperti biasa, tidur setelah Sholat Subuh adalah sebuah kenikmatan dunia yang tidak dilarang oleh-Nya. Hampir setiap hari saya selalu tidur setelah menunaikan kewajiban kepada-Nya di pagi hari tersebut. Kamu mungkin juga sering melakukannya, kan?

Tapi baru hari ini saya tidak bisa merasakan kenikmatan itu. Kenapa? Karena saya mengalami suatu hal yang absurd yang berkaitan dengan mimpi di kala tidur saat itu. Ketika tidur, semua orang pasti bermimpi, bukan? Mimpi konon katanya adalah sebuah bunga tidur, walaupun tidurmu ketika musim kemarau, tapi tidurmu tetap berbunga kok. Semua orang menginginkan untuk bermimpi indah, contohnya mimpi menjadi sarjana. Tapi tidak selamanya mimpi itu indah, kadang ada yang buruk, misal Nightmare on Elm Street, mimpi itu bahkan sudah diangkat ke layar lebar. Atau mimpi yang absurd, contohnya akan saya jelaskan di paragraf tiga.

Akhir-akhir ini saya sering menonton sinetron Ustad Fotocopy, perlu digarisbawahi saya hanya menonton sinetron ini, tidak dengan sinetron yang lain, karena saya sudah mempunyai antibodi untuk menangkal virus yang berbahasa ilmiah "MNTN SNTRN" atau dalam Bahasa Indonesia adalah "MENONTON SINETRON", yang sudah diidap ibu saya selama bertahun-tahun. Saya memang telat menonton sinetron tersebut, dan hanya sekilas-sekilas saja menontonnya, tapi lama kelamaan Ustad Fotocopy memiliki zat adiktif yang tinggi. Saya kecanduan (baca: tertarik) menonton sinetron tersebut karena karakternya yang unik-unik. Lalu apa hubungannya dengan mimpi saya yang absurd? Jawabannya ada di paragraf empat...

Di mimpi itu, saya berada di sebuah desa. Entah kenapa di mimpi itu saya berteman dengan Syafii (tokoh yang diperankan oleh Ramzi di Ustad Fotocopy). Mimpi kadang-kadang perpindahan plotnya sangat cepat, tiba-tiba saja Syafii dituduh telah melakukan perbuatan kriminal (kalau saya tidak lupa, di mimpi saya ia melakukan pencurian). Karena desa tersebut mempunyai hukum yang kuat, akhirnya Syafii dituntut hukuman gantung. Eksekusi dilakukan di balai desa. Pada saat hari eksekusi, warga desa dikumpulkan untuk menonton proses eksekusi tersebut. Di dalam rombongan warga, anehnya, terdapat keluarga saya, mulai dari orangtua, pakdhe dan om. Bahkan teman-teman saya dari Teater SOPO juga ikut hadir sebagai warga desa. Mereka berpakaian batik. Dan di dalam balai desa tersebut sudah ditata kursi-kursi besi yang biasanya kita lihat di acara pernikahan.

Di tengah balai desa terdapat sebuah pohon besar, dan di batang bagian atas terdapat tali yang digunakan untuk menggantung Syafii (For your information, pohon dan gantungan tersebut adalah dua hal yang masih melekat di ingatan saya hingga kini). Acara dimulai dengan sambutan kepala desa, lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat Al Quran. Pada saat pembacaan Al Quran tersebut, saya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu karena saya tidak tega melihat teman saya akan dihukum gantung. Saya yakin bahwa Syafii tidak melakukan perbuatan itu. Ketika akan meninggalkan tempat itu saya berpesan kepada Syafii, "Gua pulang dulu. Lu yang tabah. Lu jangan lupa doa. Kalau memang kodrat lu mati, lu pasti mati.". Dada saya sesak karena saya ingin menangis dan juga ingin marah tapi tidak bisa meluapkannya. 

Akhirnya saya pun meninggalkan tempat itu. Saya menuju rumah Syafii untuk melihat kondisi di sana. Di depan rumah, ibu-ibu sedang bergosip ria tentang Syafii. Tiba-tiba kondisi saya berada di ambang antara akan terbangun dari tidur dan masih berada di alam mimpi,  kemudian ada suatu bisikan yang berkata, "Pelakunya adalah Jaya". Setelah mendengar bisikan tersebut, saya pun terbangun, dan agak kaget campur shock bahkan. Mimpi absurd saya pun berakhir.

Saya mendapatkan mimpi tersebut mungkin karena keseringan saya menonton Ustad Fotocopy. Karena menurut omongan orang-orang, mimpi bersumber dari hal terakhir yang kita jumpai/pikirkan/alami. Saya belum mengerti hikmah/arti dari mimpi saya tersebut. Semoga mimpi tersebut pertanda positif untuk kehidupan saya. Mario Teguh selalu mengajari kita untuk positive thinking, bukan?

Jan 20, 2013

Sebuah Cerita Dari 2M Kamar



Membersihkan dan menata kamar yang tidak pernah dibersihkan dan ditata itu sangat melelahkan sekali ya? Saya kemarin memulai 2M (membersihkan dan menata) kamar dari jam 09.00 dan baru berakhir pada jam 14.00. Padahal kamar saya tak seluas perut saya.

Saya adalah seorang yang suka menghabiskan waktu di kamar. Mulai dari membaca buku, menonton TV, hingga menjadi Jamaah Galauniyah. Akibat dari itu, banyak barang yang menumpuk di kamar, terutama yang berbentuk kertas. Lebih parah lagi adalah seringnya saya tidak menaruh barang pada tempatnya, menambah carut marut suasana kamar saya. Pengibaratannya (yang sering kita dengar) seperti "berada di dalam kapal pecah". Berarti kapal saya menyerupai kondisi Titanic yang hampir tenggelam, hanya saja minus Jack dan Rose.

Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya melakukan 2M di kamar saya. Ketika melakukan 2M kemarin, barang-barang yang ada di kamar sudah berdebu semua. Dan ternyata, banyak barang yang seharusnya sudah dibuang, tapi masih saya simpan. Inilah yang menjadi pertanyaan saya, kenapa setiap orang suka menumpuk barang? Entah ini faktor keturunan atau tidak, yang jelas kelakuan saya ini sama seperti yang dilakukan oleh nenek dan ibu saya. Nenek dan ibu saya sering menumpuk satu barang: tas plastik. Ditambah, nenek saya sering menumpuk gelang karet, sedangkan ibu saya sering menumpuk kardus-kardus. Pasti alasan orang yang mempunyai kebiasaan seperti ini adalah barang tersebut sayang untuk dibuang, dan menganggap barang-barang itu berguna suatu saat nanti. Dulu pernah salah satu stasiun televisi swasta menanyangkan film dokumenter tentang kebiasaan tersebut. Tapi apa daya, saya tidak ingat judulnya. Kalau kamu berhasil menemukannya, tolong saya dikabari.

Walaupun kebanyakan barang yang saya simpan tersebut akhirnya berakhir diloakan, tapi ada beberapa barang yang masih saya simpan karena barang-barang tersebut memorable bagi saya. Barang-barang tersebut membuat saya bisa melakukan flashback ke empat tahun lalu ketika saya menjadi mahasiswa semester 1. Saya sekarang masih semester 1 kok, bedanya angka 1-nya sekarang berdampingan dengan angka 0. Silakan tebak sendiri semester berapa saya sekarang. Dan ini adalah penampakan barang-barang itu:
Undangan Pelantikan Mahasiswa Baru angkatan 2008

Osmaru Magazine, hanya bisa didapatkan ketika kamu mengikuti Osmaru


KRS semester 1

Catatan kuliah semester 1, saya masih menggunakan buku tulis bukan loose leaf dan binder selayaknya mahasiswa. Dan saya masih menggunakan huruf sambung

Tips dari saya: pilihlah barang-barang yang memang berguna/penting/memorable untuk kamu simpan. Jangan terlalu menumpuk barang yang tidak penting. Lebih baik kamu berikan saja ke tukang rosok, supaya tukang rosok bisa berguna.

Jan 9, 2013

Menyalakan Bara (Kembali)

Aku kembali menyalakan bara
Hampir dua minggu, aku tak menghisap racun itu
Kali ini setiap kepulan asapnya menggambarkan kebodohan
Kali ini setiap hisapannya menggambarkan kepenatan
Kali ini setiap batangnya menggambarkan kebebalan

Bodoh, penat, bebal, aku berkawan dengan itu
Bodoh, penat, bebal adalah bayanganku di cermin itu
Bodoh, penat, bebal kuulangi lagi...

Ini adalah saat yang pantas menangisi dan menertawakan diri sendiri...

Jan 5, 2013

BAT (Budeg Awal Tahun)

Awal tahun itu tidak selalu identik dengan sesuatu yang membahagiakan. Kesan pertama yang saya dapatkan di awal tahun 2013 ini bertolak belakang dengan apa-apa yang saya bayangkan dan harapkan di tahun ini. Cobaan dari-Nya memang datang setiap saat, tidak mengenal awal tahun atau pertengahan tahun atau akhir tahun. 

Di awal tahun ini saya menjadi seorang pesakitan. Tapi sisi kerennya adalah sakit yang saya rasa ini adalah sakit yang baru pertama kali saya alami selama hidup saya. Jadi begini ceritanya, sudah sejak malam Tahun Baru-an, saya merasa ada yang aneh dengan kuping saya. Kuping kiri saya mendadak abnormal, karena tiba-tiba saja kuping saya berdengung seperti kuping yang kemasukan air dan ada rasa senat-senut. Saya raba kuping saya dan ternyata ada yang bengkak di dalamnya. Plus, jika rahang dibuka maka ada rasa sakit di kuping.

Awalnya saya tidak mempedulikannya, tapi seiring waktu yang berjalan, detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, suara berdengung di kuping semakin parah maka pada Rabu, 2 Januari 2013 akhirnya saya memeriksakan kuping saya ke dokter THT. Kuping saya dimasuki oleh dua alat yang tidak saya kenal. Yang pertama alat yang berbentuk L, alat itu mempunyai ujung yang bergetar. Kemudian dimasuki lagi oleh alat yang seperti menyemprotkan air, dan suaranya begitu berisik di kuping. Setelah itu kuping saya diberi semacam cairan berbentuk lem kertas dan akhirnya ditutup dengan kain kasa yang telah diolesi oleh Betadine.

Menurut keterangan dokter, kuping saya terkena infeksi. Infeksi ini berawal dari kotoran yang saya utik-utik (dikorek-korek) menggunakan tangan sehingga kotoran tersebut masuk terlalu dalam lalu kotoran tersebut mengeras, akhirnya menyebabkan bengkak dan infeksi. Untung saja, infeksi tersebut belum menjalar ke gendang telinga, dan nampaknya baru terjadi di salur auditori 
(Picture taken from http://kozh.files.wordpress.com/2008/03/kuping.jpg. "Red arrow" added by me)

Lalu pak dokter memberikan saya dua obat antibiotik yaitu amoxicillin dan cataflam. Dua obat itu berguna untuk menyembuhkan infeksi dan mengempiskan bengkak. Kuping yang telah "disumbat" dengan kain kasa tidak boleh kena air dan tidak boleh dikorek-korek. Gara-gara menaati maklumat dokter tersebut, saya bahkan sampai merasa sangat protektif terhadap tubuh saya, ketika sehat padahal saya tidak sampai sebegitunya. Contohnya mengatur posisi tidur, tidak mendengarkan musik melalui headset, mandi dengan cara hati-hati. Intinya adalah kita akan cenderung protektif terhadap tubuh selama kita sakit, tapi selama sehat, kita kadang kurang memperhakannya.
Kemarin, saya ke dokter THT lagi untuk mengambil "sumbatan" telinga dan memeriksakan kondisi kuping. Saya lebih merasa deg-degan, karena ketakutan saya adalah bagaimana jika infeksi saya belum sembuh dan saya harus melakukan operasi untuk menyembuhkannya. Tapi ketakutan itu hilang ketika dokter mengambil "sumbatan" dan berkata, "Wooo.. Ndak papa.. Udah kempes kok bengkaknya, infeksinya udah hilang". Alhamdulilah. Lalu kuping saya kembali dijamahi alat aneh. Yang pertama alat yang berisik, yang seperti ada air di dalamnya. Setelah itu sebuah alat berwarna orange, alat tersebut seperti pompa dan memompa kuping saya. Whhuuuuuuttttt.. Kira-kira seperti itu bunyinya jika dideskripsikan dengan tulisan.

Agak merasa asing dengan kondisi kuping saya ketika itu. Suara yang saya keluarkan seperti sengau, Bahasa Jawa menyebutnya dengan bindeng. Tapi suara-suara lain bisa saya tangkap secara normal. Saya langsung bertanya kepada dokter, dan jawaban dokter pada intinya adalah hal tersebut terjadi karena posisi gendang telinga agak berubah, gendang telinga memerlukan adaptasi dengan kondisi yang baru. Dan untuk itu saya diberi obat Ocuson. Fungsi obat ini adalah untuk menetralkan kembali gendang telinga dan mengurangi peradangan. Saya sempat sangsi dengan obat tersebut. Karena setelah sampai rumah saya iseng-iseng googling. Dari Google yang Maha Pintar banyak disebutkan bahwa Ocuson adalah obat gatal dan alergi. Tapi setelah saya bertanya ke website http://www.informasi-obat.com/ , akhirnya saya mendapatkan jawaban pastinya. Begini jawabannya
Oh ya, sedikit sharing saja, buat kamu yang sering korek-korek kuping sebaiknya kamu baca http://www.forumsains.com/kesehatan/jaga-kesehatan-telinga-jangan-korek-kuping-lagi-ya-d/ . Dari situ kamu pasti dapat pencerahan.
Kalau dari saya, boleh sih kamu korek-korek kuping, korek-korek hidung, tapi jangan korek-korek luka di hati. Itu sakit! Ketika kamu korek-korek harus dalam keadaa safety. Berarti ketika kamu korek-korek, kamu harus memakai seat belt, dan tidak boleh korek-korek pakai uleg-uleg apalagi linggis...