Nov 25, 2012

Tidak Menyangka Moment

Setiap orang pasti pernah mengalami "tidak menyangka moment". "Tidak menyangka moment" adalah suatu momen di mana kita pasti akan mempertanyakan momen tersebut. Sebuah momen yang bisa dikatakan menjungkirbalikkan logika kita, sebuah momen yang menghadapkan kita pada suatu kondisi yang memaksa kita untuk menerima kenyataan itu. Dan pertanyaan yang paling sering keluar dari orang yang mengalami momen ini adalah "kok bisa sih?". Momen ini berawal dari ketidaksengajaan, dan ketidaksengajaan pula yang menjadi sutradara atas terciptanya momen tersebut.

"Tidak menyangka moment" adalah hal yang unik, dan pasti akan membekas di ingatan kita. Karena memang suatu hal yang unik dan cenderung berbeda akan gampang melekat di ingatan kita. Ini bukanlah tulisan bertema psikologis yang mencoba menganilisis itu semua. Ini juga bukan merupakan tulisan bertema mistis yang mencoba memandang dari segi magis. Ini hanyalah tulisan yang (sengaja) saya buat karena beberapa kali saya mengalami "tidak menyangka moment" tersebut. Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya yang saya alami di Teater SOPO. Saya adalah anggota Teater SOPO, dan pengalaman-pengalaman yang saya alami di sana cenderung unik. Dan itulah kenapa, Teater SOPO menjadi salah satu sejarah hidup saya.

Yang pertama adalah awal masuk Teater SOPO. Saya angkatan 2008, tapi saya masuk di Teater SOPO pada tahun 2009. Selang satu tahun saya gunakan untuk memilah-milih UKM yang pas buat saya. Saya dan Arie "Tokay" Fadjar, sebenarnya berniat untuk bergabung dengan UKM musik di FISIP, karena ketertarikan kami berdua memang di musik. "tidak menyangka moment" terjadi ketika teman-teman satu angkatan+satu jurusan saya yang lebih duluan masuk Teater SOPO mengajak saya, Tokay dan Riswanda "Wondo" Wira Yuda untuk bergabung. Saya masih ingat betul ketika SOPO pentas di acara UKM VISI dengan judul "Balada Sang Penghibur" dan juga ketika SOPO pentas di Aula FISIP dalam rangka Pentas Penyambutan Mahasiswa Baru angkatan 2009 dengan judul pementasan "Kwek Kwek", kami diajak untuk menonton. Bahkan pada awal saya masuk FISIP tepatnya pada Osmaru S1 angkatan 2008, ketika itu SOPO tampil membawakan lagu beraroma metal, dan saking senangnya, saya langsung melakukan horns up. Padahal kala itu saya tidak tahu siapakah mereka dan apa itu teater.
Jadi dari ajakan teman dan ketertarikan ketika melihat mereka bermain di atas panggung yang menyebabkan "tidak menyangka moment" terjadi kepada saya, sehingga saya  masuk ke Teater SOPO.

Yang kedua adalah menjadi Sie Acara LATAL 2010 dan 2011. Tahun 2010 adalah tahun pertama saya menjadi Sie Acara LATAL. Saya tidak tahu kenapa teman saya yang bernama Apsari Retno Wiratmi menunjuk saya sebagai partner-nya di LATAL 2010. Padahal di LATAL sebelumnya yaitu LATAL 2009, saya "tidak berhasil" menuntaskan LATAL selama tiga hari (saya hanya bertahan selama dua hari kala itu). Saya sendiri mengakui, mengatur jalannya acara di dalam kehidupan saya sendiri susah apalagi mengatur acara LATAL agar dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Tapi tantangan tersebut saya terima dan saya pun bisa menjadi Sie Acara dalam dua tahun. Walaupun kadar kesuksesan acara bisa dikatakan masih jauh dari sempurna, tapi saya menikmati "tidak menyangka moment" tersebut. Dan saya berterimakasih dan bersyukur pernah mendapatkan posisi itu.

Yang ketiga adalah bertemunya saya dengan Zannuar "Simbah" Setiadji, SOPO 2010. Perjumpaan saya dengan dia pertama kalinya adalah di sekretariat Teater SOPO. Dia mendaftar bersama teman-temannya, dan saya ada ketika dia dan teman-temannya berkunjung ke sekre untuk mengisi formulir pendaftaran. Dia mempunyai attitude yang gampang diingat, sebuah attitude yang menunjukkan simbol bahwa dia adalah seorang emo kid: celana jeans ketat dengan sedikit sentuhan di rambut yang membuat orang bingung membedakan apakah itu rambut atau gorden. Belum lagi teman-temannya yang menunjukkan bahwa mereka masih satu rumpun. Setelah itu saya dan mereka bertukar alamat Facebook. Dan ketika Facebook saya di-add oleh mereka, saya langsung berkata dalam hati, "SOPO akan dihuni oleh populasi emo!". Jujur saja, ketika itu saya adalah seorang yang anti emo dan anti terhadap dua band Indonesia: Killing Me Inside dan Pee Wee Gaskins.
Perjumpaan saya dengan Simbah ternyata tidak berhenti di situ saja. Ketika itu malam minggu, saya pergi ke Ngarsopuro untuk melakukan wawancara dengan teman saya yang mempunyai stand di sana. Wawancara yang saya lakukan untuk memenuhi "kewajiban" sebagai seorang mahasiswa atas mandat dari dosen yang  bernama tugas. Di tengah perjalanan menuju stand teman saya, tiba-tiba saya dihadang oleh sesosok makhluk. Sesosok makhluk itu mengajak bersalaman dan bertanya, "Mas Reza ya? Mas Reza SOPO ya?". Belum sempat saya menjawab, makhluk tersebut kembali berkata, "Aku Zannu, mas. Sing wingi daftar SOPO.". (Saya Zannu, mas. Yang kemarin daftar SOPO). Karena memang saya agak lupa dengan dia atau mungkin karena saya tidak begitu memperhatikan dia, maka jawaban yang keluar dari mulut saya cuma, "Owh". Setelah itu saya lupa perbincangan apa saja yang kami lakukan, tapi menurut saya perbincangan yang kami lakukan hanyalah perbincangan "formalitas". Dan FYI, kala itu Ngarsopuro memang dijadikan tempat nongkrong anak-anak yang mempunyai style rambut ala gorden tanpa cetar membahana badai.
Setelah LATAL, saya akhirnya menyingkirkan stigma saya terhadap Simbah. Dan menganggap bahwa style-nya adalah sebuah kekhilafan yang dia buat. Dan juga saya membuang jauh-jauh kebencian saya dengan emo, karena itu sudah dituliskan dalam ayat, "lakum dinukum waliyadin". Dan "tidak menyangka moment" datang ketika saya masuk ke dalam satu garapan bernama Dala, ketika proses Bikin Bikin XVII berlangsung. Berposes dengan dia sangat-sangat menyenangkan, karena dia adalah seorang yang unik. Sampai sekarangpun dia masih unik. Dan boleh saya bilang, di antara anak 2010, dia yang paling dekat dengan saya. "tidak menyangka moment" datang lagi, kali ini "tidak menyangka moment" menyelinap ke dalam kisah bertemakan cinta. Seorang laki-laki pasti menaruh hati pada seorang perempuan. Untuk urusan yang satu ini, jangan pernah tanyakan ke kami bagaimana akhir ceritanya, karena itu adalah hal yang tabu untuk dibicarakan. (FYI, sekarang Simbah sudah berada pada jalan kebenaran. Dia telah memotong rambut catoknya dan nama Facebook-nya tidak abnormal lagi).

Yang keempat adalah ber-partner dengan Arif "Om Jin Hadadi" sebagai Sie Acara LATAL 2011. Ini adalah momen yang sangat-sangat tidak saya sangka. Jadi begini, sebenarnya saya menunjuk Herawan "Wawan" Wahyu Pratama sebagai partner saya. Akan tetapi karena beberapa hari menjelang LATAL, Wawan terkena insiden, akhirnya saya memutuskan Om Jin lah yang menggantikan posisi Wawan. Proses pergantian itu berdasarkan sharing dengan teman-teman dan juga melihat kondisi Om Jin yang lumayan "longgar". Mulailah saya dan Om Jin membuat tetek bengek hal-hal yang berkaitan tentang LATAL.
Tapi inti cerita bukan di situ. Om Jin adalah anggota SOPO 2010. LATAL 2010 adalah kali pertama saya menjadi Sie Acara. Ketika itu rombongan sudah sampai di Sukuh, dan rombongan saya perintahkan  mengeluarkan barang-barang dari bus untuk segera dipindahkan ke camp area. Sesampainya di camp area, peserta saya absen. Saya bingung bercampur marah, ternyata ada satu anak yang tidak berada di tempat ketika itu. Saya bertanya kepada peserta yang lain adakah yang melihat anak tersebut. Ada peserta yang memberitahu saya kalau anak yang saya cari sedang berada di areal Candi Sukuh. Tanpa banyak gubris akhirnya saya langsung menuju ke areal Candi Sukuh. Dan benar saja, anak yang saya cari berada di situ. Dia sedang melihat relief-felief yang terukir di Candi Sukuh. Saya langsung menghampirinya, dengan nada emosi saya langsung memerintahkannya untuk segera bergabung bersama peserta lain yang telah berada di camp area. Saya sempat mengumpat dengan nada rendah di belakang anak tersebut. Sebuah umpatan yang saya tujukan kepada anak yang melanggar jadwal, dan saya mengingat nama anak tersebut dengan nama Arif Hadadi. Itu terjadi di LATAL tahun 2010. Di LATAL tahun 2011, anak yang melanggar jadwal tersebut harus berusaha menjaga konsistensi jadwal yang ia buat, karena ketika itu ia menjabat sebagai Sie Acara, berdampingan dengan saya. Di situlah "tidak menyangka moment" bekerja. Usut punya usut, ternyata ketika ia "terdampar" di Candi Sukuh, ia sedang memperhatikan keunikan Candi Sukuh. Karena konon katanya, menurut literatur yang saya baca, Candi Sukuh adalah candi peninggalan kebudayaan Atlantis. Candi itu mempunyai bentuk fisik yang mirip dengan yang dimiliki Suku Inca dan Maya. Pengetahuan itu selain saya dapatkan dari literatur juga saya dapatkan dari sosok Arif "Om Jin" Hadadi. Karena memang kami berdua menggemari hal-hal yang berbau teori konspirasi. Pun juga dengan Rage Against The Machine. Sungguh sungguh, sebuah momen yang tidak saya sangka...

Yang kelima adalah Pantai Nampu. Kenapa Pantai Nampu saya masukkan ke dalam "tidak menyangka moment"? Karena saya tidak menyangka pantai tersebut akan menjadi salah satu pantai bersejarah dalam hidup saya dan Teater SOPO. Jauh sebelum saya masuk Teater SOPO, lebih tepatnya pada semester awal saya kuliah, saya sempat mengunjungi pantai tersebut sebanyak dua kali. Pantai Nampu yang dulu saya datangi masih sepi dari pengunjung. Dan bahkan ketika pertama kali saya ke sana, saya mendapat kenangan yaitu: helm saya hilang.
Tidak menyangka saja, ternyata di "masa-masa akhir" saya kuliah ini, saya mendapatkan kenangan di sana. Sebuah awal dan penutupan yang indah menurut saya.

Sebenarnya masih banyak "tidak menyangka moment" di dalam kehidupan saya. Tapi jika saya tulis semua, ini akan menjadi autobiografi. Dan untuk kepentingan "privasi" maka "tidak menyangka moment" yang saya dapatkan di Teater SOPO harus saya pilah-pilah, hehehehe.. Hanya satu pesan saya, dunia ini mempunyai banyak misteri. Suatu saat misteri-misteri tersebut akan terungkap dalam "tidak menyangka moment". Dan itu akan menjadi momen yang unik dan tak akan terlupakan. Percayalah!

Nov 22, 2012

SAVE GAZA!


"....With their tanks  and their bombs, and their bombs and their guns. In your head, in your head, they are dying..."
(The Cranberries-Zombie)

Adalah sebuah gambaran bagaimana manusia bisa menjadi "bukan manusia". Entah apa sebutan yang pantas untuk "mereka". Setiap keganasan yang dibuat hanya menyisakan isak tangis dan kesunyian. Yang jelas ini adalah DEHUMANISASI!

FREEDOM FOR GAZA!

Nov 5, 2012

Kepemimpinan Dalam Sebuah Organisasi

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti sudah akrab dengan sesuatu yang bernama organisasi. Kita hidup dalam sebuah organisasi. Dalam skala kecil missal, kita berada di tengah-tengah keluarga. Kita adalah anggota dalam sebuah organisasi bernama keluarga, entah berposisi sebagai anak, ibu atau ayah. Ketika kita keluar dari lingkup rumah, kita akan menjumpai organisasi masyarakat. Dan ketika kita bekerja atau kita menuntut ilmu, kita akan menjumpai sebuah organisasi yang baru, dengan tatanan dan aturan yang baru pula. Pada umumnya, organisasi dibentuk oleh manusia untuk melaksanakan atau mencapai hal-hal tertentu, yang tidak mungkin dilaksanakan secara individual. Organisasi dibentuk, lalu anggota-anggota yang ada di dalamnya akan berusaha untuk mencapai tujuan dari organisasi tersebut, karena mencapai tujuan adalah finish lap bagi sebuah organisasi, jika organisasi diibaratkan seperti balap F1/Moto GP. Setiap organisasi mempunyai goal atau tujuan masing-masing, dan untuk mencapainya setiap organisasi harus melalui setiap lap. Setiap lap mempunyai tantangannya sendiri. Seperti permisalan di atas, keluarga sebagai sebuah organisasi kecil, dibentuk sebagai media untuk meneruskan keturunan. Itulah tujuan dari organisasi bernama keluarga. Tidak mungkin seorang laki-laki/perempuan akan mempunyai keturunan jika tidak membentuk sebuah keluarga, tentunya dengan didahului pernikahan yang sah. Setelah suami-istri mempunyai anak, mereka akan merawat anak tersebut hingga akhirnya anak tersebut tumbuh dewasa, pun juga dengan keharmonisan rumah tangga tersebut, harus dijaga supaya tetap dalam keadaan kondusif.

Dalam sebuah organisasi akan terasa hampa jika tidak ada proses di dalamnya. Proses bertujuan untuk mempererat kesatuan anggota. Dan juga berproses mempermudah organisasi tersebut untuk mencapai tujuannya. Proses didapatkan ketika pengorganisasian di dalam organisasi tersebut berjalan dengan baik. Pengorganisasian menurut Samuel C. Certo adalah
…proses, di mana ditetapkan penggunaan teratur, semua sumber-sumber daya di dalam sistem manajemen yang ada. Penggunaan tersebut, menekankan pencapaian sasaran-sasaran sistem manajemen yang bersangkutan, dan ia bukan saja membantu sasaran-sasaran menjadi jelas, tetapi ia menjelaskan pula sumber-sumber daya macam apa akan digunakan untuk mencapainya.”[1]
Dari penjelasan tersebut bisa kita ketahui bahwa pengorganisasian sangat-sangat penting. Karena dari pengorganisasian tersebut, job desk anggota menjadi jelas. Setiap anggota tahu peranannya masing-masing, dan mereka pasti sudah mengerti rule of the game dari peran dan posisi yang ia tempati. Jadi ketika seorang anggota mengerjakan suatu tugas/kewajibannya, ia tidak akan bingung. Manfaat-manfaat lain dari adanya pengorganisasian ini antara lain[2]:
  •       Kejelasan tentang ekspektasi-ekspektasi kinerja individual dan tugas-tugas yang terspesialisasi
  •    Pembagian kerja, yang menghindari timbulnya duplikasi, konflik, dan penyalahgunaan sumber-sumber daya, baik sumber-sumber daya material maupun sumber-sumber daya manusia
  •  Terbentuknya suatu arus efektivitas kerja yang logical, yang dapat dilaksanakan dengan baik oleh individu-individu atau sebagai kelompok-kelompok
  • Saluran-saluran komunikasi yang mapan, yang membantu pengambilan keputusan dan pengawasan
  • Mekanisme-mekanisme yang mengkoordinasi, yang memungkinkan tercapainya harmoni antara para anggota organisasi, yang terlibat dalam aneka macam kegiatan
  •  Upaya-upaya yang difokuskan yang berkaitan dengan sasaran-sasaran secara logical dan efisien
  • Struktur-struktur otoritas tepat, yang memungkinkan kelancaran perencanaan dan pengawasan pada seluruh organisasi yang bersangkutan

Agar spesialisasi kerja anggota jelas, agar pembagian kerja jelas guna menghindari konflik, agar kinerja anggota menjadi efektif, agar komunikasi lancar guna mengambil keputusan, agar harmoni dan keselarasan antar anggota baik, demi lancarnya perencanaan dari suatu dan demi tujuan organisasi terpenuhi, maka harus ada seorang yang mengontrol dan mengawasi setiap kegiatan yang dilakukan oleh organisasi. Dan orang itu bernama pemimpin. Seorang pemimpin dipilih kerena ia dipandang mempunyai kapabilitas untuk itu, atau setidaknya dia belajar untuk menjadi seorang yang mempunyai kapabilitas dan kredibilitas. Karena tidak semua orang diciptakan dalam kesempurnaan, bukan? Dalam sebuah organisasi terdapat empat unsure yang tidak bisa dilepaskan, yaitu: planning (merencanakan), organization (pengorganisasian), actuating (melaksanakan peran), controlling (melakukan control). Keempat unsure tersebut harus bisa saling bersinergi. Ibarat empat unsur di dalam dunia ini: air, api, tanah, udara, maka unsur-unsur tersebut harus bisa dikendalikan. Di film kartun harus ada sosok bernama Avatar, tapi di dalam dunia organisasi harus ada sosok bernama pemimpin. Seorang pemimpin adalah orang yang mempunyai wewenang untuk memerintah orang lain. Ini merupakan sebuah simbiosis mutualisme. Seorang anggota (baca: pegawai/karyawan) membutuhkan sosok pemimpin untuk mengaturnya, dan pemimpin membutuhkan anggota agar semua rancangan-rancangan bersama bisa menemui goal-nya. Sebagai seorang pemimpin harus mempunyai peranan yang aktif dan senantiasa ikut campur tangan dalam segala masalah yang berhubungan dengan kebutuhan anggota kelompoknya. Drs. Pandji Anoraga dalam “Psikologi Kepemimpinan” menulis bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain. Keberhasilan seorang pemimpin tergantung kepada kemampuannya untuk mempengaruhi itu. Dengan kata lain kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk menggerakkan orang-orang tersebut agar dengan penuh pengertian, kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti kehendak-kehendak pemimpin itu[3].

Pada intinya, seorang pemimpin adalah seorang yang mempunyai kuasa terhadap organisasi, anak buahnya dan bahkan dirinya sendiri. Mau tidak mau, seorang pemimpin harus bersinggungan dengan sebuah elemen bernama kekuasaan. Dengan kekuasaan itulah, seorang pemimpin dapat mengendalikan organisasinya, hingga pada akhirnya organisasi tersebut mencapai tujuannya. Menurut James D. Mooney, kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian kekuasaan adalah kemampuan untuk menggunakan sanksi atau kekuatan atau untuk memberi penghargaan.[4] Jadi di sini bisa kita lihat bahwa kekuasaan itu mempunyai dua sisi yang berbeda. Ada kalanya seorang pemimpin itu tegas. Ketika ia melihat keburukan yang terjadi di dalam organisasinya, maka ia harus menggunakan kekuasaannya untuk menghilangkan keburukan itu. Fungsi sanksi sebagai alat control berjalan tegas di sini. Tentunya setelah sang pemimpin menelaah keburukan tersebut secara mendalam. Karena kadang, seorang pemimpin terlalu terburu-buru dalam mengambil sikap, sehingga ada pihak yang dirugikan serta diuntungkan. Jangan sampai seorang pemimpin mementingkan ego pribadi daripada fakta yang ada. Misal, ketika ada seorang anggotanya (sebut saja si A) yang berulah dengan anggota yang lain (sebut saja si B), Si A notabene adalah teman dari si pemimpin, sedangkan Si B adalah seorang anggota yang belum ia kenal secara dekat. Karena faktor kedekatan dan relasi yang telah ia jalin dengan Si A, akhirnya sanksi dijatuhkan kepada Si B. Padahal jelas-jelas Si A-lah yang membuat keonaran terlebih dulu. Contoh seperti tadi adalah contoh di mana posisi pemimpin diuji seberapa besarkah ia mampu mengendalikan kuasa dalam bentuk sanksi. Kuasa bisa juga dipakai oleh pemimpin untuk memberikan penghargaan kepada anggotanya. Fungsi reward ini bertujuan untuk memperkuat motivasi untuk memacu diri agar mencapai prestasi dan memberikan tanda bagi seseorang yang memiliki kemampuan lebih. Sehingga dengan penghargaan ini, seorang akan merasa nyaman menjadi anggota organisasi tersebut. Dengan nyamannya anggota maka produktivitasnya meningkat. Seiring produktivitas yang meningkat maka akan semakin cepat pula dalam mencapai tujuan.

Setelah mempunyai kuasa, seorang pemimpin harus tegas memimpin organisasinya. Ketegasan adalah salah satu bentuk tanggungjawab seorang pemimpin. Tanpa tanggungjawab, seorang pemimpin tidak akan bisa mengendalikan organisasinya, dan yang lebih para, anggota-anggotanya tidak akan percaya kepadanya. Robert C. Miljus meyebutkan tanggunjawab pemimpin adalah sebagai berikut[5]:
  • ·         Menentukan tujuan pelaksanaan kerja yang realistis
  • ·         Melengkapi para karyawan dengan sumber dan yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya
  • ·         Mengkomunikasikan kepada karyawan tentang apa yang diharapkan dari mereka
  • ·         Memberikan susunan hadiah yang sepadan untuk mendorong prestasi
  • ·         Mendelegasikan wewenang apabila diperlukan dan mengundang partisipasi apabila memungkinkan
  • ·         Menghilangkan hambatan untuk pelaksanaan pekerjaan yang efektif
  • ·         Menilai pelaksanaan pekerjaan dan mengkomunikasikan hasilnya
  • ·         Menunjukkan perhatian kepada para karyawan

Seorang pemimpin harus mempunyai sikap. Sikap dibutuhkan agar dalam proses sebagai pemimpin, ia bisa menempatkan diri dan mengerti bagaimana seorang pemimpin harus bertindak. Drs. Pandji Anoraga memberikan gambaran bagaimana seorang pemimpin harus bertindak[6]:
  • ·         Berinisiatif dan aktif, pemimpin sebagai motor penggerak  Seorang pemimpin harus mempunyai sikap inisiatif. Sikap ini dituntut supaya pemimpin mempunyai ide-ide yang cerdas. Ide sangat dibutuhkan oleh suatu organisasi. Dan ide dari seorang pemimpin sangat dibutuhkan ketika para anggotanya stuck
  • ·         Memahami prinsip berkomunikasi, sehingga ia mampu dan berhasil dalam menyampaikan informasi pada anggotanya. Salah satu pondasi penting dalam organisasi adalah dengan komunikasi, jangan sampai seorang pemimpin adalah pemimpin yang pasif. Karena jika seorang pemimpin itu pasif, ia tidak mengetahui progress/masalah yang sedang dialami anggotanya.
  • ·         Mengetahui seluk beluk dan mengetahui bagaimana kedudukan dalam kelompoknya. Tak kenal maka tak sayang. Pepatah tersebut sangat cocok dipakai untuk seorang pemimpin. Darimana ia bisa mengendalikan organisasi jika ia tidak mengetahui keadaan yang ada di dalam organisasi tersebut.
  • ·         Sebagai pemuka pendapat bagi kelompoknya. Ia menjadi panutan dalam kelompoknya. Seorang pemimpin harus bisa menjadi cerminan bagi anggota-anggotanya. Pribadi yang kharismatik, berpengetahuan luas, bertanggungjawab, harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dan seorang pemimpin adalah sumber dari segala sumber di organisasi.
  • ·         Mampu membawakan aspirasi seluruh anggota dan ia harus mampu menghubungkan berbagai pendapat, usul dan sebagainya, yang saling berlawanan dari anggota-anggotanya untuk menuju pada putusan bersama. Perbedaan pendapat dalam sebuah organisasi adalah hal yang lumrah, tapi bagaimana mengkondisikan dan menggiring perbedaan pendapat menjadi satu pendapat bersama adalah pekerjaan yang sulit. Di sini peran pemimpin sangat dibutuhkan.
  • ·         Mampu mengontrol kemajuan kelompoknya dan mengetahui tindakan selanjutnya. Seorang pemimpin harus mengetahui rule of the game menjadi seorang pemimpin. Rule of the game diperlukan agar pemimpin focus dan bisa langsung bertindak. Ia juga harus mengontrol anggota-anggotanya agar tugas bisa cepat terselesaikan sehingga tujuan bersama kelompok akan cepat tercapai.
  • ·         Bijaksana dalam menentukan andil anggota dan yang terpenting mampu dalam menjaga keharmonisan kelompok. Seorang pemimpin harus bijaksana, sikap kebijaksanaan ini diperlukan karena dalam organisasi pasti ada konflik. Pintar-pintarnya si pemimpin mengembalikan mood  anggota.

Menurut teori structural fungsional Talcott Parson, organisasi (terutama pemimpin organisasi) harus mempunyai empat sikap: Adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, latensi. (AGIL).
  • ·         Adaptasi. Pemimpin harus bisa menempatkan diri. Dia juga harus bisa mengatasi sebuah situasi yang tercipta ketika organisasinya atau orang yang berada di organisasinya bersinggungan dengan orang luar.
  • ·         Pencapaian tujuan. Seorang pemimpin harus bisa mendefinisikan dan mencapai tujuan-tujuan utamanya. Seorang pemimpin harus bisa mengevaluasi dirinya sendiri, supaya ia mampu memimpin dengan baik, dan organisasi tersebut akhirnya mencapai tujuannya.
  • ·         Integrasi. Seorang pemimpin harus mengatur hubungan bagian-bagian yang terdapat dalam organisasinya.. Ini bertujuan agar semua bekerja secara baik, manajemen yang baik, outputnya pasti baik.
  • ·         Latensi. Pemimpin harus melengkapi, memelihara, dan memperbarui motivasi individu dan pola-pola budaya yang menciptakan dan mempertahankan motivasi tersebut. Berarti pemimpin harus melakukan upgrading terhadap anggotanya, agar anggota menemukan motivasi kembali. Motivasi dari anggota bisa hilang akibat tekanan yang dihadapai maupun suasana lingkungan yang kurang nyaman.
 Setelah kita membahas teori yang panjang dan rumit, marilah sekarang kita beranjak pada aplikasi teori tersebut. Kita akan melihat bagaimana suasana kepemimpinan dalam POLRI terbentuk. Kenapa saya mengambil POLRI? Karena POLRI sekarang ini sedang banyak disoroti, jadi saya ingin mengerti organisasi tersebut secara mendalam. Saya menggunakan buku “Perilaku Organisasi POLRI”, penulisnya adalah Jend. Pol (Purn) Drs. Kunarto, MBA. Dalam buku ini, dijelaskan, bahwa azaz kepemimpinan di POLRI itu adalah[7]:
  • ·         Takwa. Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan taat kepadanya
  • ·         Ing ngarsa sung tulada. Member suri tauladan dihadapan anak buah
  • ·         Ing madya mangun karsa. Bergiat serta menggugah semangat di tengah-tengah anak buah
  • ·         Tut wuri handayani. Mempengaruhi dan memberikan dorongandari belakang anak buah
  • ·         Waspada purba wasesa.  Selalu waspada mengawasi serta sanggup dan berani member koreksi kepada anak buah
  • ·         Ambeg parama arta. Dapat memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan
  • ·         Prasaja. Tingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan
  • ·         Satya. Sikap loyal yang timbale balik, dari atasan terhadap bawahan dan bawahan terhadap atasan dan ke samping
  • ·         Gemi nestiti. Kesederhanaan dan kemampuan untuk membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu kepada yang benar-benar diperlukan
  • ·         Belaka. Kemauan, kerelaan dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan
  • ·         Legawa. Kemauan, kerelaan dan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan tanggungjawab dan kedudukannya kepada generasi berikutnya.
 Seorang Polisi dan juga angkatan bersenjata lainnya, menurut PANGAB Jenderal TNI LB. Murdani, pimpinan ABRI yang baik itu harus mempunyai empat criteria dasar[8]:
  • ·         Menjunjung tinggi Pancasila, berloyalitas tinggi pada Negara atau secara politis bersih, hatinya hanya berisi merah putih
  • ·         Integritas pribadinya tinggi, tanpa cacat, berprestasi dan bereputasi baik
  • ·         Mampu mengambil keputusan yang tepat dalam situasi kritis
  • ·         Memiliki wawasan jauh ke depan dan penguasaan profesionalisme yang mantap
Dan seorang pimpinan POLRI berhasil jika[9]:
  • ·         Kehadirannya memberikan getaran perbaikan
  • ·         Menciptakan prestasi dan produk kerja yang diakui positif
  • ·         Selalu dapat memecahkan masalah spesifik/khusus
  • ·         Menciptakan suasana akrab dan harmonis
  • ·         Memahami medan, mampu beradaptasi dengan lingkungan, dengan sikon dan tantangan sarwa berubah
  • ·         Mampu mematok tekad pengabdian terbaik untuk mewujudkan hari esok yang lebih baik
  • ·         Meski dalam keterbatasan dapat tetap berhasil

Dan output dari semua itu adalah: menciptakan satuan POLRI yang professional, efektif, efisien, modern, bersih, berwibawa dan dicintai masyarakat. Dari penjelasan tersebut dan melihat kondisi realitas sekarang, dapatkah kita menyimpulkan apakah output tersebut sudah tercapai? And tentunya mempunyai persepsi masing-masing, saya tidak bisa men-judge kalau jawaban Anda adalah: belum.















DAFTAR PUSTAKA



Anoraga, Drs. Pandji. 1992. Psikologi Kepemimpinan. Jakarta: PT Rineka Cipta

Drs. Moekijat. 1990. Asas-Asas Perilaku Organisasi. Bandung: Mandar Maju

Geoge Ritzer, Douglas J. Goodman. 2009. Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana

Goleman, Daneil et all. 2005. Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Jend. Pol (Purn) Drs. Kunarto, MBA. 1997.  Perilaku Organisasi POLRI. Jakarta: PT Cipta  Manunggal

Prof. Dr. J. Winardi, SE. 2003. Teori Organisasi dan Pengorganisasian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada


[1] Prof. Dr. J. Winardi, SE. 2003. Teori Organisasi dan Pengorganisasian. Hal: 22
[2] Prof. Dr. J. Winardi, SE. 2003. Teori Organisasi dan Pengorganisasian. Hal: 21

[3] Anoraga, Drs. Pandji. 1992. Psikologi Kepemimpinan. Hal: 2
[4] James D. Mooney dalam  Moekijat, Drs. 1990. Asas-Asas Perilaku Organisasi. Hal: 175-176
[5] Robert C. Miljus dalam Anoraga, Drs. Pandji. 1992. Psikologi Kepemimpinan. Hal: 3
[6] Anoraga, Drs. Pandji. 1992. Psikologi Kepemimpinan. Hal: 17
[7] Jend. Pol (Purn) Drs. Kunarto, MBA. 1997.  Perilaku Organisasi POLRI. Hal: 125-126
[8] PANGAB Jenderal TNI LB. Murdani dalam Jend. Pol (Purn) Drs. Kunarto, MBA. 1997.  Perilaku Organisasi POLRI. Hal: 127

[9] Jend. Pol (Purn) Drs. Kunarto, MBA. 1997.  Perilaku Organisasi POLRI. Hal: 132

Nov 3, 2012

One Step To Be Vegetarian

Tepat seminggu ini saya tidak mengkonsumsi daging. Hal tersebut saya lakukan sejak saya memutuskan untuk menjadi vegetarian. Selain perut yang semakin hari semakin membuncit dan ditakutkan nanti akan menambah lemak dalam bentuk lipatan-lipatan di tubuh, vegetarian juga bisa jadi adalah bentuk aksi saya untuk menghormati hak-hak hewan. Seperti tulisan saya sebelumnya, manusia telah over comsume dalam mengkonsumsi hewan. Dan ketika manusia mengkonsumsi hewan (baca: menyembelih), kadang-kadang manusia tidak mematikan mereka dengan khusnul khotimah. Saya pernah diberitahu teman saya (dia dulu bekerja di salah satu "pabrikan" fast food), katanya daging yang selalu disajikan dengan roti dan diberi hiasan sayuran di tengah-tengahnya atau yang akrab kita dengar dengan burger, prosesnya sangat-sangat tidak bersahabat. Sapi/ayam langsung dimasukkan ke dalam mesin penggilingan tanpa disembelih terlebih dahulu. Jadi "daging" yang kamu makan di burger itu bukanlah daging dalam arti yang sebenarnya. Tapi "daging" dengan campuran organ-organ tubuh bagian dalam hewan tersebut. Percaya boleh, tidak percaya juga boleh.

Saya sempat browsing, bagaimana cara menjadi seorang vegetarian. Ternyata menjadi vegetarian, atau lebih tepatnya proses menjadi vegetarian susah juga ya? Dan saya juga baru paham, ternyata jenis vegetarian itu banyak. Saya mengutip dari sini. Jadi jenis-jenis vegetarian itu antara lain:
  • Vegan. Vegan adalah mereka yang sangat-sangat anti produk berbahan dasar hewan. Mulai dari makanan  sampai atribut yang dipakai. Vegan hanya mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan. Olahan-olahan dari binatang seperti madu, keju, susu, dll, tidak mereka konsumsi.
  • Vegetarian Lacto. Mereka mengkonsumsi produk-produk nabati. Dan untuk olahan dari hewan seperti susu, mereka meminumnya. Mereka tidak memakan daging.
  • Vegetarian Ovo. Hampir sama dengan vegetarian lacto, Mereka mengkonsumsi makanan-makanan berbahan tumbuhan dan tidak memakan daging. Mereka menghindari makanan berbahan dasar hewani kecuali telur
  • Vegetarian Lacto-Ovo. Ini adalah gabungan dari vegetarian lacto dan vegetarian ovo. Mereka mengkonsumsi bahan nabati, namun juga mengkonsumsi susu dan telur. Pun juga dengan olahan-olahannya seperti keju, yoghurt, mentega, dll.
  • Vegetarian Pollo. Mereka tetap mengkonsumsi bahan nabati, tapi pada saat tertentu mereka juga mengkonsumsi daging, susu, telur dan bahan-bahan hewani lain.
  • Vegetarian Pesco. Sama seperti vegetarian lain, yaitu tetap mengkonsumsi produk-produk dengan bahan nabati, tapi mereka memakan ikan. Untuk daging ayam/sapi/kambing, mereka menghindarinya. 
Saya masih mengkonsumsi telur dan susu, tapi tidak untuk daging, baik itu daging ayam/sapi/kambing/ikan. Dan saya juga masih mengkonsumsi produk-produk olahan dari hewan, tapi selama produk tersebut tidak dibuat dari hewan yang telah kehilangan nyawanya.

Ketika saya mendeklarasikan diri menjadi seorang vegetarian, saya mendapatkan banyak pertanyaan dari ibu saya. Kira-kira seperti ini: Ibu (I), saya (R)
I : "Panganane isih akeh, kok ra mbok pangan?" (Makanannya masih banyak kok tidak kamu makan?)
R: "Aku saiki ra mangan daging" (Saya sekarang tidak makan daging)
I: "Halah, neko-neko wae kowe! Mbok ra sah neko-neko, lha terus aku masake opo?" (Halah, jangan aneh-aneh! Jangan aneh-aneh, terus nanti masaknya apa?")
R: (saya diam)
I: "Kowe melu aliran apa? Kok neko-neko ngono?" (Kamu ikut aliran apa? Kok aneh-aneh gitu?"
R: "Pokoke aku saiki ora mangan daging" (Sekarang saya tidak makan daging")
I: "Mbok yo ra sah neko-neko!" (Tidak usah aneh-aneh)
R: "Aku saiki vegetarian" (Saya sekarang vegetarian)
I: (Ibu saya diam lalu dia pergi)

Dialog di atas merupakan gambaran kecil susahnya menjadi vegetarian di dalam lingkup keluarga. Pemilihan menu makanan memang harus dirubah, padahal keluarga saya bisa dikatakan over consume dalam menu daging. Dan adaptasi dengan lingkungan yang "baru" pun juga harus saya lakukan. Karena masyarakat pada umumnya belum begitu paham dengan hak-hak seorang vegetarian. Menu-menu makanan di luar sana, masih banyak yang menyajikan menu "mayoritas", sedangkan saya sebagai seorang vegetarian newbi, harus bisa beradaptasi dan mengontrol diri dari itu.

Baiklah saatnya mengucapkan selamat tinggal untuk kebab, mie ayam pangsit-bakso, tongseng, nasi bandeng, sate koyor Mbah Di, dll. Terimakasih telah menjadi kenangan dalam hidup saya. Selamat tinggal....