May 15, 2013

Banda Neira: Berjalan Lebih Jauh ke Entah Berantah

Foto diambil dari http://dibandaneira.tumblr.com/
  "Band nelangsa riang". Itulah pendeskripsian diri Banda Neira melalui akun Twitter mereka. Melalui album Berjalan Lebih Jauh, deskripsi itu sungguh cocok disematkan ke dalam nama tengah mereka. Setelah meluncurkan dua EP di tahun 2012 yaitu Di Paruh Waktu dan Live (yang mendapatkan banyak respon positif), dengan dirilisnya Berjalan Lebih Jauh pada April kemarin, mereka mengerti bagaimana caranya mencari massa untuk nelangsa bersama. Dan menjadi nelangsa itu mudah, tinggal putar musik mereka maka akan kamu temui musik melankolis nan teduh, vokal berat Ananda Badudu yang diimbangi dengan suara lembut Rara Sekar, dan lirik yang puitis. Poin yang disebutkan terakhir adalah salah satu nilai lebih dari duo ini. Mereka konsisten menggunakan lirik berbahasa Indonesia yang ringan, dengan tatanan dan pemilihan kata yang indah, dan mengajak kita untuk "memecahkan" apa makna di balik lirik lagu mereka. Sama seperti membaca novel, album ini mengajak pendengar berjalan-jalan dan berfantasi dalam panggung semesta imajiner kita masing-masing. Masih seperti novel, menurut saya ada beberapa lagu di album ini yang saling berkaitan, sehingga memudahkan kita untuk mengikuti alurnya sesuai interpretasi kita masing-masing.

Perjalanan pun dimulai dari lagu "Berjalan Lebih Jauh". Lagu yang catchy dan up beat ini diawali dengan lirik yang tegas, "Bangun, sebab pagi terlalu berharga, tuk kita lewati dengan tertidur...". Lirik ini merupakan negasi dari kehidupan saya, seorang yang menyambut sang surya pada jam 09.00 ke atas. Di lagu ini Banda Neira mengajak kita agar terus menjalani kehidupan dan jangan menyerah dalam mengarungi hari. Demi Tuhan, ini adalah lagu yang tepat untuk mengawali sebuah album dan hari.

Track 02, "Di Atas Kapal Kertas", sekelebat dari judulnya, saya teringat akan sosok Maudy Ayunda. Dan "...Gadis kecil ingin keluar menantang alam..." dalam imajinasi saya diperankan olehnya. Tapi, hey, ini bukan Perahu Kertas! Di lagu ini masih membuat kepala bergoyang maju mundur sambil membuat bibir ber-sing along dibagian reffrain-nya. Berbeda dari track 01, dan saya analogikan seperti jalan gunung yang menanjak, mulai lagu kedua ini hingga ke belakang, kita dihadapkan pada lirik-lirik yang mengharuskan kita menginterpretasikannya. Dan menurut interpretasi saya, lagu ini bercerita tentang seseorang yang ingin mencoba sesuatu yang baru, sesuatu yang belum ia kenal, boleh dikatakan "sesuatu" tersebut adalah pekerjaan.

 Kita diajak "Ke Entah Berantah". Sebuah lagu dengan tempo sedang yang memang tepat untuk berfantasi, di manakah entah berantah itu? Apakah di sana kita bisa bertemu Alice? Entahlah, yang jelas entah berantah itu ada karena suatu "kuasa". Ketika "kuasa" tersebut menguasai diri kita, kita akan, "...terbawa suasana..." lalu "...tersaru antara nikmat atau lara..."

"Semesta bicara tanpa bersuara. Semesta ia kadang buta aksara. Sepi itu indah, percayalah. Membisu itu anugerah", bait-bait tersebut adalah bait favorit saya di album ini, dan menjadikan "Hujan di Mimpi" sebagai lagu favorit saya. Lagu yang pelan, perpaduan vokal yang aduhai dengan diiringi petikan gitar manis, telah berhasil mengungkapkan bahwa di luar memang sedang hujan, walau dalam realitanya berkebalikan. Sungguh, lagu ini akan menjadi hujan anthem, karena ketika hujan itu ada banyak pikiran-pikiran yang melayang tentang seseorang, tentang kekuatan semesta yang telah maupun akan mempertemukan dua hati manusia, dan menurut saya inti dari lagu ini adalah kita harus mempercayai kekuatan semesta (baca: takdir). Bagi kamu yang suka galau, hati-hati lagu ini adiktif!

Dari lagu "Esok Pasti Jumpa (Kau Keluhkan)" saya mengerti apa itu yang dimaksud dengan impersonisasi terompet. Dengan ditambahkannya unsur bass, menjadikan lagu ini lebih meriah. Apkah nelangsa akibat tidak kunjung menemukan tambatan hati merupakan suatu hal yang meriah? Jika pertanyaan itu kamu tanyakan di acara Eat Bulaga pasti jawabannya adalah, "Bisa jadi!"

Namanya juga Jakarta, bukan Amsterdam. "Senja di Jakarta" menyuguhkan sebuah ironi tentang kondisi kota metropolitan yang tidak bersahabat dengan para pesepeda. Ironi akan bertambah manis ketika kamu mainkan dengan xylophone dan kamu dendangkan dengan riang, yang seakan-akan mengajak Jokowi-Ahok untuk berdendang bersama dalam ironi ini. 

"Kisah Tanpa Cerita" adalah salah satu lagu yang sangat bernuansa folk. Aura lagu ini kelam. Sama kelamnya dengan cerita laki-laki dan perempuan dalam lagu ini. Sampai saat ini pun saya tidak yakin betul apa arti "...sekisah tanpa cerita...". Tapi interpretasi ugal-ugalan saya berpendapat bahwa lagu ini bercerita tentang hubungan seorang pria hidung belang dengan wanita simpanannya. Sebuah hubungan yang tidak sakinah, mawaddah, dan Ahmad Fathanah, hahaha...

Saya sangat suka permainan xylophone dalam lagu "Di Beranda", permainan xylophone di lagu tersebut sangat pas karena mengisi kekosongan yang ada, dan mempertegas bahwa sebenarnya tak ada ruang kosong yang tertinggal akibat seorang anak yang melangkah ke luar rumah demi mengejar masa depannya. Jika dalam aransemen kekosongan diisi oleh xylophone, maka dalam kehidupan berumah tangga (dalam sudut pandang ayah-ibu) kekosongan diisi oleh keyakinan bahwa "...kita berdua tahu, dia pasti pulang ke rumah...". Lagu ini merupakan ode bagi para anak kost.

Dua lagu terakhir di album Berjalan Lebih Jauh ini mempunyai daya ledak besar. Daya ledak yang disampaikan dengan cara ringan, bukan berapi-api. Dan daya ledak itu bernama protes. Musikalisasi puisi "Rindu" karya Subagio Sastrowardoyo yang bercerita tentang rasa rindu keluarga para korban penghilangan paksa. Lagu "Mawar" didedikasikan kepada para korban penculikan dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh tim Mawar dari satuan Koppassus. Ketika mendengarkan "Mawar", saya teringat kepada Homicide (yang juga sering mengkritisi tentang "kegiatan-kegiatan" TNI), namun Banda Neira paham bahwa mereka bukan Homicide sehingga lagu yang mereka buat dibungkus secara rapi dalam balutan pop kelam yang ditambahi oleh puisi Wiji Thukul, maka protes sudah berhasil dilakukan. Lagu ini tidak diakhiri dengan, "Hanya ada satu kata: lawan!", tapi, "Lalu kita lupa". Sebuah akhir yang menggantung tapi malah merupakan realitas karena masyarakat kita tidak lagi tahu bahwa kasus-kasus tersebut ada, dan kasus tersebut akan dilupakan dengan sendirinya. 

Secara keseluruhan, album ini berkualitas. Karena selain mengajak kita bermain dalam interpretasi lirik, kita juga diajak untuk berimajinasi dari lirik-lirik tersebut. Plus, Banda Neira berani menampilkan lagu yang beraroma politik, sebuah tema yang jarang diangkat oleh musisi yang setipe dengan mereka. Jika ingin berkomunikasi dengan mereka, silakan mention mereka di sini, mereka musisi yang ramah dengan fans kok :)

No comments:

Post a Comment