Dec 18, 2012

Berhala: Meracuni Tubuh dengan Sugesti




"Under the world. I wait for my fate. My soul is resting . Beneath my blissful haze. My time of aging. Wonder when I'll die. But when my time will come. I know the reason why.

I have an escape. Alone it keeps me safe within my home. I have a reason. To keep me satisfied until I'm gone. Don't regret the rules I broke, When I die bury me in smoke"

(Down-Bury Me In Smoke)

Berhalakuyangkupuja


Berhalakuyangkupuja...
Mereka adalah sekumpulan berhala
Terpaksaku 'tuk memuja
Bukan terpaksa, tapi suatu keharusanlah yang menyebabkanku memuja

Tak akan bisa berdialog dengan mimpi
Berhalakuyangkupuja telah mencuri semua mimpiku
Mencoba berkawan dengan malam hari
Berhalakuyangkupuja menatap dengan pandangan kosongnya

Mereka punya kuasa terhadap konsekuensi
Karena mereka bernama berhala


Dec 15, 2012

Galau Ala Punk Rock

Pernahkah kamu mendengar sebuah lagu dan tiba-tiba kamu berkata, "Wuuaannjiiirrr, ini lagu gue banget!" ? Karena kamu terhipnotis oleh lagu tersebut, akhirnya kamu memutuskan untuk menekan tombol repeat di pemutar musikmu. Begitu juga dengan esoknya, lalu esoknya lagi, dan entah sampai kapan kamu akan terus begitu karena lagu tersebut sangat-sangat mewakili perasaanmu. Paling tidak kamu berhenti mendengarkan lagu tersebut pada saat kamu tahu ada lagu yang lebih bikin jleb atau kamu sudah berganti ke suasana hati yang baru.

Ngomong-omong soal suasana hati, pastilah anak-anak muda zaman sekarang sudah sangat familiar dengan sebuah perasaan bernama galau. Ketika galau sedang melanda, kegalauan tersebut akan lebih indah dan bermakna ketika ada backsound. Hanya ada dua pilihan dengan musik ketika kamu galau: kamu berlarut-larut dalam kegalauan atau kamu beranjak move on dari kegalauanmu. Silakan tentukan pilihanmu sendiri. 

Untuk yang memilih berlarut-larut dalam suasana galau, banyak lagu dengan tempo pelan dijadikan sebagai pelampiasan. Dan biasanya backsound galau massal berasal dari genre pop. Genre pop mungkin telah ditakdirkan sebagai pemanis duka dan luka. Coba saja lihat, anak galau mana yang tidak mendengarkan "Someone Like You"-nya Adele, atau lagu galau yang lagi nge-hits sekarang ini "A Thousand Years"-nya Christina Perri? Jika dikemudian hari ada seorang produser rekaman yang sedang galau, dan dia ingin mengeluarkan kompilasi album galau, maka pastilah dua lagu tadi berada dalam kompilasi tersebut. Dua lagu tadi memang menjadi galau anthem di tahun 2012 ini.

Galau is not crime. Semua orang berhak merasakan galau, termasuk saya. Saya mengakui kalau saya adalah pribadi yang rentan dengan galau, dan saya mengakui lagi kalau saya juga sering mendengarkan Adele dan Christina Perri sebagai soundtrack kegalauan saya. Tapi sekarang berbeda! Ya, berbeda! Karena sekarang saya mempunyai soundtrack galau dari sebuah band punk! Adalah band punk lokal bernama Speak Up yang harus bertanggungjawab terhadap kegalauan saya. Karena karya mereka memang layak konsumsi bagi para pecinta kegalauan. Lagu yang saya maksud adalah "Dilema Kehidupan", dari album Story Of Our Life (2008). Lagu ini "berbeda"dari lagu-lagu lain yang ada di album tersebut. Sebenarnya ada dua lagu akustik yang sangat galau anthemic dan akan menimbulkan koor massal ketika lagu tersebut dibawakan, tapi itu sudah terlalu umum. Saya menaruh perhatian kepada "Dilema Kehidupan", walaupun lagu tersebut up beat, tapi lagu tersebut enak didengarkan ketika galau. Lirik memang menjadi kekuatan bagi sebuah lagu, dan itu dibuktikan juga oleh Speak Up. "Dilema Kehidupan" mempunyai lirik tajam yang mempertanyakan takdir. Saya memang saat ini sedang mempertanyakan takdir, sehingga lagu tersebut sangat cocok untuk saya.

Terkadang takdir tidak bersahabat dengan kita, tapi takdir masih menjadi misteri, maka untuk kamu yang sedang mempertanyakan takdir, terutama takdir dengan siapa kamu akan menjalani hidup bersama, Speak Up memberikan solusi jitu. Mereka menulis, "...Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama selamanya. Maka takdirlah yang akan menyatukan kita, bersabarlah..."

Semakin bertambah galaukah? Atau jangan-jangan kamu sudah pasrah terhadap takdir? Atau malah jangan-jangan kamu menyalahkan takdir? Yang jelas, lagu ini adalah lagu yang hebat!


==========================================

Speak Up-Dilema Kehidupan

Penyesalanku semakin menguak di dalam rongga tubuh ini
Penderitaanku semakin di tubuhku
Hidup ini hanya sekali haruskah kuterbuai mimpi? 
Hidup ini hanya sekali haruskah kuterbuai mimpi?

Jika memang  ini semua guratan takdir yang tersurat
Akankah ini terus berselimut di dalam raga ini?
Hidup ini hanya sekali, kebahagiaanlah yang harus kucari

Biarkanlah, demi waktu yang akan terus berbicara
Akan di manakah, hati ini, bersauh, bertambat, berpijak?

Hidup ini hanya sekali haruskah kuterbuai janji?
Hidup ini hanya sekali haruskah kuterbuai mimpi?  

Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama selamanya
Maka takdirlah yang akan menyatukan kita, bersabarlah
Hidup ini hanya sekali kebahagiaanlah yang harus kucari



Dec 9, 2012

RIP My Nokia 5000, RIP My Memories





RIP hape saya. Telah berpulang pada Minggu, 9 Desember 2012 pukul 13.30. Menurut diagnosis, hape saya terkena benturan keras di LCD. Rencananya, hape tersebut akan saya simpan, karena hape tersebut sangat memorable.

Selama empat tahun ini, kami telah banyak membingkai kenangan. Seperti tagline sebuah permen "manis, asam, asin", telah kami buat. Si Nokia 5000 tersebut seperti menjadi saksi bisu perjalanan hidup saya selama empat tahun ini. Di saat sebagian orang telah menjadi budak teknologi komunikasi yang ditandai dengan dominasi rezim Blackberry dan Android, saya justru tidak tertarik menggunakan dua tipe hape tersebut. Karena seburuk-buruk atau sejadul-jadulnya HP-mu, jika di dalamnya ada banyak kenangan yang tercipta, apakah kamu rela meninggalkan HP mu itu dan berganti HP atas nama lifestyle dan modernisasi?

Aaahhh.. Kenapa saya malah menulis sebuah tulisan bertema kritik sosial? Seharusnya tema tulisan ini adalah sebuah kesedihan, karena kenangan yang terekam selama empat tahun sekejap menghilang seiring HP yang mati.

Dan akhir kata, saya hanya bisa berucap "Selamat tinggal, kawan. Terimakasih telah menjadi saksi bisu dari kenangan-kenangan..."

Dec 6, 2012

Midnight Phobia

Biadab!
Itulah kata yang hampir terucap dari mulut saya. Kata tersebut tidak bisa terucap karena saya lebih mementingkan ketakutan saya daripada harus mengumpat. Daripada mengumpat lebih baik saya lari sambil teriak daripada harus mengumpat tak beraturan. 

Itulah yang saya rasakan malam ini. Baru saja saya rasakan. Agar menghilangkan ketakutan saya, tulisan ini saya buat, walaupun ketakutan saya tersebut masih menghantui saya. Ini bukan tentang hantu, ini hanyalah "sesuatu". Tapi "sesuatu" yang mempunyai title biadablah yang membuat saya ketakutan.

Alkisah, saya adalah seorang penderita phobia. Kadang orang menganggap "sesuatu" yang kita benci dan takuti adalah hal yang sepele, tapi tidak untuk penderita phobia. Itu justru adalah masalah yang luar biasa, dan mungkin, itu bisa membuat kami para penderita phobia, mati. Kadang-kadang teman-teman saya pun menakut-nakuti saya dengan "sesuatu" itu, dan mereka justru mendapatkan hiburan gratis akibat tingkah pola saya. Padahal saya sangat-sangat tersiksa. Adrenalin saya memuncak seiring dengan ketakutan yang melanda. Dan tak jarang ketika saya tak sengaja melihat "sesuatu" itu di jalan maka seketika saya akan mengeluarkan reflek yaitu berteriak (kadang sambil mengumpat). Anggap saja beberapa kalimat sebelum ini adalah curhatan saya sebagai seorang phobia. Karena penderita phobia juga wajib dimengerti, bukan?

Sebenarnya apa yang terjadi?

Baiklah saya akan berterus terang. Saya tadi sampai di rumah. Memasukkan motor ke dalam garasi, dan sedikit bermain-main dengan kucing saya. Lalu saya masuk rumah dan berada di dapur. Ketika hendak membuka pintu masuk menuju ruangan utama rumah saya, saya dikejutkan oleh "sesuatu" yang saya takuti tersebut. "Sesuatu" tersebut tanpa permisi berada di dalam rumah saya, padahal "sesuatu" tersebut tidak pernah mengunjungi rumah saya. Karena "sesuatu" tersebut berbentuk kecil, saya coba mengambilnya dengan tas plastik. Akan tetapi tiba-tiba ia mendatangi saya. Tanpa banyak omong tapi dengan teriakan yang keras akhirnya saya membuka pintu menuju ke ruangan utama, dan bergegas menuju kamar, menutup pintu kamar saya rapat-rapat, dan akhirnya menuliskan cerita ini sebagai penghibur di dalam ketakutan yang telah melebihi titik maksmimal. Dan malam ini, saya tidak akan menuju dapur atau WC sekalipun! Walaupun saya haus atau ingin buang air kecil, tapi atas nama phobia yang sedang menghantui saya, saya rela mensugesti diri saya untuk tidak melakukan dua hal tersebut. Berdiam diri di kamar adalah solusi.

Pasti kamu bertanya-tanya, saya phobia terhadap apa? 

Karena ini malam yang baik untuk berterus terang, maka saya mengakui bahwa saya phobia terhadap kodok si makhluk biadab! Kamu jangan tertawa, karena kalau kamu tertawa berarti kamu tidak menghargai hak-hak pengidap phobia!

Dec 3, 2012

Efek Rumah Kaca-Desember

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
Di balik awan hitam
Smoga ada yang menerangi sisi gelap ini, 
Menanti..
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka sehabis hujan di Bulan Desember,
Di Bulan Desember

Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka

(Efek Rumah Kaca-Desember)


Lagu ini merupakan salah satu lagu terbaik yang pernah Efek Rumah Kaca buat, menurut saya. Dari segi penulisan lirik yang cerdas, membuat orang berinterpretasi tentang apa maksud lirik tersebut. Apakah ini "hanyalah" sebuah kesenangan di kala hujan tiba? Saya tidak berpikir begitu, ini tentang sebuah pengharapan.
Pengharapan yang tumbuh, dan kita akan terus menunggu hingga pada saatnya harapan tersebut dapat terealisasikan, walaupun realisasinya begitu lama. 

Dan jika harapan itu tentang sebuah perasaan, semoga kamu yang ada di sana membaca tulisan ini... 
Karena pelangi akan tetap setia menunggu hujan reda untuk menerangi setiap sisi yang gelap...
Semoga...