Biadab!
Itulah kata yang hampir terucap dari mulut saya. Kata tersebut tidak bisa terucap karena saya lebih mementingkan ketakutan saya daripada harus mengumpat. Daripada mengumpat lebih baik saya lari sambil teriak daripada harus mengumpat tak beraturan.
Itulah yang saya rasakan malam ini. Baru saja saya rasakan. Agar menghilangkan ketakutan saya, tulisan ini saya buat, walaupun ketakutan saya tersebut masih menghantui saya. Ini bukan tentang hantu, ini hanyalah "sesuatu". Tapi "sesuatu" yang mempunyai title biadablah yang membuat saya ketakutan.
Alkisah, saya adalah seorang penderita phobia. Kadang orang menganggap "sesuatu" yang kita benci dan takuti adalah hal yang sepele, tapi tidak untuk penderita phobia. Itu justru adalah masalah yang luar biasa, dan mungkin, itu bisa membuat kami para penderita phobia, mati. Kadang-kadang teman-teman saya pun menakut-nakuti saya dengan "sesuatu" itu, dan mereka justru mendapatkan hiburan gratis akibat tingkah pola saya. Padahal saya sangat-sangat tersiksa. Adrenalin saya memuncak seiring dengan ketakutan yang melanda. Dan tak jarang ketika saya tak sengaja melihat "sesuatu" itu di jalan maka seketika saya akan mengeluarkan reflek yaitu berteriak (kadang sambil mengumpat). Anggap saja beberapa kalimat sebelum ini adalah curhatan saya sebagai seorang phobia. Karena penderita phobia juga wajib dimengerti, bukan?
Sebenarnya apa yang terjadi?
Baiklah saya akan berterus terang. Saya tadi sampai di rumah. Memasukkan motor ke dalam garasi, dan sedikit bermain-main dengan kucing saya. Lalu saya masuk rumah dan berada di dapur. Ketika hendak membuka pintu masuk menuju ruangan utama rumah saya, saya dikejutkan oleh "sesuatu" yang saya takuti tersebut. "Sesuatu" tersebut tanpa permisi berada di dalam rumah saya, padahal "sesuatu" tersebut tidak pernah mengunjungi rumah saya. Karena "sesuatu" tersebut berbentuk kecil, saya coba mengambilnya dengan tas plastik. Akan tetapi tiba-tiba ia mendatangi saya. Tanpa banyak omong tapi dengan teriakan yang keras akhirnya saya membuka pintu menuju ke ruangan utama, dan bergegas menuju kamar, menutup pintu kamar saya rapat-rapat, dan akhirnya menuliskan cerita ini sebagai penghibur di dalam ketakutan yang telah melebihi titik maksmimal. Dan malam ini, saya tidak akan menuju dapur atau WC sekalipun! Walaupun saya haus atau ingin buang air kecil, tapi atas nama phobia yang sedang menghantui saya, saya rela mensugesti diri saya untuk tidak melakukan dua hal tersebut. Berdiam diri di kamar adalah solusi.
Pasti kamu bertanya-tanya, saya phobia terhadap apa?
Karena ini malam yang baik untuk berterus terang, maka saya mengakui bahwa saya phobia terhadap kodok si makhluk biadab! Kamu jangan tertawa, karena kalau kamu tertawa berarti kamu tidak menghargai hak-hak pengidap phobia!