“I got no motivation. Where is my motivation? No time for the
motivation. Smoking my inspiration”. (Green Day-Longview)
Lagu dari Green Day tersebut
mengalun lirih dari speaker komputer saya.
Tombol repeat berada pada posisi on di player pemutar musik. Seperti sebuah soundtrack, “Longview” menemani saya ketika otak ini sudah
mengalami “disfungsi” akibat hal-hal monoton yang saya lakukan di depan monitor
15 inchi.
“Tekan ngendi?” (Sampai mana?) merupakan pertanyaan yang sering saya
dengar dari teman-teman saya. Saya tidak menjawab, paling hanya tersenyum dan
tak jarang saya malah ngeles atau
malah mengubah topik pembicaraan. Karena
bagi saya adalah satu hal yang tabu menjawab pertanyaan seperti itu jika tidak
ada progres maksimal yang saya lakukan. Progres merupakan suatu yang langka dan
jarang saya temui akhir-akhir ini. Dan oh ya, kadang pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sensitif
bagi orang-orang yang sedang memperjuangkan “itu”. Pertanyaan itu sama sensitifnya dengan
pertanyaan seputar SARA, sehingga dibuatlah pengelompokan baru terkait hal-hal sensitif
bernama SARAS (Suku Agama Ras Antargolongan Skripsi).
Tulisan ini berjudul “Hanyalah
Sebuah Wacana”. Jika kamu membaca posting-an
sebelum ini pastilah kamu tahu kenapa saya menulis ini. Entah mengapa bangunan
yang saya susun tiba-tiba saja sudah berada pada posisi miring, tinggal
menunggu waktu untuk ambruk. Begitulah versi tersirat dari niatan dan motivasi
saya sekarang ini. Jika meminjam istilah Vicky Prasetyo, mungkin kondisi saya
sekarang adalah sedang “mempertakut” dan “mempersuram” diri sendiri. Dan parahnya,
ketika dalam kondisi ini, biasanya saya malah terjerumus terlalu dalam. Sehingga
jawaban paragraf ketiga bisa kamu temui di paragraf ini.
Bisa jadi ketika membaca tulisan
ini kamu berpikir, “Ahh, anak ini terlalu mendramatisir keadaan”. Bukan, saya
bukan sedang mendramatisir keadaan, tapi memang beginilah adanya. Bukan juga melakukan
sebuah pembelaan, tapi entahlah, saya ini seorang yang aneh. Ketika menulis ini
wajah saya mati rasa, lalu saya berkaca, dan melihat ada seorang bodoh dan
bebal di sana. Mmmm, ngomong-omong bagian ini terlalu depresif, ya? Hahaha.
Baiklah, doakan saja semoga “itu”
tidak berakhir sebagai wacana. Sebaiknya saya berkaca lagi dan bertanya,”How far you can go, boy?”