"Senyum yang terkembang, hanyalah sebuah tuntutan peran"
Entah mengapa kalimat tersebut mondar-mandir di otak saya malam ini. Otak saya memang sedang dalam kondisi random, tapi kalimat-kalimat itu dengan berani memenuhi sebagian besar fokus malam ini. Dan kemudian kalimat itu pun berkembang menjadi, "Apakah bahagia itu sesederhana seperti yang orang kira?"
Bahagia itu memang sederhana, setidaknya bagi orang yang cukup "sepele" memahaminya. Bahagia memang suatu hal yang remeh-temeh. Jika parameter bahagia ditentukan dengan seberapa banyak kamu tersenyum, seberapa besarkah volume suara ketika kamu tertawa, bagi saya itu hanyalah sebuah parameter usang. Bahagia, menurut saya, adalah kondisi ketika kamu bisa mengontrol dan merasa jujur terhadap kondisi dirimu sendiri. Tersenyum dan tertawa itu bisa dibuat-dibuat, dan kedua hal itu hanyalah sebuah respon yang sengaja dikeluarkan sebagai formalitas atau feedback lingkungan sekitar.
Tapi jauh di dalam dirimu, ada lubang yang menganga. Ibarat black hole, lubang itu menyerap semua yang ada. Kamu memang berada di lingkungan yang penuh gelak tawa, tapi dirimu yang sebenarnya tidak berada di sana. Sehingga ketika lingkungan tersebut menuntut adanya tawa sebagai respon, kamu hanya memberikan tawa palsu. Dalam Bahasa Jawa disebut dengan nglegani. Nglegani kondisi yang ada.
Bahagia yang tercipta karena sebuah keterpaksaan itu sangat-sangat tidak mengenakkan. Ada pertentangan di dalam diri, ada perasaan ingin menyudahi "kebisingan" ini dan segera memilih menyendiri, banyak pertanyaan berkecamuk di pikiran: kenapa begini kenapa begitu. Dan ingatlah, sejauh-jauh tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Sepintar-pintarnya kamu mengkamuflasekan kondisi dirimu, pastilah kamu akan menyerah pada kondisimu yang sebenarnya. Seperti kata Five for Fighting, "....Even heroes have the right to bleed...." maka begitu juga dengan kamu.
Maka jadilah sutradara dan aktor yang baik bagi dirimu sendiri. Berbahagialah secara nyata, bukan karena terpaksa atau pura-pura. Jika kamu pernah berbahagia secara pura-pura, berarti kita merasakan hal yang sama.
Tapi jauh di dalam dirimu, ada lubang yang menganga. Ibarat black hole, lubang itu menyerap semua yang ada. Kamu memang berada di lingkungan yang penuh gelak tawa, tapi dirimu yang sebenarnya tidak berada di sana. Sehingga ketika lingkungan tersebut menuntut adanya tawa sebagai respon, kamu hanya memberikan tawa palsu. Dalam Bahasa Jawa disebut dengan nglegani. Nglegani kondisi yang ada.
Bahagia yang tercipta karena sebuah keterpaksaan itu sangat-sangat tidak mengenakkan. Ada pertentangan di dalam diri, ada perasaan ingin menyudahi "kebisingan" ini dan segera memilih menyendiri, banyak pertanyaan berkecamuk di pikiran: kenapa begini kenapa begitu. Dan ingatlah, sejauh-jauh tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Sepintar-pintarnya kamu mengkamuflasekan kondisi dirimu, pastilah kamu akan menyerah pada kondisimu yang sebenarnya. Seperti kata Five for Fighting, "....Even heroes have the right to bleed...." maka begitu juga dengan kamu.
Maka jadilah sutradara dan aktor yang baik bagi dirimu sendiri. Berbahagialah secara nyata, bukan karena terpaksa atau pura-pura. Jika kamu pernah berbahagia secara pura-pura, berarti kita merasakan hal yang sama.
