Oct 27, 2013

(Pura-Pura) Bahagia

"Senyum yang terkembang, hanyalah sebuah tuntutan peran"

Entah mengapa kalimat tersebut mondar-mandir di otak saya malam ini. Otak saya memang sedang dalam kondisi random, tapi kalimat-kalimat itu dengan berani memenuhi sebagian besar fokus malam ini. Dan kemudian kalimat itu pun berkembang menjadi, "Apakah bahagia itu sesederhana seperti yang orang kira?"

Bahagia itu memang sederhana, setidaknya bagi orang yang cukup "sepele" memahaminya. Bahagia memang suatu hal yang remeh-temeh. Jika parameter bahagia ditentukan dengan seberapa banyak kamu tersenyum, seberapa besarkah volume suara ketika kamu tertawa, bagi saya itu hanyalah sebuah parameter usang. Bahagia, menurut saya, adalah kondisi ketika kamu bisa mengontrol dan merasa jujur terhadap kondisi dirimu sendiri. Tersenyum dan tertawa itu bisa dibuat-dibuat, dan kedua hal itu hanyalah sebuah respon yang sengaja dikeluarkan sebagai formalitas atau feedback lingkungan sekitar.

Tapi jauh di dalam dirimu, ada lubang yang menganga. Ibarat black hole, lubang itu menyerap semua yang ada. Kamu memang berada di lingkungan yang penuh gelak tawa, tapi dirimu yang sebenarnya tidak berada di sana. Sehingga ketika lingkungan tersebut menuntut adanya tawa sebagai respon, kamu hanya memberikan tawa palsu. Dalam Bahasa Jawa disebut dengan nglegani. Nglegani kondisi yang ada.

Bahagia yang tercipta karena sebuah keterpaksaan itu sangat-sangat tidak mengenakkan. Ada pertentangan di dalam diri, ada perasaan ingin menyudahi "kebisingan" ini dan segera memilih menyendiri, banyak pertanyaan berkecamuk di pikiran: kenapa begini kenapa begitu. Dan ingatlah, sejauh-jauh tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Sepintar-pintarnya kamu mengkamuflasekan kondisi dirimu, pastilah kamu akan menyerah pada kondisimu yang sebenarnya. Seperti kata Five for Fighting, "....Even heroes have the right to bleed...." maka begitu juga dengan kamu.

Maka jadilah sutradara dan aktor yang baik bagi dirimu sendiri. Berbahagialah secara nyata, bukan karena terpaksa atau pura-pura. Jika kamu pernah berbahagia secara pura-pura, berarti kita merasakan hal yang sama.

Oct 22, 2013

PERJALANAN

Ada rasa haru jika mengingat senja hari itu
Kutinggalkan senyum-senyum yang telah berkembang,
sisa-sisa sebuah ketegaran

Di persimpangan aku mengumpat, menghujat
Memaki langit yang bersinar muram
Berharap datangnya hujan,
untuk menghapus rasa gelisah yang tertinggal

Di persimpangan aku bertanya
“Apakah yakin dan suara hati bisa dibeli?”
“Apakah canda tawa akan terhapus dan terpupus secara nyata?”
“Lalu apakah kita akan mati hanya karena nurani?”

Dalam perjalanan aku tersadar
Rintik hujan adalah awal kehidupan
Mimpi-mimpi yang dijemur telah terpakai kembali
Bersiap menantang narasi hidup ini

Di lain waktu, di lain hari
Jika saja luka itu telah terobati
Apakah tapakan bayangmu bisa mencuri senja untuk sekali lagi?


P.S: “Against the Grain” dari City and Colour menemani merampungkan tulisan tak penting ini.
 

Oct 13, 2013

Cerita Tentang Roekmana




Pertama kali saya mengenal Tigapagi adalah pada saat mereka tampil live di acara musik sebuah stasiun TV kepunyaan calon presiden Indonesia 2014. Tak bisa dipungkiri, saya ada rasa kepada mereka sejak saat itu. Akhirnya saya follow Twitter mereka, saya stalking linimasanya, dan kadang me-retweet ocehan mereka. Ekspektasi saya terhadap Tigapagi begitu tinggi. Apalagi satu bulan ke belakang, melalui tweet-tweet-nya yang ber-hashtag #TGp30S, mereka mempropagandakan album perdananya. Alhasil semakin dibuat penasaranlah saya. Lalu pada tanggal 24 September, yang bertepatan dengan Hari Tani, Tigapagi merilis salah satu lagu dari album mereka berjudul “Alang-Alang” via Soundcloud. Enam hari setelahnya, hari penantian pun tiba. Sebuah album dirilis ke pasaran melalui De Majors. Dan album tersebut bernama Roekmana’s Repertoire.

Tigapagi berisi orang-orang yang pintar mencari momentum. Sama seperti rilisnya lagu “Alang-Alang”, rilisinya Roekmana’s Repertoire juga bertepatan – atau memang sengaja ditepatkan – dengan sebuah hari yang penting bagi Indonesia, sebuah hari yang masih menyisakan memori kelam bagi bangsa ini pada umumnya dan bagi orang-orang yang “masuk” pada peristiwa tersebut pada khususnya. Ya, Gerakan 30 September, menjadi latar dari Roekmana’s Repertoire.  Jadi satu hal yang perlu kamu lakukan ketika mendengarkan album ini adalah bayangkan kamu berada di ruang, waktu, dan suasana ketika peristiwa tersebut terjadi. Silakan memilih posisi “kanan” atau “kiri”, atau boleh juga tak berafiliasi.

Album ini berat, gelap dan misterius. Sama misteriusnya dengan sosok Roekmana. Menurut press release album ini yang ditulis oleh Cholil Mahmud dan A. Puri Handayani, Roekmana adalah seorang yang mempunyai andil besar bagi ketiga personel Tigapagi. Roekmana adalah, “…goeroe gitar jang piawai memainkan lagoe-lagoe klasik Soenda. Konon kabarnja, djari-djemarinja sangat litjin djika soedah terkena senar-senar gitar. Kelihaiannja memboeka tiga tjaloen toean itoe punja pikiran, sampai-sampai didjadikan tokoh sentral dalam alboem mereka…” Jika mendiskusikan sosok Roekmana, mungkin saja dia hanya tokoh fiktif. Atau mungkin dia memang ada tapi sengaja dikaburkan nama aslinya. Tapi menurut persepsi saya, Roekmana adalah seorang aktivis politik. Di tahun itu aktivis politik bisa menjadi seorang pahlawan, martir atau bahkan pecundang. Di posisi manakah Roekmana? Yang jelas kehidupannya mengalami pasang-surut, mencari dan terus mencari, ada yang datang-pergi-menghilang, depresi, frustrasi, dan pada akhirnya serahkanlah pada waktu. Walaupun album ini menceritakan sosok Roekmana, tapi menurut saya album ini juga bisa menjadi refleksi diri kita.

Album ini ibarat pertunjukan teater yang menceritakan kondisi sosial dan politik Indonesia pada September 1965, Roekmana adalah tokoh utama dalam pertunjukan itu, sedangkan Tigapagi bertindak sebagai tim musik pengiring pertunjukan. Dengan memadukan unsur Sunda, folk, keroncong dan string section sebagai pemanis, Roekmana’s Repertoire diawali oleh “Alang-Alang”. Firza Achmar Paloh dari Sore mendapatkan kesempatan untuk menyenandungkan lirik, “Anakku hilang tak kembali” Di lagu “Erika”, suara Ida Ayu Made Paramita Saraswati dari Nadafiksi mengingatkan saya kepada Dolores O’Riordan yang menyanyikan “Linger”.  Walaupun “S(m)unda” secara lirikal bernuansa kelam, namun dapat dibawakan secara “ceria”. Ada yang unik dari “Yes, We Were Lost in Our Hometown”, lirik lagu ini merepetisi judul lagunya, mengingatkan kita bahwa ada suatu waktu di mana kita merasa teralienasi dari lingkungan kita.  Di lagu “Pasir”, vokal Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca sungguh menyihir, mencapai klimaks ketika ia menyanyikan, “…Ku pulang pun tak kunjung hilang. Menjadi bayang, menghadang, lalu menyerang. Sekonyong datang, lalu hilang, lalu datang, hilang, selalu datang-hilang, lalu datang, lalu hilang…” Album ini diakhiri oleh lagu “Tertidur”, Tigapagi mengajak Aji Gergaji dari The Milo untuk berpartisipasi, sehingga tak salah jika di lagu ini ada unsur shoegaze-nya. Oh iya, sebelum lagu “Tertidur” ada sedikit “bonus” yang menampilkan cuplikan “pidato kenegaraan”, “…diharap masyarakat tetap tenang dan tetap waspada, siap siaga, serta terus memanjatken doa kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Kita pasti menang…”

Tigapagi tahu betul bagaimana memanjakan konsumenya. Album fisik ini mereka kemas dengan sedemikian rupa sehingga kami para pembeli bisa puas dan ada sesuatu lain yang bisa diperbincangkan lagi selain musiknya. Menurut saya, album fisik ini seperti sebuah dokumen aktivis politik yang berhalauan “kiri”, yang menjadi Target Operasi (TO) militer saat itu. Booklet ucapan terimakasih, dengan foto personel Tigapagi yang ditempel dan ada nomor serinya, seperti ingin menandakan: merekalah yang paling dicari. Kumpulan foto-foto “kegiatan” yang dimasukkan ke dalam amplop putih seperti menunjukkan hasil intelijen yang mematai-matai mereka. CD yang dimasukkan dalam ziplock seperti menandakan bahwa CD itu adalah barang bukti dari penyadapan percakapan-percakapan mereka. Dan kertas berisi lirik adalah hasil transkrip percakapan tersebut. Selain packaging fisik, packaging audio pun juga unik. Di Roekmana’s Repertoire ini, Tigapagi tidak menggunakan sistem per track. Semua lagi tersaji dalam satu track berdurasi 65 menit 4 detik. Jika kamu mendengarkan, lagu-lagu tersebut seperti di-medley. Jika ada lagu yang kamu tidak suka, kamu tidak bisa men-skip-nya. Semua ada dalam satu kesatuan dan saling bertautan. Ya, sama seperti hidup ini. Hidup adalah kumpulan cerita yang di-medley. Jika kamu tidak menyukai satu bagian, maka kamu harus “dipaksa” menyelesaikannya.

Oct 11, 2013

Kenapa Berhenti?

Kenapa berhenti?
Aku tahu, hujan memang belum turun hari ini
Mungkin kau kecewa
Tapi apa daya bulir-bulir rapuh belum bermesraan dengan rima rintiknya

Kata-kata ini menjadi saksi,
hadirnya mendung dan angin bergemuruh
Membawa pertanda bagi rerumputan kering kota ini
Mengubur kebisingan dan kegilaan dalam satu kali tepukan tangan

Mungkin saja percaya itu tinggal menyisakan huruf "y" dan "a"
Karena percaya itu sekarang menjadi perca,
perca yang berhamburan, tergeletak, berantakan
Dan di bait ini semoga perca tadi dapat bersatu lagi menjadi percaya

Ahhh, semakin membosankan tulisan ini
Sama bosannya ketika aku melihat tanah-tanah gersang
Maka izinkanlah aku untuk melakukan tarian ritual pemanggil hujan
Jikalau hujan t'lah datang, aku berjanji tak akan ada lagi "kenapa berhenti?" hadir sebagai pertanyaan

Oct 1, 2013

Deadline


Ketika tulisan ini dibuat, Bulan Oktober sudah menginjak jam ke-17 di hari pertamanya. September seperti tak sempat mengucap perpisahan. Apakah hanya perasaan saya saja yang berpendapat bahwa Bulan September kemarin berlalu dengan cepat sekali? Bagaimana denganmu? Kemarin banyak orang yang menuliskan “Wake me up when September ends” di linimasa Twitter mereka.  Sungguh, nampaknya orang-orang tak rela ditinggalkan oleh bulan kemarin. Begitu juga dengan saya.  Banyak agenda yang terbengkalai karena saya tergejala inkonsistensi. Saya masih ingat, di awal September, saya merencanakan beberapa agenda. Tapi semuanya (lagi-lagi) berakhir sebagai wacana. Salah satu agenda yang saya buat adalah merampungkan proposal skripsi dan maju konsul ke hadapan dosen pembimbing. Namun, ya, begitulah pada akhirnya, hahahaha.

Setiap agenda atau pekerjaan yang dijalani pastinya mempunyai batas akhir. Batas akhir biasa orang sebut dengan deadline. Ada orang yang bisa bersahabat dengannya, dan ada juga yang tidak. Saya termasuk tipe nomor dua. Sudah berkali-kali saya jatuh ke lubang yang sama gara-gara deadline. Satu contohnya ada di paragraf pertama. Orang memang mudah merencanakan, orang memang mudah memulai suatu pekerjaan, tapi kadang orang tidak berhenti di finish line dengan posisi yang sempurna. Dan itu dibuat oleh kebodohan kita sendiri, bukan? Kebodohan yang kita buat gara-gara sifat pemalasnya kita, ada kebodohan yang dibuat karena ucapan: “Esok masih ada hari”, atau kebodohan yang memang benar-benar mengalir dalam darah kita yang merupakan sisa-sisa gen nenek moyang dari zaman batu.

Saya jadi ingat waktu saya masih aktif mengikuti kuliah beberapa semester kemarin. Deadline tugas adalah teman setia seorang mahasiswa. Karena ucapan “Esok masih ada hari”-lah yang menyebabkan mahasiswa menjadi, kata teman saya: pesulap. Menyulap tugas yang tadinya tidak ada menjadi ada hanya dalam hitungan jam. Ketika berada di posisi ini, semua jadi terasa tidak ada yang tidak mungkin. Yang selanjutnya bisa ditebak: mematung di antara monitor, keyboard, dan Google. Jika tidak kunjung mendapat inspirasi, sosial media menjadi curahan hati. Dalam hitungan jam, seorang dosen bisa menjadi public enemy, mengata-ngatai dosen di sosial media, menuduh dosen sebagai makhluk Tuhan paling kejam, mendeskripsikan dosen layaknya mimpi buruk ala Freddy Krueger dalam A Nightmare on Elm Street. Sudahlah, jangan seperti itu. Jangan tiru kelakukan saya dulu. Worship them or die!

Mahasiswa itu jika diibaratkan seperti tagline sebuah iklan rokok: My life, my adventure. Setiap petualangan – petualangan menuju wisuda lebih tepatnya – pastinya mempunyai sisi adrenalin tersendiri. Adrenalin akan terpacu ketika mengerjakan tugas mepet dengan deadline. Pernahkah kamu merasakan itu? Saya pernah. Ada rasa deg-degan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata pokoknya, apalagi mendekati deadline dan ternyata halaman papper atau makalah belum memenuhi target.  Belum lagi ditambah listrik mati atau file hilang terkena virus, maka jika itu terjadi, mengumpat rasanya menjadi suatu yang tidak dilarang. Namun ketika mendekati deadline, kadang kita melupakan hak kita sebagai manusia. Ya, manusia butuh bersenang-senang, manusia butuh beristirahat, kadang tugas membuat kita terasing dari diri kita sendiri. Dan kadang, tugas juga mengacaukan sisi rasionalitas kita. Maukah kamu terasing dari kehidupanmu hanya demi 5-10 lembar tugas papper yang belum jelas mendapat nilai apa? Jadi walaupun kamu mengejar deadline, coba hargailah dirimu sendiri. Seperti kata Dialog Dini Hari, “Rehat sekejap sebelum lelah, rebahkan diri sebentar. Basuh tanganmu bersihkan debu, hilangkan dahaga di sela waktu.”

Bukan hanya mahasiswa saja yang bergelut dengan deadline. Semua pekerjaan pastilah akrab dengan deadline. Di dunia kerja, deadline lebih mencekik, karena deadline merupakan konsekuensi kita dan kita harus mempertanggungjawabkan sesuatu bernama: gaji. Apa yang saya alami sekarangpun berhubungan dengan kegagalan saya menjalankan deadline. Saya lebih “senang” diberi deadline oleh orang daripada harus men­-deadline diri sendiri. Ketika kita men-deadline diri kita sendiri, tantangan untuk tidak menepatinya lebih besar, atau bisa dikatakan kita terlalu menyepelekan. Dalam kondisi seperti ini, membuat saya antipati terhadap deadline. Deadline ibarat fobia baru di dunia modern sekarang. Ya, saya menjadi seorang yang skeptis terhadap kemampuan diri saya dalam menyelesaikan sebuah deadline. Ada ketakutan ketika saya dihampiri oleh sebuah deadline, lalu pertanyaan retoris pun muncul, “Apakah saya bisa menyelesaikannya?” Kondisi saya ini pernah saya bahas dengan koordinator program di tempat saya magang dulu. Saya berbicara kepada dia bahwa saya adalah seorang yang tidak suka dengan sebuah deadline. Lalu permasalahan saya ini dia jawab lewat sebuah surat yang ia berikan kepada saya waktu saya dan teman-teman selesai magang. Dalam suratnya tersebut, di sebuah kalimat yang masih terngiang-ngiang hingga kini, dia menulis, “…Aku harap, selama di sini ada berbagai hal yang bisa kau jadikan proses pembelajaran bagi kehidupanmu dan kedewasaanmu…” Bukan hanya itu saja, di sebuah amplop, yang berisi “uang lelah”, ia tak lupa menulis, “To: Reza. Maturnuwun sudah berproses selama 1 bulan ini. Jangan takut lagi dengan deadline ya” Kalimat itu diakhiri dengan smiley titik dua tutup kurung.