Jul 17, 2018

Menggelorakan Semangat Asian Games Lewat Mural





Sudah lebih dari sebulan, Irul Hidayat bersama kawan-kawannya meluapkan kreativitas di dinding dan jalanan kampung. Mereka biasanya memulai pekerjaan itu satu jam selepas senja hingga dini hari.

Contohnya Kamis, 12 Juli 2018 malam. Ditemani “Bittersweet Symphony” dari The Verve, salah seorang seniman, Sony Hendrawan, menarikan kuasnya di atas jalanan kampung. Ia sedang menggambar kok. “Aja lali turu, mas [Jangan lupa tidur, mas],” canda saya kepadanya.

Seniman-seniman tersebut sedang menyelesaikan karya-karya mural. Atas ide Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mereka diajak menghiasi Kampung Pucangsawit dengan mural tiga dimensi. Ada satu tema khusus yang diangkat: Asian Games 2018. 

Mural-mural yang disiapkan untuk menyambut Asian Games 2018 itu terpampang di tembok kampung sepanjang 200 meter. Jika kamu melintas di Jl. Candi Bodro, Puncangsawit, kamu bakal disambut oleh pahlawan-pahlawan yang mengharumkan Indonesia melalui olahraga.

Ada Liem Tjien Siong, pebasket Indonesia yang menjadi terbaik di Asia pada 1967. Kemudian Pino Bahari, petinju muda – kala itu berumur 17 tahun – yang berhasil memperoleh medali emas pada Asian Games 1990.

Lalu Richard Sambera, perenang yang meraih medali perunggu di Asian Games 1990. Petenis yang punya prestasi mentereng di kancah internasional, Yayuk Basuki, juga tak luput diabadikan.

Air mata bahagia Susi Susanti saat “Indonesia Raya” berkumandang di Olimpiade Barcelona 1992 juga ikut ditampilkan. Tak ketinggalan jagoan Kota Solo yang moncer sebagai atlet BMX, Toni Syarifudin, ikut dimunculkan.

Olahragawan Indonesia yang paling baru dimuralkan adalah Lalu Muhammad Zuhri, atlet muda yang bikin heboh se-Tanah Air berkat keberhasilannya menggondol juara pertama dalam nomor lari 100 meter di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 yang berlangsung di Tampere, Finlandia.

“Semua yang ada di sini adalah ikon-ikon olahraga di Indonesia. Yang kami lakukan ini adalah penghargaan bagi para atlet. Jarang-jarang atlet diangkat dalam karya mural. Kami juga ingin mengingatkan lagi kepada masyarakat bahwa ada banyak atlet Indonesia yang beprestasi,” kata Irul.


Event Monumental
Bisa jadi Kampung Asian Games ini tidak terlaksana apabila tidak ada diskusi antara dirinya dan Rudy (sapaan Wali Kota Solo). Awalnya Pucangsawit mau dibikin Kampung Piala Dunia.

“Namun, Asian Games punya makna yang lebih besar ketimbang Piala Dunia. Di Piala Dunia kita hanya menjadi penonton dan tidak bisa merasakan langsung. Ditambah lagi ini adalah kali kedua Indonesia menjadi tuan rumah sejak 1962,” tambahnya.

Sebagai koordinator muralis dan penikmat tayangan olahraga, lelaki yang sebentar lagi menyelesaikan studinya di Institut Kesenian Jakarta ini merasa bangga bisa mendukung Asian Games 2018, meski tidak secara langsung. Apalagi di mata Irul, Asian Games adalah event yang monumental. Ia mencontohkan pada 1962 lalu ketika Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Asian Games.

“Sebagai negara muda yang baru berumur 17 tahun, Indonesia bisa menampar dunia dengan membuat stadion megah, memunculkan atlet-atlet muda, dan berprestasi. Dan jangan lupakan juga, lewat Asian Games 1962, masyarakat yang mulanya berlainan ideologi dan politik bisa bersatu. Spirit itu yang kami harapkan bisa terjadi juga di Asian Games kali ini,” terang Irul.