Contohnya Kamis, 12 Juli 2018
malam. Ditemani “Bittersweet Symphony” dari The Verve, salah seorang seniman,
Sony Hendrawan, menarikan kuasnya di atas jalanan kampung. Ia sedang menggambar
kok. “Aja lali turu, mas [Jangan lupa
tidur, mas],” canda saya kepadanya.
Seniman-seniman tersebut sedang
menyelesaikan karya-karya mural. Atas ide Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo,
mereka diajak menghiasi Kampung Pucangsawit dengan mural tiga dimensi. Ada satu
tema khusus yang diangkat: Asian Games 2018.
Mural-mural yang disiapkan untuk
menyambut Asian Games 2018 itu terpampang di tembok kampung sepanjang 200
meter. Jika kamu melintas di Jl. Candi Bodro, Puncangsawit, kamu bakal disambut
oleh pahlawan-pahlawan yang mengharumkan Indonesia melalui olahraga.


Ada Liem Tjien Siong, pebasket
Indonesia yang menjadi terbaik di Asia pada 1967. Kemudian Pino Bahari, petinju
muda – kala itu berumur 17 tahun – yang berhasil memperoleh medali emas pada
Asian Games 1990.
Lalu Richard Sambera, perenang
yang meraih medali perunggu di Asian Games 1990. Petenis yang punya prestasi
mentereng di kancah internasional, Yayuk Basuki, juga tak luput diabadikan.
Air mata bahagia Susi Susanti saat
“Indonesia Raya” berkumandang di Olimpiade Barcelona 1992 juga ikut
ditampilkan. Tak ketinggalan jagoan Kota Solo yang moncer sebagai atlet BMX, Toni
Syarifudin, ikut dimunculkan.
Olahragawan Indonesia yang paling
baru dimuralkan adalah Lalu Muhammad Zuhri, atlet muda yang bikin heboh se-Tanah
Air berkat keberhasilannya menggondol juara pertama dalam nomor lari 100 meter
di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 yang berlangsung di Tampere, Finlandia.
“Semua yang ada di sini adalah
ikon-ikon olahraga di Indonesia. Yang kami lakukan ini adalah penghargaan bagi
para atlet. Jarang-jarang atlet diangkat dalam karya mural. Kami juga ingin
mengingatkan lagi kepada masyarakat bahwa ada banyak atlet Indonesia yang
beprestasi,” kata Irul.
Event Monumental
Bisa jadi Kampung Asian Games ini tidak terlaksana apabila tidak ada diskusi antara dirinya dan Rudy (sapaan Wali Kota Solo). Awalnya Pucangsawit mau dibikin Kampung Piala Dunia.
“Namun, Asian Games punya makna
yang lebih besar ketimbang Piala Dunia. Di Piala Dunia kita hanya menjadi
penonton dan tidak bisa merasakan langsung. Ditambah lagi ini adalah kali kedua
Indonesia menjadi tuan rumah sejak 1962,” tambahnya.
Sebagai koordinator muralis dan penikmat tayangan olahraga, lelaki yang sebentar lagi menyelesaikan studinya di Institut Kesenian Jakarta ini merasa bangga bisa mendukung Asian Games 2018, meski tidak secara langsung. Apalagi di mata Irul, Asian Games adalah event yang monumental. Ia mencontohkan pada 1962 lalu ketika Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Asian Games.
Sebagai koordinator muralis dan penikmat tayangan olahraga, lelaki yang sebentar lagi menyelesaikan studinya di Institut Kesenian Jakarta ini merasa bangga bisa mendukung Asian Games 2018, meski tidak secara langsung. Apalagi di mata Irul, Asian Games adalah event yang monumental. Ia mencontohkan pada 1962 lalu ketika Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Asian Games.
“Sebagai negara muda yang baru
berumur 17 tahun, Indonesia bisa menampar dunia dengan membuat stadion megah,
memunculkan atlet-atlet muda, dan berprestasi. Dan jangan lupakan juga, lewat
Asian Games 1962, masyarakat yang mulanya berlainan ideologi dan politik bisa
bersatu. Spirit itu yang kami harapkan bisa terjadi juga di Asian Games kali ini,” terang Irul.

