Oct 2, 2014

Membunuh Ruang dan Memori


“Home, now that I’m coming home. Will you be the same as when I saw you last? Tell me, how much time has passed?” (Funeral for a Friend – Into Oblivion)
 
Saya percaya, ruang mempunyai cerita dan kenangannya tersendiri. Jika saya gambarkan dalam dua kalimat puisi, akan saya tuliskan dengan: “Setiap ruang itu bernyawa. Dan setiap yang bernyawa itu ada”. Ruang memang tak lekang dimakan usia. Walaupun ruang sudah tidak ada dan tidak berbentuk, tapi memori tentang ruang itu tetap tersisa.

Ya, ruang memang selalu bersinggungan dengan memori. Beruntunglah kita sebagai manusia telah tercipta memiliki cipta, rasa, dan karsa. Sebelum saya menuliskan ini, saya sempat googling tentang tiga hal itu. Ketiganya bisa disederhanakan dalam nama Tridaya. Mengutip pernyataan sebuah blog, jikalau kita telah bisa mengaturnya, itu akan menjadi sebuah kekuatan yang manunggal (menyatu).

Lalu apa hubungannya konsepsi tersebut dengan ruang dan memori? 

*****

Rabu, 1 Oktober 2014. Entah sudah berapa kali saya menginjakkan kaki ke tempat itu. Sebuah tempat yang banyak orang menyebutnya sebagai “rumah”. Malam itu, tempat tersebut tampak bersolek. Banyak hiasan yang dipasang. Banyak wajah-wajah ceria yang terpampang. Ada kegembiraan yang menyelimuti. Walaupun masih ada sisi-sisi yang terlihat “murung”, tapi sudah cukup memaksa saya keluar ruang utama dan berdiam diri di depan pintu masuk sambil berkata dalam hati, “Oh, seperti ini kabarmu sekarang?”

Time flies. Malam itu merupakan edisi perdana saya melangkahkan tapakan ke tempat itu lagi. Hampir tiga bulan saya absen tak berkunjung. Waktu yang masih dalam “skala normal” memang, tapi terasa tidak wajar bagi saya. Tak akan saya tuliskan di sini kenapa saya tak menyinggahinya selama berbulan-bulan. Namun, yang pasti, balik lagi ke tempat peraduan, begitu menggembirakan. Tempat tersebut bernama Sekre Teater SOPO.

Ibarat kata, pulang kembali ke pojok Gedung 2 Lantai 3 FISIP adalah sebuah momen jetlag bagi saya. Selalu saja seperti itu, entah mengapa. Ada perasaan asing di tempat sendiri tatkala masuk ke tempat itu lagi, setelah tak menampakkan batang hidung beberapa lama. Jika kamu kemarin melihat ada beberapa saat saya termenung, maka ketahuilah bahwasannya saya sedang tidak galau, melainkan saya sedang menyelaraskan energi, kurang lebih bahasa teaternya seperti itu.

Malam itu, saya dan teman-teman sedang memperingati harlah Teater SOPO. Beberapa jam sebelum menginjak usia 23 tahun pada 2 Oktober, kami mengadakan refleksi. Agendanya adalah kami memutari beberapa tempat di FISIP, untuk sekedar mengingatkan kembali tentang proses-proses yang telah dialami. 

Saya memang tak ikut berkeliling. Setelah teman-teman menuntaskan perjalannya, kami membuat lingkaran. Beberapa teman menceritakan pengalamannya. Mendengarkan mereka berkisah, memori saya dipaksa untuk memutar cerita lama yang saya alami. Cerita lama yang kini sudah saya asingkan di Recycle Bin. Namun, malam itu saya harus menekan tombol Restore kembali. Bangsat! Saya rindu hari-hari itu!

*****

“Saya tidak butuh kamera, karena kamera tidak abadi. Saya sudah menyimpannya di sini,” ujar seorang teman sambil menunjuk ke arah otaknya. Kalimat itu hingga hari ini masih terpatri di benak saya. Malam itu, kata-kata itu saya ejawantahkan. Harus ada keberanian untuk mengulik kembali memori itu. Mengulangnya kembali menjadikan konflik batin bagi saya, jika dihadapkan pada posisi dan pilihan saya kini.

Saya bodoh, kenapa saya mengendapkannya terlalu dalam? Jika dulu saya hanya menganggapnya angin lalu, mungkin kini saya tidak akan mengalami rasa seperti ini. Mengacu pada bagian pertama tulisan ini, ruang-ruang itu telah menyatu dengan saya, dan tidak bisa dilepaskan, kecuali saya mengalami amnesia. Dan saya malah berharap, semoga rasa dan hati saya mati. Sehingga jika pikiran saya mengembara ke tempat itu, saya tidak akan merasakan apa-apa lagi. Akan tetapi apakah saya benar-benar dapat mematikannya?

Saya tidak tahu apakah tulisan ini ada karena bentuk kerinduan ataukah hanya pelampiasan kelabilan saya semata, entahlah. Namun yang pasti, ketika kita harus benar-benar meninggalkan, jadikan kenangan tentang ruang-ruang itu sebagai senyuman terakhir. Karena kita adalah makhluk yang terbatas oleh waktu, berbahagialah karena kamu telah menorehkan sendiri jalan ceritamu dalam ruang-ruang itu. Seperti judul lagu SUA –band pop-folk Solo yang telah bubar, semoga kenangan itu “Kekal Abadi”.

Bagi kamu yang membaca tulisan ini, jangan merasa iba dengan saya. Sebaliknya, kasihanilah dirimu sendiri dan bersiap-siaplah, karena kamu pasti akan merasakan hal yang sama. Ketika itu terjadi, bertekuk lututlah pada memorimu. Jikalau masih ada waktu dan kesempatan, mungkin kata “pulang” adalah jawaban.