“Home, now that I’m coming home. Will you be the same as when I saw you last? Tell me, how much time has passed?” (Funeral for a Friend – Into Oblivion)
Saya percaya, ruang mempunyai
cerita dan kenangannya tersendiri. Jika saya gambarkan dalam dua kalimat puisi,
akan saya tuliskan dengan: “Setiap ruang itu bernyawa. Dan setiap yang bernyawa
itu ada”. Ruang memang tak lekang dimakan usia. Walaupun ruang sudah tidak ada
dan tidak berbentuk, tapi memori tentang ruang itu tetap tersisa.
Ya, ruang memang selalu
bersinggungan dengan memori. Beruntunglah kita sebagai manusia telah tercipta
memiliki cipta, rasa, dan karsa. Sebelum saya menuliskan ini, saya sempat googling tentang tiga hal itu. Ketiganya
bisa disederhanakan dalam nama Tridaya. Mengutip pernyataan sebuah blog, jikalau kita telah bisa
mengaturnya, itu akan menjadi sebuah kekuatan yang manunggal (menyatu).
Lalu apa hubungannya konsepsi tersebut dengan ruang dan memori?
Lalu apa hubungannya konsepsi tersebut dengan ruang dan memori?
*****
Rabu, 1 Oktober 2014. Entah sudah
berapa kali saya menginjakkan kaki ke tempat itu. Sebuah tempat yang banyak
orang menyebutnya sebagai “rumah”. Malam itu, tempat tersebut tampak bersolek. Banyak
hiasan yang dipasang. Banyak wajah-wajah ceria yang terpampang. Ada kegembiraan
yang menyelimuti. Walaupun masih ada sisi-sisi yang terlihat “murung”, tapi
sudah cukup memaksa saya keluar ruang utama dan berdiam diri di depan pintu
masuk sambil berkata dalam hati, “Oh, seperti ini kabarmu sekarang?”
Time flies. Malam itu merupakan edisi perdana saya melangkahkan
tapakan ke tempat itu lagi. Hampir tiga bulan saya absen tak berkunjung. Waktu yang
masih dalam “skala normal” memang, tapi terasa tidak wajar bagi saya. Tak akan
saya tuliskan di sini kenapa saya tak menyinggahinya selama berbulan-bulan. Namun,
yang pasti, balik lagi ke tempat peraduan, begitu menggembirakan. Tempat tersebut
bernama Sekre Teater SOPO.
Ibarat kata, pulang kembali ke
pojok Gedung 2 Lantai 3 FISIP adalah sebuah momen jetlag bagi saya. Selalu saja seperti itu, entah mengapa. Ada perasaan
asing di tempat sendiri tatkala masuk ke tempat itu lagi, setelah tak
menampakkan batang hidung beberapa lama. Jika kamu kemarin melihat ada beberapa
saat saya termenung, maka ketahuilah bahwasannya saya sedang tidak galau, melainkan
saya sedang menyelaraskan energi, kurang lebih bahasa teaternya seperti itu.
Malam itu, saya dan teman-teman
sedang memperingati harlah Teater SOPO. Beberapa jam sebelum menginjak usia 23
tahun pada 2 Oktober, kami mengadakan refleksi. Agendanya adalah kami memutari
beberapa tempat di FISIP, untuk sekedar mengingatkan kembali tentang
proses-proses yang telah dialami.
Saya memang tak ikut berkeliling.
Setelah teman-teman menuntaskan perjalannya, kami membuat lingkaran. Beberapa teman
menceritakan pengalamannya. Mendengarkan mereka berkisah, memori saya dipaksa
untuk memutar cerita lama yang saya alami. Cerita lama yang kini sudah saya
asingkan di Recycle Bin. Namun, malam itu saya harus menekan tombol Restore
kembali. Bangsat! Saya rindu hari-hari itu!
*****
“Saya tidak butuh kamera, karena
kamera tidak abadi. Saya sudah menyimpannya di sini,” ujar seorang teman sambil
menunjuk ke arah otaknya. Kalimat itu hingga hari ini masih terpatri di benak
saya. Malam itu, kata-kata itu saya ejawantahkan. Harus ada keberanian untuk
mengulik kembali memori itu. Mengulangnya kembali menjadikan konflik batin bagi
saya, jika dihadapkan pada posisi dan pilihan saya kini.
Saya bodoh, kenapa saya
mengendapkannya terlalu dalam? Jika dulu saya hanya menganggapnya angin lalu,
mungkin kini saya tidak akan mengalami rasa seperti ini. Mengacu pada bagian
pertama tulisan ini, ruang-ruang itu telah menyatu dengan saya, dan tidak bisa
dilepaskan, kecuali saya mengalami amnesia. Dan saya malah berharap, semoga
rasa dan hati saya mati. Sehingga jika pikiran saya mengembara ke tempat itu,
saya tidak akan merasakan apa-apa lagi. Akan tetapi apakah saya benar-benar dapat mematikannya?
Saya tidak tahu apakah tulisan
ini ada karena bentuk kerinduan ataukah hanya pelampiasan kelabilan saya
semata, entahlah. Namun yang pasti, ketika kita harus benar-benar meninggalkan,
jadikan kenangan tentang ruang-ruang itu sebagai senyuman terakhir. Karena kita
adalah makhluk yang terbatas oleh waktu, berbahagialah karena kamu telah
menorehkan sendiri jalan ceritamu dalam ruang-ruang itu. Seperti judul lagu SUA
–band pop-folk Solo yang telah bubar, semoga kenangan itu “Kekal Abadi”.
Bagi kamu yang membaca tulisan
ini, jangan merasa iba dengan saya. Sebaliknya, kasihanilah dirimu sendiri dan
bersiap-siaplah, karena kamu pasti akan merasakan hal yang sama. Ketika itu
terjadi, bertekuk lututlah pada memorimu. Jikalau masih ada waktu dan kesempatan, mungkin kata “pulang”
adalah jawaban.