Beberapa hari sebelum tahun baru,
teman-teman saya mengagendakan camping di
Pantai Nampu. Saya sempat berkali-kali menolak ajakan mereka. Bagi saya tak ada
yang pantas untuk dirayakan pada tahun kemarin. Pikir saya cukup dengan menonton TV, merasakan
kesendirian dalam keriuhan suasana di luar, adalah saat yang tepat untuk
berdiam diri di kamar meratapi kebodohan. Seperti yang kamu baca di posting sebelumnya, menjadi seorang fulltime dumber adalah alasan kenapa
saya tidak ingin merayakan malam pergantian tahun.
Entah bisikan dari mana, tiba-tiba
saja pagi hari sebelum berangkat, saya bertanya, “Mangkat jam pira?” Tiba-tiba pula setelah itu saya mem-packing barang, izin ke orangtua,
menghidupkan motor, dan tibalah saya di titik pertemuan: kampus. Sesampainya di
kampus, baru ada segelintir teman. Cukup maklum.
Barang-barang kebutuhan camping sudah dipersiapkan. 15.30 kami
berangkat – 2,5 jam kemoloran adalah
waktu yang lumrah bagi kalangan mahasiswa. Kami bersepuluh. Hujan yang turun
sedari pagi mengiringi roda motor kami yang dipacu kencang menyapu jalanan.
Kurang lebih 18.30 kami tiba di
Eromoko untuk makan malam di salah satu angkringan yang menjajakan susu jahe
nikmat. Setelah dirasa cukup puas memanjakan perut, perjalanan dilanjutkan.
Hujan sudah reda, jalanan yang minim lampu penerangan seperti bukan menjadi
suatu halangan.
Pracimantoro, 19.45. Kami singgah
sejenak di SPBU untuk menunaikan sholat dan mengisi bensin. Usai sholat, kami
melanjutkan perjalanan. Kami beriring-iringan tapi dengan jarak yang lebar.
Saya berada di urutan ketiga. Kondisi aman. Tapi 2 km dari SPBU, motor yang
saya tumpangi tiba-tiba….
****
Kendaraan bermesin berseliweran
di samping kami, walaupun tidak terlalu ramai. Mereka nampaknya bergegas menuju
tempat tujuan, seakan tidak ingin kehilangan momen pergantian tahun bersama
teman, pacar ataupun keluarga. Berbeda
dengan saya dan seorang teman – sebut saja Heriy, kami sepertinya tidak lagi
ingin merayakan tahun baru. Sampai di tempat tujuan saja kami sudah sangat
bersyukur.
Selepas SPBU Pracimantoro, ban
motor kami seperti oleng. Saya turun dan mengecek, dan benar saja seperti yang
saya duga, ban motor kami bocor, tapi masih menyisakan sedikit angin. Berada di
tanah orang, di kegelapan jalanan Pracimantoro, kami berharap masih ada tambal
ban yang buka, walaupun itu mustahil mengingat rumah-rumah di sepanjang jalan tersebut
seperti tak berpenghuni, maka itu berlaku pula dengan kios-kios tambal ban yang
ada. Sebenarnya, tepat ketika motor kami berhenti, ada kios tambal ban. Namun,
aktivitas terakhirnya mungkin pada senja lalu.
Kami bimbang, berada pada dua pilihan yang sama-sama mengandung spekulasi: balik ke arah SPBU atau maju menuju arah yang dituju. Pikir saya, lebih baik balik ke SPBU, siapa tahu di sana ada kompresor, lumayan lah untuk menambah angin ban. Tapi permasalahannya adalah: apakah di sana benar-benar ada kompresor? Ditambah jarak yang tidak dekat. Setelah berjudi dengan pilihan, kami pun nekat balik ke SPBU. Tapi setelah sekitar 20 menit berjalan, kami ragu dengan keputusan yang diambil. “Coba awake dewe ndodoki sik wae, nde. Sapa ngerti omah samping mau gone tukang tambal ban e,” kata teman saya. Cukup meyakinkan. Ketika kondisi terdesak, sebuah solusi dengan kalimat “sapa ngerti” atau “siapa tahu” menjadi semacam solusi cerdas pemecah masalah.
Kami bimbang, berada pada dua pilihan yang sama-sama mengandung spekulasi: balik ke arah SPBU atau maju menuju arah yang dituju. Pikir saya, lebih baik balik ke SPBU, siapa tahu di sana ada kompresor, lumayan lah untuk menambah angin ban. Tapi permasalahannya adalah: apakah di sana benar-benar ada kompresor? Ditambah jarak yang tidak dekat. Setelah berjudi dengan pilihan, kami pun nekat balik ke SPBU. Tapi setelah sekitar 20 menit berjalan, kami ragu dengan keputusan yang diambil. “Coba awake dewe ndodoki sik wae, nde. Sapa ngerti omah samping mau gone tukang tambal ban e,” kata teman saya. Cukup meyakinkan. Ketika kondisi terdesak, sebuah solusi dengan kalimat “sapa ngerti” atau “siapa tahu” menjadi semacam solusi cerdas pemecah masalah.
Alhasil kami pun mengetuk-ngetuk
pintu rumah di samping kios tambal ban. Pria berumur 45-an tahun membukakan
pintu. Saya bertanya apakah dia pemilik kios tambal ban tersebut, si bapak
menjawab, “Waduh, mas e mpun balik, mas.
Dalem e nggih tebih.” Seperti tidak ingin menambahi beban kami, si bapak
tersebut kemudian mencarikan alternatif, “Lurus
mawon, mas. Karo-tengah meter kanan jalan enten tambal ban. Celak rumah sakit
nggih enten tambal ban non stop.” Mendengar kata non stop, kami seperti
sudah terlepas dari beban, mungkin pikir kami penderitaan akan segera berakhir.
Oke, pemberhentian pertama adalah
kios tambal ban yang berjarak karo tengah
meter dari rumah si bapak. Kami berhasil menemukannya. Dilihat dari luar, kondisinya
sama seperti rumah-rumah penduduk yang kami lewati: sepi. Namun setelah
didekati, ada kehidupan! Saya mendengar si bapak sedang memukul-mukul sesuatu.
Saya ketuk pintunya. “Kulanuwun,”
sapa saya. Tak ada jawaban dari si empunya rumah. Saya ketuk lagi, saya sapa
lagi. Lagi-lagi tak ada jawaban. Pikir saya mungkin si bapak seorang paruh baya
yang pendengarannya agak berkurang. Kemudian teman saya mengambil alih. Diketuknya
dinding yang terbuat dari papan itu, keras. Setalah dua kali dia mengetuk pintu
rumah, baru ada jawaban. “Sinten nggih?” tanya
si bapak. “Kulanuwun. Pak, badhe nambal,
pak,” jawab teman saya. Si bapak menjawab, “Waduh mpun tutup, mas. Sanese mawon.” Dengan mengiba, teman saya
berkata, “Nyuwun tulung, pak. Ban kula
bocor.” Dan jawaban yang sama meluncur dari mulut si bapak, ditambahi
dengan kalimat, “Niki kula nembe
dandan-dandan.”
Teman saya terus menjual derita,
tapi hasilnya tetap nihil. Kami menunggu sejenak supaya kondisi agak kondusif
dan memberikan waktu berpikir kepada si bapak agar memberikan rasa ibanya
kepada kami. Kami pun mencoba peruntungan lagi dengan kalimat memohon yang
sama. Hasilnya tetap saja sia-sia. Malahan si bapak menyarankan kami untuk
mencari tambal ban di daerah… Mmm, maaf
saya lupa namanya. Lagian ketika itu artikulasi si bapak tidak begitu baik. Saya
hanya mendengar respon teman saya, “Kula
sanes tiyang mriki, pak. Kula saking Solo. Nyuwun tulung, pak.” Kami pun
memastikan dengan, “Saestu mboten saget,
pak?” Si bapak tetap keukeuh dengan
pendiriannya, “Mboten saget, mas.
Ngapunten.” Baiklah, saatnya angkat kaki. Walaupun berkata, “Matur nuwun nggih, pak,” tapi tetap
saja kami dongkol. Yah, manusia memang pandai menyembunyikan perasaan.
Sambil berjalan, teman saya menggerutu,
“Kok enek ya wong sing kaya ngana?
Isa-isane alesane wis tutup. Wis, tak dongakke rejekimu lancar, tambal banmu
laris.” Saya hanya bisa tersenyum kecut sambil nyletuk, “Wong kan beda-beda, nde. Ya mungkin bapake
wis kesel, buka ket mau esuk. Iki kan wis di luar jam kerjane de’e. Yowis lah
ra popo.” Sama seperti orang lain, kata “ra
popo” yang diucapkan datar,
sebenarnya adalah kata pengganti ikhlas yang diikhlas-ikhlaskan, kuat yang
dikuat-kuatkan, intinya pura-pura. Malam itu entah berapa tambal ban yang kami
temui. Hasilnya bisa kamu tebak.
Setelah teman saya berkeliling
menggunakan motor yang bocor untuk mencari tambal ban – saya menunggu di warung
bakso ketika itu, dia kembali ke tempat saya menunggu dan berkata kepada bapak
tukang bakso yang merekomendasikan tempat tambal ban terdekat, “Wah mboten enten, pak. Pun tutup sedaya.
Kala wau enten tambal ban, pun kula dodhoki tapi sing metu mbah-mbah.
Ngendikane, ‘Wah, mas, sing nambal lagi metu. Tahun baruan ketoke. Biasane ya
ning kene. Aku ki gur mbuka tambal ban tapi ra isa nambal’.” Dia berkata
kepada saya, “Wis, mlaku wae, nde. Ngko
njilih pompa ning Polsek. Polsek e ra adoh.” Wah, ide cemerlang ini, pikir
saya. Kalaupun toh di Polsek tidak ada pompa angin setidaknya bapak-bapak
polisi bisa mencarikan solusi alternatif, karena mereka melindungi dan melayani
masyarakat. Betul tidak?
Kami pun berjalan menuju Polsek.
Di tengah perjalanan kami melewati kios yang menyerupai tambal ban. “Halah gur tukang pir,” kata teman saya.
“Pir apa, nde?” jawab saya. “Pir, pir, Tapir. Alah kui lho skok.” Orang
Jawa biasa menyebut shock breaker dengan
skok. “Sik, nde. Coba takoni sik wae sapa ngerti duwe kompa. Kana bengkel,
kan?” saya mengajak dia untuk memutar balik. Walaupun bengkelnya sudah
tutup, tapi rumah si pemilik masih terbuka – rumah itu adalah salah satu dari
sedikit rumah di jalanan Pracimantoro yang masih terbuka pintunya, malam itu.
“Kulanuwun, pak, bu,” sapa saya. “Oh nggih, enten napa mas?” jawab si ibu dengan ramah. “Anu, badhe tanglet, kagungan kompa, bu?
Niki motor kula kebanan, mboten enten tambal ban sing bika,” dengan menjual
derita saya menjawabnya. “Oh, enten,
enten. Sekedhap nggih, mas.” Ketika si ibu menjawab seperti itu, ada nafas
lega yang saya hembuskan. “Niki, mas,” suami
si ibu memberikan pompa anginnya kepada saya. Dan segera saya memompa motor. Setelah
dirasa cukup untuk mengarungi jalanan, pompa saya kembalikan. “Matur nuwun sanget nggih pak, bu. Pareng,” saya
berterimakasih sembari pamitan. Mereka pun tak lupa mengingatkan kami untuk
berhati-hati dalam perjalanan.
“Wis siap, nde?” tanya teman saya. Mungkin biar terlihat jantan dan
tangguh saya pun menjawab siap. Tapi perasaan memang tidak bisa dibohongi
sebenarnya, saya takut ketika itu. Wajar saja, saya sudah beberapa kali ke
Nampu. Setelah Pracimantoro, akan banyak daerah tak berpenghuni, hanya ada
hutan dan bukit kapur, ditambah tidak ada lampu penerangan jalan serta jalanan
berlubang nan berkelok-kelok.
Saya bukan anak IPA, teman saya
juga bukan – walaupun dia lulusan STM, maka kami tidak sempat mengukur dan
membuat pertanyaan: Seberapa lamakah ban motor yang mempunyai tekanan gas
rendah mampu bertahan, ketika motor dipacu dalam kecepatan 50 km/jam, serta adanya
dua onggok manusia bermassa 1,5 kwintal ditambah dengan tekstur jalanan yang tidak
rata? Jawabannya adalah sekitar 20 menitan. Ya, karena saat itu tiba-tiba saja
ban belakang kami oleng, dan bunyi grudak..grudak..grudak,
menandakan bahwa level bocor sudah mencapai status “awas”. Apakah kami
panik dan takut ketika itu? Bisa ya bisa tidak. Ya, karena saat itu kami sudah
memasuki daerah tanpa peradaban. Tidak, karena ketika ban motor bocor, kami
tepat berada di depan tukang tambal ban – walaupun sudah tutup, tapi ketika
kami ribut-ribut, si mas keluar sambil berkata, “Enten napa nggih?” Jangan abaikan kesempatan ini, “Anu, mas. Ban kula bocor, saget nambal?” Si
mas berpikir sebentar sebelum dia menjawab dengan jawaban yang melegakan hati
kami, “Nggih pun.” Ahhhh, lega. Kami
bersyukur. Mukjizat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?
Ban harus diganti karena sudah
terbelah menjadi dua. Jauh dari “ekspektasi” saya yang berpendapat mungkin
hanya bocor kecil. Melihat kondisi ban yang jauh dari kata good looking, seketika itu pula otak saya dipenuhi dengan kalimat:
Apa jadinya kalau….? Ah, kami memang benar-benar beruntung! Setelah dipasang
kembali, kami melanjutkan (sisa-sisa) perjalanan. Entah mengapa, perjalanan
setelah ganti ban justru membuat saya semakin cemas. Oke, panggil saya seorang
yang parno-an. Dan pertanyaan “apa
jadinya kalau?” semakin berhimpitan di kepala ketika medan yang kami lewati “tak
bersahabat”. Menuju Nampu, saya mencoba untuk berpikir positif, walaupun
kenyataannya saya sulit menghadirkan itu.
Sekitar 23.00 WIB, kami sampai di
Nampu dengan selamat. Satu hal yang saya lakukan ketika menjejakkan kaki di
Nampu: menetertawakan kejadian.
****
Saya percaya ada makna di balik
sebuah peristiwa. Namun saya tidak ingin menjadi seorang yang bijak dengan
menuliskan panjang lebar tentang apa saja makna yang dapat diambil dari kejadian
itu. Saya sedang malas menjadi bijak, pun sedang malas menuliskannya. Jelasnya,
dari kejadian ini, saya belajar tentang firasat yang datang dengan pola sama. Tentang
spekulasi dalam mengambil keputusan. Tentang empati. Tentang yakin dan tak
yakin. Tentang menguasai ketakutan. Terakhir, tentang di kemudian hari saya
harus membawa ban cadangan dan pompa angin.