Jan 8, 2014

Pracimantoro - Giri Belah, 31 Desember 2013



Beberapa hari sebelum tahun baru, teman-teman saya mengagendakan camping di Pantai Nampu. Saya sempat berkali-kali menolak ajakan mereka. Bagi saya tak ada yang pantas untuk dirayakan pada tahun kemarin. Pikir saya  cukup dengan menonton TV, merasakan kesendirian dalam keriuhan suasana di luar, adalah saat yang tepat untuk berdiam diri di kamar meratapi kebodohan. Seperti yang kamu baca di posting sebelumnya, menjadi seorang fulltime dumber adalah alasan kenapa saya tidak ingin merayakan malam pergantian tahun.

Entah bisikan dari mana, tiba-tiba saja pagi hari sebelum berangkat, saya bertanya, “Mangkat jam pira?” Tiba-tiba pula setelah itu saya mem­-packing barang, izin ke orangtua, menghidupkan motor, dan tibalah saya di titik pertemuan: kampus. Sesampainya di kampus, baru ada segelintir teman. Cukup maklum. 
Barang-barang kebutuhan camping sudah dipersiapkan. 15.30 kami berangkat2,5 jam kemoloran adalah waktu yang lumrah bagi kalangan mahasiswa. Kami bersepuluh. Hujan yang turun sedari pagi mengiringi roda motor kami yang dipacu kencang menyapu jalanan. 

Kurang lebih 18.30 kami tiba di Eromoko untuk makan malam di salah satu angkringan yang menjajakan susu jahe nikmat. Setelah dirasa cukup puas memanjakan perut, perjalanan dilanjutkan. Hujan sudah reda, jalanan yang minim lampu penerangan seperti bukan menjadi suatu halangan. 
Pracimantoro, 19.45. Kami singgah sejenak di SPBU untuk menunaikan sholat dan mengisi bensin. Usai sholat, kami melanjutkan perjalanan. Kami beriring-iringan tapi dengan jarak yang lebar. Saya berada di urutan ketiga. Kondisi aman. Tapi 2 km dari SPBU, motor yang saya tumpangi tiba-tiba….

****

Kendaraan bermesin berseliweran di samping kami, walaupun tidak terlalu ramai. Mereka nampaknya bergegas menuju tempat tujuan, seakan tidak ingin kehilangan momen pergantian tahun bersama teman, pacar ataupun keluarga.  Berbeda dengan saya dan seorang teman – sebut saja Heriy, kami sepertinya tidak lagi ingin merayakan tahun baru. Sampai di tempat tujuan saja kami sudah sangat bersyukur.

Selepas SPBU Pracimantoro, ban motor kami seperti oleng. Saya turun dan mengecek, dan benar saja seperti yang saya duga, ban motor kami bocor, tapi masih menyisakan sedikit angin. Berada di tanah orang, di kegelapan jalanan Pracimantoro, kami berharap masih ada tambal ban yang buka, walaupun itu mustahil mengingat rumah-rumah di sepanjang jalan tersebut seperti tak berpenghuni, maka itu berlaku pula dengan kios-kios tambal ban yang ada. Sebenarnya, tepat ketika motor kami berhenti, ada kios tambal ban. Namun, aktivitas terakhirnya mungkin pada senja lalu.

Kami bimbang, berada pada dua pilihan yang sama-sama mengandung spekulasi: balik ke arah SPBU atau maju menuju arah yang dituju. Pikir saya, lebih baik balik ke SPBU, siapa tahu di sana ada kompresor, lumayan lah untuk menambah angin ban. Tapi permasalahannya adalah: apakah di sana benar-benar ada kompresor? Ditambah jarak yang tidak dekat. Setelah berjudi dengan pilihan, kami pun nekat balik ke SPBU. Tapi setelah sekitar 20 menit berjalan, kami ragu dengan keputusan yang diambil. “Coba awake dewe ndodoki sik wae, nde. Sapa ngerti omah samping mau gone tukang tambal ban e,” kata teman saya. Cukup meyakinkan. Ketika kondisi terdesak, sebuah solusi dengan kalimat “sapa ngerti” atau “siapa tahu” menjadi semacam solusi cerdas pemecah masalah.

Alhasil kami pun mengetuk-ngetuk pintu rumah di samping kios tambal ban. Pria berumur 45-an tahun membukakan pintu. Saya bertanya apakah dia pemilik kios tambal ban tersebut, si bapak menjawab, “Waduh, mas e mpun balik, mas. Dalem e nggih tebih.” Seperti tidak ingin menambahi beban kami, si bapak tersebut kemudian mencarikan alternatif, “Lurus mawon, mas. Karo-tengah meter kanan jalan enten tambal ban. Celak rumah sakit nggih enten tambal ban non stop.” Mendengar kata non stop, kami seperti sudah terlepas dari beban, mungkin pikir kami penderitaan akan segera berakhir. 

Oke, pemberhentian pertama adalah kios tambal ban yang berjarak karo tengah meter dari rumah si bapak. Kami berhasil menemukannya. Dilihat dari luar, kondisinya sama seperti rumah-rumah penduduk yang kami lewati: sepi. Namun setelah didekati, ada kehidupan! Saya mendengar si bapak sedang memukul-mukul sesuatu. Saya ketuk pintunya. “Kulanuwun,” sapa saya. Tak ada jawaban dari si empunya rumah. Saya ketuk lagi, saya sapa lagi. Lagi-lagi tak ada jawaban. Pikir saya mungkin si bapak seorang paruh baya yang pendengarannya agak berkurang.  Kemudian teman saya mengambil alih. Diketuknya dinding yang terbuat dari papan itu, keras. Setalah dua kali dia mengetuk pintu rumah, baru ada jawaban. “Sinten nggih?” tanya si bapak. “Kulanuwun. Pak, badhe nambal, pak,” jawab teman saya.  Si bapak menjawab, “Waduh mpun tutup, mas. Sanese mawon.” Dengan mengiba, teman saya berkata, “Nyuwun tulung, pak. Ban kula bocor.” Dan jawaban yang sama meluncur dari mulut si bapak, ditambahi dengan kalimat, “Niki kula nembe dandan-dandan.” 

Teman saya terus menjual derita, tapi hasilnya tetap nihil. Kami menunggu sejenak supaya kondisi agak kondusif dan memberikan waktu berpikir kepada si bapak agar memberikan rasa ibanya kepada kami. Kami pun mencoba peruntungan lagi dengan kalimat memohon yang sama. Hasilnya tetap saja sia-sia. Malahan si bapak menyarankan kami untuk mencari tambal ban di daerah…  Mmm, maaf saya lupa namanya. Lagian ketika itu artikulasi si bapak tidak begitu baik. Saya hanya mendengar respon teman saya, “Kula sanes tiyang mriki, pak. Kula saking Solo. Nyuwun tulung, pak.” Kami pun memastikan dengan, “Saestu mboten saget, pak?” Si bapak tetap keukeuh dengan pendiriannya, “Mboten saget, mas. Ngapunten.” Baiklah, saatnya angkat kaki. Walaupun berkata, “Matur nuwun nggih, pak,” tapi tetap saja kami dongkol. Yah, manusia memang pandai menyembunyikan perasaan.

Sambil berjalan, teman saya menggerutu, “Kok enek ya wong sing kaya ngana? Isa-isane alesane wis tutup. Wis, tak dongakke rejekimu lancar, tambal banmu laris.” Saya hanya bisa tersenyum kecut sambil nyletuk, “Wong kan beda-beda, nde. Ya mungkin bapake wis kesel, buka ket mau esuk. Iki kan wis di luar jam kerjane de’e. Yowis lah ra popo.” Sama seperti orang lain, kata “ra popo”  yang diucapkan datar, sebenarnya adalah kata pengganti ikhlas yang diikhlas-ikhlaskan, kuat yang dikuat-kuatkan, intinya pura-pura. Malam itu entah berapa tambal ban yang kami temui. Hasilnya bisa kamu tebak.

Setelah teman saya berkeliling menggunakan motor yang bocor untuk mencari tambal ban – saya menunggu di warung bakso ketika itu, dia kembali ke tempat saya menunggu dan berkata kepada bapak tukang bakso yang merekomendasikan tempat tambal ban terdekat, “Wah mboten enten, pak. Pun tutup sedaya. Kala wau enten tambal ban, pun kula dodhoki tapi sing metu mbah-mbah. Ngendikane, ‘Wah, mas, sing nambal lagi metu. Tahun baruan ketoke. Biasane ya ning kene. Aku ki gur mbuka tambal ban tapi ra isa nambal’.” Dia berkata kepada saya, “Wis, mlaku wae, nde. Ngko njilih pompa ning Polsek. Polsek e ra adoh.” Wah, ide cemerlang ini, pikir saya. Kalaupun toh di Polsek tidak ada pompa angin setidaknya bapak-bapak polisi bisa mencarikan solusi alternatif, karena mereka melindungi dan melayani masyarakat. Betul tidak?

Kami pun berjalan menuju Polsek. Di tengah perjalanan kami melewati kios yang menyerupai tambal ban. “Halah gur tukang pir,” kata teman saya. “Pir apa, nde?” jawab saya. “Pir, pir, Tapir. Alah kui lho skok.” Orang Jawa biasa menyebut shock breaker dengan skok. “Sik, nde. Coba takoni sik wae sapa ngerti duwe kompa. Kana bengkel, kan?” saya mengajak dia untuk memutar balik. Walaupun bengkelnya sudah tutup, tapi rumah si pemilik masih terbuka – rumah itu adalah salah satu dari sedikit rumah di jalanan Pracimantoro yang masih terbuka pintunya, malam itu. 

“Kulanuwun, pak, bu,” sapa saya. “Oh nggih, enten napa mas?” jawab si ibu dengan ramah. “Anu, badhe tanglet, kagungan kompa, bu? Niki motor kula kebanan, mboten enten tambal ban sing bika,” dengan menjual derita saya menjawabnya. “Oh, enten, enten. Sekedhap nggih, mas.” Ketika si ibu menjawab seperti itu, ada nafas lega yang saya hembuskan. “Niki, mas,” suami si ibu memberikan pompa anginnya kepada saya. Dan segera saya memompa motor. Setelah dirasa cukup untuk mengarungi jalanan, pompa saya kembalikan. “Matur nuwun sanget nggih pak, bu. Pareng,” saya berterimakasih sembari pamitan. Mereka pun tak lupa mengingatkan kami untuk berhati-hati dalam perjalanan.

“Wis siap, nde?” tanya teman saya. Mungkin biar terlihat jantan dan tangguh saya pun menjawab siap. Tapi perasaan memang tidak bisa dibohongi sebenarnya, saya takut ketika itu. Wajar saja, saya sudah beberapa kali ke Nampu. Setelah Pracimantoro, akan banyak daerah tak berpenghuni, hanya ada hutan dan bukit kapur, ditambah tidak ada lampu penerangan jalan serta jalanan berlubang nan berkelok-kelok. 

Saya bukan anak IPA, teman saya juga bukan – walaupun dia lulusan STM, maka kami tidak sempat mengukur dan membuat pertanyaan: Seberapa lamakah ban motor yang mempunyai tekanan gas rendah mampu bertahan, ketika motor dipacu dalam kecepatan 50 km/jam, serta adanya dua onggok manusia bermassa 1,5 kwintal ditambah dengan tekstur jalanan yang tidak rata? Jawabannya adalah sekitar 20 menitan. Ya, karena saat itu tiba-tiba saja ban belakang kami oleng, dan bunyi grudak..grudak..grudak, menandakan bahwa level bocor sudah mencapai status “awas”. Apakah kami panik dan takut ketika itu? Bisa ya bisa tidak. Ya, karena saat itu kami sudah memasuki daerah tanpa peradaban. Tidak, karena ketika ban motor bocor, kami tepat berada di depan tukang tambal ban – walaupun sudah tutup, tapi ketika kami ribut-ribut, si mas keluar sambil berkata, “Enten napa nggih?” Jangan abaikan kesempatan ini, “Anu, mas. Ban kula bocor, saget nambal?” Si mas berpikir sebentar sebelum dia menjawab dengan jawaban yang melegakan hati kami, “Nggih pun.” Ahhhh, lega. Kami bersyukur. Mukjizat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

Ban harus diganti karena sudah terbelah menjadi dua. Jauh dari “ekspektasi” saya yang berpendapat mungkin hanya bocor kecil. Melihat kondisi ban yang jauh dari kata good looking, seketika itu pula otak saya dipenuhi dengan kalimat: Apa jadinya kalau….? Ah, kami memang benar-benar beruntung! Setelah dipasang kembali, kami melanjutkan (sisa-sisa) perjalanan. Entah mengapa, perjalanan setelah ganti ban justru membuat saya semakin cemas. Oke, panggil saya seorang yang parno-an. Dan pertanyaan “apa jadinya kalau?” semakin berhimpitan di kepala ketika medan yang kami lewati “tak bersahabat”. Menuju Nampu, saya mencoba untuk berpikir positif, walaupun kenyataannya saya sulit menghadirkan itu.

Sekitar 23.00 WIB, kami sampai di Nampu dengan selamat. Satu hal yang saya lakukan ketika menjejakkan kaki di Nampu: menetertawakan kejadian.

****

Saya percaya ada makna di balik sebuah peristiwa. Namun saya tidak ingin menjadi seorang yang bijak dengan menuliskan panjang lebar tentang apa saja makna yang dapat diambil dari kejadian itu. Saya sedang malas menjadi bijak, pun sedang malas menuliskannya. Jelasnya, dari kejadian ini, saya belajar tentang firasat yang datang dengan pola sama. Tentang spekulasi dalam mengambil keputusan. Tentang empati. Tentang yakin dan tak yakin. Tentang menguasai ketakutan. Terakhir, tentang di kemudian hari saya harus membawa ban cadangan dan pompa angin.