Dec 14, 2013

Aurette and the Polska Seeking Carnival: Karena Hidup Adalah Karnaval



Ketika tulisan ini dibuat, saya sedang tertarik dengan topik pembahasan bagaimana musisi Indonesia mengimitasi produk-produk luar negeri (baca: Barat) untuk kemudian mereka serap dan selanjutnya dijadikan komoditas ke dalam industri musik tanah air. Hal ini telah berlangsung sejak lama, dan itu dianggap sah oleh kebanyakan orang, dan tak ada yang mempersalahkan itu. Walaupun dulu, menurut sejarah yang saya baca, peredaran musik dan kreativitas musisi sempat dilarang serta dikekang oleh pemerintah karena bertentangan dengan ideologi negara, tapi karena “bandelnya” masyarakat Indonesia, ada banyak cara untuk lepas dari keterkekangan tersebut. Hasilnya, bisa dilihat sekarang. Musik dengan beragam genre telah berhasil beranak pinak. Salah satunya adalah pop. Di industri musik tanah air, pop menempati kasta tertinggi. Dan jika dikerucutkan ke dalam industri musik non mainstream, pop – dengan beragam sub genrenya; bisa kita temui lebih di jalur ini – juga masih berkuasa. Tapi sayangnya, tidak banyak musisi yang mempunyai identitas dalam karyanya. Identitas yang saya maksud di sini adalah pembanding dari musisi lainnya, bisa dilihat dari produknya ataupun attitude-nya. 

Adalah menarik ketika identitas terbangun melalui karya. Di tengah kondisi industri - baik di jalur mainstream maupun non mainstream – yang sarat akan musisi-musisi tipikal, sebuah amunisi baru dari Yogyakarta menjadi negasi dari itu semua. Jika sebuah kondisi yang stagnan membutuhkan revolusi, maka Aurette and the Polska Seeking Carnival (AATPSC) adalah garda terdepan dari wacana tersebut. Ibarat candu, hisap sekali saja lalu kamu akan dibawa entah ke mana. Nama yang sering tertulis di pamflet-pamflet gig, EP yang soldout, nama yang sering diagung-agungkan dalam beberapa artikel web musik; merupakan bukti bahwa mereka telah membuat orang-orang terbang melalui karyanya. 

Jangan selalu menganggap proses pengimitasian sebagai sesuatu yang negatif. AATPSC justru mengajari kita bagaimana pengimitasian bisa menjadi hal yang tepat guna, bermutu dan mempunyai daya pikat tinggi. Apa yang mereka tawarkan – mengimitasi sound khas Eropa dengan pengaruh seperti Beirut, Of Monster and Men, A Hawk and a Hacksaw – merupakan solusi cerdas untuk ditawarkan kepada pendengar yang telah menjadi budak-budak homogenitas dari beberapa “trend” industri musik sekarang ini. Dan terbukti ketika single “Wonderland” mereka unggah ke Soundcloud, respon positif pun berdatangan, selanjutnya silakan baca kalimat terakhir paragraf dua, dan selanjutnya lagi selamat menikmati sebuah tatanan baru dalam menikmati musik a la AATPSC.

Band ini mempunyai identitas. Folk pop, itulah identitas yang mereka bangun dengan bebunyian-bebunyian yang saling bersahutan dan mengimbangi dari akordeon, terompet, trombone, ukulele, mandolin, conga, glockenspiel dan juga “alat-alat standar” band seperti gitar, bass, keyboard, drum. Kesemua tadi diracik dengan ditambahi vokal Dhima Christian Datu yang elegan, sehingga menghasilkan sebuah karya epic.  Bukan sebuah hiperbola, kata epic perlu digarisbawahi dan dicetak tebal karena apa yang ada dalam AATPSC adalah sebuah karya penuh dengan unsur artisitik. Jikalau musik diibaratkan sebagai sebuah rak di swalayan yang mana tersaji satu jenis makanan berlabel pop, maka pilihan mereka menghadirkan sound Eropa dan mengajak pendengar untuk masuk ke dalam semesta imajinernya dalam riuh-rendah suasana karnaval, bagaikan subliminal message yang mempengaruhi batas wajar persepsi kita tentang sebuah karya, dan seperti mengontrol alam bawah sadar kita untuk melakukan aksi: mengulagi lagu-lagu mereka lagi dan lagi. 

Lewat walkman usang, saya mendengarkan EP self titled mereka. Menarik ketika bagaimana mereka dengan jeli menghadirkan bebunyian-bebunyian karnaval, menggiring persepsi kita untuk ditempatkan dalam sebuah bianglala raksasa, dan merasakan manisnya aransemen setiap lagu-lagunya bagaikan semanis permen kapas. Mereka seperti hendak menyampaikan pesan, “Ayo, nikmati sedetik hidup ini! Urusan lain, pikirkan belakangan.” Apa yang mereka sajikan, menurut saya adalah sebuah pengejawantahan dari apa yang Ashadi Siregar tulis dalam Lifestyle Ecstasy. Dia berpendapat bahwa seni musik sebagai produk dari budaya massa yang mempunyai kekuatan ekspresif, sehingga siapa saja yang mendengarkannya akan terbentuk suatu pola rekreatif dalam dirinya. Dalam sebuah pola rekreatif, ada suatu kepuasan tersendiri yaitu kita sebagai konsumen bisa masuk ke dalam pengalaman imajinatif kita. Bagaimana nanti ketika mengarunginya, kita akan merasakan kegembiraan, kegairahan, kesedihan, atau bisa juga ketakjuban, yang mungkin akan mengarahkan kepada sikap keingintahuan dan bertanya-tanya pada hati.

AATPSC mengajak kita untuk berekreasi di dunia mereka. Tapi nampaknya AATPSC ingin menjungkirbalikkan paradigma. Jika dulu para rocker seperti God Bless dan Nicky Astria bernyanyi bahwa dunia ini adalah sebuah panggung sandiwara, maka AATPSC memberikan “inovasi” baru dalam memandang hidup: hidup adalah sebuah karnaval. Ketika kita kecil, kita terbahak-terbahak saat melihat badut-badut “disiksa” di pertunjukan sirkus a la komedi slapstick yang marak di TV. Kita menyunggingkan senyum ketika menaiki wahana-wahana di pasar malam. Namun ketika kita dewasa, kita juga masih bisa tertawa saat menikmati wahana-wahana. Bedanya, wahana ketika kita dewasa bukanlah suatu permainan, melainkan  hidup dengan segala kompleksitasnya. Menertawakan hidup, itulah main topic yang coba mereka angkat. Mereka terlalu cerdas dalam membungkus  kesatiran dengan nada-nada yang jauh dari kata satir itu sendiri, dengan kata lain mereka menyajikan suatu parade satir yang terkamuflase. Tujuh lagu di dalam EP ini adalah ode tentang warna-warni kehidupan; tentang alur hidup yang sulit ditebak, tentang cinta adalah protes, kegembiraan yang tak direncanakan, kegelisahan, kepalsuan; terangkum menjadi satu.

Karnaval itu dimulai dengan “Seeking Carnival”, sebuah nomor instrumental yang seakan mengajak pendengar untuk bergegas menghampiri karnaval, dan larut di dalamnya. Jika di lagu ini kamu hanya terpesona oleh permainan akordeon maka kamu salah. Puncak utama lagu ini adalah ketika para personel AATPSC ber-sing along. Dari lagu ini kita akan bersiap-siap menjadi badut di kehidupan kita sendiri.

Dengan terjemahan Google Translate yang “terbata-bata” saya coba menerjemahkan lirik berbahasa Perancis dalam “I Love You More Than Pizza”. Jika disimak hanya dari judulnya saja, pasti orang akan berpikiran bahwa lagu ini ter-influence oleh gombalan Denny Cagur dan Andre Taulany. Tapi, hey, lagu ini tidak semurahan itu! Dari lagu yang sangat bernuansa Perancis ini kita bisa berkaca bahwa manusia adalah makhluk yang tidak konsisten terhadap sikap dan omongan. Ketika dulu kita membenci orang yang AATPSC analogikan sebagai, “Je vous déteste autant, que je déteste la sauce épicée”, karena kita sering menjilat ludah kita sendiri, maka ungkapan, “So, I love you more than pizza. Myriade de goût, goût delicious. Done je vous aime plus que le pizza. Et je chante cha la la la la” adalah ungkapan yang membuat orang yang kita benci dulu akhirnya bertekuk lutut dan merelakan kepalanya untuk disandarkan pada bahu kita saat berdua melihat langit malam sambil bercanda, “Bapak kamu…”

“Letter to You” merupakan sebuah lagu yang cerdas dan juga penggambaran cinta yang idealis. Bagaimana sepasang kekasih masih saja menggunakan sesuatu yang orang kini menyebutnya usang untuk saling memberikan kabar. Sesuatu tersebut bernama surat. Melalui lirik, “And I don’t want to tweet or put some words on your wall. Coz I don’t want the messages meaningless, and not special” merupakan sindiran bahwa hal yang dianggap konvensional, justru kadang lebih bernilai. Jika lagu ini suatu saat nanti dikenal luas oleh masyarakat, dan dapat mengubah kebiasaan, maka momen menunggu datangnya pak pos adalah momen yang menyenangkan sekaligus mendebarkan.

Mendengarkan “Lies in A Cup of Cappuccino” entah mengapa saya jadi teringat “Yesterday”-nya The Beatles. Lagu ini bercerita tentang kesedihan yang dibahagia-bahagiakan, tentang ketidakrelaan yang direla-relakan. Di bagian interlude kita diajak berdansa di atas kegundahan. Dan dari lagu ini saya menyatakan bahwa tiga ungkapan: “Cinta itu tidak harus memiliki”, “Walaupun tidak bersama, kita pasti akan bahagia” serta “Jika kamu bahagia bersamanya, maka aku rela” adalah kebohongan publik!

Saya membayangkan seorang yang kehilangan harapan bermain terompet sambil menatap kosong ke arah jalanan yang lengang. Hanya ada dirinya dan keputusasaannya. “Someday Sometime” bukan hanya bercerita tentang kepahitan cinta. Sebuah lagu yang asyik untuk mengiringi kondisi saat realita bukan seperti yang kamu inginkan, dan kamu berada dalam posisi siap untuk memaki kehidupan. 

“It’s a wonderland, place where you can find happiness. It’s a wonderland, place where you can be free.” Semua orang ingin pergi ke wonderland. Di lagu “Wonderland”, AATPSC mengajak kita untuk sejenak meninggalkan realita karena realita tak lagi menyenangkan untuk dihuni. 

Menempatkan “Wonderland” sebagai lagu panjang terakhir sebelum “Outro”, adalah konklusi yang diberikan oleh AATPSC. Meminjam pernyataan Albert Camus bahwa, “Life is absurd”, maka wonderland adalah parallel universe dengan kebahagiaan mutlak yang akan kita tuju. Tapi, jika kebahagiaan itu mutlak, untuk apa kita mendengarkan AATPSC? Tidak akan ada lagi senyum sarkas yang menertawakan hidup. Tidak akan ada lagi rasa skeptikal terhadap hidup. Dan karnaval itu akan menjadi karnaval yang monoton. Mmmm, baiklah, lewati saja tulisan saya tentang wonderland. Karena karnaval ini belum selesai untuk ditertawakan.

No comments:

Post a Comment