Nov 23, 2013

Jembatan Surga

Lelaki diam menatap awan
Dirajutnya benang-benang mimpi menjadi jembatan
Jembatan yang akan membawanya ke surga
Walaupun ia tahu surga entah di mana

Lalu ia menghela nafas panjang
Awan ditatapnya kembali sambil berbisik, "Surga ada karena kematian"

Nov 20, 2013

Semakbelukar: Mereka Melayu, tapi Tidak Mendayu-dayu




Metal! Begitulah kata yang pantas disematkan kepada Semakbelukar. Tapi perlu diingat, metal yang satu ini bukanlah metal yang penuh dengan suara distorsi, growling ataupun blasting, melainkan sebuah akronim dari melayu total. Ya, Semakbelukar dengan bangga membawakan konsep Melayu sebagai jalur bermusik mereka. Melayu yang sebenarnya, bukan Melayu hasil pengidentikan yang menjadikan makna Melayu berkonotasi sebagai: band mainstream dengan lagu melankolis, liriknya bercerita tentang kisah cinta yang cheesy, ditambah ketika mereka perform ada saja ABG atau ibu-ibu labil menarikan gerakan absurd di barisan terdepan.

Tapi kamu tak perlu ragu kepada Semakbelukar. Grup yang berasal dari Palembang ini bertanggungjawab terhadap muatan mereka, dan berkat mereka derajat musik Melayu kembali tepat ke posisinya, dan tidak berakhir hanya sebagai labeling. Jika kamu pernah mendengar lagu-lagu daerah bernafaskan Melayu; dengan bunyi-bunyian seperti mandolin, gendang Melayu, akordeon, minigong, jimbana, ditambah dengan vokal merdu yang mengumandangkan lirik-lirik berima manis yang menyiratkan tentang epos kehidupan, maka itulah yang kamu dengar pula di Semakbelukar. Seperti EP mereka yang baru-baru ini dirilis oleh Elevation Records – sebuah label yang merilis band-band berbahaya semacam Sajama Cut dan Aurette and the Polska Seeking Carniva – benar-benar membuat saya takjub. 

Sama seperti EP mereka sebelumnya yang dirilis via netlabel Yes No Wave Music, Drohaka, ketika mendengarkan EP ini pertama kali, saya harus mengulanginya beberapa kali agar terbiasa dan merasa nyaman. Yah, mungkin karena kuping saya adalah kuping Jawa, sehingga ketika mendengarkan musik yang tidak berasal dari tempat saya tinggal dan jarang pula saya dengarkan, dibutuhkan sedikit adaptasi tentunya. Analoginya seperti lidah yang mencicipi makanan. Saya berasal dari Solo yang sering mencicipi makanan dengan rasa manis, ketika pertama kali mencicipi makanan dari daerah lain, tidak serta merta lidah saya mampu bersahabat dengan makanan itu. Sama seperti Semakbelukar, ketika kamu pertama kali mendengarkan EP ini mungkin ada penolakan dari kupingmu, “Musiknya aneh” begitu kiranya. Tapi percayalah, ketika kamu mendengarkan berulang kali, ada rasa nyaman yang dapat kamu temukan. 

Berisi delapan track, EP ini dirilis ke dalam dua format yaitu vinyl dan CD. Perpaduan alat musik khas lagu-lagu Melayu dengan lirik yang ajaib bak syair-syair pujangga tanah Sriwijaya, benar-benar membuat suatu harmonisasi “magis”. Dibuka oleh lagu rancak berjudul “Seloka Beruk”, lewat lagu ini Semakbelukar berusaha untuk menyampaikan protes tanpa sesuatu yang berapi-api dengan, “…Semenjak beruk menjadi pemimpin, halal dan haram pun dimakan…” Di detik-detik menuju lagu “Celaka” usai, ada akhir yang tak terduga, mereka seperti mengajak menari di atas kebodohan yang kita, para manusia, sering lakukan. Lagu favorit saya adalah “Merujuk Damai” Berbeda dengan lagu-lagu lain di album ini yang upbeat, “Merujuk Damai” hanya mengandalkan mandolin, tamborin dan vokal yang seksi sambil menyelipkan petuah hidup, “…Usah kau hiraukan lagi, terus berjalan tinggalkan saja. Rujuklah kembali damai yang kau tinggalkan. Di rumah itu dia menunggu…”

Semakbelukar dalam Industri Musik Tanah Air

Semakbelukar adalah grup musik dan sudah selayaknya mereka mempunyai suatu produk yang akan dikonsumsi khalayak ramai. Akan tetapi produk yang mereka hasilkan berbeda dari produk-produk yang ada di pasaran sekarang ini. Oke, mereka memang memainkan musik yang easy listening, tapi mereka sebenarnya juga melakukan perjudian karena pilihan musik yang mereka mainkan tidak terlalu familiar di kuping konsumen yang lebih berkiblat pada pop modern, bukan pop/folk tradisional yang Semakbelukar mainkan. Berada di industri non mainstream yang konon katanya penuh dengan musik-musik berkualitas, tapi tetap saja pilihan terakhir berada di tangan konsumen yang mana adalah orang-orang selektif yang mengapresiasi secara selera. Selera tidak bisa disalahkan, bukan? 

Memainkan sesuatu yang tradsional di era modern memang membutuhkan nyali yang besar. Ketakutan saya adalah Semakbelukar hanya menjadi pelengkap di industri ini. Karena mereka benar-benar memulai suatu era baru, butuh proses yang tidak semudah membalikkan telapak tangan demi karya mereka diapresiasi. Dan jikalau karya mereka diapresiasi, ketakutan kedua saya adalah, hanya “orang-orang tertentu” yang mau menikmati apa yang mereka hasilkan. “Orang-orang tertentu” yang saya maksud adalah orang-orang yang mau dan rela membuka indera pendengarannya demi sesuatu yang baru dan bukan jamak. Di industri non mainstream-pun, kadang kita terlalu terjebak dengan sesuatu yang jamak dan kadang enggan keluar untuk mencari sesuatu yang baru. Walaupun saya hanyalah seorang penikmat musik, tapi ketakutan saya adalah suatu hal yang beralasan. Semakbelukar adalah nafas baru bagi industri ini, bisa dibilang mereka adalah penyegar di tengah-tengah “keseragaman”. Memang jalur non mainstream ini mempunyai band/grup/duo/solo yang berkualitas. Tapi arah dan warna musik yang berada di jalur ini hanya melulu itu-itu saja. Tanpa ada maksud untuk mendiskreditkan, namun kadang hal itu membuat kita menjadi jenuh dengan kondisi, dan ingin mencari sesuatu yang unik Maka dari itu seseorang butuh sesuatu yang baru, seseorang butuh pelampiasan akibat kejenuhan yang menghimpit, dan itu saya dapatkan dari Semakbelukar. Bukan melebih-lebihkan, mereka memang oase di tengah padang industri yang gersang ini. Mereka memang pantas diapresiasi!

Terlepas dari peluang Semakbelukar di industri ini, sejatinya mereka adalah orang-orang yang berjiwa besar yang berani membawa kearifan lokal mereka ke ranah yang lebih luas. Melaui Semakbelukar kita bisa menikmati musik tradisional tapi dengan cita rasa kontemporer. Menarik, ketika suatu saat nanti Semakbelukar menjadi role model dari band/grup yang mencoba untuk mengangkat kearifan lokal ke pasaran yang lebih luas. Jika ini terjadi berarti kita telah ikut campur tangan dalam melestarikan kearifan lokal di samping menikmati musik dengan bentuk lama tapi dengan gaya baru. Dan ini juga menjadi indikasi bahwa pegiat musik sekarang tidak hanya didominasi oleh orang-orang yang berasal dari Pulau Jawa. Dulu kita mengenal The New Wave of British Heavy Metal dan Britpop, kini saatnya Pulau Sumatera – dan juga pulau-pulau lain di Indonesia – menjadi penerus “pergerakan” itu karena musik tidak ada sistem keterpusatan, bung! Ini semata-mata supaya industri musik Indonesia semakin kaya akan musik-musik berkualitas, tidak monoton di itu-itu saja.

Seperti kata Semakbelukar di lagu “Be(re)ncana”, “…hanya karena berbeda tak berarti hilang muka…”

Nov 18, 2013

Belajar dari yang Kecil


Ada pelajaran yang bisa diambil di setiap waktu, tak peduli dari siapa atau apa, dan juga tak peduli di mana tempatnya. Walaupun pelajaran itu kamu dapatkan dari anak-anak yang terpaut jauh dari segi usia dan jarak denganmu, ambilah! 

Pelajaran itu saya dapatkan Sabtu kemarin ketika saya berbagi pengalaman – saya lebih senang menggunakan “berbagi pengalaman” daripada “memberikan materi” – yang pernah saya dapatkan di teater  dengan teman-teman Teater Soklay SMA N Karangpandan, Karanganyar. Awalnya ada banyak pikiran negatif tentang anak-anak SMA yang bergelayutan di kepala ketika pertama kali saya dimintai tolong oleh salah seorang kakak tingkat saya di teater untuk menjadi pemateri Latsar (Latihan Dasar) di Teater Soklay. Bahwa anak SMA itu susah diatur, mudah jenuh, tidak respect, dan lain-lain. Tapi ketika berhadapan langsung dengan mereka, semua yang saya pikirkan tadi terbantahkan.

Kurang lebih 15 anak mengikuti Latsar yang berlangsung pada Sabtu-Minggu, 16-17 November 2013  bertempat di area sekolah mereka. Hari Sabtu itu saya berbagi pengalaman tentang konsentrasi. Ada ketakutan sebenarnya yang berkaitan dengan muatan yang akan diberikan. Saya takut kalau apa yang saya sampaikan terlalu berat bagi cara pandang anak SMA, mengingat apa yang akan saya sampaikan adalah cuplikan-cuplikan pengalaman yang pernah saya dapatkan di teater kampus saya. Tapi setelah berkonsultasi dengan kakak tingkat saya, itu tidak menjadi suatu yang perlu ditakutkan. Hanya saja dalam pengaturan durasi memang dipersingkat supaya mereka tidak terlalu jenuh.

Awal perkenalan dengan mereka cukup menyenangkan, yah walaupun saya dipanggil “pak” untuk kesekian kalinya, but it doesn’t matter. Mereka adalah anak-anak yang ceria, terbukti di setiap saat mereka bernyanyi, menari, ngobrol asyik antar sesama mereka, seperti tidak ada tekanan atau sesuatu yang dipaksakan, intinya mereka menikmati acara tersebut. Ketika masuk sesi latihan pun mereka cukup antusias dengan apa yang saya sampaikan. Ada dua sesi yang saya sampaikan yaitu yang pertama sesi perkenalan dengan media air mineral gelasan, mereka harus bisa menghafal dan fokus kepada huruf pertama nama teman-teman mereka. Sesi kedua adalah sesi yang agak serius yaitu berfokus pada satu titik. Saya menggunakan jari telunjuk masing-masing sebagai fokus awal dan kemudian berpindah ke jari telunjuk teman terdekat-terjauh dari posisi duduk mereka. Lalu sesi selanjutnya adalah sesi evaluasi. Di sesi ini banyak pertanyaan-pertanyaan unik yang terlontar seperti, “Mas, ngapa kok sing dinggo fokus jari telunjuk sing kiwa dudu tengen?” ada juga yang bertanya, “Mas, ngapa kok bar pindah fokus ning tangane kancane, kok mataku dadi bruwet ya?” Lalu ada pula yang berkeluh kesah tentang ketidakfokusan ketika mendapat pelajaran dari guru dan bagaimana metode menghafal yang baik. Menarik! Itu kata yang pantas saya ucapkan.

Yap, memang menarik. Dari situlah pelajaran saya dapatkan. Jika direfleksikan dalam kehidupan pribadi dan lingkungan saya yang menginjak masa-masa dewasa, kadang rasa bahagia jarang sekali dapat ditemui. Penuh tekanan, istilah singkatnya. Sehingga ketika kita melaksanakan sesuatu, bukan rasa senang yang pertama kali muncul, tapi hanya perasaan agar cepat menyelesaikan sesuatu tersebut. Bukan hanya saya saja, tapi teman-teman saya pun juga demikian, jika saya melihat sekilas. Belum lagi ditambah dengan unsur “formalitas”. “Oke saya melaksanakannya, tapi semoga ini cepat berakhir.” Mungkin seperti itulah gambaran yang saya dapati akhir-akhir ini.

Saya masih aktif di teater kampus saya. Dan saya kadang juga berbagi pengalaman dengan mereka. Tapi ada satu rasa berbeda antara berbagi pengalaman dengan teman-teman yang sudah duduk di bangku perkuliahan dengan teman-teman yang baru duduk di bangku SMA. Yang jelas ketika saya selesai berbagi pengalaman dengan teman-teman Soklay, ada rasa bahagia dalam diri saya dan juga mereka, dan ada sesuatu yang bisa diceritakan kembali. Berbeda dengan teman-teman kampus, ketika saya selesai berbagi pengalaman dengan mereka, selesai adalah selesai. “Oke, terimakasih sudah berpartisipasi. Semoga bermanfaat, dan mari kita pulang.” Kira-kira seperti itu gambarannya. Kalaupun ada sesuatu yang diceritakan kembali, mungkin ceritanya akan berbentuk seperti, “Cah-cah i piye ya, kok malah do ngono?”

Mungkin ketika dianalisa, yang membedakan teman-teman teater kampus dengan teman-teman teater SMA terkait dengan passion dalam mengikuti latihan adalah kompleksitas hidup. Kehidupan mahasiswa lebih “berantakan” daripada anak-anak SMA. Mulai dari tugas yang segudang, konflik dengan batin, permasalahan romansa, konflik dengan teman, masalah di keluarga, seperti menjadi santapan sehari-hari. Menyebabkan kami (para mahasiswa) tidak mempunyai ruang gerak bebas untuk sekedar mengatur nafas. Belum lagi forsir dari organisasi yang kadang malah “mengena” daripada masalah-masalah yang saya sebutkan di atas. Sehingga masalah-masalah tersebut secara tak sadar dibawa ke arena latihan. Seiring umur yang bertambah, semakin bertambah pulalah kompleksitas hidup. Itulah hukum alam, tak bisa dihindari. Jadi ketika seorang mahasiswa mood-nya berubah-ubah, itu adalah sebuah pemakluman. Begitulah kiranya.

Saya juga mendapat pelajaran bahwa kita harus respect kepada orang yang membagikan pengalamannya. Entah itu orang yang belum kamu kenal, baru saja kamu kenal atau sudah kamu kenal, ketika ia membagikan pengalamannya, simaklah! Toh itu menjadi sesuatu yang dapat kamu pelajari dan dapat kamu terapkan jika itu baik menurutmu. Bagaimana peraasanmu ketika ada orang yang baru beberapa jam kamu kenal mengucapkan, “Terimakasih, mas, telah berbagi ilmu dengan kami.” ? Itulah yang saya dapatkan ketika sesi latihan saya bersama teman-teman Soklay berakhir. Jujur, ada perasaan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Bagaimana kita diajari menghargai orang lain, memanusiakan manusia. Sesuatu yang, lagi-lagi, jarang saya temui di lingkungan saya. Bukan, bukannya saya menuntut untuk diperlakukan seperti itu, tapi belajarlah cara supaya orang yang membagi pengalamannya bisa merasa senang karena pengalamannya didengar, apalagi diikuti. Nek kowe pengin diajeni, ajaro cara ngajeni wong liya sik, begitu kata pepatah Jawa.

Sebenarnya masih banyak pelajaran yang bisa dipetik dari berbagi pengalaman dengan teman-teman Soklay Sabtu kemarin. Lain kali saja saya tulis lagi, mood saya sedang berubah-ubah soalnya. Selamat berbagi pengalaman dan selamat mendengarkan, ya!

Nov 5, 2013

Mengapa

Ada banyak mengapa berhimpitan di kepala
Lalu, apakah Engkau sudi memberi jawabnya?

Adalah Sesuatu


Sebatang penghabisan merupakan jawaban...

Dalam ketakutan, dalam keputusasaan
Dalam kepepatan, dalam kebimbangan
Menusuk?

Dalam ketulusan, dalam kejujuran
Dalam kepercayaan, dalam keikhlasan
Mengerti?

Bertanya, memberi
Menulis, bersenandung

Ketika matahari adalah jawaban dari semua kegelapan
Ketika lagu ini berakhir pada menit ke-4 detik ke-56


Tetaplah bersemayam dalam halusinasi
Tetaplah berdetak seiring jantung yang terpacu oleh hari
Tetaplah mengalir dalam vena dan arteri
Tetaplah berkuasa atas mimpi