Sep 9, 2010

Kemenangankah yang Kau Cari?

Lampu merah dan jalanan malam ini tak begitu bersahabat. Menanti lama, tak terasa rintik gerimis membasahi. Di seberang jalan, seiring dengan lampu-lampu motor dan motor dan bunyi kembang api, terlihat sesosok tua. Bungkuknya menandakan betapa dia sudah tua. Berpakain lusuh, membawa tas gembolan dan tanpa alas kaki. Seorang tua renta itu menapaki jalan nan bising ini. Wajahmya tak memancarkan cahaya yang "menyenangkan".


Dalam kebisingan kota ini, bibirnya yang pecah-pecah karena kehausan seperti mengucap sesuatu. Ku ikuti gerak bibirnya. Dan ya, itu adalah kata-kata kemenangan !!! Karena lama kutatap wajahnya, akhirnya ia tersenyum kepadaku. Yah aku melihat cahaya dari wajahnya. dan dari sorotan matanya yang tajam tapi aku tidak tahu apakah usia juga telah "merenggut" kejernihan matanya, ia seolah berpesan. "Maknailah kemenangan. Ini dan itu adalah cara yang salah. Hanya dirimu sendiri lah yang mengetahui hakekat kemenangan itu sendiri. Jangan terbawa arus. Dan ingat, besok ketika mentari terbit, apakah orang-orang itu kembali menjadi dirinya yang lama ataukah berubah menjadi diri yang baru. Aku mungkin hanyalah sebagian kecil dari orang-orang yang terpinggirkan dan tak tahu apa itu makna kemenangan yang hakiki, namun aku mempunyai hati yang menginginkan kemenangan itu benar-benar menghampiri. dan apabila itu terjadi kami yang terpinggirkan ini berada satu derajat di atas kalian. Dan tahukah kau, orang-orang dari kelompokmu itu apakah merayakan kemenangan atau merayakan kebebasan seperti bebasnya iblis yang telah dibelenggu? dan ingatlah besok, ketika mereka mengeluarkan sebagian harta dari kantong mereka, apakah itu suatu kewajiban? Atau malah berlagak memenuhi kewajiban? Atau malah hanya sebuah tradisi tanpa pemaknaan? Beruntunglah Tuhan itu ada, bayangkan kalau Tuhan itu tidak ada? Aku, kamu, mereka, kalian, kita hanyalah sepotong daging berjalan yang tak berguna..."


Tak terasa lampu hijau telah menyala di detik ke 20 sekian, dan klakson kendaraan di belakangku telah berbunyi dengan congkak menandakan aku disuruh jalan. Dan bagaimana dengan seorang tua renta itu? Ia pergi dengan senyum simpul tersungging di bibirnya...

No comments:

Post a Comment