Jun 28, 2013

Teruntuk Kosong

Berderet-deret, berbaris-baris
Selalu sadar dalam tangis
Berderet-deret, berjajar rapi
Seakan mengajak mati

Berarak-arakan diorama melintas
Ada luar angkasa dan kapal kertas
Berjalan beriringan
Dilabuhkan dengan sampan

Dingin malam mengalunkan khayal
Pria terduduk lesu dalam bayang
Ia mempertanyakan tanda alam
Berharap segera mungkin mendapat jawaban

Ia tersadar berada di komidi putar
Ia duduk di atas sampan lusuh
Lagu didengar, lampu berkelip-kelipan, sampan berputar
Ia was-was jangan-jangan terjatuh

Pada akhirnya....

Berderet-deret, berbaris-baris
Teruntuk kosong yang tertulis
Berderet-deret, berjajar rapi
Mungkinkah jawabannya esok hari?

Jun 26, 2013

Post Rock: Imajinasi, Jiwa, dan Tuhan

“Music gives a soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination
and life to everything.”
(Plato)

Saya sebenarnya bingung, akan mengawali tulisan ini dengan kalimat apa. Kemudian saya pun googling untuk mencari quote-quote tentang musik yang saya rasa merepresentasikan tulisan ini. Dan, ya, quote tersebut akhirnya bisa kamu baca di atas. Lalu apa hubungannya quote dari Plato dan tulisan saya ini?

Post rock. Saya telat mengenal genre ini dan “hampir” memandang remehnya. Saya adalah seorang yang memegang teguh pentingnya peranan lirik dalam sebuah lagu. Mungkin karena ketiadaan lirik dikebanyakan band post rock-lah yang menyebabkan saya enggan untuk bergumul atau sekedar menyelami band-band tersebut. Namun keadaan sekarang berubah akibat saya diberi “pencerahan” oleh seorang teman. Diputarnya sebuah lagu dari sebuah band lewat komputernya – saya lupa nama band-nya – dan tiba-tiba, dunia seperti terbalik dan berhenti berputar, hanya menyisakan saya dan semesta. Sejak saat itulah saya jatuh cinta kepada genre ini.


Saya awalnya menganggap bahwa Explosions In The Sky adalah band emo, dan This Will Destroy You adalah band hardcore, tapi sekarang saya harus membuang jauh-jauh pikiran sempit seperti itu. 2 band tadi adalah band yang cukup dikenal di ranah post rock. Kebanyakan band post rock memang tidak menyajikan lirik sebagai penunjang dalam sebuah kemasan bernama lagu. Mereka berbicara lewat instrumen yang mereka mainkan. Seperti kata Spaceandmissile dalam album Play-Rewind-Erase, mereka berkata,”Don’t need to speak, just need to listen, just need to see”. Jika diterjemahkan: ketika kamu mendengarkan band post rock, 2 hal yang harus kamu lakukan adalah mendengarkan dan berimajinasi. Lewat post rock-lah impian saya terbang, dapat “terealisasi”. Saya terbang melintasi awan hingga akhirnya saya berada di luar angkasa. Ketika lagu mencapai puncak, saya meluncur dari luar angkasa menuju bumi, dan tepat pada saat lagu berakhir, saya membuka mata dan merasakan kembali realita. Pernah juga saya berimajinasi kalau saya sedang berada di bukit yang penuh rumput dan bunga. Saya berlari-lari sambil membawa balon – entah mengapa saya mengimajinasikan balon, merasakan hempasan angin dan harumnya bunga. Ketika lagu berakhir, saya membuka mata dan merasakan kembali realita. Sangat kontras. Dengan durasi lagu lebih dari empat menit, kita diajak untuk berimajinasi. Terlalu singkat memang jika dibandingkan dengan kehidupan nyata. Dan, memang, kedamaian itu hanya terdapat di alam imajinasi saja.


Bagi saya mendengarkan post rock sama saja dengan mendengarkan lagu-lagu ala ESQ. Ibaratnya, jiwamu diberi asupan gizi. Membicarakan post rock sama saja membicarakan jiwa dan identitas diri. Kamu pernah ikut ESQ? Bagaimana rasanya? Hampir sama dengan ESQ, ketika mendengarkan post rock, kita seperti menemukan jiwa kita kembali. Tapi bedanya, kita berusaha untuk memotivasi diri kita sendiri, bukan oleh orang lain. Memang nuansa awal yang dibentuk post rock adalah murung, tapi ketika tempo musik bertambah cepat; permainan alat musik semakin rapat, ada sesuatu yang seperti mempermainkan jiwa ini. Silakan cari video live band-band post rock, ada satu hal yang menjadi benang merah pada saat mereka tampil live: ekspresif. Mereka seperti mempunyai jiwa (baca: dunia) sendiri-sendiri, dan setiap jiwa pasti mempunyai sisi kondisi yang berbeda pula. Sisi inilah yang seolah mempermainkan kita. Awalnya memang murung, tapi setelah berjalannya waktu ada banyak shocking part yang menghiasi, emosi kita seperti diombang-ambingkan, tapi pada akhirnya kita akan menemukan sebuah titik nyaman karena kita telah beradaptasi dengan situasi ini. Ketika kita membuka mata pada saat lagu berakhir, kita seperti menemukan kembali jiwa kita yang hilang. Hal tersebut dikarenakan musik post rock mempunyai dimensi yang mana membuat dan mengajak tubuh ini berdamai dengan diri sendiri dan alam. Jika kamu seorang yang moody, mungkin post rock bisa menjadi mood booster-mu. Dan setelah itu kamu siap untuk menantang hidupmu yang fluktuatif.


Itulah mengapa saya mengutip pernyataan Plato sebagai pembuka tulisan ini. Memang kutipan tersebut sangat berhubungan dengan pengalaman saya ketika mendengarkan post rock. Selain bisa berimajinasi dan menemukan jiwa, satu hal penting yang saya dapat adalah: saya menemukan Tuhan. Bukan bentuk, wajah, atau di mana Ia berada, tapi lebih ke keagunganNya. Imajinasi, pencarian jiwa, merupakan tanda bahwa otak kita masih bisa dipakai untuk berpikir. Lalu saya membawanya ke tatanan logika guna mencari kebenaran, kejelasan, dan pada akhirnya berpikir secara rasional tentang anugerah yang diberikan Tuhan. Ucap terimakasih karena diberi kehidupan….

Jun 22, 2013

Langit Seharusnya Biru

Pernahkah engkau disaat kau gundah
Setiap detik terasa berarti.

Ku merasa langit kelabu.
Ku melihat langit kelabu

Pernahkah engkau disaat kau kosong
Setiap detik terasa berharga.

 Langit seharusnya biru

(The Milo)

 

Jun 17, 2013

Review EP KarnaTra: "Berserulah!"

Dari ulasan sebuah majalah musik ternama di Indonesia-lah pertama kalinya saya bertemu dengan KarnaTra. Dari nama, awalnya saya mengira mereka adalah band yang satu tipe dengan Kula Shaker, saya kira dalam lagu-lagunya akan saya jumpai sitar; tamborin; tabla; dengan lirik yang bercerita tentang kerohanian dan kemistikan, yang tersusun menggunakan Bahasa Sansekerta. Tapi saya salah besar! Setelah mengunjungi Soundcloud mereka, ternyata mereka memainkan Britrock (dalam versi mereka, mereka menyebutnya dengan warmrock). Yah, Asia Selatan dengan Eropa Utara sangat jauh memang. Tapi mereka bisa me-mix-nya dalam satu bahasa bernama musik.

EP mereka berisi enam lagu plus satu bonus track. Mini album ini begitu legit di kuping sehingga kamu tidak akan pernah bosan jika memutarnya berulang-ulang kali. Ditambah lagi mereka tahu bagaimana memberikan "efek kejut" bagi pendengarnya. Hampir semua lagu di EP ini mempunyai "efek kejut" , yang saya maksud "efek kejut" adalah adanya part-part yang manis sehingga ketika mendengarnya, orang akan menyunggingkan senyum di bibir. Itu telah saya buktikan! Karena lagu mereka berjudul "Heroine", maka refrain di lagu ini tersaji begitu manis dan mengandung zat adiktif tinggi. Di lagu "No Cure", pengaruh Morrissey begitu kuat, ditambah karakter vokal Aditya Naratama hampir mendekati karakter Sang Dewa Britrock tersebut, yang seakan-akan menyiarkan kabar bahwa The Smiths telah reuni. Saya sempat kaget, pikir saya di lagu "Moksa" KarnaTra mengajak Ryan d'masiv untuk berkolaborasi; di bagian akhir lagu ini gaya bernyanyi Ndit seperti melalukan pujian-pujian menggunakan mantra, di bagian inilah saya jadi teringat lagu dari Enigma berjudul "Return to Innocence".

Yang menjadi poin plus lain dari EP ini adalah packaging yang unik. Secara utuh kelihatan seperti amplop. Cover album mereka bergambar kuping beserta saluran-salurannya. Saluran-saluran tersebut tersambung jika kita membuka album ini. Dari cover album tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa lagu yang legit dan packaging yang unik merupakan kombinasi yang sempurna untuk menghasilkan album yang baik dan layak dengar.

Jun 15, 2013

Mereka Bilang, Saya Tersirat!

Judul di atas bukanlah sekuel dari "Mereka Bilang, Saya Monyet!" karya Djenar Maesa Ayu. Judul di atas hanya akal-akalan saya saja supaya tulisan ini terlihat menarik, karena guru Bahasa Indonesia saya pernah berkata bahwa judul yang unik mencerminkan tulisan yang bagus. Oh ya, judul di atas merupakan alternatif judul otobiografi saya, walaupun saya belum tahu kapan akan membuatnya, apalagi menerbitkannya.

Manusia tersirat. Begitulah julukan yang kerap diberikan oleh teman-teman saya kepada saya akhir-akhir ini. Setidaknya julukan tersebut lebih enak didengar daripada julukan-julukan lain yang teman-teman saya pernah berikan, seperti: kokok, tukang galau, atau yang agak versi terbaru yaitu pakdhe. Julukan yang terakhir itu fitnah, karena wajah saya tak setua julukan itu. Percayalah!

Hampir semua orang pasti sudah pernah membaca puisi dan pastilah kamu tahu bagaimana susunan kalimat-kalimatnya. Kalimat-kalimat tersebut dibalut menggunakan majas sehingga kadang maknanya tidak tersampaikan secara langsung. Orang lebih mengenalnya dengan sebutan makna tersirat. Dua kata terakhir sebelum kalimat ini perlu digarisbawahi, karena dua kata tersebut memberikan kontribusi maksimal atas tercetusnya julukan "manusia tersirat" kepada saya. 

Yap, saya memang suka menulis puisi. Dari penjelasan di atas, kamu sudah bisa menebak bagaimana rupa, wajah, bentuk, dan ciri-ciri puisi-puisi saya. Mungkin beberapa orang merasa aneh dan berpendapat kenapa tidak diungkapkan secara langsung. Tapi menurut saya disitulah letak keunikannya dan disitulah zona nyaman saya berada. Saya lebih bisa meluapkan emosi, isi pikiran dan hati melalui puisi-puisi yang tersirat. Saya merasa asyik ketika menulis, dan membiarkan orang-orang menginterpretasikannya secara masing-masing. Yang jelas, saya bisa mengeluarkan unek-unek dalam diri saya melalui tulisan.

Jika dikupas lebih tajam lagi dan dipandang dari segi psikologis, mungkin yang menyebabkan saya berada dalam zona ini adalah saya seorang introvert. Saya memang seorang yang tertutup, dan saya jarang sekali banyak bicara, plus pemalu. Karena faktor-faktor itulah yang mungkin, sekali lagi mungkin, menjadikan saya seorang yang tersirat. Saya memang lebih menyukai menulis daripada berbicara, tapi ketika melihat tipe saya tersebut, tulisan-tulisan yang saya buatpun masih saya kamuflasekan. Jika saya menulis puisi, mungkin yang tahu maknanya hanya saya saja, hahaha... Tapi kadang teman-teman saya tahu apa makna tulisan yang saya buat, karena mereka mengerti latarbelakang ceritanya. Ah, saya jadi pusing malahan...

Sudahlah, yang jelas berbanggalah menjadi seorang manusia tersirat karena ada efek positifnya juga bagi orang lain, yaitu membuat otak mereka bekerja, hahaha....

Jun 14, 2013

Ketika Pertama Kali Berjumpa

Ketika pertama kali berjumpa,
mendung menyuruh mentari 'tuk pergi,
sisa-sisa embun bercampur rintik hujan semalam
Alangkah indah 'tuk dikenang

Setelah lama mengenal,
kuberanikan diri 'tuk berjabat tangan
Bergandengan, dan pada akhirnya berjalan bersama
Melewati jalan setapak berujung pada satu arah

Kini, setelah lama berjumpa
Tak lagi kutemui bayangnya
Kursi di taman ini kosong, tak ada pemilik
Ribuan kata tersapu bersama angin kemarau

Biarlah, tak kan kusesali
Toh, kursi di taman ini akan ada pemiliknya lagi
Pun, angin kemarau kan segera hilang
Berganti dengan datangnya musim penghujan



Jun 9, 2013

Menjadi Perokok yang Baik

“Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia”  diperingati setiap tanggal 31 Mei, sekitar sepuluh hari yang lalu. Bagi orang-orang yang tidak merokok, hari tersebut bisa dikatakan sebagai hari perlawanan terhadap rokok. Berbeda halnya dengan para perokok, menurut hasil observasi asal-asalan yang saya lakukan, masih banyak perokok yang merokok di hari tersebut. Saya salah satunya.

Jika level perokok digolongkan menjadi beginner, intermediate, dan expert, maka saya berada di tingkatan yang paling awal. Saya memang baru-baru saja mengenal rokok dan positif menjadi seorang perokok. Berawal dari coba-coba, sekarang sudah menjadi terbiasa. Rokok ibarat menjadi sahabat sejati, apalagi ketika berada pada momen-momen yang “memaksa” para perokok untuk menyalakan rokok, seperti ketika stress saat pekerjaan menumpuk, dikejar deadline, atau sedang dalam perasaan yang gundah gulana. Bagi saya, poin yang disebutkan paling akhir adalah saat-saat mengasyikkan menikmati rokok. Dan mungkin hal-hal semacam itulah yang menyebabkan banyak perokok tidak “memperingati” hari tersebut karena memang rokok harus selalu ada di setiap waktu. Jika tidak merokok, konon katanya ada sesuatu yang janggal di tubuh, yang paling banyak dikeluhkan biasanya adalah lambene kecut (bibirnya asam).

Terlepas dari konteks bahaya merokok, rokok sudah menimbulkan adiksi yang berlebih, dan hal tersebut mejadikan sebuah kebiasaan.  Kebiasaan inilah yang kadang menyebabkan perokok menomorduakan tata kelakuannya. Ketika merokok, para perokok kadang melupakan dan bahkan tidak menggubris konsep ruang dan waktu. Padahal dalam ruang dan waktu yang bersamaan, ada orang-orang yang tidak merokok yang disebut sebagai perokok pasif. Ambil contoh ketika kita nongkrong. Di Solo, istilah nongkrong sudah bisa diasosiasikan dengan HIK (baca: wedangan). Ketika di wedangan banyak hal yang diobrolkan, dan akan lebih asyik jika ditemani dengan rokok. Apalagi ketika obrolan tersebut menarik, bisa kamu tebak berapa batang rokok yang dibakar?

Saya bukan seorang anggota Komnas HAM, tapi hak asasi para perokok pasif harus turut dibela. Mereka mempunyai hak untuk menikmati udara segar tanpa kontaminasi asap rokok. Di situlah letak tata kelakuan dari sebuah kebiasaan merokok yang salah. Perokok tidak sadar diri kalau di sekitarnya ada orang-orang yang tidak merokok. Berdasarkan pengalaman saya, dilihat dari gestur ada para perokok pasif yang menutupi hidung mereka ketika para perokok sedang merokok; ada pula yang memandangi seperti memberikan isyarat, “Mas, tolong rokoknya dimatikan”; ada pula yang berkata, “Asapnya dong….”; dan jika berhadapan dengan perokok pasif “ekstremis”, ia tak segan menyuruh perokok untuk mematikan rokoknya. 

Inilah yang memotivasi saya untuk menjadi seorang perokok yang baik. Perokok yang baik adalah seorang perokok yang sadar posisi dan sadar diri. Sadar posisi maksudnya adalah saya sebagai perokok harus tahu di manakah saya berada. Jika berada di lingkungan perokok, saya tak segan untuk membakar rokok. Tapi ketika berada di public area atau di lingkungan yang mana perokok aktif dan pasif membaur, saya harus berpikir beberapa kali apakah saya pantas membakar rokok. Sedangkan sadar diri adalah saya sebagai perokok tahu bahwa di dalam rokok terdapat kandungan-kandungan yang tidak baik bagi tubuh, sehingga saya sekarang sudah mengurangi intensitas merokok saya. Untuk masalah ini, mungkin ini hal yang mudah bagi saya karena saya adalah seorang perokok berlevel beginner, kecuali jika saya sedang stress atau tiba-tiba menjadi melankolis, rokok harus menjadi seorang sahabat. Oh iya, sebagai perokok juga harus cinta kebersihan, itu masuk di dalam konsep sadar diri. Kadang perokok membuang puntung dan abu rokok tidak pada tempatnya. Mintalah asbak ketika kamu berada di warung, dan jangan sekali-kali membuang abu/puntung ke piring atau gelas karena piring dan gelas tersebut masih dipakai oleh orang lain. 

Rokok adalah permasalahan kompleks bagi negeri ini. Entah rokok dalam wujudnya sendiri atau attitude dari para perokoknya. Namun jika kita menjadi perokok yang baik (ditandai dengan sadar diri dan sadar posisi), setidaknya kita bisa mengurangi pro kontra rokok. Rokok memang mengandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh, biarkan perokok aktif yang “menikmati” itu sendiri. Toh, “kenikmatan” itu tidak dilarang oleh pemerintah, agama, dan kehidupan sosial, kan? Yang terpenting, merokok juga harus mempunyai etika.  

Ahhhh…  Semoga saya suatu hari bisa berhenti merokok. Doakan saja :)

Jun 8, 2013

Kemarau Basah

Kemarau basah, ucap mereka
Ada yang ganjil dengan pola angin, terka mereka
Alam menunjukkan gejala ketidaknormalan, begitu kata mereka
Alam berkuasa

Maka berserulah petir kepada manusia
Harap waspada
Bergeraklah tanah melumat desa
Membabi-buta

Juni akan mengawali bulan-bulan penuh anomali
Jika telah puas, penghujan akan berubah menjadi kemarau panjang
Tapi itu tergantung waktu dan kuasa alam
Sama halnya dengan tubuh ini berkuasa terhadap dirinya sendiri