May 23, 2014

Cupumanik Menggugat



 

Konon katanya “grunge is dead” seiring kematian Kurt Cobain. Benarkah demikian?

Saya teringat tulisan Che Cupumanik tentang dialog imajinernya dengan Kurt. Kurt menyampaikan bahwa dia akan datang saat “Something in the Way” dimainkan. Dan sebelum dia “pergi”, Kurt tampak tersenyum melihat atribut yang dikenakan Che: sepatu Converse lusuh, celana jeans sobek di bagian lutut, flannel motif kotak berwarna hitam-putih, dan kaos bergambar cover album Nevermind. Mungkin senyuman Kurt tersebut merupakan ungkapan “kebahagiaan” bahwa warisannya (musik, attitude, dan atribut) abadi hingga kini.

Dialog Che dengan Kurt lebih dari sekedar “dialog seandainya” ataupun “andaikata”. Kerinduan yang dibatasi oleh ruang dan waktu terhadap sesosok tokoh, menyebabkan seseorang melakukan dialog imajiner. Fisik memang fana, tapi sikap serta pemikiran adalah kekekalan. Dan jika kebangkitan kedua pasca kematian adalah keniscayaan, maka Kurt telah menjadikan Che sebagai persemayamannya.

Maka tak salah jika “Grunge Harga Mati” yang dirilis 2010 lalu, merupakan esprit de corps yang digemborkan oleh Cupumanik sebagai kesetiaan mereka kepada grunge. Dan tak salah pula ketika lagu tersebut dijadikan track pembuka di album kedua mereka, Menggugat. Mungkin ada maksud tertentu menempatkan lagu tersebut di awal. Sebagai jawaban bagi orang-orang yang beranggapan bahwa grunge telah mati, mungkin? Namun yang pasti, mereka telah siap menjadikan grunge sebagai media penggugatan dan perlawanan.

Menggugat rilis sekitar dua minggu yang lalu. Jika album pertama diibaratkan sebagai pencarian jati diri, maka di album kedua ini mereka telah berubah menjadi para berandal yang menolak apatis terhadap kondisi. Namun satu yang menarik: walaupun telah mengalami masa transisi, tapi jati diri mereka yang lama tidak ditinggal begitu saja. Ya, lagu seperti “Aksara Alam”, “Broken Home”, dan “Syair Manunggal” mempunyai peran penting sebagai penyeimbang dan “rest area” di tengah keriuhan “Grunge Harga Mati”, “Garuda Berdarah”, “Omong Kosong Darah Biru”, “PBB (Perserikatan Bangsat-Bangsat)”, dan “Luka Bernegara” yang cenderung mempunyai suasana sludgy a la The Melvins dan sound yang raw a la Nirvana. Di album ini Che lebih banyak berteriak, persis seperti yang dilakukan Kurt Cobain. Tapi di beberapa lagu dengan tempo rendah, Eddie Vedder masih menjadi influece utamanya dalam bernyanyi.

Bagi saya, lima lagu yang disebut di akhir memang terkesan macho, liar, dan jauh dari kata “sopan”. Namun entah mengapa, kelugasan dan keberanian Che dalam menuliskan lirik, menyisakan kecanggungan bagi saya. Saya harus meraba untuk berada di posisi nyaman ketika mendengarkan lagu-lagu tadi. Salahkan saya karena terlalu menyenangi lirik-lirik dengan makna yang dikaburkan, dan terlalu menganggap Cupumanik sebagai band “gelap”. Jujur, feel lebih keluar ketika mereka memainkan nomor dengan lirik semi puitis, seperti yang mereka lakukan di album pertama. 

Agenda Gugatan Cupumanik: Polit(r)ik

Terlepas dari tulisan saya di paragraf atas, Menggugat sangat layak dengar. Walaupun dalam liner notes disebutkan bahwa mereka, “…urung menjelaskan dengan terang tema apa saja yang digugat, karena setiap lagu memiliki kemampuan mengenalkan dirinya sendiri, setiap lagu punya bahasanya sendiri…”, tapi menurut pandangan saya, album ini merupakan katarsis Cupumanik (atau mungkin Che?) dalam membentuk konsep tatanan ideal. Ideal dalam hubungannya dengan diri sendiri, keluarga, masyarakat, serta alam. Jika kondisi tidak ideal menuju ideal harus membutuhkan proses, maka protes bisa jadi solusinya.

Berbicara mengenai sosial-politik dan momentum, adakah korelasi antarkeduanya? Ada, Menggugat adalah contohnya. Entah ada skenario atau tidak, album ini rilis di tahun dan bulan yang “tepat”. Dinamika sosial-politik negara ini sedang berada di level siaga. Kondisi masyarakat Indonesia yang bersumbu pendek, akan mempermudah terjadinya anarkisme. Masyarakat butuh katup penyelamat, maka album ini menjadi pilihan untuk melatih intuisi dan menjadi warga negara yang cerdas.

21 Mei 2014, dua minggu pasca Menggugat rilis, reformasi berusia 16 tahun, merupakan usia remaja pertengahan – jika dianalogikan sebagai manusia. Dalam periode ini, kepribadian masih kekanak-kanakan, tapi level kesadaran sudah berkembang. Tidak hanya fisik yang tumbuh, rasa percaya diri pun juga mulai terlihat, sehingga itu merupakan langkah baru untuk menemukan jati diri – walaupun harus melalui perenungan dan konflik batin. Begitu pula dengan negara ini. Negara ini sedang-dalam-perjalanan-mencari-jati diri. Dan tepat dua minggu pula pasca album ini diedarkan, para nahkoda yang akan membawa ke mana negara ini, mendeklarasikan diri untuk bertarung pada Pilpres, Juli mendatang. Cupumanik dalam “Garuda Berdarah” menuliskan, “… Di manakah wakil Tuhan yang nyata membawa harapan? Janji dibuktikan…” Inilah konsepsi pemimpin ideal yang Cupumanik cari. Dia bukan seorang yang buta akal dan rasa. Pemimpin yang baik adalah representasi Tuhan: dia berkuasa tapi mengasihi serta memberikan keselamatan dan kesejahteraan. 

Bagi saya ajang Pemilu tak lebih bagus dari ajang pencarian bakat di TV. Spektakel yang tercipta berkat “strategi marketing” dengan menambahkan label “satriya piningit”, “Soekarno muda”, “Macan Asia”, atau bla bla bla yang lain, seperti menyihir massa untuk melupakan drama yang terjadi di belakangnya. Mari sedikit berteori konspirasi: Apa jadinya jika mereka adalah agen “PBB (Perserikatan Bangsat-Bangsat)”? Yang mana mereka menggurita bersama antek-anteknya dengan kejahatan, “…kujalankan terorganisir. Aku berada di luar ruang yuridis. Aku berdaulat, bebas, kebal hukum…”  Oke, lupakan teori konspirasi, karena sesungguhnya para aktor intlektual tersebut sudah benar-benar ada di negeri ini.

Dagelan mana yang lebih lucu dari black campaign, pencitraan, suara yang bisa dibeli, dan beberapa tetek bengek lain? Saya mungkin seorang yang apatis terhadap Pemilu, tapi saya menaruh hormat kepada calon pemimpin negara ini yang benar-benar berniat untuk memperbaiki (baca: mengubah) keadaan menjadi lebih baik. Saya tidak sangsi dengan konspirasi semesta a la Paulo Coelho, maka yang dituliskan Cupumanik dalam “Aksara Alam” bahwa,  “…Sabda alam tak pernah ingkar, bahasa mereka tak lahirkan rekayasa. Alam raya ungkapkan isyarat. Rasa memberikan estetika jiwa…” adalah suatu kebenaran. Alam negara ini menyimpan keberkahan. Jika pemimpin kita kelak bisa bersinergi dengan alam, maka jangan kaget jika Nusantara akan bangkit kembali. Namun jika setahun, dua tahun, hingga periodenya usai tidak ada perubahan sama sekali, ingatlah “Luka Bernegara”, sebuah, “…suara kebebasan, sebuah sikap deklarasi kebebasan. Tinggal di Negara yang sakit, kami harus menjaga diri kami tetap waras! Ya, ini cara kami bernegara.”

Selamat memilih atau tidak memilih!

No comments:

Post a Comment