“Belakangan
ini kami ganti nama jadi band Akad,
bukan Payung Teduh. Kami juga bukan band Resah
karena sudah bahagia,” celetuk sang vokalis-gitaris, Mohammad Istiqamah Djamad
alias Is, di jeda pergantian lagu.
12
November 2017 malam, Payung Teduh main lagi di Kota Solo. Mereka menjadi salah
satu bintang tamu utama yang memeriahkan event
bazar clothing. Penampilan itu
hanya berjarak tiga bulan pasca mereka didaulat sebagai headliner di sebuah pensi kampus swasta di Solo.
Hebatnya,
dua panggung Payung Teduh tersebut berhasil mendatangkan penonton yang tidak
sedikit. Bedanya, saat manggung di bulan November, mereka punya amunisi baru bernama
“Akad” yang diposisikan sebagai lagu penutup. Karya tergres itu sukses
menciptakan koor massal paling keras.
“Akad”
adalah fenomena bagi karir Payung Teduh..Jika dilihat dari seberapa banyak
orang memutar dan menyanyikan ulang, bisa dibilang ini adalah karya terbesar Is
dkk. Gara-gara “Akad”, Payung Teduh lebih dikenal orang. Mereka kini “ada” pada
tiap acara resepsi pernikahan, “hadir” di lapak-lapak VCD bajakan, dan “masuk” dalam
setlist penyanyi dangdut koplo. Maka
tak salah jika Is mengucapkan kalimat yang menjadi pembuka tulisan ini. Nama
Payung Teduh semakin besar berkat “Akad”.
Ya,
mereka telah mengubah takdirnya sendiri. Jika dahulu Payung Teduh dikenal
sebagai band teater-dengan-lagu-romansa-berlirik-puitis-yang-menyayat-sisi-kalbu,
kali ini mereka menanggalkan atribut itu. Lewat “Akad”, Payung Teduh terdengar
seperti mempunyai jiwa baru yang segar dan kekinian banget.
Kode
bahwa suasana musikal band-nya akan
berubah sudah Is sampaikan dalam meet and
greet di Kota Solo pada Agustus lalu. Saat itu, “Akad” belum dirilis. “Siap-siap
bosan dengan album ketiga Payung Teduh. Dan siap-siap juga karena kami berubah
total. Enjoy to the next journey,”
katanya.
Pemain
kontra bas Payung Teduh, Abdul Aziz Turhan Kariko, punya pandangan yang sama
dengan rekannya. “Kalau kami gitu-gitu saja,
justru bosan mendengarnya. Makanya kami coba warna baru,” tutur lelaki yang
kerap disapa Comi itu.
Ada
satu pernyataan Is yang lumayan menohok terkait album baru mereka. “Pelan-pelan
kami mengemas Payung Teduh menjadi berjalan ke arah mana pun yang kami mau.
Jadi, kalau teman-teman suka atau tidak suka, kami menyampingkan itu. Ini
adalah jenjang eksistensi kami. Dari ini kami belajar banyak. Kalau begitu lagi
begitu lagi pastinya stagnan,” ungkapnya.
Bagi
musisi, perubahan arah musikal yang drastis adalah hal wajar. Saya teringat
bagaimana Linkin Park memporak-porandakan saya selepas album Minutes to Midnight. Namun bagaimanapun,
sebagai penggemar, saya tetap menikmati lagu mereka. Saya tidak murni kecewa
karena masih ada lagu-lagu asyik dan tetap membekas bagi saya. Toh, sekeras apa
pun membenci, selama musisi idola enjoy
aja, kita tidak bisa berbuat apa-apa karena hanyalah penikmat, bukan
pembuat.
Sama
halnya dengan “Akad”. Begitu dilepas, ada niat untuk menghujat. Sebagai pendengar
lama, ingin sekali rasanya memberikan komentar “Kenapa?”. Saya menggemari
Payung Teduh karena lirik-lirik yang aduhai pun dengan musiknya. Mendengarkan
Payung Teduh sama dengan merayakan romansa nan elegan. Namun, sehabis “Akad”
lahir, hal itu runtuh. Bagi saya, “Akad” adalah roman picisan, tak ada sisi indahnya
untuk dinikmati, lebih-lebih dirayakan.
Akan
tetapi, semakin besar saya menolak, semakin tinggi pula lagu itu dikonsumsi
orang. Mau tak mau saya dipaksa untuk mendengarkannya hingga tuntas. Efeknya, lagu
ini telah hinggap di dalam kepala saya tanpa permisi.
“Akad”
adalah persamaan “Someone Like You”-nya Adele atau “All of Me” milik John
Legend. Dua lagu Barat itu juga terngiang-ngiang di kepala saya tanpa sengaja
karena selalu hadir di tiap sudut. Lagu sejuta umat, sebut saja begitu.
Sekarang,
saya tak kuasa menahan gempuran “Akad”. Munafik rasanya jika terus menolak
karena kadangkala sewaktu mandi, entah kenapa ada bisikian untuk mengucap “bila nanti saatnya telah tiba….”
Rasa Baru Payung
Teduh
Lewat
Payung Teduh (2010) dan Dunia Batas (2012), band yang beranggotakan Is, Comi, Alejandro Saksame (drum), dan
Ivan Penwyn Panjaitan (guitalele, terompet)
ini menjadi salah satu garda depan folk
revival di Indonesia. Bermodal musik folk,
jaz, pop, keroncong yang mayoritas diselipi lirik puitis tentang cinta,
mereka dengan mudah menarik hati massa.
Namun,
pada 2017 ini, Payung Teduh mengganti jubahnya. Wujud metamorfosis Payung Teduh
bernama Ruang Tunggu. Album ketiga
yang telah dirilis pada 19 Desember ini terdengar lebih modern dan megah dari
dua album sebelumnya.
Sebelum
melepas Ruang Tunggu, Payung Teduh
lebih dulu mengeluarkan Live at Yamaha
Live and Loud. Jika dicermati, album itu ternyata menjadi kode atas
perubahan musikal Payung Teduh. Mereka kini lebih bereksplorasi.
Selain
ranah musikal, Payung Teduh juga bereskplorasi dari sisi distribusi. Album
fisik Ruang Tunggu diedarkan oleh
salah satu gerai ayam cepat saji. Ini jelas bahwa Is dkk. ingin menyasar
pendengar yang lebih banyak.
Mungkin
pertanyaan akan muncul dari langkah yang ditempuh Payung Teduh ini: Kenapa
Payung Teduh tidak indie lagi?
Apabila ada pertanyaan seperti itu, jawabannya hanya satu: Jika kamu pencinta
musik sejati, hanya ada dua hal dalam musik, yakni musik enak dan tidak enak.
Lagu-lagu mainstream tidak selamanya
tidak enak, dan indie juga bukan
berarti tempatnya musik-musik sedap. Karena musik adalah selera. mainstream maupun indie hanya masalah distribusinya.
Lalu,
seperti apa rasa baru Payung Teduh?
Ada
sembilan lagu di album ini. Ruang Tunggu langsung
dibuka oleh “Akad”. Mungkin dari sini Payung Teduh ingin menyampaikan bahwa
“inilah jiwa baru kami”.
Namun,
penempatan “Akad” sebagai lagu pertama bisa jadi adalah jebakan karena
setelahnya gaya bertutur Is sebagai penulis lirik utama di album ini menjadi
bernas dan tidak lagi picisan seperti “Akad”.
Suasana
lagu pertama dan kedua juga sangat kontras. “Di Atas Meja” terasa murung dan
depresif. Akan tetapi, memasuki bagian chorus,
Payung Teduh memberikan pencerahan melalui “Akan selalu ada tenang di sela-sela gelisah yang menunggu reda.”
diiringi harmonisasi petikan gitar nilon dan pipe organ. FYI, lagu ini menjadi single kedua Ruang Tunggu.
Dari
sembilan track di Ruang Tunggu, “Selalu Muda” rasa-rasanya
menjadi lagu paling ringan dan halus. Ada sedikit nafas Payung Teduh zaman old di sini. Lalu di lagu keempat, “Mari
Bercerita”, yang story telling-nya
sangat mengalir, Is mengajarkan satu hal: seorang laki-laki absurd ternyata
juga bisa bersahaja. Saya memang tidak mengenal Is secara personal, tapi saat
melihat aksi panggungnya, dia kerap melontarkan candaan absurd. Jika tidak
absurd, kenapa ada ikan paus di lagu ini?
Kemudian
di track lima dan enam, pendengar
disajikan dua hal yang sangat berbeda. “Muram” yang elektrik dan paling
berisik, serta “Puan Bermain Hujan” yang memasukkan keroncong. Payung Teduh
menepati janjinya pada lagu “Muram”. “Musiknya agak ada ke-Jepang-jepang-an,
ada rock klasiknya juga, dan
berisik,” terang Is saat meet and greet di
Kota Solo pada Agustus lalu.
Berbeda
dengan lagu sebelumnya, “Puan Bermain Hujan” mengajak pendengar meratapi hujan
menggunakan musik keroncong. Tembang ini adalah yang paling punya identitas
Payung Teduh rasa lama. Bedanya, keroncong yang mereka mainkan kali ini terasa
lebih jernih.
Di
telinga saya, Ruang Tunggu adalah
pustaka musik Payung Teduh. Karena ada banyak warna musik yang dimainkan.
Setelah pop hingga keroncong, di “Sisa Kebahagiaan”, mereka membumbuinya dengan
sedikit bossa nova yang dicampur orkestra. Sedangkan di lagu “Kita Hanya
Sebentar”, suasana jaz retro mengiringi Is mengucapkan kata demi kata secara
malas-malasan. Sebenarnya, lagu ini bakal terasa lebih syahdu jika ada seorang
penyanyi wanita yang menjadi teman duet Is.
Sebagai
penutup Ruang Tunggu, Payung Teduh
menempatkan “Kerinduan”. Lagu ini klimaks menjelang akhir. Seakan-akan
penggemar diajak untuk merayakan kerinduan yang bakal mereka rasakan. “Hanya tersisa kerinduan bersama kehampaan.
Berjalan dengan kerinduan.”
Ya,
selepas 31 Desember 2017, Payung Teduh kabarnya akan vakum setelah dua
pendirinya, Is dan Comi, mengundurkan diri.
Jam Dinding
Memang
cukup mengejutkan tatkala mendengar berita bahwa Is dan Comi berpisah dari
Payung Teduh. Namun, bukan band namanya
jika tidak dilanda badai.
Setidaknya,
di akhir tutup bukunya, Payung Teduh telah memberikan kenangan manis berupa Ruang Tunggu. Album ini bakal
benar-benar menjadi tempat penantian tak berujung bagi penggemar demi melihat
sang pujaan berkarya lagi.
Mungkin
itulah maksud dari jam dinding tanpa jarum yang ada di artwork album. Ada satu kemungkinan lainnya: walaupun Is, Comi,
Cito, dan Ale tak akan pernah mengusung bendera Payung Teduh lagi, tapi selalu
ada telinga dan hati yang terbuka untuk lagu-lagu mereka.
Seperti
kata Cholil Mahmud: “Hidup itu pendek, seni itu panjang”, maka abadilah.