Demi Sang Tua
Ibu dari segala bencana
Sesungguhnya ia berbicara
Dikabarkannya kuasa
Angin baratan pergi membawanya
Melalui celah-celah udara
Ditaburkannya senyawa kaca
Demi masa yang berganti
Hanya ada kelabu di langit pagi
Dengan congkaknya Sang Tua tak bersalam dengan mentari
Melalui tangannya yang terselip cincin api
Burung-burung besi tak berani terbang tinggi
Gejolak udara ditiup sangkakala
Deru gemuruh tercipta lewat kecepatan suara
Demi Sang Tua
Janji itu tertulis sebelum Adam tercipta
Untuk menjaganya
Entah kepada siapa manusia bisa berharap
Ketika Sang Tua mulai mengendap
Entah di mana manusia bisa bersembunyi
Tatkala Sang Tua menagih janji
Ini bukan legenda
Demi waktu yang menyibakkan misteri Sang Tua
Ibu dari segala warna
Ia datang saat manusia terlelap dalam dusta
Feb 16, 2014
Feb 2, 2014
Apakah yang Menarik dari Teater SOPO?
September
2012 lalu, sebuah pentas kolosal bertajuk “Matahati” menyambangi Solo. Sebuah
pentas tari dengan kemasan epik. Menjadikan pentas tari, yang semula banyak
orang memalingkan wajah darinya, seperti terhipnotis dan berduyun-duyunlah
mereka ke Pura Mangkunegaran. Bagi saya, penonton yang membludak dan duduk
berdesak-desakan, terasa tidak rasional untuk sekadar pementasan tari. Dan pasca
pentas, 140 karakter di Twitter seperti tidak dapat membendung euforia massa.
Segala puja-pujian tentang tata panggung, tata cahaya, penggarapan dan bla bla
bla yang lain; hilir mudik di lini masa saya. Saya tidak memungkiri bahwa saya
adalah bagian dari kerumunan yang bertepuk tangan sambil berkata “wah” usai
pentas. Dan tidak saya pungkiri juga bahwa saya adalah satu dari sekian banyak
kerumunan yang merasa iri disebabkan satu pertanyaan yang tiba-tiba terbersit
di pikiran: Apakah Teater SOPO bisa mewujudkan ini semua?
***
Ada
rasa bangga sekaligus haru ketika mengingat dua pentas itu. Beberapa tahun saya
berada di Teater SOPO, baru kali itu saya dibuat terkaget-kaget dengan animo
penonton yang begitu besar. Bikin-Bikin XVIII, Aula FISIP penuh sesak dan sudah
kelebihan muatan. Bikin-Bikin XIX, 200 lembar tiket sold out dalam tiga hari. Apresiasi
penonton yang begitu tinggi, melebihi ekspektasi kami. Ditonton 100-150 orang,
kami sudah bangga. Adalah tidak wajar ketika pentas kami ditonton oleh 200-250
orang. Saya malah curiga, apakah 100 orang yang lain adalah penonton bayaran?
Untuk
animo – dalam “skala wajar” jumlah penonton teater – mungkin pertanyaan di
akhir paragraf pertama sudah terjawab. Pertanyaan baru pun muncul: Apakah yang
menarik dari Teater SOPO?
***
Jika
standar seberapa-teaterkah-kamu dibandingkan dengan Teater Koma, Teater
Gandrik, Teater Garasi, Teater Ruang, atau teater-teater di luar sana yang
telah mempunyai nama besar dan orang-orang di balik layarnya yang “berilmu”,
maka perbandingan itu ibarat pungguk merindukan bulan. Kami tidak terlalu
se-seniman dan se-teater seperti mereka. Saya dan juga teman-teman masih
terlalu “hedonis” jika teater dianalogikan sebagai sebuah “jalan kebenaran”. Kami
masih sibuk memikirkan IP semester ini daripada memikiran kandungan semiotik dalam
setiap pementasan kami. Kami masih menyenangi game Go Fishing di Facebook daripada menonton Youtube untuk mencari
referensi cara pendialogan dan gesture yang
baik, Pun kami masih suka bergosip di wedangan
daripada membahas buku-buku sastra yang sedang banyak diperbincangkan orang akhir-akhir
ini. Hidup kami terlalu woles untuk terlalu memikirkan teater.
Adalah
utopia ketika kami ingin menghadirkan pementasan dengan tata panggung, tata
lampu, dengan venue besar yang dihadiri
banyak penonton seperti yang saya tulis di paragraf pertama. Jangankan menggelar
pementasan spektakuler, memikirkan biaya produksi saja kadang membuat kami
menghela nafas. Maklum, sekarang dari segi pendanaan kami dilatih menjadi mandiri
oleh kampus. Ibarat klub sepakbola lokal yang tidak didanai lagi oleh APBD,
begitulah kami selayaknya. Kami masih bersyukur ketika pihak kampus masih
memperbolehkan kami memakai fasilitasnya (baca: aula) untuk pentas. Namun kami juga
paham ketika beberapa kali pihak kampus tidak meng-acc surat permohonan
peminjaman tempat untuk pentas yang telah kami buat, dengan alasan yang dapat kami
“maklumi”.
Lalu
kenapa banyak orang suka dengan Teater SOPO? Bagi saya teater adalah media
hiburan kelas tiga – setelah film dan musik. Teater adalah hiburan bagi
orang-orang yang terpanggil dan terpilih, karena mindset orang tentang teater adalah hiburan yang membuat dahi
berkerut. Tapi faktanya mereka masih suka dengan pementasan kami. Apakah
mungkin genre kami yang berada pada “zona aman” membuat orang suka? Saya jadi
teringat obrolan dengan seorang teman. Dia berpendapat genre Teater SOPO adalah
pop. Dari segi naskah, pola penggarapan, permainan artistik; semua orang mudah
menangkap inti pementasan. Orang jarang menganggap kami sebagai “teater serius”,
mereka justru mengidentikkan kami dengan teater komedi. Mungkin persepsi orang ketika
datang, kemudian membayar tiket, mereka akan mendapatkan kebahagiaan dengan
tawa. Maka jangan salahkan mereka ketika di akhir pentas, mereka men-tweet, “Teater SOPO pecaaahh!!!”
***
Kami
masih jauh dari kata sempurna. Walaupun kesempurnaan itu tidak mustahil untuk
didapatkan. Untuk sebuah teater kampus, mendapatkan apresiasi yang besar dari
warga kampus (baca: penonton) adalah penghargaan tinggi bagi kami. Apalagi jika
pementasan yang kami tampilkan berkesan bagi mereka.
Kami
bukan entertainer profesional, kami
hanyalah mahasiswa yang berkamuflase menjadi penghibur. Ketika pentas berakhir,
banyak orang yang menyalami, mengajak berfoto bersama, sambil mengatakan: “Pentasnya
keren”, “Bagus”, “Sing dadi iki jenenge
sapa, nde? Mbok aku kenalke” adalah “konsekuensi” yang harus kami terima
walaupun sejujurnya pentasnya jauh dari yang diharapkan. Tak apalah, karena
konon katanya, menghibur orang itu mendapatkan pahala.
Lalu
pertanyaan baru muncul: Apakah ini semua akan bertahan? Jawaban klise saya: Biarlah
proses yang menentukan. Karena segala tepukan tangan ataupun caci maki di
akhir, berawal dari proses. Oh
iya, selamat menikmati Bikin-Bikin XX yang akan segera hadir. Terimakasih sejauh
ini telah menjadikan Teater SOPO sebagai – menurut Ashadi Siregar dalam Lifestyle Ecstasy – tempat rekreasi.
Subscribe to:
Posts (Atom)