Pernahkah kamu mendengar sebuah lagu dan tiba-tiba kamu berkata, "Wuuaannjiiirrr, ini lagu gue banget!" ? Karena kamu terhipnotis oleh lagu tersebut, akhirnya kamu memutuskan untuk menekan tombol repeat di pemutar musikmu. Begitu juga dengan esoknya, lalu esoknya lagi, dan entah sampai kapan kamu akan terus begitu karena lagu tersebut sangat-sangat mewakili perasaanmu. Paling tidak kamu berhenti mendengarkan lagu tersebut pada saat kamu tahu ada lagu yang lebih bikin jleb atau kamu sudah berganti ke suasana hati yang baru.
Ngomong-omong soal suasana hati, pastilah anak-anak muda zaman sekarang sudah sangat familiar dengan sebuah perasaan bernama galau. Ketika galau sedang melanda, kegalauan tersebut akan lebih indah dan bermakna ketika ada backsound. Hanya ada dua pilihan dengan musik ketika kamu galau: kamu berlarut-larut dalam kegalauan atau kamu beranjak move on dari kegalauanmu. Silakan tentukan pilihanmu sendiri.
Untuk yang memilih berlarut-larut dalam suasana galau, banyak lagu dengan tempo pelan dijadikan sebagai pelampiasan. Dan biasanya backsound galau massal berasal dari genre pop. Genre pop mungkin telah ditakdirkan sebagai pemanis duka dan luka. Coba saja lihat, anak galau mana yang tidak mendengarkan "Someone Like You"-nya Adele, atau lagu galau yang lagi nge-hits sekarang ini "A Thousand Years"-nya Christina Perri? Jika dikemudian hari ada seorang produser rekaman yang sedang galau, dan dia ingin mengeluarkan kompilasi album galau, maka pastilah dua lagu tadi berada dalam kompilasi tersebut. Dua lagu tadi memang menjadi galau anthem di tahun 2012 ini.
Galau is not crime. Semua orang berhak merasakan galau, termasuk saya. Saya mengakui kalau saya adalah pribadi yang rentan dengan galau, dan saya mengakui lagi kalau saya juga sering mendengarkan Adele dan Christina Perri sebagai soundtrack kegalauan saya. Tapi sekarang berbeda! Ya, berbeda! Karena sekarang saya mempunyai soundtrack galau dari sebuah band punk! Adalah band punk lokal bernama Speak Up yang harus bertanggungjawab terhadap kegalauan saya. Karena karya mereka memang layak konsumsi bagi para pecinta kegalauan. Lagu yang saya maksud adalah "Dilema Kehidupan", dari album Story Of Our Life (2008). Lagu ini "berbeda"dari lagu-lagu lain yang ada di album tersebut. Sebenarnya ada dua lagu akustik yang sangat galau anthemic dan akan menimbulkan koor massal ketika lagu tersebut dibawakan, tapi itu sudah terlalu umum. Saya menaruh perhatian kepada "Dilema Kehidupan", walaupun lagu tersebut up beat, tapi lagu tersebut enak didengarkan ketika galau. Lirik memang menjadi kekuatan bagi sebuah lagu, dan itu dibuktikan juga oleh Speak Up. "Dilema Kehidupan" mempunyai lirik tajam yang mempertanyakan takdir. Saya memang saat ini sedang mempertanyakan takdir, sehingga lagu tersebut sangat cocok untuk saya.
Terkadang takdir tidak bersahabat dengan kita, tapi takdir masih menjadi misteri, maka untuk kamu yang sedang mempertanyakan takdir, terutama takdir dengan siapa kamu akan menjalani hidup bersama, Speak Up memberikan solusi jitu. Mereka menulis, "...Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama selamanya. Maka takdirlah yang akan menyatukan kita, bersabarlah..."
Semakin bertambah galaukah? Atau jangan-jangan kamu sudah pasrah terhadap takdir? Atau malah jangan-jangan kamu menyalahkan takdir? Yang jelas, lagu ini adalah lagu yang hebat!
==========================================
Untuk yang memilih berlarut-larut dalam suasana galau, banyak lagu dengan tempo pelan dijadikan sebagai pelampiasan. Dan biasanya backsound galau massal berasal dari genre pop. Genre pop mungkin telah ditakdirkan sebagai pemanis duka dan luka. Coba saja lihat, anak galau mana yang tidak mendengarkan "Someone Like You"-nya Adele, atau lagu galau yang lagi nge-hits sekarang ini "A Thousand Years"-nya Christina Perri? Jika dikemudian hari ada seorang produser rekaman yang sedang galau, dan dia ingin mengeluarkan kompilasi album galau, maka pastilah dua lagu tadi berada dalam kompilasi tersebut. Dua lagu tadi memang menjadi galau anthem di tahun 2012 ini.
Galau is not crime. Semua orang berhak merasakan galau, termasuk saya. Saya mengakui kalau saya adalah pribadi yang rentan dengan galau, dan saya mengakui lagi kalau saya juga sering mendengarkan Adele dan Christina Perri sebagai soundtrack kegalauan saya. Tapi sekarang berbeda! Ya, berbeda! Karena sekarang saya mempunyai soundtrack galau dari sebuah band punk! Adalah band punk lokal bernama Speak Up yang harus bertanggungjawab terhadap kegalauan saya. Karena karya mereka memang layak konsumsi bagi para pecinta kegalauan. Lagu yang saya maksud adalah "Dilema Kehidupan", dari album Story Of Our Life (2008). Lagu ini "berbeda"dari lagu-lagu lain yang ada di album tersebut. Sebenarnya ada dua lagu akustik yang sangat galau anthemic dan akan menimbulkan koor massal ketika lagu tersebut dibawakan, tapi itu sudah terlalu umum. Saya menaruh perhatian kepada "Dilema Kehidupan", walaupun lagu tersebut up beat, tapi lagu tersebut enak didengarkan ketika galau. Lirik memang menjadi kekuatan bagi sebuah lagu, dan itu dibuktikan juga oleh Speak Up. "Dilema Kehidupan" mempunyai lirik tajam yang mempertanyakan takdir. Saya memang saat ini sedang mempertanyakan takdir, sehingga lagu tersebut sangat cocok untuk saya.
Terkadang takdir tidak bersahabat dengan kita, tapi takdir masih menjadi misteri, maka untuk kamu yang sedang mempertanyakan takdir, terutama takdir dengan siapa kamu akan menjalani hidup bersama, Speak Up memberikan solusi jitu. Mereka menulis, "...Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama selamanya. Maka takdirlah yang akan menyatukan kita, bersabarlah..."
Semakin bertambah galaukah? Atau jangan-jangan kamu sudah pasrah terhadap takdir? Atau malah jangan-jangan kamu menyalahkan takdir? Yang jelas, lagu ini adalah lagu yang hebat!
==========================================
Speak Up-Dilema Kehidupan
Penyesalanku semakin menguak di dalam rongga tubuh ini
Penderitaanku semakin di tubuhku
Hidup ini hanya sekali haruskah kuterbuai mimpi?
Hidup ini hanya sekali haruskah kuterbuai mimpi?
Jika memang ini semua guratan takdir yang tersurat
Akankah ini terus berselimut di dalam raga ini?
Hidup ini hanya sekali, kebahagiaanlah yang harus kucari
Biarkanlah, demi waktu yang akan terus berbicara
Akan di manakah, hati ini, bersauh, bertambat, berpijak?
Hidup ini hanya sekali haruskah kuterbuai janji?
Hidup ini hanya sekali haruskah kuterbuai mimpi?
Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama selamanya
Maka takdirlah yang akan menyatukan kita, bersabarlah
Hidup ini hanya sekali kebahagiaanlah yang harus kucari
No comments:
Post a Comment