Telah Dia titipkan setangkai bunga
Yang terus mewangi sepanjang hari
'kan kurajut mimpi indahnya seelok pelangi
'kan kurawat harumnya hingga langit berganti warna
Kuncup lugumu duhai mawar tersayang
Pujangga bercerita, bunda menimang
Di taman firdaus dengan sinar rembulan
Kau datang, beriku harapan
Teruntuk hidup yang kau hidupi. Hiduplah hari ini.
Mar 27, 2014
Menziarahi "Kini"
Satu hal yang dapat saya
petik tentang menulis naskah: ternyata menulis naskah lebih mudah daripada
skripsi. Baiklah, lupakan. Mari berbicara agak serius.
Kini,
naskah yang saya buat untuk melengkapi Pentas Bikin Bikin XX Teater SOPO. Kini adalah naskah pertama saya dengan
durasi panjang. Bagi saya menulis Kini adalah
suatu kebanggaan sekaligus bunuh diri. Ya, saya bangga bisa menghasilkan sebuah
karya dari otak saya, menandakan bahwa otak saya masih bisa diajak bekerjasama,
karena pikir saya neuron-neuron otak
saya (telah) berhenti bekerja. Terkait penilaian orang lain terhadap karya
saya, entah itu pujian ataupun kritikan, saya lebih suka menjadi apatis, Karena
tidak ada karya yang sempurna, sama halnya dengan Kini. Saya pun menyadari dalam penulisannya masih terdapat beberapa
bagian yang lemah. Harap maklum, saya pemula, bukan WS. Rendra.
Lalu bagaimana dengan bunuh
diri? Perlu dicatat, ini hanyalah konotasi. Jika kamu pernah membaca Kini dalam wujud naskah atau menontonnya
dalam wujud pementasan, mungkin satu hal yang terlintas di benakmu: depresif. JIka
diibaratkan, Kini adalah lirik lagu-lagu
Nirvana yang dikamuflasekan dalam bentuk naskah teater. Jangan identikkan Kini sebagai naskah berat atau serius. Kini hanyalah naskah parodi. Mungkin
selera humor Kurt Cobain dan saya sama: lebih suka memakai jokes satir yang cenderung sarkas. Jokes yang menguliti kehidupan, dan menempatkannya dalam posisi
terendah. Inilah bunuh diri. Saya masih menjalani kehidupan dan percaya terhadap
takdir, tapi dalam proses pembuatan Kini,
dua hal tersebut harus mengalah kepada keegoisan pembuat naskah. Semua
orang mempunyai alter ego, dan berkat
alter ego sayalah, Kini lahir. Alter ego yang dengan entengnya mengolok-olok kehidupan, menggambarkan
kondisi sebagai musuh utama, menjadikan kematian sebagai obyek jualan, dan menempatkan
takdir sebagai sesuatu yang telah menjadi “konon katanya”.
Kini
hadir
sebagai pengingkaran pepatah: “Yesterday
is history, tomorrow is a mystery, today is a gift.” Bagi saya, tidak ada kemarin
ataupun esok. Yang ada hanyalah sekarang, kini. Kita tidak bisa mengubah hari
kemarin, kita tidak bisa mempercepat hari menuju esok, mau tidak mau kita harus
berdiam diri di “kini”, entah apapun kondisinya. Salah jika mengatakan bahwa “today is a gift”, karena hari ini
adalah permulaan. Sebagai manusia kita tidak akan pernah tahu apa yang
dijanjikan oleh “kini”, entah itu luka ataupun bahagia. Begitu setiap harinya. Wajar
jika mengatakan bahwa hidup adalah dadu; seberapa cepat kocokan atau lemparanmu,
itu bukanlah cara terbaik untuk mendapatkan angka besar. Ya begitulah, hidup
adalah permainan.
Sudahlah. Tulisan ini
terlalu menjemukan. Perlu kamu garisbawahi bahwa: Kini bukanlah jawaban. Kini
adalah permulaan. Terlalu mudah bercerita tentang kematian. Terlalu mudah
menggambarkan kesunyian. Terlalu mudah menceritakan ini semua. Satu hal yang
sulit: Sudah siapkah melanjutkan perjalanan?
Subscribe to:
Posts (Atom)