Jun 28, 2014

Lindungi Aku

Aku berlindung dari aku yang tak kasat mata
Tertutupi debu, termakan hari
Jika mati yang kucari, akankah kutemui jawabnya nanti?

Aku berlindung dari aku yang tak kasat mata
Dunia bersimpuh di antara onggokan aku dan jendela
Jika keadilan yang kucari, akankah semua dapat berakhir bahagia?

Aku berlindung dari aku yang tak kasat mata
Dari kepala yang penuh dengan mengapa
Dari ingkarnya malam tanpa harapan di akhirnya
Dari pagi sama tanpa benderang cahaya

Jika aku dilindungi dari aku yang tak kasat mata
Akankah terselamatkan?


Jun 1, 2014

Menggugat Keimanan

Coba mengerti dan menghayati, pencarian terus kujalani. Tak hanya logika, tajamkan rasa, gunakan akal dan kesadaran. Terus bertanya dan membuktikan, agar ku yakin tak tergoyahkan. Menjaga sucinya jiwa, murnikan hati, agar aku pantas Kau jumpai.

Merasakan kehadiranMu yang ku mau. Bukan doktrin yang aku ingin, agar ku yakin.

Ku tahu Kau nyata, maka datanglah ke hatiku, bersenyawa. Ku tahu Kau nyata, maka datanglah ke batinku, bersenyawa.

 (Cupumanik – Syair Manunggal)


Suatu hal yang kabur tapi kita jalani. Suatu hal yang tak berbentuk tapi kita coba untuk mengerti. Suatu hal yang diyakini tapi tak jarang dipertanyakan. Dia bernama iman. 

Saya memandang iman sebagai pengakuan dan kepercayaan. Jika sesuatu telah diakui dan dipercaya, hampir tidak ada celah untuk mengkritisinya. Sehingga bagi beberapa orang, mempertanyakan keimanan sama saja dengan menyangsikan adanya Tuhan. Iman adalah kekekalan. Ia berada pada garis tegak lurus antara manusia dengan Tuhan. Maka dalam posisi ini manusia terkesan takut untuk mempertanyakan keimanannya. Dosa, tabu, atau mungkin – menggunakan istilah “populer kekinian” dalam Islam – bit’ah. Tidak, tidak seperti itu. Justru iman yang sehat dan berkualitas datang dari pergolakan, pertanyaan, dan kemudian dilakukanlah pencarian. Contoh, pernahkah kamu menganggap bahwa Tuhan tidak peduli dengan kita? Pernahkah di suatu keadaan kamu berontak dengan pertanyaan “Why me, God? Why always me?” 

Saya tidak menyangkal jika pemberontakan tersebut sering saya lakukan. Dan tak jarang pula keimanan – yang ditandai dengan kepercayaan – berada dalam zona degradasi. Saya sempat terbersit ingin menanggalkan keimanan, untuk kemudian memilih berada dalam “zona abu-abu” dan menjadikannya sebagai pelarian. Namun beruntunglah manusia karena kita diciptakan secara sempurna. Kita dianugerahi akal dan perasaan. Dua benda tersebut adalah filter dari sisi gelap manusia.

Melalui pertanyaan, akal, dan perasaan; manusia ibarat menciptakan racun sekaligus penawarnya. Kadang manusia terlampau liar dalam menggugat keimanan dengan menempatkan Tuhan sebagai Maha Egois dan Maha Tak Mendengar, tapi di satu sisi manusia mempunyai pertanyaan lain: Apakah benar Tuhan seperti itu adanya? Ataukah itu hanya penilaian yang berasal dari keputusasaan belaka?

Bagi saya, di saat pergolakan itulah sesungguhnya keimanan kita berada pada kualitas yang baik. Karena keimanan bukanlah pertanyaan retoris, maka dibutuhkanlah jawaban. Jawaban bisa kita temui dari pencarian. Mencari jawaban keimanan itu mudah, sebab dia ada di mana saja. Kamu bisa bertemu dengannya di jalanan, pasar, atau tempat-tempat “terburuk” sekalipun. Yang lebih “mengasyikkan”, dia datang secara tiba-tiba di waktu dan tempat yang tidak kamu ketahui. Kalau kamu pernah mengalaminya, hanya ada dua kemungkinan reaksimu: tertawa atau menangis. Ya, begitulah cara kerjanya, bukankah begitu?

Saya teringat kata-kata Cak Nun, dia berkata bahwa kita tidak perlu cara-cara ribet untuk bertemu dengan Tuhan, merasakan kehadiranNya, dan beriman kepadaNya. Mungkin dengan cara-cara sederhana seperti ini nilai-nilai keTuhanan bisa kita resapi. Tidak harus dengan cara merazia tempat hiburan malam, tidak harus berkoar-koar di corong masjid tentang golongan ini benar dan golongan itu salah, tidak harus mengarahkan opini publik bahwa calon presiden ini berasal dari agama ini, tidak harus! Dari apa yang saya sampaikan tersebut, mungkin orang awam berkata bahwa keimanan itu identik dengan kekerasan. Salah! Karena Tuhan tidak seserius seperti yang kita duga.

Apa kita menduga kalau ternyata Tuhan itu Maha Penyeloroh? Mungkin ketika Ia membaca tulisan ini, Ia berseloroh, “Tulisan macam apa ini? Tidak menarik sama sekali! Sok tahu, sok suci! Dan apa tadi kau bilang? ‘Why me? Why always me?’ Bagaimana jika Ku jawab, ‘Why not?’”