Sep 15, 2012

Kuliah Tujuh Menit

Kuliah tujuh menit itu adalah ketika kamu masuk kelas, kemudian duduk, absen, lalu kamu memperhatikan slide dari dosen dan tiba-tiba ternyata telah berada di bagian "terimakasih". Sebelum itu kamu bertanya dengan teman di sebelahmu "Mlebune wis suwe rung?" (masuknya udah lama belum?), dan teman di sebelahmu menjawab, "Kowe ning ndi wae? Iki wis hampir sak jam lho" (Kamu kemana aja, hampir sejam lho kuliahnya), lalu ketika percaya dan tidak percaya itu pada grade yang sama yaitu 50:50 maka kamu pun akan bertanya menggunakan kalimat "Apa iyo?Tenane? (Masa' sih?), temanmu lalu menjawab "Tenan!" (Beneran!). Dan jawaban itu diperkuat oleh dosen dengan menunjukkan slide bagian "terimakasih"nya sambil berkata, "Begitu materi kita hari ini, ada pertanyaan? Jika tidak ada kita lanjutkan minggu depan". Ketika dosen keluar, kamu bertanya, "Bu, masuknya jam 10.15 ya? Saya kira jam 11.00". Bu dosen pun menjawab, "Iya. Soalnya minggu kemarin keretanya telat". 

Kamu pun mengumpat dalam hati karena kekonyolan yang kamu perbuat sendiri atau tulisan ini bisa dipersingkat menjadi kata "malu". Dan kamu pun menyumpahi penjaga ruang transit dosen karena ketika kamu bertanya, "Mas, Ruang 6 mau wis dibuka?" (Mas, Ruang 6 tadi sudah dibuka?), mas penjaga ruang transit pun menjawab "Wis", lalu kamu bertanya lagi seakan tak percaya, "Wis suwe rung, mas?" (Sudah lama nggak, mas?), dan dengan PD level dewa, mas penjaga ruang transit pun menjawab, "Lagi wae og, ya sekitar 10 menitan lah" (Baru saja kok, paling sekitar 10 menitan). Karena rasa penasaranmu sudah terjawab dan jawaban itu kamu rasa valid, akhirnya kamu memutuskan untuk masuk kelas dengan PD-nya. Dan ternyata kamu mendapati tulisan di paragraf satu.




Dejavu and Another God's Work...

Percayakah kamu dengan dejavu? Kalau saya percaya. Karena saya beberapa hari lalu mengalaminya. Jika kamu belum tahu apa itu dejavu, Wikipedia telah menuliskannya. Jangan khawatir, definisinya pasti benar kok. Yah, memang karena ini bukan tulisan ilmiah jadi saya tidak memakai buku sebagai acuan. Wikipedia sudah cukup. Menurut Wikipedia, dejavu adalah the phenomenon of having the strong sensation that an event or experience currently being experienced has been experienced in the past. Dalam versi Bahasa berarti sebuah fenomena yang menyebabkan kita merasakan kembali suatu peristiwa yang sama yang pernah kita alami sebelumnya di masa yang lalu.

Ini pengalaman saya 2 minggu yang lalu, tepatnya 2 September 2012. Di hari itu saya mendampingi teman-teman Teater Anak Semanggi untuk piknik dan outbound. Ini adalah rangkaian acara yang diselenggarakan oleh tempat magang saya yang kedua yaitu Yayasan Kakak. Piknik dan outbound ini adalah media relaxing teman-teman Teater Anak Semanggi setelah mereka disibukkan oleh proses pentas. Rute pikniknya adalah Pantai Indrayanti-Pantai Baron-Malioboro.

Singkat cerita kami sudah sampai di lokasi pertama piknik yaitu Pantai Indrayanti. Rencana awal, di pantai inilah outbound akan digelar. Tapi melihat situasi dan kondisi tempat parkir bus, nampaknya plan A akan gagal terselenggara. Dan memang benar saja, ketika kami turun lalu menuju pantai, apa yang terjadi? Pantai itu penuh sesak oleh umat manusia. Dari ujung sampai ke ujung, tidak ada tempat sepeser, eh,  sejengkal pun yang bisa dijadikan tempat outbound. Setelah berunding akhirnya diputuskan untuk outbound di Pantai Sundak, karena jaraknya yang dekat dengan lokasi awal. Walaupun lokasi berdekatan, tapi perjalanan yang dibutuhkan sangatlah lama karena jalanan yang sempit didominasi oleh mobil dan bus dari 2 arah. Saya akui, pantai masih menjadi tempat tujuan wisata untuk melepas kepenatan dari rutinitas atau sekadar ber-having fun. Semua orang butuh relaxing, bukan? Jadi jangan salahkan jika kamu terjebak kemacetan ketika weekend. Karena weekend adalah hari besar bagi umat-umat manusia yang ingin me-relax-kan tubuh dan pikirannya.

Walaupun lokasinya berdekatan dengan Pantai Indrayanti tapi Pantai Sundak siang itu berbeda. Berbeda dari segi umat manusia yang ada di situ, berbeda dari segi fisik (Pantai Sundak lebih "nyaman" daripada Pantai Indrayanti", dan berbeda dari "keleluasaan mata" untuk memandang ("sudut pandangnya" lebih luas). Saya turun dari bus untuk mengecek kondisi pantai dan mendapati perbedaan-perbedaan tadi. Tapi yang menjadi konsentrasi saya ternyata bukan perbedaan-perbedaan tadi. Yang menjadi konsentrasi saya adalah persamaan. 

Ketika menapaki pasir di Pantai Sundak dan memandangi kondisi di sekitarnya, seketika itu juga otak saya yang telah merekam peristiwa, memutarnya kembali. Ibarat sebuah film, di mana ada seorang aktor yang berkunjung ke masa lalunya, dan melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di hidupnya. Saya bisa memandang peristiwa yang sama sekitar 1 tahun 2 bulan yang lalu. Ketika itu kami juga mengadakan outbound di tempat yang sama. Peristiwa itu bisa saya lihat dan terus diputar oleh otak. Peristiwa itu terjadi ketia saya magang, setahun lalu. Ketika itu saya dan teman-teman magang serta tiga orang teman dari Yayasan Pondok Rakyat, bersama teman-teman Kampung Bumen Kotagede mengadakan acara piknik bersama ke Pantai Sundak-Krakal-Baron. Dan ketika itu outbound juga dilakukan di Pantai Sundak. Itu adalah persamaan yang saya maksud. Tempat yang sama, dengan waktu dan orang yang berbeda. Seperti dejavu...

Karena jujur saja, saya rindu suasana magang pertama bersama 3 orang teman saya. Dan hampir saja, ketika tepat satu tahun magang pertama saya, saya berencana untuk menapak tilas jejak-jejak memori. Dari Solo-Jogja, menuju kostan saya dulu, tempat magang pertama saya dulu, tempat makan dekat kantor saya dulu, dan tempat turun lapangan saya dulu yaitu di Kotagede. Tapi rencana itu saya urungkan karena kesibukan yang saya jalani. Sekali lagi, saya rindu masa-masa itu. 

Dan sekarang dengan orang dan waktu yang berbeda, saya menjalani memori-memori itu lagi. Dan mencoba menggabungkannya dengan memori-memori saya terdahulu tapi dalam chapter yang berbeda. Saya juga berterimakasih atas kerja Tuhan. Karena menurut saya, Dia telah "menghadiahkan" peristiwa itu kepada saya dengan memindahkan tempat outbound. Jujur saja saya tidak menduganya. Sehingga saya bisa bernostalgia dengan memori-memori yang terputar di otak dengan cara "dadakan".

Belum lagi setelah perjalanan dari pantai menuju ke Malioboro. Di situ kami melewati Bukit Bintang, sebuah bukit dimana kita bisa melihat pemandangan di bawah berupa lampu-lampu kota dan lampu-lampu rumah, mirip seperti bintang. Dari magang pertamalah saya tahu tempat itu.

Bus kami parkir di Alun-Alun Utara. Anak-anak  TAS pergi ke Malioboro. Dan saya bersama 3 orang lainnya bertugas untuk membeli makan di Malioboro. Tapi tanpa disangka dan diduga ternyata kami salah jalan. Seharusnya jika kita ke Malioboro, kita ke jalan ke utara, tapi kami berjalan ke timur yaitu ke arah Wijilan. Tapi dengan keblasuk-nya kami, saya juga menyadari bahwa itu adalah kerja dari Tuhan. Wijilan adalah tempat yang memorable bagi saya karena dari jalan itulah biasanya kami pulang menuju Solo. Ahhh..another God's work..

Dan puncaknya adalah ketika perjalanan pulang ke Solo. Saya kira bus akan keluar dari Jogja melalui jalur Gembiraloka tapi ternyata salah. Bus yang kami tumpangi keluar melalui Kotagede. Saya tahu ini adalah jalan menuju Kotagede. Lagi-lagi memori-memori di otak saya diputar. Karena jalanan itu menyimpan memori. Kami dulu jika ke lapangan selalu mengarungi jalan itu. Dari balik jendela bus, memori-memori di otak saya memutar bagian di mana saya dan teman-teman, siang hari, mengarungi jalanan itu, di tiap hari. Saya hanya bisa menempelkan wajah saya di jendela bus. Dan tiba-tiba saja, bus kami melewati sebuah restoran yang menjadi tempat perpisahan kami dengan teman-teman Kampung Bumen. Hampir saja air mata saya menetes...

Tuhan itu memang berbaik hati bagi hamba-Nya. Saya salah satu contohnya. Karena Dia-lah yang mengatur semua ini. Kadang Dia pasti memberi "hadiah" yang tanpa kita duga. Sama seperti saya, niatan yang hampir tidak jadi saya lakukan akhirnya terjalani sehingga niatan saya untuk menapak tilas memori-memori setahun yang lalu sudah bisa dikatakan terpenuhi. 

Pengalaman yang sungguh tak terlupakan. Dejavu dengan waktu, orang dan kondisi yang berbeda. God is working behind the scene...