Apr 25, 2010

….
Kami tak percaya lagi pada itu,
Partai politik,
Omongan kerja mereka tak bisa bikin perut kenyang,
Mengawang jauh dari kami punya persoalan
Bubarkan saja itu komidi gombal,
Kami ingin tidur pulas,
Utang lunas,
Betul-betul merdeka,
Tidak tertekan,
….
Tegasnya = aku menuntut perubahan!
(Wiji Thukul "Aku Menuntut Perubahan", 1992)

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Yah, sebuah puisi penantang kemapanan. Terbaca pada malam ini dan akan teringat seterusnya.
Dari seorang yang ditakuti oleh pemerintah serupa Nazi dulu. Wiji Thukul, dimanapun engkau berada sekarang , suaramu akan selalu lantang menantang congkaknya zaman....

-------------------------------------------------------------------------------------------------



Apr 17, 2010

Senandung Pemecah Sunyi

Gemuruh langit sama saja dengan gemuruh hati ini yang galau. Ditemani serbuan hentakan penghenti detak jantung , irama pemecah kesunyian , yang mulai menguap seperti beberapa batang angkara yang saya hisap , seperti produk alam yang berkulit dan kadang-kadang peribahasa menyangkutpautkannya dengan perumpamaan "lupa kulitnya" , sebuah analogi usang....

Malam ini , adalah malam di mana kesunyian dan kemarahan memperbudak , merayap memasuki celah-celah hati nurani yang membeku tanpa sebab dan berontak menjadi semacam "kewajiban" tak bersyarat. Berpikir ulang untuk mencari semacam "tumbal" namun ketika otak mulai melakukan "proses ilmiah" yang wajar , maka hal itu nampaknya akan sia-sia. Tak bisakah menantang takdir? Apakah takdir tak bisa dilawan?

Di sana , mereka berjuang mencari "keputusan". Di sini, saya menunggu"hal yang semu" tapi "hal yang semu" itu adalah suatu hal yang saya hormati petuahnya , pengorbanannya dan ketabahannya. Menanti hingga jam membunuh saya , melumat jasad saya dengan kepenatan tak bertuan. Ketika tujuh telah mendekati angka dua puluh , maka saat ini saya masih tersadar bahwa hidup kadang-kadang tak menyenangkan untuk sesaat , tak selamanya.....

Mencoba untuk bertahan , tapi meracau untuk kemudian . Mengadili hidup , bermain takdir...... Semoga "merdeka" suatu saat kelak...

Apr 12, 2010

Antiklimaks ketakutan

Detik ini, menit ini, jam ini
Terasa asing bagiku
Lamban saja langkahku malam ini
Tak peduli seberapa beratkah langkahku

Kepulan asap ini menandakan bahwa,
Separuh dari diriku telah mati
Mata ini, ya mata ini
Terasa berat menahan gemuruh jiwa

Raungan mesin-mesin itu
Adalah sebuah jawaban dari,
Betapa takutnya aku akan hari esok
Masihkah esok adalah suatu yang indah?

Kuhisap batang ini
Sebatang penghabisan
Bara apinya adalah
Kemurkaan, kemarahan dan ketakutan

Cukup segelas saja
Pahitnya tak tergantikan
Walaupun gula telah mencampuri
Tetapi tetap saja pahit...

Berat, masih terasa berat
Malah bertambah berat
Lebih dari yang kukira
Ketakutan tanpa alasan

Hingga saat ini aku masih tersadar
Bahwa esok adalah hari baru
Tak bisa tertawa, tangispun "semoga",
Tak ada merdeka

Esok... Tanda tanya
Mentari... Masih menjadi musuhku
Hari baru.... Persetan denganmu
Adakah yang berani?

Apr 4, 2010

Ironi Pagi

Pagi ini,

Kumulai pagi ini dengan mencari oksigen terbeli
Memacu jantung untuk merayakan hari
Keringnya embun adalah sebuah alibi
Pergi seenaknya untuk menyambut pagi ini
Kicauan burung adalah sebuah ironi
Mengganti pagi ini dengan mimpi
Tataplah pagi ini tataplah bumi ini
Oksigenmu menipis, hampir habis

Oksigen terurai
Bernafas dalam polutan kota ini
Oksigenku hilang
Selamat datang jiwa tak tenang

Pagi ini,

Sinar mentari muram warnanya
Sinarnya tak bisa menembus hitamnya kota
Langitpun tak biru warnanya
Bercampur karbon sehitam jelaga
Laju sepedamu terlalu lamban
Lelah menapaki pagi ini yang telah usang
Tataplah pagi ini tataplah bumi ini
Oksigenmu menipis, hampir habis


Oksigen terurai
Bernafas dalam polutan kota ini
Oksigenku hilang
Selamat datang jiwa tak tenang


Larilah dari pagi ini
Larilah dari hari esok yang tak pasti