Mar 25, 2012

The Diary Of Blue Man (part 2)

Jalanan mengganas
Menerjang aspal panas
Bertempur dengan badak baja
Hanya satu kata terucap: Jahanam!

Jalanan Solo-Purwodadi di kala pagi yang masih larut sangat-sangat JAHANAM! Jangan kau pacu motormu jika kau tidak ingin meregang nyawa di sana! Itulah kesan pertama saya melintasi jalan Solo-Purwodadi, banyak aspal yang telah mengelupas, bung! Alias banyak lubang-lubang jahanam di jalanan! Tak bisa saya hitung berapa kali saya terjerembab ke dalam black hole tersebut.

Event kali ini menyambangi Sumberlawang pada Rabu 14 Maret 2012. Titik kedua dari event Hiburan Keliling ****** (maaf saya sensor, nanti saya dikira promosi). Titik kedua yang masih berada dalam kabupaten Sragen. Dan titik kedua kali ini sungguh-sungguh spesial. Hal pertama yang saya lakukan adalah kaget. Hal kedua yang saya lakukan adalah hanya bisa berkomentar "Ngko pas dangdutan sapine melu joget". Banyak makhluk-makhluk berkulit putih di event kali ini. Karena di titik kedua ini kami menyambangi sebuah pasar sapi. Amazing!

Venue berada di tepi jalan, hanya selebar kurang lebih 4 meter. Tidak membutuhkan waktu yang lama kami menyusun panggung dan tenda untuk selling dan permainan. Venue berada di depan pasar hewan tersebut dan berada di tengah-tengah parkiran mobil-mobil berbak terbuka yang mengangkut makhluk-makhluk berkulit putih tersebut. Sebenarnya venue adalah tempat atret (tempat berputar arah) bagi mobil-mobil yang mengangkut sapi. Tapi tak apalah bisa dikondisikan. Sebe

Setelah selesai, saya mencoba sms teman kuliah saya, saya berpesan kepada teman saya supaya kalau ada tugas saya minta dikabari. Sambil ngeteh, saya mendapat sms dari teman saya tersebut. Dan apa yang terjadi? Ternyata ada quiz!! Saya langsung galau mendadak. Dan langsung teringat kata-kata ibu saya "Kowe oleh kerja, kui go pengalaman. Tapi aja ninggalke kuliah. Kowe dina Rabu enek kuliah to? Kok kerja?" ("Kamu boleh bekerja, itu jadi pengalaman. Tapi jangan meninggalkan kuliah. Hari Rabu kamu ada kuliah, kan? Kok kerja?) Begitulah kata-kata ibu saya yang hanya saya jawab "Yo ngko tak kondo bosku" ("Ya nanti saya bilang ke bos"). Sebuah jawaban yang, sebenarnya, saya jawab dengan agak acuh. Pelajaran hari itu adalah: hormatilah ibumu, turuti perintahnya, jika ingin menjadi manusia super. Teman saya mendapat kabar dari teman saya satunya lagi, dia nampaknya diberitahu oleh Pak Dosen. OMG! This is another mistake that I've made by myself, again.. Jahanam! Saya mengutuk diri saya sendiri atas kebodohan yang saya buat sendiri :(

Dengan kegalauan akan menghukummu!

Make up-an dengan galau, dan bertambah galau lagi ketika pada waktu make up-an di salah satu rumah warga yang dipenuhi oleh hewan peliharaan berupa ayam, saya menginjak kotoran ayam. Caution: TAI. Kotoran ayam tersebut menempel di sandal, sudah saya coba untuk menghilangkannya tapi masih ada sedikit yang menempel dan tentu saja baunya yang lebih sedap parfum. Dan konyolnya lagi sandal tersebut saya masukkan tas. Indah ya?

Jahanam! Kali ini saya mengutuk panas yang menyengat! Kepala sudah hampir meledak, mata sudah berkunang-kunang, kaki tak lagi dapat menahan beban, apalagi sepatu saya yang kekecilan menyebabkan jari-jari kaki saya tidak fleksibel bergerak, menyebabkan jari-jari kaki saya tidak aerodinamis dan menyebabkan jari-jari kaki saya tidak mempunyai tingkat mobilitas sosial yang tinggi. Mana air? Mana air? Mana air? Itulah yang saya harapkan. Saya berharap agar cepat selesai, dan setiap lagu dangdut dengan durasi lama, saya mengutuknya di dalam hati. Saya menghibur diri dengan turut berjoget ala manusia Sule, tapi itu justru harakiri bagi saya karena tambah lelah. Apalagi pose-pose yang menikam maut, yang menyebabkan jari-jari kaki saya makin sulit bernafas. Oh Tuhan, saya curhat kepada Mu melalui tulisan saya ini, sebenarnya waktu masih sekolah saya adalah anak yang baik dan tidak nakal, tapi kali ini Engkau mempersilakan saya untuk bisa menikmati nikmatnya disetrap seperti teman-teman sekolah saya dulu yang nakal. Atau inikah hukuman yang Engkau berikan karena saya tak mematuhi kata-kata ibu saya? Hanya Engkau yang tahu, Tuhan..

Dan saat-saat yang ditunggu tiba juga: break time! Segera saja saya pesan es teh, dan satu piring nasi tumpang. Satu gelas nampaknya tak cukup, langsung saja saya pesan es teh kloter kedua. Menanti tampil lagi sambil menghirup oksigen angkara yaitu rokok. Sambli memijat-mijat jari-jari saya, jari-jari ini manja sekali dan nampaknya jari-jari saya malu karena berwarna merah.

Tapi saya salut kepada warga Sumberlawang karena crowd yang lumayan bagus. Sama bagusnya dengan saweran-saweran yang diberikan kepada penyanyi dangdut. Saya iri karena tidak medapat saweran. Para penjual sapi itu bernyanyi bersama, berjoget bersama, sungguh pemandangan yang menarik. Dan respon warga Sumberlawang pun juga begitu baiknya. Sama baiknya dengan penjualan rokok yang soldout.

Singkat cerita, titik kedua selesai sudah. Saatnya bongkar-bongkar. Dan ketika bongkar-bongkar, dan ketika itu saya sudah tanpa make up, ada satu bapak-bapak yang berkata "Loh mas, sampeyan ternyata bagus nuk, saestu" (Loh mas, kamu ternyata ganteng juga. Beneran deh"). Terimakasih atas pujiannya, pak. Tapi saya akan lebih senang jika yang meng-klaim saya ganteng adalah mbak-mbak SPG atau penyanyi dangdutnya.

Perjalanan ke Solo ditemani rintik hujan, dan The Diary Of Blue Man akan bersambung lagi seperti "tradisi" sinetron-sinetron di TV..


Mar 12, 2012

The Diary Of Blue Man (part 1)

Dari judul terdengar seperti sebuah film bergenre fiksi ilmiah, ya? Tapi yakinlah saya tidak menjadi seorang penulis naskah apalagi sutradara apalagi seorang aktor dengan wajah ganteng dan perut six pack. Judul tersebut saya pilih karena saya akan menceritakan pengalaman saya menjadi seorang "Blue Man". Blue Man bukanlah alter ego saya, bukan pula sebuah film blue yang menjadikan saya sebagai bintangnya tapi Blue Man sebenarnya adalah sebuah tugas atau bahasa kerennya (karena menghasilkan uang) adalah sebuah "job". Yap Blue Man adalah sebuah job untuk saya. Saya mendapat job ini karena ditawari pekerjaan oleh teman saya. Dan sekadar info, bos dari EO ini adalah alumni dari organisasi kami, jadi lumayan gampanglah untuk dapat job, hehehe.. Event ini juga merupakan promosi dari salah satu produk rokok. Event ini berlokasi di pasar-pasar di sekitaran Surakarta. Semacam grebek pasar gitu lah. Dalam event ini selain selling produk, juga ada hiburan seperti musik dangdut, games, dan tentu saja: Blue Man yang bisa diajak foto bareng.

Jadi secara harfiah dan secara etimologis dan secara definitif, Blue Man adalah manusia patung yang didandani atau dilumuri cairan berwarna biru. Nah terkait pemakaian alat make up ini, saya agak galau sebenarnya. Karena saya memakai pigmen biru. Konon katanya pemakaian pigmen dalam durasi sekian jam itu bisa membuat kulit iritasi. Itulah yang saya takutkan. Niatan mau membeli yang lebih "aman" bagi tubuh tapi apa daya duit yang dikasih bos hanya cukup untuk membeli pigmen. Tak apalah, saya berdoa kepada Tuhan semoga bahan ini aman, sama amannya dengan penghasilan dari menjadi Blue Man yang semoga bisa mengamankan isi dompet.

Event pertama hari Sabtu kemarin tanggal 10 Maret bertempat di Pasar Masaran, Sragen. Berangkat dari kantor jam 04.00 (waktu yang "tidak normal" bagi saya karena bila waktu normal, jam itu 04.00 saya masih berada di alam mimpi). Masih dengan kondisi mata yang agak berat, saya mengutuk jalanan Solo-Sragen karena jalanan yang sempit, berlubang dan moda transportasi yang saling memacu kecepatan. Jahanam!

Sampai di lokasi, saya dan teman-teman langsung loading barang dan kemudian langsung menge-sett panggung dan tenda. Setelah selesai, saya bersama seorang calon Blue Man lainnya langsung make up-an. Sempat terkendala karena tidak ada kaca, tapi partner Blue Man saya memberikan solusi jitu untuk menggunakan kaca spion. Ahhh.. betapa bodohnya saya!
Dalam mengoles-oles pigmen biru yang telah saya racik ala chef dengan sinwid dan baby oil akhirnya menjadikan sebuah produk berwarna biru yang kemudian saya oles-olesi ke bagian tangan, kaki dan wajah. Agak tidak ikhlas saya mengolesi cairan tersebut ke wajah, karena dengan serta merta akan mengkamuflasekan kegantengan saya. Mbak-mbak SPG dan mbak-mbak penyanyi dangdut pun sampai tidak meminta nomor HP saya..

It's show time! Tanpa rasa minder (karena berada di daerah yang orang-orangnya, insyaallah, tidak saya kenal) saya langsung tampil di samping panggung. Pose pertama saya adalah pose orang ngupil. Dan pose-pose selanjutnya saya lupa, yang penting urat malu telah saya buang jauh-jauh. Dan ketika mbak-mbak penyanyi dangdut tampil saya hanya bisa berdoa semoga saya diberikan pikiran jernih, karena kalau tidak jernih mengakibatkan ada sesuatu yang menohok..

Ketika event kemarin, yang menarik adalah hadirnya seorang anak yang, maaf, agak terganggu kejiwaannya yang terus menari di setiap penyanyi dangdut bernyanyi. Dan tingkah si anak tersebut justru nampaknya lebih menarik dari mbak penyanyi dangdut. Dan hey, dia juga sempat "njawil njawil" saya. Tapi tidak apa-apa sih, selama tidak mengganggu. Malah saya ajak tos dan dia merespon. Anak tersebut memang butuh perhatian yang ekstra dan membutuhkan media sosialisasi yang berbeda pula.

Perjalanan Bandung-Solo selama 8 jam naik kereta ekonomi dalam kondisi berdiri, tidak ada tempat duduk dan penuh sesak, lebih saya pilih dibanding dua jam menjadi patung. Tantangannya lebih besar menjadi patung karena selain cuaca juga faktor audiens yang ada. Dan yang saya sayangkan adalah tidak bisa berfoto dengan kimcil, karena mana mungkin kimcil menjamah pasar tradisional?

Bersambung..