Detik berganti menjadi menit, menit berganti menjadi jam, jam berganti dengan hari, hari berganti menjadi bulan. Perputaran waktu di dunia ini semakin lama semakin cepat, menurut saya. Benar kata Muse bahwa "the time is running out". Kemarin saya rasa baru saja melihat pertentangan awal Bulan Ramadhan di media. Tapi sekarang, hari ini, Bulan Ramadhan telah berlalu. Hari ini adalah 2 Syawal 1433 H, sebuah hari yang masih bertajuk Hari Lebaran.
Sebegitu cepatkah hari berganti? Ataukah saya yang bodoh karena tidak mengisi hari-hari itu dengan kegiatan yang baik sehingga saya rasa berlalu begitu saja? Ya, benar, berlalu. Hari yang berlalu itu adalah sebuah hari dimana kamu tidak menikmati hari tersebut, dengan kata lain hari itu tidak memiliki kesan sama sekali terhadapmu. Kesan di sini adalah akibat. Penyebabnya adalah kamu sendiri, kamu adalah aktor di panggungmu sendiri. Dan panggung itu bernama hari. Jadi jangan salahkan hari jika ia tidak memiliki kesan terhadapmu.
Itu yang saya rasakan. Bulan Ramadhan yang pergi begitu saja tanpa meninggalkan kesan. Saya Muslim, saya percaya Tuhan dan saya mencoba untuk beribadah kepada-Nya. Tapi apa yang saya lakukan pada Bulan Ramadhan kemarin seolah hanya "formalitas" sebagai seorang Muslim. Hiperbolis yang saya rasakan ketika saya Muslim, tapi saya tidak merasakan berada di bulan yang penuh berkat tersebut. Berbeda dengan kebanyakan Muslim lainnya dimana mereka menyambut bulan tersebut dengan antusias, mencoba "berdialog" dengan Tuhan dan merasakan kesedihan ketika bulan tersebut berlalu.
Yang saya rasakan sekarang adalah kekecewaan. Benar kata orang bahwa kecewa itu datangnya belakangan. Kecewa ini saya rasakan karena, saya sebagai Muslim tidak bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan kalaupun toh bisa mendekatkan diri kepada Tuhan maka pendekatan tersebut tidak didasari dengan satu hal yang bernama rasa. Rasa perlu kita bina ketika kita mencoba untuk "berdialog" dengan Tuhan. Rasa disini tidak harus kita dapatkan ketika kita mendapatkan masalah. Kamu pasti pernah menangis ketika ada masalah, dan ketika itu juga kamu berdialog dengan Tuhan. Itu bisa dikatakan rasa. Tapi pernahkah kamu berdialog kepada Tuhan pada saat merasa senang dan akhirnya kamu menitikkan air mata? Menciptkan rasa memang butuh proses. Apalagi kita adalah manusia yang derajat keimanan kita terapung-apung. Saya tidak akan memberikan solusi bagaimana cara mendapatkan rasa, karena jujur saja, saya belum bisa hingga tingkat itu. Dan karena rasa terhadap Tuhan bagi setiap manusia itu berbeda-beda.
Hubungan kita dengan Tuhan harus ditingkatkan dari sekarang. Untuk mengobati rasa kekecewaan, 11 bulan ke depan harus kita lumat habis. Jangan terlalu euforia terhadap Bulan Ramadhan, dengan asumsi bahwa Ramadhan tahun depan kita tidak akan berjumpa dengannya. Karena perjalanan yang sebenarnya adalah 11 bulan ke depan. Ingatlah bawha 11 bulan akan terasa panjang Dan akankah kita merasa kecewa lagi ketika bulan-bulan tersebut kita lewati tanpa rasa? Sehingga kita tidak dapat me-rasa-kan keindahan Sang Pencipta. Karena sesungguhnya, Tuhan adalah sahabat terbaik kita. Itu adalah jalan terbaik, jika kamu memahami.
Semoga kita mendapatkan kefitrian. Pahamilah maka kamu akan merasakan kehadiranNya di dirimu.
