Aug 20, 2012

Me-Rasa-Kan Tuhan

Detik berganti menjadi menit, menit berganti menjadi jam, jam berganti dengan hari, hari berganti menjadi bulan. Perputaran waktu di dunia ini semakin lama semakin cepat, menurut saya. Benar kata Muse bahwa "the time is running out". Kemarin saya rasa baru saja melihat pertentangan awal Bulan Ramadhan di media. Tapi sekarang, hari ini, Bulan Ramadhan telah berlalu. Hari ini adalah 2 Syawal 1433 H, sebuah hari yang masih bertajuk Hari Lebaran. 

Sebegitu cepatkah hari berganti? Ataukah saya yang bodoh karena tidak mengisi hari-hari itu dengan kegiatan yang baik sehingga saya rasa berlalu begitu saja? Ya, benar, berlalu. Hari yang berlalu itu adalah sebuah hari dimana kamu tidak menikmati hari tersebut, dengan kata lain hari itu tidak memiliki kesan sama sekali terhadapmu. Kesan di sini adalah akibat. Penyebabnya adalah kamu sendiri, kamu adalah aktor di panggungmu sendiri. Dan panggung itu bernama hari. Jadi jangan salahkan hari jika ia tidak memiliki kesan terhadapmu.

Itu yang saya rasakan. Bulan Ramadhan yang pergi begitu saja tanpa meninggalkan kesan. Saya Muslim, saya percaya Tuhan dan saya mencoba untuk beribadah kepada-Nya. Tapi apa yang saya lakukan pada Bulan Ramadhan kemarin seolah hanya "formalitas" sebagai seorang Muslim. Hiperbolis yang saya rasakan ketika saya Muslim, tapi saya tidak merasakan berada di bulan yang penuh berkat tersebut.  Berbeda dengan kebanyakan Muslim lainnya dimana mereka menyambut bulan tersebut dengan antusias, mencoba "berdialog" dengan Tuhan dan merasakan kesedihan ketika bulan tersebut berlalu.

Yang saya rasakan sekarang adalah kekecewaan. Benar kata orang bahwa kecewa itu datangnya belakangan. Kecewa ini saya rasakan karena, saya sebagai Muslim tidak bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan kalaupun toh bisa mendekatkan diri kepada Tuhan maka pendekatan tersebut tidak didasari dengan satu hal yang bernama rasa. Rasa perlu kita bina ketika kita mencoba untuk "berdialog" dengan Tuhan. Rasa disini tidak harus kita dapatkan ketika kita mendapatkan masalah. Kamu pasti pernah menangis ketika ada masalah, dan ketika itu juga kamu berdialog dengan Tuhan. Itu bisa dikatakan rasa. Tapi pernahkah kamu berdialog kepada Tuhan pada saat merasa senang dan akhirnya kamu menitikkan air mata? Menciptkan rasa memang butuh proses. Apalagi kita adalah manusia yang derajat keimanan kita terapung-apung. Saya tidak akan memberikan solusi bagaimana cara mendapatkan rasa, karena jujur saja, saya belum bisa hingga tingkat itu. Dan karena rasa terhadap Tuhan bagi setiap manusia itu berbeda-beda.

Hubungan kita dengan Tuhan harus ditingkatkan dari sekarang. Untuk mengobati rasa kekecewaan, 11 bulan ke depan harus kita lumat habis. Jangan terlalu euforia terhadap Bulan Ramadhan, dengan asumsi bahwa Ramadhan tahun depan kita tidak akan berjumpa dengannya. Karena perjalanan yang sebenarnya adalah 11 bulan ke depan. Ingatlah bawha 11 bulan akan terasa panjang Dan akankah kita merasa kecewa lagi ketika bulan-bulan tersebut kita lewati tanpa rasa? Sehingga kita tidak dapat me-rasa-kan keindahan Sang Pencipta. Karena sesungguhnya, Tuhan adalah sahabat terbaik kita. Itu adalah jalan terbaik, jika kamu memahami. 
 
Semoga kita mendapatkan kefitrian. Pahamilah maka kamu akan merasakan kehadiranNya di dirimu.

Aug 18, 2012

Ramadhan Ohh Ramadhan: Yang Unik Dari Ramadhan. #04 Edisi 30 Hari Membuang Lemak

Selain bulan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Ilahi, Bulan Ramadhan juga merupakan sebuah agenda tahunan bagi sebagian orang yang mempunyai masalah dengan berat badan. Tujuan utama pastinya adalah untuk mengurangi berat badan. Sambil menyelam minum air, berpuasa dijadikan alat praktis untuk mengurangi lemak yang telah menumpuk di badan ini. Inilah saatnya untuk membuang lemak-lemak jahat!

Saya termasuk salah seorang yang mengagendakan diet instan tersebut. 30 Hari Membuang Lemak. Itulah judul agenda bagi saya. Rencana awal, di Bulan Ramadhan ini, saya harus bisa menurunkan berat badan dan mengurangi kebuncitan di perut, yang semakin hari semakin buncit saja. Ini adalah revolusi! Ini adalah revolusi! Sama seperti SBY yang selalu merasa prihatin, saya pun juga demikian. Bedanya, SBY prihatin kepada kondisi negeri, sedangkan saya selalu prihatin ketika berkaca dan mendapati ada sesuatu yang buncit yang bersembunyi di balik kaos yang saya pakai. Itulah perut saya! Six pack sudah tidak mungkin saya dapati, yang saya inginkan adalah perut yang "normal". Itu saja!

Memang saya akui, kebuncitan di perut saya semakin bertambah. Dulu banyak orang yang berkata kalau saya kurusan. Tapi karena dunia yang sangat cepat berlalu dan tidak pernah kita duga akan seperti apa, predikat kurus itu telah sirna. Dan jika orang bertemu dengan saya, maka berkata "Kamu kok sekarang gendutan?". Sedikit bercerita, dulu pernah perut saya hampir seperti perut-perut normal lainnya, akan tetapi karena nafsu makan semakin bertambah seiring kegalauan yang semakin memuncak, akhirnya saya pasrah terhadap kondisi seperti ini. Galau memang mempengaruhi siklus makan saya, karena setiap galau, 2 piring makanan saya habiskan. Setelah habis, langsung tidur, masalah galau selesai. Tapi efeknya bisa kalian lihat ketika melihat perut saya. Jadi saya berpesan bagi Anda-Anda yang galau, galau bisa diatasi dengan makan lebih dari 1 piring. Makanlah! Makanlah! Makanlah!

Kembali ke puasa, niat dan rencana untuk menurunkan berat badan dan merubah bentuk perut, nampaknya juga akan berlalu tanpa hasil. Kenapa? Karena niat dan rencana tersebut dipatahkan oleh kondisi yang ada. Kondisi yang saya alami adalah, saya berada di sebuah keluarga yang ketika berbuka selalu tersaji banyak makanan di meja makan. Saya tidak bermaksud sombong di sini. Karena itulah realita yang ada. 

Saya pernah mendengar pernyataan jika memubadzirkan makanan itu tidak baik. Berangkat dari pernyataan itulah maka saya tersadar untuk menghabiskan makanan yang ada. Daripada dibuang ke tempat sampah, alangkah lebih baiknya jika kita makan. Ibu saya pernah saya beritahu, jika jangan terlalu banyak menyajikan menu berbuka puasa. Tapi mungkin karena rasa sayangnya kepada saya, dia tetap saja menyajikan makanan-makanan yang sangat-sangat tidak mendukung rencana awal saya untuk membuang jauh-jauh lemak yang ada demi mendapatkan bentuk perut yang normal.

Mungkin ini hikmah yang diberikan Tuhan untuk tidak memubadzirkan makanan. Jadi jika Anda mengalami masalah yang sama dengan saya, maka ketahuilah jika kita adalah orang-orang yang tidak memubadzirkan makanan. Dan juga ketahuilah, perut buncit kita adalah anugerah.

Aug 17, 2012

3 Hal yang Menjadikanmu Pahlawan: Rela, Ikhlas, Tanpa Paksaan

"...A hero of war
Yeah that's what I'll be
And when I come home
They'll be damn proud of me
I'll carry this flag
To the grave if I must
Because it's a flag that I love
And a flag that I trust..."
(Rise Against-Hero Of War)


Sebuah lirik dari Rise Against. Menceritakan tentang seorang tentara yang dengan gagah berani membela negaranya, bahkan sampai ke liang lahat pun, rasa cinta kepada negaranya tersebut tetap ia tunjukkan. Lagu tersebut sebenarnya berarti luas, tergantung kita memaknai arti dari kata pahlawan. Tidak selamanya pahlawan itu harus mengorbankan nyawanya demi orang lain atau tidak selamanya pahlawan itu harus mempunyai kekuatan super. Bagi saya, seorang pahlawan adalah seorang yang rela dan ikhlas tanpa paksaan apapun. Misalkan seperti analogi lagu di atas, misalkan kita menjadi tentara, hanya untuk sebuah pengakuan dari orang lain ataupun "tuntutan" tanpa ada kerelaan, jika konsekuensi terburuk yaitu kematian di medan pertempuran datang, maka ia tak selebihnya hanyalah semacam asap: tak berbekas. Lain cerita jika dilandasi kerelaan dan keikhlasan, jika kematian di medan pertempuran datang, pastinya rasa bangga akan datang karena kita telah berusaha maksimal.

Mencari seorang pahlawan dengan 3 spesifikasi menjadi pahlawan yaitu rela, ikhlas dan tanpa paksaan, untuk hari-hari sekarang ini mungkin akan berat. Pahlawan-pahlawan sekarang hanyalah sebagai topeng, sebagai pencitraan, untuk mencapai tujuan pribadi atau kelompoknya. Mereka ibarat Joker yang menyamar menjadi Batman. Datang sebagai superhero dengan membawa beribu solusi dari masalah-masalah yang ada, tujuannya adalah mendapatkan pengakuan dari warga. Joker tetaplah Joker, kejeniusannya membawa ia berada di posisi tertinggi. Ketika diposisi tertinggi, ia dengan mudah melakukan manuver-manuver yang "psycho". Pikiran warga telah dicuci oleh pencitraannya yang positif, sehingga ketika manuver-manuver tersebut ia berikan kepada warga, warga menganggukkan kepala dan serentak melaksanakan. Warga meng-klaim bahwa mereka telah merdeka, mereka telah nyaman dengan keadaan, tapi tahukah kalian bahwa rasa merdeka itu adalah hasil konstruksi? Warga telah puas mendapatkan status merdeka yang dijanjikan, saking puasnya egoisme mereka keluar. Acuh kepada sesama, padahal sebagian dari mereka ada yang jauh dari kata merdeka. Pikirkan urusanmu sendiri! Itulah yang mungkin diinginkan Joker ketika kata merdeka telah didapatkan. Merdeka yang semu.

Jadi jika kamu bercita-cita menjadi pahlawan, pertama yang harus dilakukan adalah kendalikan nafsu yang ada di dirimu. Puasa di Bulan Ramadhan ini telah melatih kita untuk menjadi pahlawan. Jika ada yang bertanya kepada kamu, "Apa kontribusimu kepada negara ini", jawablah "Aku telah menjadi pahlawan bagi diriku, karena aku telah mengendalikan nafsuku. Ketahuilah, bangsa ini bobrok karena mereka yang menyebut dirinya "pahlawan", tidak bisa mengendalikan nafsu mereka."

DIRGAHAYU INDONESIA! NEGARA INI TIDAK GAGAL, YANG GAGAL ADALAH OKNUM-OKNUM YANG MENYEBUT DIRI MEREKA "PAHLAWAN"