Oct 2, 2014

Membunuh Ruang dan Memori


“Home, now that I’m coming home. Will you be the same as when I saw you last? Tell me, how much time has passed?” (Funeral for a Friend – Into Oblivion)
 
Saya percaya, ruang mempunyai cerita dan kenangannya tersendiri. Jika saya gambarkan dalam dua kalimat puisi, akan saya tuliskan dengan: “Setiap ruang itu bernyawa. Dan setiap yang bernyawa itu ada”. Ruang memang tak lekang dimakan usia. Walaupun ruang sudah tidak ada dan tidak berbentuk, tapi memori tentang ruang itu tetap tersisa.

Ya, ruang memang selalu bersinggungan dengan memori. Beruntunglah kita sebagai manusia telah tercipta memiliki cipta, rasa, dan karsa. Sebelum saya menuliskan ini, saya sempat googling tentang tiga hal itu. Ketiganya bisa disederhanakan dalam nama Tridaya. Mengutip pernyataan sebuah blog, jikalau kita telah bisa mengaturnya, itu akan menjadi sebuah kekuatan yang manunggal (menyatu).

Lalu apa hubungannya konsepsi tersebut dengan ruang dan memori? 

*****

Rabu, 1 Oktober 2014. Entah sudah berapa kali saya menginjakkan kaki ke tempat itu. Sebuah tempat yang banyak orang menyebutnya sebagai “rumah”. Malam itu, tempat tersebut tampak bersolek. Banyak hiasan yang dipasang. Banyak wajah-wajah ceria yang terpampang. Ada kegembiraan yang menyelimuti. Walaupun masih ada sisi-sisi yang terlihat “murung”, tapi sudah cukup memaksa saya keluar ruang utama dan berdiam diri di depan pintu masuk sambil berkata dalam hati, “Oh, seperti ini kabarmu sekarang?”

Time flies. Malam itu merupakan edisi perdana saya melangkahkan tapakan ke tempat itu lagi. Hampir tiga bulan saya absen tak berkunjung. Waktu yang masih dalam “skala normal” memang, tapi terasa tidak wajar bagi saya. Tak akan saya tuliskan di sini kenapa saya tak menyinggahinya selama berbulan-bulan. Namun, yang pasti, balik lagi ke tempat peraduan, begitu menggembirakan. Tempat tersebut bernama Sekre Teater SOPO.

Ibarat kata, pulang kembali ke pojok Gedung 2 Lantai 3 FISIP adalah sebuah momen jetlag bagi saya. Selalu saja seperti itu, entah mengapa. Ada perasaan asing di tempat sendiri tatkala masuk ke tempat itu lagi, setelah tak menampakkan batang hidung beberapa lama. Jika kamu kemarin melihat ada beberapa saat saya termenung, maka ketahuilah bahwasannya saya sedang tidak galau, melainkan saya sedang menyelaraskan energi, kurang lebih bahasa teaternya seperti itu.

Malam itu, saya dan teman-teman sedang memperingati harlah Teater SOPO. Beberapa jam sebelum menginjak usia 23 tahun pada 2 Oktober, kami mengadakan refleksi. Agendanya adalah kami memutari beberapa tempat di FISIP, untuk sekedar mengingatkan kembali tentang proses-proses yang telah dialami. 

Saya memang tak ikut berkeliling. Setelah teman-teman menuntaskan perjalannya, kami membuat lingkaran. Beberapa teman menceritakan pengalamannya. Mendengarkan mereka berkisah, memori saya dipaksa untuk memutar cerita lama yang saya alami. Cerita lama yang kini sudah saya asingkan di Recycle Bin. Namun, malam itu saya harus menekan tombol Restore kembali. Bangsat! Saya rindu hari-hari itu!

*****

“Saya tidak butuh kamera, karena kamera tidak abadi. Saya sudah menyimpannya di sini,” ujar seorang teman sambil menunjuk ke arah otaknya. Kalimat itu hingga hari ini masih terpatri di benak saya. Malam itu, kata-kata itu saya ejawantahkan. Harus ada keberanian untuk mengulik kembali memori itu. Mengulangnya kembali menjadikan konflik batin bagi saya, jika dihadapkan pada posisi dan pilihan saya kini.

Saya bodoh, kenapa saya mengendapkannya terlalu dalam? Jika dulu saya hanya menganggapnya angin lalu, mungkin kini saya tidak akan mengalami rasa seperti ini. Mengacu pada bagian pertama tulisan ini, ruang-ruang itu telah menyatu dengan saya, dan tidak bisa dilepaskan, kecuali saya mengalami amnesia. Dan saya malah berharap, semoga rasa dan hati saya mati. Sehingga jika pikiran saya mengembara ke tempat itu, saya tidak akan merasakan apa-apa lagi. Akan tetapi apakah saya benar-benar dapat mematikannya?

Saya tidak tahu apakah tulisan ini ada karena bentuk kerinduan ataukah hanya pelampiasan kelabilan saya semata, entahlah. Namun yang pasti, ketika kita harus benar-benar meninggalkan, jadikan kenangan tentang ruang-ruang itu sebagai senyuman terakhir. Karena kita adalah makhluk yang terbatas oleh waktu, berbahagialah karena kamu telah menorehkan sendiri jalan ceritamu dalam ruang-ruang itu. Seperti judul lagu SUA –band pop-folk Solo yang telah bubar, semoga kenangan itu “Kekal Abadi”.

Bagi kamu yang membaca tulisan ini, jangan merasa iba dengan saya. Sebaliknya, kasihanilah dirimu sendiri dan bersiap-siaplah, karena kamu pasti akan merasakan hal yang sama. Ketika itu terjadi, bertekuk lututlah pada memorimu. Jikalau masih ada waktu dan kesempatan, mungkin kata “pulang” adalah jawaban.

Jun 28, 2014

Lindungi Aku

Aku berlindung dari aku yang tak kasat mata
Tertutupi debu, termakan hari
Jika mati yang kucari, akankah kutemui jawabnya nanti?

Aku berlindung dari aku yang tak kasat mata
Dunia bersimpuh di antara onggokan aku dan jendela
Jika keadilan yang kucari, akankah semua dapat berakhir bahagia?

Aku berlindung dari aku yang tak kasat mata
Dari kepala yang penuh dengan mengapa
Dari ingkarnya malam tanpa harapan di akhirnya
Dari pagi sama tanpa benderang cahaya

Jika aku dilindungi dari aku yang tak kasat mata
Akankah terselamatkan?


Jun 1, 2014

Menggugat Keimanan

Coba mengerti dan menghayati, pencarian terus kujalani. Tak hanya logika, tajamkan rasa, gunakan akal dan kesadaran. Terus bertanya dan membuktikan, agar ku yakin tak tergoyahkan. Menjaga sucinya jiwa, murnikan hati, agar aku pantas Kau jumpai.

Merasakan kehadiranMu yang ku mau. Bukan doktrin yang aku ingin, agar ku yakin.

Ku tahu Kau nyata, maka datanglah ke hatiku, bersenyawa. Ku tahu Kau nyata, maka datanglah ke batinku, bersenyawa.

 (Cupumanik – Syair Manunggal)


Suatu hal yang kabur tapi kita jalani. Suatu hal yang tak berbentuk tapi kita coba untuk mengerti. Suatu hal yang diyakini tapi tak jarang dipertanyakan. Dia bernama iman. 

Saya memandang iman sebagai pengakuan dan kepercayaan. Jika sesuatu telah diakui dan dipercaya, hampir tidak ada celah untuk mengkritisinya. Sehingga bagi beberapa orang, mempertanyakan keimanan sama saja dengan menyangsikan adanya Tuhan. Iman adalah kekekalan. Ia berada pada garis tegak lurus antara manusia dengan Tuhan. Maka dalam posisi ini manusia terkesan takut untuk mempertanyakan keimanannya. Dosa, tabu, atau mungkin – menggunakan istilah “populer kekinian” dalam Islam – bit’ah. Tidak, tidak seperti itu. Justru iman yang sehat dan berkualitas datang dari pergolakan, pertanyaan, dan kemudian dilakukanlah pencarian. Contoh, pernahkah kamu menganggap bahwa Tuhan tidak peduli dengan kita? Pernahkah di suatu keadaan kamu berontak dengan pertanyaan “Why me, God? Why always me?” 

Saya tidak menyangkal jika pemberontakan tersebut sering saya lakukan. Dan tak jarang pula keimanan – yang ditandai dengan kepercayaan – berada dalam zona degradasi. Saya sempat terbersit ingin menanggalkan keimanan, untuk kemudian memilih berada dalam “zona abu-abu” dan menjadikannya sebagai pelarian. Namun beruntunglah manusia karena kita diciptakan secara sempurna. Kita dianugerahi akal dan perasaan. Dua benda tersebut adalah filter dari sisi gelap manusia.

Melalui pertanyaan, akal, dan perasaan; manusia ibarat menciptakan racun sekaligus penawarnya. Kadang manusia terlampau liar dalam menggugat keimanan dengan menempatkan Tuhan sebagai Maha Egois dan Maha Tak Mendengar, tapi di satu sisi manusia mempunyai pertanyaan lain: Apakah benar Tuhan seperti itu adanya? Ataukah itu hanya penilaian yang berasal dari keputusasaan belaka?

Bagi saya, di saat pergolakan itulah sesungguhnya keimanan kita berada pada kualitas yang baik. Karena keimanan bukanlah pertanyaan retoris, maka dibutuhkanlah jawaban. Jawaban bisa kita temui dari pencarian. Mencari jawaban keimanan itu mudah, sebab dia ada di mana saja. Kamu bisa bertemu dengannya di jalanan, pasar, atau tempat-tempat “terburuk” sekalipun. Yang lebih “mengasyikkan”, dia datang secara tiba-tiba di waktu dan tempat yang tidak kamu ketahui. Kalau kamu pernah mengalaminya, hanya ada dua kemungkinan reaksimu: tertawa atau menangis. Ya, begitulah cara kerjanya, bukankah begitu?

Saya teringat kata-kata Cak Nun, dia berkata bahwa kita tidak perlu cara-cara ribet untuk bertemu dengan Tuhan, merasakan kehadiranNya, dan beriman kepadaNya. Mungkin dengan cara-cara sederhana seperti ini nilai-nilai keTuhanan bisa kita resapi. Tidak harus dengan cara merazia tempat hiburan malam, tidak harus berkoar-koar di corong masjid tentang golongan ini benar dan golongan itu salah, tidak harus mengarahkan opini publik bahwa calon presiden ini berasal dari agama ini, tidak harus! Dari apa yang saya sampaikan tersebut, mungkin orang awam berkata bahwa keimanan itu identik dengan kekerasan. Salah! Karena Tuhan tidak seserius seperti yang kita duga.

Apa kita menduga kalau ternyata Tuhan itu Maha Penyeloroh? Mungkin ketika Ia membaca tulisan ini, Ia berseloroh, “Tulisan macam apa ini? Tidak menarik sama sekali! Sok tahu, sok suci! Dan apa tadi kau bilang? ‘Why me? Why always me?’ Bagaimana jika Ku jawab, ‘Why not?’”

May 23, 2014

Cupumanik Menggugat



 

Konon katanya “grunge is dead” seiring kematian Kurt Cobain. Benarkah demikian?

Saya teringat tulisan Che Cupumanik tentang dialog imajinernya dengan Kurt. Kurt menyampaikan bahwa dia akan datang saat “Something in the Way” dimainkan. Dan sebelum dia “pergi”, Kurt tampak tersenyum melihat atribut yang dikenakan Che: sepatu Converse lusuh, celana jeans sobek di bagian lutut, flannel motif kotak berwarna hitam-putih, dan kaos bergambar cover album Nevermind. Mungkin senyuman Kurt tersebut merupakan ungkapan “kebahagiaan” bahwa warisannya (musik, attitude, dan atribut) abadi hingga kini.

Dialog Che dengan Kurt lebih dari sekedar “dialog seandainya” ataupun “andaikata”. Kerinduan yang dibatasi oleh ruang dan waktu terhadap sesosok tokoh, menyebabkan seseorang melakukan dialog imajiner. Fisik memang fana, tapi sikap serta pemikiran adalah kekekalan. Dan jika kebangkitan kedua pasca kematian adalah keniscayaan, maka Kurt telah menjadikan Che sebagai persemayamannya.

Maka tak salah jika “Grunge Harga Mati” yang dirilis 2010 lalu, merupakan esprit de corps yang digemborkan oleh Cupumanik sebagai kesetiaan mereka kepada grunge. Dan tak salah pula ketika lagu tersebut dijadikan track pembuka di album kedua mereka, Menggugat. Mungkin ada maksud tertentu menempatkan lagu tersebut di awal. Sebagai jawaban bagi orang-orang yang beranggapan bahwa grunge telah mati, mungkin? Namun yang pasti, mereka telah siap menjadikan grunge sebagai media penggugatan dan perlawanan.

Menggugat rilis sekitar dua minggu yang lalu. Jika album pertama diibaratkan sebagai pencarian jati diri, maka di album kedua ini mereka telah berubah menjadi para berandal yang menolak apatis terhadap kondisi. Namun satu yang menarik: walaupun telah mengalami masa transisi, tapi jati diri mereka yang lama tidak ditinggal begitu saja. Ya, lagu seperti “Aksara Alam”, “Broken Home”, dan “Syair Manunggal” mempunyai peran penting sebagai penyeimbang dan “rest area” di tengah keriuhan “Grunge Harga Mati”, “Garuda Berdarah”, “Omong Kosong Darah Biru”, “PBB (Perserikatan Bangsat-Bangsat)”, dan “Luka Bernegara” yang cenderung mempunyai suasana sludgy a la The Melvins dan sound yang raw a la Nirvana. Di album ini Che lebih banyak berteriak, persis seperti yang dilakukan Kurt Cobain. Tapi di beberapa lagu dengan tempo rendah, Eddie Vedder masih menjadi influece utamanya dalam bernyanyi.

Bagi saya, lima lagu yang disebut di akhir memang terkesan macho, liar, dan jauh dari kata “sopan”. Namun entah mengapa, kelugasan dan keberanian Che dalam menuliskan lirik, menyisakan kecanggungan bagi saya. Saya harus meraba untuk berada di posisi nyaman ketika mendengarkan lagu-lagu tadi. Salahkan saya karena terlalu menyenangi lirik-lirik dengan makna yang dikaburkan, dan terlalu menganggap Cupumanik sebagai band “gelap”. Jujur, feel lebih keluar ketika mereka memainkan nomor dengan lirik semi puitis, seperti yang mereka lakukan di album pertama. 

Agenda Gugatan Cupumanik: Polit(r)ik

Terlepas dari tulisan saya di paragraf atas, Menggugat sangat layak dengar. Walaupun dalam liner notes disebutkan bahwa mereka, “…urung menjelaskan dengan terang tema apa saja yang digugat, karena setiap lagu memiliki kemampuan mengenalkan dirinya sendiri, setiap lagu punya bahasanya sendiri…”, tapi menurut pandangan saya, album ini merupakan katarsis Cupumanik (atau mungkin Che?) dalam membentuk konsep tatanan ideal. Ideal dalam hubungannya dengan diri sendiri, keluarga, masyarakat, serta alam. Jika kondisi tidak ideal menuju ideal harus membutuhkan proses, maka protes bisa jadi solusinya.

Berbicara mengenai sosial-politik dan momentum, adakah korelasi antarkeduanya? Ada, Menggugat adalah contohnya. Entah ada skenario atau tidak, album ini rilis di tahun dan bulan yang “tepat”. Dinamika sosial-politik negara ini sedang berada di level siaga. Kondisi masyarakat Indonesia yang bersumbu pendek, akan mempermudah terjadinya anarkisme. Masyarakat butuh katup penyelamat, maka album ini menjadi pilihan untuk melatih intuisi dan menjadi warga negara yang cerdas.

21 Mei 2014, dua minggu pasca Menggugat rilis, reformasi berusia 16 tahun, merupakan usia remaja pertengahan – jika dianalogikan sebagai manusia. Dalam periode ini, kepribadian masih kekanak-kanakan, tapi level kesadaran sudah berkembang. Tidak hanya fisik yang tumbuh, rasa percaya diri pun juga mulai terlihat, sehingga itu merupakan langkah baru untuk menemukan jati diri – walaupun harus melalui perenungan dan konflik batin. Begitu pula dengan negara ini. Negara ini sedang-dalam-perjalanan-mencari-jati diri. Dan tepat dua minggu pula pasca album ini diedarkan, para nahkoda yang akan membawa ke mana negara ini, mendeklarasikan diri untuk bertarung pada Pilpres, Juli mendatang. Cupumanik dalam “Garuda Berdarah” menuliskan, “… Di manakah wakil Tuhan yang nyata membawa harapan? Janji dibuktikan…” Inilah konsepsi pemimpin ideal yang Cupumanik cari. Dia bukan seorang yang buta akal dan rasa. Pemimpin yang baik adalah representasi Tuhan: dia berkuasa tapi mengasihi serta memberikan keselamatan dan kesejahteraan. 

Bagi saya ajang Pemilu tak lebih bagus dari ajang pencarian bakat di TV. Spektakel yang tercipta berkat “strategi marketing” dengan menambahkan label “satriya piningit”, “Soekarno muda”, “Macan Asia”, atau bla bla bla yang lain, seperti menyihir massa untuk melupakan drama yang terjadi di belakangnya. Mari sedikit berteori konspirasi: Apa jadinya jika mereka adalah agen “PBB (Perserikatan Bangsat-Bangsat)”? Yang mana mereka menggurita bersama antek-anteknya dengan kejahatan, “…kujalankan terorganisir. Aku berada di luar ruang yuridis. Aku berdaulat, bebas, kebal hukum…”  Oke, lupakan teori konspirasi, karena sesungguhnya para aktor intlektual tersebut sudah benar-benar ada di negeri ini.

Dagelan mana yang lebih lucu dari black campaign, pencitraan, suara yang bisa dibeli, dan beberapa tetek bengek lain? Saya mungkin seorang yang apatis terhadap Pemilu, tapi saya menaruh hormat kepada calon pemimpin negara ini yang benar-benar berniat untuk memperbaiki (baca: mengubah) keadaan menjadi lebih baik. Saya tidak sangsi dengan konspirasi semesta a la Paulo Coelho, maka yang dituliskan Cupumanik dalam “Aksara Alam” bahwa,  “…Sabda alam tak pernah ingkar, bahasa mereka tak lahirkan rekayasa. Alam raya ungkapkan isyarat. Rasa memberikan estetika jiwa…” adalah suatu kebenaran. Alam negara ini menyimpan keberkahan. Jika pemimpin kita kelak bisa bersinergi dengan alam, maka jangan kaget jika Nusantara akan bangkit kembali. Namun jika setahun, dua tahun, hingga periodenya usai tidak ada perubahan sama sekali, ingatlah “Luka Bernegara”, sebuah, “…suara kebebasan, sebuah sikap deklarasi kebebasan. Tinggal di Negara yang sakit, kami harus menjaga diri kami tetap waras! Ya, ini cara kami bernegara.”

Selamat memilih atau tidak memilih!

May 12, 2014

Manifesto Adikia

Altar yang kami bangun kami sembahkan kepada dewi kekacauan
Bigot-bigot bersorban kami tempatkan dalam front terdepan
Sebagai manuver kebangkitan Dajjal
Patung dewi kedamaian telah kami ratakan dengan napalm
Kepalanya kami jadikan nisan lalu kami taburi tepung sebagai bahan lawakan

Invasi kami bukanlah mitos
Kami lebih hebat dari Rambo yang menenteng Kalashnikov
Kami tempatkan ribuan agen, maaf jutaan
Kami jadi jadikan anjing penjaga, sehingga kami mudah mengontrol pikiranmu lewat media massa hingga sosial media

Demi apapun kalian yang melawan kami atas nama resistensi
Dengan mudah kami kalahkan hanya dengan film dari keluarga Punjabi
Sekeras apapun tangan kalian mengepal ke udara
Sekeras apapun Wiji Thukul kalian baca, lalu ikuti pembangkangannya
Sekeras apapun satu mimpi satu barisan yang kalian dengungkan
Bagi kami itu hanyalah drama
Dan jangan salahkan kami jika kami punya cara
Kami bangkitkan Holocaust, '65, dan Tiananmen kembali ke dunia

Kamilah anak haram tiga angka enam yang terlahir dari neraka
Kamilah pencuri sangkakala Isrofil sebelum dia tercipta
Akan kami bakar dunia hanya dengan air kencing yang kami punya

Dan jika kedamaian yang kalian cari
Maka itu ada di tangan kami


Puisi ini saya baca pada acara Secangkir Puisi Sebait Kopi (SPSK) Teater SOPO, Minggu, 11 Mei 2014. Dalam penulisannya sangat terpengaruhi oleh grup hip-hop kombatan asal Bandung bernama Homicide, sehingga "wajar" jika saya banyak mengadopsi cara mereka "berbicara" lewat rima ababil-nya. Teori konspirasi pada umumnya dan Codex karangan Rizki Ridyasmara pada khususnya, pun secara sahih menjadi bahan rujukan terciptanya tulisan ini. Karena bagi saya, walaupun, teori konspirasi belum dapat diuji kebenarannya, tapi hendaknya jangan memalingkan wajah darinya. Siapa tahu, fakta-fakta yang kamu tahu bukanlah fakta yang sebenarnya.

May 5, 2014

Pejam

Ini adalah pejam
Maaf, tak terhingga
Membuat aksara bersemayam dan kelak diziarahi

Jika ini tulisan akhir
Maka izinkan pelor emas menghujam amigdala
Maka izinkan belati  merongga demensia

Ini bukan tentang ketiadaan yang menjadi ada
Atau sebaliknya
Atau bentuk lainnya
Atau kehidupan

Ini hanyalah guratan tentang ruang kecil yang jarang kusinggahi
Anggap saja "mati"
Atau kau mau menuliskan nama lainnya?

Baik, ini serius

Lupakan saja kekacauan di atas
Tapi jika itu nyata
Siapa dapat kuasa?

Apr 5, 2014

Theory of Discoustic: Tentang Harapan, Khayalan dan Mercusuar




Ibaratnya, folk revival adalah sebuah agenda guna membentuk tatanan musik baru di Tanah Air. Belakangan banyak bermunculan agen-agen folk dalam bentuk duo ataupun grup, mereka menyenandungkan lagu-lagu manis dengan beragam tema. Tanpa bermaksud mendiskreditkan, beberapa dari mereka hanya menyajikan folk indah dalam satu sisi. Biasanya yang termasuk ke dalam golongan ini, setiap karyanya dijadikan SPH (Sarana Pelancar Hubungan) oleh seorang kaum Adam kepada lawan jenisnya, berlaku juga kebalikannya. Namun beberapa yang lain, mereka dapat meramu musik folk dengan arti harfiah dari folk itu sendiri. Folk yang identik dengan kearifan lokal, dimasukkan ke dalam musik yang mereka mainkan, sehingga folk tidak hanya berdiri sendiri sebagai genre,  tapi juga konsep.

Boleh dibilang saya agak bosan mendengarkan grup folk yang berasal dari Pulau Jawa – meskipun mereka masuk ke dalam golongan yang saya tulisakan di akhir paragraf pertama. Apa yang mereka sajikan sudah sering berkeliaran di kuping. Beruntunglah saya, kebutuhan terhadap sesuatu yang baru, sedikit tercukupi berkat bersilaturahmi ke Wastedrockers. Dalam posting-nya, situs yang selalu memberikan informasi tentang musisi “underrated” tersebut mengulas tentang mini album grup folk asal Makassar bernama Theory of Discoustic (TOD). Sekilas melihat preview Soundcloud-nya, saya langsung jatuh cinta. Ya, bagi orang-orang yang menikmati musik bukan hanya dari aransemennya saja, melainkan juga dari segi tata bahasa dalam departemen lirik, judul seperti “Bias Bukit Harapan”, “Teras Khayal”, “Sebuah Harapan Musim Penghujan”, “Dialog Ujung Suar”, adalah alasan kenapa kalimat: judge the band from its title, masih berlaku. Benar saja, ketika saya memutar lagu-lagu tadi, saya bisa tersenyum puas, karena mereka gue banget. Saya telah menemukan media “pelampiasan” yang terbaru.

EP bertajuk Dialog Ujung Suar tersebut sebenarnya sudah dirilis sejak November 2013 lalu. Mungkin karena kurangnya blow up media sehingga mini album mereka baru-baru ini saja dapat dikonsumsi publik.  Tak menjadi soal, mungkin itu kehendak semesta. Dan tak apa pula, konon katanya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan? EP yang bisa diunduh gratis ini menyajikan empat lagu. Sesuai dengan press release, TOD menambahkan unsur folklor Sulawesi Selatan supaya tidak terkesan monoton. Setidaknya ada dua kearifan lokal yang mereka jadikan rujukan dalam mengonsep EP ini, yaitu sebuah lagu daerah Bugis berjudul “Indo’ Logo” dan cerita rakyat Sulawesi Selatan untuk meminta hujan saat musim kemarau. 

Walaupun mereka berdiri dalam ranah kedaerahan, tapi entah mengapa unsur itu masih sulit untuk diraba. Bagi pendengar yang familiar dengan musik khas Sulawesi Selatan, tentunya tidak akan sulit menemukan identitas tersebut. Namun bagi pendengar awam, Dialog Ujung Suar terasa sama seperti album-album dari musisi-musisi  yang berlabel easy listening. TOD saya rasa kurang berhasil mengeksplor atau menonjolkan sisi ke-Sulawesi Selatan-nya. Menurut saya sisi tersebut masih didominasi oleh musik-musik “modern”. Adalah menarik ketika menggabungkan folk dengan ambient, tapi jika kedua hal tersebut belum bisa bersinergi, pendengar akan bertanya-tanya, “Mau dibawa ke mana ini?”

Saya selalu suka ketika ada grup yang menempatkan wanita sebagai vokalisnya, ada aura tersendiri bagi saya. Sama halnya TOD yang memilih Dian Megawati sebagai vokalis. Saya suka karakter vokal dan caranya bernyanyi. Ada suasana retro ketika mendengarnya menyenandungkan lagu. Namun dua hal yang menjadi kelemahannya: dia kurang bisa menjadi pendongeng yang baik, dia terkesan bernyanyi sendiri tanpa bisa mengajak pendengar memasuki dunia Dialog Ujung Suar. Dan proses transformasi isi antara komunikator dengan komunikan terhambat akibat artikulasi Dian yang lemah dalam beberapa pelafalan.

Akan tetapi kelemahan-kelemahan tersebut dapat mereka tambal dengan pemilihan materi (baca: lirik) yang mengasyikkan, sehingga membuka ruang diskusi dengan diri kita sendiri. Satu nomor favorit saya adalah “Teras Khayal”. Sebuah lagu yang bercerita tentang, “…Dunia tak lagi ada, kita telah berjalan ke angkasa…” Sebuah kondisi di mana dunia yang dulu kita puja berakhir dalam sebuah tanda tanya, sehingga memaksa kita untuk beralih ke parallel universe, atau paling tidak kita menciptakan realitas alternatif sesuai kehendak kita sendiri. Mendengarkan “Teras Khayal”, bagi saya, seperti menelanjangi pemikiran Albert Camus. Dunia adalah suatu hal yang absurd. Keabsurdan dunia merupakan pertentangan antara rasional manusia dengan kondisi yang ada. Wajar jika TOD menuliskan, “…dunia adalah kenangan…” karena hubungan manusia (dengan segala keinginannya) ketika dihadapkan dengan dunia yang kadang berkebalikan, menyebabkan suatu ketidakjelasan. Karena manusia selalu menginginkan suatu yang pasti. Dan ketika sesuatu tersebut tidak didapatkan, akan menyebabkan pemberontakan atas nama eksistensi. Pemberontakan yang TOD maksud adalah dengan imajinasi, bukan “pergerakan”. Ibarat kata Rene Descartes mendengarkan EP ini, sudah pastilah dia mengganti pemikirannya dengan: Aku berkhayal maka aku ada.

Untuk terakhir kalinya, mari kita mengkhayalkan Dunia Ujung Suar sebagai puisi dari Bentara Bumi. “Jika tersesat adalah hidup, kematian adalah mercusuar.”