Oct 29, 2012

Celoteh 6.25 AM

Waktu itu memang terlalu cepat berlalu ya?

Contohnya pagi ini, Senin 29 Oktober 2012. Setelah menempuh long weekend yang berkolestrol, akhirnya pagi ini saya (dan mungkin kita) akan membakar kolestrol-kolestrol tersebut dengan rutinitas padat. Kadang-kadang kita enggan untuk mengawali hari Senin ya? Terlalu malas melakukan aktivitas karena sudah teradiksi oleh long weekend. Tapi inilah hidup, harus dinikmati. Begitu setidaknya kata Pak Mario Teguh.

Oh, ngomong-ngomong, selamat ya untuk kemenangan Manchester United atas Chelsea tadi malam. Saya tidak menyangka aja MU bisa menang. Padahal di hari sebelumnya, klub ini dilemparin baru sama jemaah haji di ritual lempar jumroh. Memang klub yang tahan banting mereka ini..

Dan untuk fans Liverpool, harus berbesar hati. Kemarin, banyak teman-teman saya yang notabene adalah orang-orang ber-hashtag #YNWA meluapkan kekesalan mereka di linimasa twitter. FYI, fans Liverpool adalah fans yang vokal untuk skala twitter. Sabarlah kawan, wasit itu sesungguhnya manusia. Manusia itu sumber kesalahan karena manusia itu tidak sempurna. Karena hanya ada satu sempurna di dunia ini, yaitu: merk rokok.

Mengawali pagi ini saya memutar sebuah tembang dari Oasis berjudul "Rock And Roll Star". Semoga hari ini dan hari-hari di minggu ini adalah hari-hari yang rock and roll!

Oct 27, 2012

#IndonesiaTanpaMalas

Pernahkah kamu menonton film tentang satu kota yang terinfeksi oleh virus yang menyebabkan warga kotanya berubah menjadi zombie? Atau pernahkah kamu menonton film yang menceritakan tentang sebuah lab yang bereksperimen tapi gagal sehingga menciptakan makhluk yang seram?

Paragraf pertama tadi adalah paragraf pembuka. Di paragraf kedua dan seterusnya, mungkin tidak akan membahas tentang itu, dan hanya menempatkan itu sebagai analogi. Jadi tulisan ini tidak akan menganalisa sebuah film. Melainkan tulisan ini mencoba untuk berbagi tentang suatu kebiasaan buruk umat manusia yang bernama: MALAS.

Alam semesta ini mempunyai 5 elemen yang sangat berpengaruh, yaitu tanah, air, api, udara dan MALAS. Malas adalah kata yang sepele, tapi efek negatif dari kata ini sungguh-sungguh berbahaya. Bisa jadi karena saking berbahayanya, Densus 88 yang konsen memburu terorisme akan berubah pekerjaannya menjadi memburu orang-orang malas. Dan jika itu benar-benar terjadi, bisa jadi saya adalah target operasi mereka karena rasa malaslah yang menyebabkan saya mem-posting tulisan-tulisan curahan hati saya sebelum ini, dan rasa malas pula yang menyebabkan blog ini dan blog yang saya admin-i jarang saya update. Ini bukan pengakuan dosa, tapi ini adalah pengakuan bahwa saya seorang yang malas.

Saya tidak tahu malas itu tercipta karena atau dari apa. Google pun belum memberikan jawaban yang signifikan ketika saya mengetikkan keyword "Yang Menyebabkan Malas". Yang ada hanyalah tulisan-tulisan seperti yang saya buat sekarang ini (baca: sepele) dan hanya ada tips-tips agar orang tidak gampang malas. Belum ada penjelasan ilmiah tentang rasa malas. Jadi ini adalah tugas bagi para scientist untuk mengungkap kenapa seorang menjadi malas. Tentunya jika para scientist tersebut tidak sedang dihinggapi rasa malas karena jika scientist malas, mereka akan sama saja dengan saya. Berarti ketika seorang malas, entah apapun status, peran atau posisi sosialnya, maka kita semua akan setara. Karl Marx berarti salah, jika ingin menciptakan kesetaraan dan tidak ada kesenjangan/ketimpangan antara borjuis dan buruh, buruh tidak harus melakukan revolusi, tapi borjuis dan buruh harus sama-sama malas. Akhirnya saya berhasil mematahkan teorinya Karl Marx.....

Bisa jadi malas adalah virus yang sengaja diciptakan sehingga jika kita terlalu bermalas-malasan, kita akan berubah menjadi makhluk semacam zombie. Dan jika itu terjadi maka saya akan senang sekali karena saya akan bertemu dengan Milla Jovovich. Yang jelas, malas adalah suatu "virus" yang harus kita lawan. Kita saja berani menggembar-gemborkan perlawanan terhadap korupsi dengan slogan "Katakan Tidak Pada Korupsi!",kenapa malas yang notabene lebih sepele tidak berani kita lawan?

Oct 25, 2012

Ied, Die, Eat

Dulu sewaktu saya kecil, nenek saya pernah berucap bahwa ketika malam takbiran Idul Adha, hewan-hewan kurban yang ada di masjid-masjid akan menangis. Ketika mendengar kalimat nenek saya tersebut, saya langsung sedih. Tapi ketika proses penyembelihan hewan kurban keesokan harinya, saya malah menontonnya. Ini karena rasa penasaran seorang anak kecil, dan ketika itu proses penyembelihan hewan kurban adalah saat-saat yang menarik bagi saya. 

Tapi momen tersebut seolah menghilang, atau lebih tepatnya sengaja saya hilangkan. Seiring bertambahnya usia, saya pun mulai berpikir ulang tentang proses penyembelihan hewan kurban tersebut. Perasaan tidak tegalah yang menyebabkan saya menghilangkan kebiasaan menonton proses penyembelihan hewan kurban. Bukannya tidak setuju terhadap prosesi ini, saya hanya tidak ingin melihat hewan-hewan tersebut dihilangkan nyawanya, dan itu di depan publik sehingga menjadi suatu konsumsi massal. Orang berbondong-bondong pergi ke pelataran masjid, hanya sekedar untuk menonton hewan-hewan sekarat. Bagi saya, di usia saya sekarang, itu sangat bertentangan dengan nurani saya. Karena hewan juga perlu hak asasi, bukan? Hak asasi untuk hidup, dan hak asasi ketika mereka akan dihilangkan nyawanya harus dengan cara yang tidak menyakitkan.

Tapi saya juga berada dalam posisi yang munafik. Di satu sisi saya mendukung hak hidup untuk hewan, tapi di sisi lain saya tidak menolak ketika diberi olahan daging kurban tersebut dalam bentuk sate atau tongseng, hehehe.. Semoga saya bisa menjadi vegan suatu saat nanti, dan semoga hewan-hewan kurban tersebut dimasukkan ke dalam surga oleh Tuhan.