
Ketika tulisan ini dibuat, saya
sedang tertarik dengan topik pembahasan bagaimana musisi Indonesia mengimitasi
produk-produk luar negeri (baca: Barat) untuk kemudian mereka serap dan
selanjutnya dijadikan komoditas ke dalam industri musik tanah air. Hal ini
telah berlangsung sejak lama, dan itu dianggap sah oleh kebanyakan orang, dan
tak ada yang mempersalahkan itu. Walaupun dulu, menurut sejarah yang saya baca,
peredaran musik dan kreativitas musisi sempat dilarang serta dikekang oleh
pemerintah karena bertentangan dengan ideologi negara, tapi karena “bandelnya”
masyarakat Indonesia, ada banyak cara untuk lepas dari keterkekangan tersebut.
Hasilnya, bisa dilihat sekarang. Musik dengan beragam genre telah berhasil
beranak pinak. Salah satunya adalah pop. Di industri musik tanah air, pop
menempati kasta tertinggi. Dan jika dikerucutkan ke dalam industri musik non mainstream, pop – dengan beragam sub
genrenya; bisa kita temui lebih di jalur ini – juga masih berkuasa. Tapi
sayangnya, tidak banyak musisi yang mempunyai identitas dalam karyanya.
Identitas yang saya maksud di sini adalah pembanding dari musisi lainnya, bisa
dilihat dari produknya ataupun attitude-nya.
Adalah menarik ketika identitas terbangun
melalui karya. Di tengah kondisi industri - baik di jalur mainstream maupun non
mainstream – yang sarat akan musisi-musisi tipikal, sebuah amunisi baru
dari Yogyakarta menjadi negasi dari itu semua. Jika sebuah kondisi yang stagnan
membutuhkan revolusi, maka Aurette and the Polska Seeking Carnival (AATPSC)
adalah garda terdepan dari wacana tersebut. Ibarat candu, hisap sekali saja
lalu kamu akan dibawa entah ke mana. Nama yang sering tertulis di
pamflet-pamflet gig, EP yang soldout, nama yang sering
diagung-agungkan dalam beberapa artikel web
musik; merupakan bukti bahwa mereka telah membuat orang-orang terbang
melalui karyanya.
Jangan selalu menganggap proses
pengimitasian sebagai sesuatu yang negatif. AATPSC justru mengajari kita bagaimana
pengimitasian bisa menjadi hal yang tepat guna, bermutu dan mempunyai daya
pikat tinggi. Apa yang mereka tawarkan – mengimitasi
sound khas Eropa dengan pengaruh seperti Beirut, Of Monster and
Men, A Hawk and a Hacksaw – merupakan solusi cerdas untuk ditawarkan kepada
pendengar yang telah menjadi budak-budak homogenitas dari beberapa
“trend” industri musik sekarang ini. Dan
terbukti ketika single “Wonderland” mereka unggah ke
Soundcloud, respon positif
pun berdatangan, selanjutnya silakan baca kalimat terakhir paragraf dua, dan
selanjutnya lagi selamat menikmati sebuah tatanan baru dalam menikmati musik
a la AATPSC.
Band ini mempunyai identitas. Folk
pop, itulah identitas yang mereka bangun dengan bebunyian-bebunyian yang saling
bersahutan dan mengimbangi dari akordeon, terompet, trombone, ukulele,
mandolin, conga, glockenspiel dan juga “alat-alat standar” band seperti gitar,
bass, keyboard, drum. Kesemua tadi diracik dengan ditambahi vokal Dhima
Christian Datu yang elegan, sehingga menghasilkan sebuah karya epic. Bukan sebuah hiperbola, kata epic perlu digarisbawahi dan dicetak
tebal karena apa yang ada dalam AATPSC adalah sebuah karya penuh dengan unsur
artisitik. Jikalau musik diibaratkan sebagai sebuah rak di swalayan yang mana
tersaji satu jenis makanan berlabel pop, maka pilihan mereka menghadirkan sound Eropa dan mengajak pendengar untuk
masuk ke dalam semesta imajinernya dalam riuh-rendah suasana karnaval, bagaikan
subliminal message yang mempengaruhi
batas wajar persepsi kita tentang
sebuah karya, dan seperti mengontrol alam bawah sadar kita untuk melakukan
aksi: mengulagi lagu-lagu mereka lagi dan lagi.
Lewat walkman usang, saya mendengarkan EP self titled mereka. Menarik ketika bagaimana mereka dengan jeli
menghadirkan bebunyian-bebunyian karnaval, menggiring persepsi kita untuk
ditempatkan dalam sebuah bianglala raksasa, dan merasakan manisnya aransemen
setiap lagu-lagunya bagaikan semanis permen kapas. Mereka seperti hendak
menyampaikan pesan, “Ayo, nikmati sedetik hidup ini! Urusan lain, pikirkan
belakangan.” Apa yang mereka sajikan, menurut saya adalah sebuah pengejawantahan
dari apa yang Ashadi Siregar tulis dalam Lifestyle
Ecstasy. Dia berpendapat bahwa seni musik sebagai produk dari budaya massa
yang mempunyai kekuatan ekspresif, sehingga siapa saja yang mendengarkannya
akan terbentuk suatu pola rekreatif dalam dirinya. Dalam sebuah pola rekreatif,
ada suatu kepuasan tersendiri yaitu kita sebagai konsumen bisa masuk ke dalam
pengalaman imajinatif kita. Bagaimana nanti ketika mengarunginya, kita akan
merasakan kegembiraan, kegairahan, kesedihan, atau bisa juga ketakjuban, yang
mungkin akan mengarahkan kepada sikap keingintahuan dan bertanya-tanya pada
hati.
AATPSC mengajak kita untuk
berekreasi di dunia mereka. Tapi nampaknya AATPSC ingin menjungkirbalikkan
paradigma. Jika dulu para rocker seperti
God Bless dan Nicky Astria bernyanyi bahwa dunia ini adalah sebuah panggung
sandiwara, maka AATPSC memberikan “inovasi” baru dalam memandang hidup: hidup
adalah sebuah karnaval. Ketika kita kecil, kita terbahak-terbahak saat melihat
badut-badut “disiksa” di pertunjukan sirkus a
la komedi slapstick yang marak di
TV. Kita menyunggingkan senyum ketika menaiki wahana-wahana di pasar malam. Namun
ketika kita dewasa, kita juga masih bisa tertawa saat menikmati wahana-wahana.
Bedanya, wahana ketika kita dewasa bukanlah suatu permainan, melainkan hidup dengan segala kompleksitasnya.
Menertawakan hidup, itulah main topic yang
coba mereka angkat. Mereka terlalu cerdas dalam membungkus kesatiran dengan nada-nada yang jauh dari
kata satir itu sendiri, dengan kata lain mereka menyajikan suatu parade satir
yang terkamuflase. Tujuh lagu di dalam EP ini adalah ode tentang warna-warni
kehidupan; tentang alur hidup yang sulit ditebak, tentang cinta adalah protes, kegembiraan
yang tak direncanakan, kegelisahan, kepalsuan; terangkum menjadi satu.
Karnaval itu dimulai dengan
“Seeking Carnival”, sebuah nomor instrumental yang seakan mengajak pendengar
untuk bergegas menghampiri karnaval, dan larut di dalamnya. Jika di lagu ini
kamu hanya terpesona oleh permainan akordeon maka kamu salah. Puncak utama lagu
ini adalah ketika para personel AATPSC ber-sing
along. Dari lagu ini kita akan bersiap-siap menjadi badut di kehidupan kita
sendiri.
Dengan terjemahan Google
Translate yang “terbata-bata” saya coba menerjemahkan lirik berbahasa Perancis
dalam “I Love You More Than Pizza”. Jika disimak hanya dari judulnya saja,
pasti orang akan berpikiran bahwa lagu ini ter-influence oleh gombalan Denny Cagur dan Andre Taulany. Tapi, hey,
lagu ini tidak semurahan itu! Dari lagu yang sangat bernuansa Perancis ini kita
bisa berkaca bahwa manusia adalah makhluk yang tidak konsisten terhadap sikap
dan omongan. Ketika dulu kita membenci orang yang AATPSC analogikan sebagai, “Je vous déteste autant, que je déteste la
sauce épicée”, karena kita sering menjilat ludah kita sendiri, maka
ungkapan, “So, I love you more than
pizza. Myriade de goût, goût delicious. Done je vous aime plus que le pizza. Et
je chante cha la la la la” adalah ungkapan yang membuat orang yang kita
benci dulu akhirnya bertekuk lutut dan merelakan kepalanya untuk disandarkan
pada bahu kita saat berdua melihat langit malam sambil bercanda, “Bapak kamu…”
“Letter to You” merupakan sebuah
lagu yang cerdas dan juga penggambaran cinta yang idealis. Bagaimana sepasang
kekasih masih saja menggunakan sesuatu yang orang kini menyebutnya usang untuk
saling memberikan kabar. Sesuatu tersebut bernama surat. Melalui lirik, “And I don’t want to tweet or put some words
on your wall. Coz I don’t want the messages meaningless, and not special” merupakan
sindiran bahwa hal yang dianggap konvensional, justru kadang lebih bernilai. Jika
lagu ini suatu saat nanti dikenal luas oleh masyarakat, dan dapat mengubah
kebiasaan, maka momen menunggu datangnya pak pos adalah momen yang menyenangkan
sekaligus mendebarkan.
Mendengarkan “Lies in A Cup of
Cappuccino” entah mengapa saya jadi teringat “Yesterday”-nya The Beatles. Lagu
ini bercerita tentang kesedihan yang dibahagia-bahagiakan, tentang
ketidakrelaan yang direla-relakan. Di bagian interlude kita diajak berdansa di atas kegundahan. Dan dari lagu ini
saya menyatakan bahwa tiga ungkapan: “Cinta itu tidak harus memiliki”, “Walaupun
tidak bersama, kita pasti akan bahagia” serta “Jika kamu bahagia bersamanya, maka
aku rela” adalah kebohongan publik!
Saya membayangkan seorang yang
kehilangan harapan bermain terompet sambil menatap kosong ke arah jalanan yang
lengang. Hanya ada dirinya dan keputusasaannya. “Someday Sometime” bukan hanya bercerita
tentang kepahitan cinta. Sebuah lagu yang asyik untuk mengiringi kondisi saat
realita bukan seperti yang kamu inginkan, dan kamu berada dalam posisi siap
untuk memaki kehidupan.
“It’s a wonderland, place where you can find happiness. It’s a
wonderland, place where you can be free.” Semua orang ingin pergi ke wonderland. Di lagu “Wonderland”, AATPSC
mengajak kita untuk sejenak meninggalkan realita karena realita tak lagi
menyenangkan untuk dihuni.
Menempatkan “Wonderland” sebagai
lagu panjang terakhir sebelum “Outro”, adalah konklusi yang diberikan oleh
AATPSC. Meminjam pernyataan Albert Camus bahwa, “Life is absurd”, maka wonderland
adalah parallel universe dengan
kebahagiaan mutlak yang akan kita tuju. Tapi, jika kebahagiaan itu mutlak,
untuk apa kita mendengarkan AATPSC? Tidak akan ada lagi senyum sarkas yang
menertawakan hidup. Tidak akan ada lagi rasa skeptikal terhadap hidup. Dan
karnaval itu akan menjadi karnaval yang monoton. Mmmm, baiklah, lewati saja
tulisan saya tentang wonderland. Karena
karnaval ini belum selesai untuk ditertawakan.