Jun 26, 2012

Memori Tentang Semester Awal

Ahhh sialan!

Kira-kira itu yang terucap ketika seorang teman minta tolong kepada saya untuk mengirimi tugas-tugas saya kepada dia. Dikejar deadline katanya, sehingga ia harus terpaksa copy paste tugas-tugas saya. Teman saya ini beda jurusan dan beda angkatan pula, jadi agak mudah untuk mengelabui dosennya.

Yang membuat saya berkata sialan bukan tabiat teman saya tersebut, karena tabiat seperti itu adalah hal yang umum bagi seorang mahasiswa, saya pun juga mengalaminya. Rasa sialannya adalah ketika saya harus mengulik tugas-tugas semester awal saya, semester dimana saya masih imut-imutnya, hahaha.. Dari hasil pengulikan tersebut muncul suatu rasa yang... Ahhh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Coba bayangkan sendiri, saya sekarang semester 8, yang notabene adalah semester akhir bagi seorang mahasiswa, dan ketika menonton ke belakang, tepatnya beberapa tahun silam, muncul sebuah perasaan yang... Ahhh pasti engkau tahu bagaimana perasaannya. 

Dan waktu mengulik tugas-tugas lama tersebut seketika memori saya kembali ketika saya berada di semester awal. Dulu jurusan saya (sosiologi-red) belum dibagi menjadi dua seperti sekarang, jadi dulu ketika awal kuliah, kami seperti orang-orang yang mudik Lebaran.Penuh sesak!70-an orang berada di dalam satu kelas! Dan ketika kuliah pasti terjadi "kesenjangan" antara baris paling depan dengan baris paling belakang. Baris depan dihuni oleh teman-teman saya yang pintar sementara baris belakang dihuni oleh teman-teman saya yang "seperti itulah", hahaha.. Ibarat sepakbloa, baris belakang adalah baris yang hampir terdegradasi, hehehe.. Dan ketika dosen memberikan materi pasti ada saja yang ngoceh dengan temannya, suasana kelas bisa dikatakan tidak bisa kondusif. Apalagi ketika ada dosen yang sudah berumur dengan volume suara yang pelan, maka kami pun kadang tidak memperhatikannya. 

Bolos kuliah juga menjadi hal yang lazim, tapi saya dulu jarang lho bolos kuliah, bolos kuliahnya baru pertengahan semester, hehehe.. Jika berbicara mengenai tugas di semester awal, papper terutama, saya biasanya mengerjakannya paling 3 lembar, mentok 5 lembar. Dan dalam pengetikannya, karena saya seorang yang antimainstream, pada saat yang lain menggunakan times new roman, saya memakai arial narrow atau arial. Jahilnya saya adalah spasi biasanya saya buat double dan ketika ganti paragraf biasanya saya enter 2 kali agar jumlah halamannya banyak. Di semester awal, tugas biasanya copy paste dari internet dan ada juga yang mengandalkan logika. Pada saat itu belum mengenal buku sebagai referensi untuk mengerjakan tugas. FYI, sekarangpun masih sering copy paste dari internet tapi hanya sebagai pelengkap atau malah cuma referensi penulisan. Sekarang saya dan teman-teman dituntut agar mengerjakan tugas dengan menggunakan buku sebagai referensinya. Tugas yang telat mengumpulkan pun juga sering saya lakukan dan gara-gara itu harus mengulang mata kuliah pun juga sering, hahaha.. Efeknya baru terasa sekarang.

Memori itu pasti akan tetap tersimpan. Dan suatu saat akan terkenang kembali. Sama seperti harapan banyak orang tentang mesin waktu. Jika mesin waktu itu ada, saya ingin kembali ke masa itu. Saya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kita semua, kawan. Semoga ini menjadi kisah klasik untuk masa depan :)

Jun 18, 2012

D:\musik\west\asoy\lagu bubuk

Mungkin bagi Anda lagu-lagu ini adalah lagu-lagu yang biasa saja menurut Anda. Tapi bagi saya, lagu-lagu ini bernilai dan mempunyai nyawa...

Vertical Horizon-Best I Ever Had
Kings of Convinience-Cayman Island
O Town-All Or Nothing
James Blunt-Goodbye My Lover
James Blunt-Tears and Rain
John Mayer-Comfortable
Maroon 5-Goodnight Goodnight
Michael Buble-Lost
Soko-It's Raining Outside
Joey McIntyre-Stay The Same
The Used-On My Own
Kelly Clarkson- Because of You
The All American Rejects-It Ends Tonight
Robbie Williams-Angel
Robbie Willimas-Better Man

Anda tahu kenapa lagu-lagu tersebut bernilai dan bahkan bernyawa??
Ahhh.. Kalian pasti tahu karena kalian you know me so well :p

Jun 16, 2012

Disentil Tuhan

Tulisan kali ini, saya akan membahas mengenai sebuah kejadian yang, percaya atau tidak, "dikirim" langsung oleh Sang Maha Pencipta. Ini bukanlah sebuah tulisan religi dan tidak ada doktrinasi di sini, hehehe. Tapi di sini saya hanya ingin berbagi mengenai Tuhan yang memberi peringatan yang halus kepada hambanya, dan peringatan tersebut cenderung "lucu" menurut saya.

Baiklah saya akan membicarakan latar belakang kehidupan saya terlebih dahulu. Saya lahir di sebuah keluarga yang religius. Keluarga saya Islam, begitupun dengan saya. Sejak kecil saya diajarkan bagaimana memuliakan Tuhan. Baik dengan sholat, berdoa, membaca Al Quran ataupun hal-hal lain. Dan sampai sekarang, saya masih "ingat" kepada Tuhan. Tapi jujur saja, kadar "ingat" tersebut mengalami pasang surut. Ambil contoh, sholat. Sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Muslim sebanyak 5 kali dalam sehari. Rukun Islam poin dua yang harus benar-benar ditaati dan menurut Quran, sholat merupakan hal pertama yang akan ditanyakan pada waktu Hari Perhitungan kelak Terkait dengan sholat yang saya laksanakan, kadang-kadang ketika setan berbisik, maka sholat yang biasanya saya laksanakan, maka pada kesempatan itu dengan sadar saya tidak mempedulikannya. Sekitar beberapa bulan yang lalu, memang sholat yang notabene adalah perintah Tuhan, saya hiraukan.

Lalu di suatu siang (saya lupa hari apa dan pada bulan apa), tiba-tiba pintu rumah saya terketuk. Kondisi pintu rumah memang sedang terbuka, dan saya sedang berada di kamar depan (kamar depan terletak di samping ruang tamu). Om saya yang mempersilakan tamu tersebut untuk masuk dan kemudian dia memanggil saya untuk menemuinya. Ternyata tamu tersebut adalah seorang wanita penjual buku, umurnya sekitar 50-an tahun. Beliau adalah penjual buku keliling, buku yang ia tawarkan kebanyakan adalah buku-buku yang bertema Islami. Harga buku yang ia jual antara Rp 5.000,00-Rp 30.000,00, range harga tergantung ketebalan buku tersebut. Beliau menawarkan kepada saya beberapa buku, yang kata beliau, banyak diminati oleh pembeli lain. Saya memilih, membuka, membaca beberapa buku, tapi jujur saja tidak ada yang pas kena di hati karena memang saya jarang dan cenderung tidak suka membaca buku-buku religi yang temanya "itu-itu saja".

Saya juga sempat berbincang dengan ibu tersebut. Beliau berasal dari Karanganyar, dan tiap hari berjualan buku tersebut. Beliau biasanya berdua dengan temannya yang juga seorang penjual buku. Mereka berdua berkeliling untuk menjajakan buku biasanya buku-buku tersebut mereka bawa dengan tas. Saya lupa apa saja yang saya tanyakan kepada ibu tersebut, hehehe. Singkat cerita akhirnya saya memutuskan untuk membeli satu buku. Ini bukan karena saya tertarik tapi saya cenderung iba dengan ibu tersebut. Rasa iba saya karena beliau adalah seorang ibu, keluarganya menantinya di rumah untuk mendapatkan rasa kasih sayang dari seorang ibu. Dan ia berjuang demi menafkahi atau mencukupi kebutuhan keluarganya. Rela melawan panasnya matahari demi uang, belum lagi jika buku-buku yang ia jual tidak ada yang dibeli. Itu adalah resiko yang harus dihadapi karena sekarang budaya membaca sudah banyak ditinggalkan. Orang juga membaca, tapi tak lebih dari membaca status Facebook, timeline Twitter dan paling mentok membaca koran. Untuk bacaan yang "berat-berat" dari sebuah benda bernama buku, orang-orang sekarang sudah meninggalkan, mereka lebih sering download di website-website yang menyediakan format pdf untuk buku. Ditambah lagi buku yang ibu tersebut jual adalah buku agama.yang temanya "standar" dan dalam perspektif orang pasti melihat bahwa buku tersebut adalah buku yang temanya sama dengan apa yang pernah ia baca dulu, dan juga memang karena buku-buku yang ibu tersebut jual bagi masyarakat jaman sekarang adalah tidak kekinian. Saya akan mengambil contoh, buku yang ibu tersebut jual adalah buku-buku panduan sholat, bacaan-bacaan Asmaul Husna, kisah-kisah Nabi, dan lain-lain. Bagi sebagian orang itu adalah hal yang kuno karena "Sekarang sudah ada tema yang lebih menarik, buku-buku tersebut pernah saya baca dulu...". Mungkin komentarnya seperti itu, hehehe.

Buku inilah yang saya beli:

Buku ini saya beli dengan harga Rp 25.000,00. Tidak usah saya terangkan bagaimana isinya, karena isinya pasti sama dengan judulnya, hehehe.. 25 ribu memang tidak sepadan jika dinilai dari jerih payah seorang ibu yang berkeliling demi keluarganya. Tapi itulah yang dapat saya berikan untuk ibu tersebut, untuk menghargai perjuangannya. Meskipun setiap perjuangan tidak harus dinilai dengan sejumlah nominal uang.

Singkat cerita ketika ibu tersebut sudah pamit, maka saya langsung masuk ke kamar. Awalnya tidak ada pikiran.Tapi ketika membaca judul buku tersebut untuk yang kedua kalinya, saya hanya bisa tertawa terbahak-bahak Saya sudah disentil oleh Tuhan. Ya, saya sudah disentil oleh Tuhan! Bagaimana bisa tahu-tahu seorang ibu penjual buku-buku agama datang ke rumah saya, padahal jarang sekali ada penjual buku yang mampir di jalanan rumah saya. Dan kenapa pula buku yang saya beli berjudul "Pintar Ibadah"? Seketika langsung pikiran beralih dengan tabiat saya yang tidak mematuhi kewajiban-Nya, dan sekarang, saya berhadapan dengan sebuah moment ciptaan-Nya dimana saya disentil atau disindir untuk meninggalkan tabiat tersebut. Dan sentilan-sentilan Tuhan tersebut sekarang juga saya rasakan lewat mimpi. Sudah tiga hari ini saya bermimpi sholat di masjid. Dan sudah berminggu-minggu pula, sholat yang saya jalani tidak sempurna 5 waktu. Ia memperingatkan saya lagi untuk kedua kalinya, masih dengan cara yang "halus", belum dengan cara yang, mungkin: tegas.

Tuhan memang baik. Dia juga lucu. Karena kadang-kadang Ia memberikan sebuah kejadian yang di luar dugaan kita, apalagi di saat kondisi kita sedang tidak "ingat" kepadanya. Sehingga kejadian tersebut bisa memunculkan senyum di mulut kita. Sentilan-sentilan tersebut hendaknya adalah cara kita untuk memperbaiki diri. Dan ingatlah bahwa segala sesuatunya, telah terskenario dengan baik oleh Sang Maha Sutradara.

Thanks God..









Jun 14, 2012

Review album The Best of FISIP Meraung

Ketika Anda membaca tulisan ini, hal yang harus Anda lakukan adalah pemakluman. Pemakluman karena 1) Tulisan ini ditulis oleh seorang yang hanya menjadi penikmat musik bukan pengamat musik atau reviewer musik, yang mana mereka sangat detail me-review hal-hal yang berkaitan dengan musik. 2) Karena ketika menulis tulisan ini, saya sedang menderita batuk-batuk, tapi ada satu penyakit yang lebih akut yaitu galau berkepanjangan. 3) Karena band yang saya review ini adalah band yang "absurd" sehingga tulisan di sini mungkin juga absurd. 
Cukup budaya basa-basinya, kita langsung menuju topik pembicaraan.

Band ini bernama FISIP Meraung. Mengapa dinamakan FISIP Meraung? Karena mereka berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik salah satu universitas negeri di Solo, Jawa Tengah (perasaan universitas negeri di Solo cuma satu yaitu UNS, ya?). Kenapa mereka meraung? Karena kalau mendesah berarti mereka sedang melakukan ritual one hand

Mereka mengaku beraliran humorcore. Tapi menurut saya, ada satu roots yang menjadi pedoman mereka dalam bermusik yaitu: melodic punk. Tapi apapun musik mereka, saya tidak akan mengkotakkan aliran mereka, karena menurut saya genre musik itu tidak penting. Yang terpenting adalah: Anda membuat karya, lalu Anda melepasnya ke khalayak umum. Terkait interpretasi masyarakat mengenai karya Anda, itu adalah hak masyarakat menyampaikan pendapat. Yang penting Anda telah berkarya karena dengan berkarya berarti Anda telah menggunakan dan mensyukuri karunia Tuhan yang diberikan kepada Anda. 
Ahhh, pembicaraan jadi melebar selebar perut saya, saudara-saudara. Baiklah langsung back to the point saja.

 Album ini adalah "the real album" dari mereka. Mereka sebenarnya telah menelurkan beberapa album, antara lain: Stop Kontak Nemplek Irung (Agustus 2011), Gedang Goreng (September 2011), 17+ Campursaru (Oktober 2011), Rekaman With Amek&Topik (Oktober 2011), Drei Kembang (November 2011), single untuk Pemilu FISIP 2011 (Desember 2011) dan Siluman Tengkorak (Januari 2012). Akan tetapi album-album tersebut direkam dengan menggunakan media handphone sehingga kualitas suara yang dihasilkan tidak jernih. Dan di album The Best of inilah momentum mereka untuk menghasilkan suatu karya yang layak disimak (baik audio maupun visual) dan layak untuk didapatkan. Sama seperti album The Best of dari musisi-musisi lain yang menampilkan lagu-lagu terbaik yang pernah dibuat, album ini diisi oleh 14 lagu. ciamik dari mereka. Dan ketika Anda baru petama kali mendengarkan mereka, ada dua hal yang terlintas: bingung dan tertawa geli. Anda layak bingung karena mereka nampaknya band yang berpikir cepat secepat lagu mereka. Dan nampaknya durasi lagu yang panjang menurut mereka adalah hal yang sangat mainstream sehingga mereka membuat antimainstream-nya yaitu membuat lagu-lagu dibawah titik mainstream. Lagu terlama mereka adalah 1:40, dan yang tercepat adalah 0:10! Jika diibaratkan berhubungan sex, itu berarti Anda langsung mencapai orgasme ketika Anda baru melakukannya, dan hal itu nampaknya harus menjadi alasan Anda untuk pergi ke On Clinic sesuai anjuran Ikang Fawzi. Dan jika mereka tampil live, yang paling "menderita" adalah crowd, karena baru sekali gerakan pogo lagu sudah habis. Jika Anda pogo untuk mencari keringat, saya sarankan jangan pogo ketika FISIP Meraung tampil, karena tidak banyak keringat yang terkuras. Lebih baik Anda membeli peralatan olahraga yang iklannya mendominasi televisi lokal Solo.

Dalam depertemen lirik, mereka dominan menggunakan lirik berbahasa Jawa. Dan penulisan lirik pun cenderung klise. Tapi justru ke-klise-annyalah yang membuat Anda tertawa geli. Bagaimana tidak, lirik-lirik yang mereka tulis bisa dikatakan ngayelke-ngayelke ra mutu. Itu justru menjadi poin plus dan menjadi ciri khas mereka. Bagi Anda yang bukan menyandang status sebagai seorang Jawa, nampaknya Anda harus membeli kamus Bahasa Jawa-Bahasa Indonesia untuk mengerti lirik-lirik yang mereka sampaikan. Obyek inspirasi penulisan lirik merekapun bisa kita jumpai sehari-hari. Ambil contoh dalam lagu Wayer Mubeng-Mubeng, mereka mencoba mengeksplor kipas angin yang berputar-putar, dan dari kipas angin tersebut akhirnya lirik didapatkan, tidak membutuhkan waktu berjam-berjam dalam penulisan lagu tersebut menurut mereka. Coba dengarkan Track 04, di sana dihuni oleh sebuah lagu berjudul Es Teh, dan FYI saja ini adalah lagu favorit saya. Saya memfavoritkan lagu ini karena dialog sebelum lagu ini dimulai, itu sangat-sangat mbuh sekali. Sehingga deskripsi dengan kata-kata sangatlah tidak afdol, lebih afdol jika Anda mendengarkannya sendiri. Dan dialog di lagu tersebut sekarang sedang menjadi trend bagi teman-teman saya. Lalu di track 05 Ngentasi Memean, karena mendapatkan perintah dari otak, otak saya merespon output suara yang ditangkap oleh kuping saya maka saya hanya bisa membiarkan bibir dan pita suara saya bekerja untuk melakukan sebuah hal yang akhir-akhir ini dikenal dengan tulisan LOL. LOL terjadi karena adanya stimulus dari dialog yang nggapleki. Satu lagu yang substansinya sangat tersampaikan dan menurut saya di track ini adalah lagu yang paling "serius", karena menggambarkan seorang Bandi yang dirinya "...pride gonna be working class...". Sudah seharusnya para buruh mendapatkan kehidupan yang layak, bung!

Anda pasti "misuh-misuh" karena mendengarkan track 11 yaitu Eeaa! Ini adalah track paling fenomenal menurut saya, sama fenomenalnya dengan video porno dari Ariel Peterpan. Semua sudah punyakan videonya? Dengarkan sendiri track 11 ini, Anda pasti shock mendengarkannya. Mereka juga meng-cover sebuah lagu dari F4 berjudul Jepawe, tapi cover version tersebut adalah ala mereka. Jadi tidak usah ditanyakan nggrantes atau tidaknya lagu tersebut sama dengan versi aslinya. Dan lagu dari album The Best of ini mencapai klimaks karena lagu ini diakhiri dengan sebuah lagu yang merupakan ode bagi Anda-Anda yang takut berzina, dan tangan adalah media paling pas untuk merealisasikan sejumlah imajinasi kotor di otak.

Dalam segi packaging, mereka pantas diacungi jempol. Karena packaging dikonsep secara unik, dan saking uniknya, mungkin membuat orang bertanya-tanya dan mungkin "misuh-misuh". Ya pantas saja orang melakukan tindakan seperti itu karena album tersebut dibuat seperti map dan ditambah lagi mereka memasukkanya ke dalam amplop. Jika diibaratkan, packaging tersebut seperti kita membeli sebuah barang dari olshop. Di dalam map jahanam tersebut terdapat foto-foto para personelnya pada saat take, wajah mereka tampak imut, tapi masih kalah imut dengan Cherrybelle. Di bagian kanan dari foto tersebut ada kumpulan lirik-lirik yang diimbangi dengan ilustrasi-ilustrasi yang juga ngayelke. Saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, maka silakan pencet disini untuk melihat bagaimana bentuk album fisik mereka.
Jangan harap ada bonus sticker di dalam packaging album mereka, karena mereka memberikan bonus berupa teh celup yang mereka namai dengan Teh FM. Mungkin teh ini adalah sebuah teh yang diramu dengan rumus SPSS che square ditambah dengan teori semiotik dan teori sosiologi pos modern, yang menyebabkan ketika Anda meminum teh tersebut dan pada posisi Anda mengerjakan tugas kuliah, Anda langsung bisa mendapatkan inspirasi untuk mengurai kata-kata sesuai minimal target halaman yang diberikan oleh dosen Anda.

Secara musikal,saya tidak bisa menjelaskan karena biarkanlah reviewer majalah musik yang membuat ulasan mengenai album ini, kecuali jika saya dikontrak oleh majalah musik sebagai reviewer album-album rilisan dari para musisi-musisi.

Dan mengakhiri tulisan ini, saya berpesan kepada Amek, Topik dan Athif karena saya selaku kakak tingkat mereka, untuk tetap kuliah, belajar dan berdoa agar lulus seperti standar S1. Jangan seperti kakak tingkatmu ini yang insyallah lulus di semester 8 plus 2. Nge-band itu hak bagi semua orang, tapi lulus sesuai standar itu adalah kewajiban kita kepada orangtua yang membiayai kita. (Aku sangar ya iso ngomong kaya ngene?)

Jun 13, 2012

SEBUAH HAL YANG..

LAMA TAK TERJAMAH..
CERITA YANG HENDAK KUSAMPAIKAN TAK TERARAH..
MENGUMPAT ADALAH LUMRAH..
JAHANAM ADALAH PELAMPIASAN!

Saudara-saudara, sebuah cerita berantai dengan judul "The Diary of Blue Man" , akhirnya tidak saya ceritakan hingga babak akhir. Mohon maaf..

Ibarat sinetron, tulisan saya tersebut memang kejar tayang, dan masih ibarat sinetron, sponsor yang mendanai tidak ada. Bedanya, sponsor untuk sinetron adalah iklan (atau lebih tepat dikatakan dengan uang) sementara sponsor dari tulisan "The Diary of Blue Man" adalah otak dan jiwa. Otak dan jiwa saya sedang melayang entah kemana, saudara-saudara.. Sehingga apa daya tulisan yang (menurut saya) menarik tersebut harus dipaksa tak menemui jalan akhir.

Facebook, twitter dan kemalasan. Salahkan ketiga faktor tersebut | Galau juga faktor penentu nggak, mas? | Nek aku galau, ambeganmu langsung melalui silit, ngono?

Tidak bisa mendeskripsikan..
Yang jelas saya ingin MENULIS LAGI!

Oh iya, tulisan ini saya buat sambil mendengarkan albumnya Creed. Udah gitu doang..