Ketika Anda membaca tulisan ini, hal yang harus Anda lakukan adalah pemakluman. Pemakluman karena 1) Tulisan ini ditulis oleh seorang yang hanya menjadi penikmat musik bukan pengamat musik atau reviewer musik, yang mana mereka sangat detail me-review hal-hal yang berkaitan dengan musik. 2) Karena ketika menulis tulisan ini, saya sedang menderita batuk-batuk, tapi ada satu penyakit yang lebih akut yaitu galau berkepanjangan. 3) Karena band yang saya review ini adalah band yang "absurd" sehingga tulisan di sini mungkin juga absurd.
Cukup budaya basa-basinya, kita langsung menuju topik pembicaraan.
Band ini bernama FISIP Meraung. Mengapa dinamakan FISIP Meraung? Karena mereka berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik salah satu universitas negeri di Solo, Jawa Tengah (perasaan universitas negeri di Solo cuma satu yaitu UNS, ya?). Kenapa mereka meraung? Karena kalau mendesah berarti mereka sedang melakukan ritual one hand.
Mereka mengaku beraliran humorcore. Tapi menurut saya, ada satu roots yang menjadi pedoman mereka dalam bermusik yaitu: melodic punk. Tapi apapun musik mereka, saya tidak akan mengkotakkan aliran mereka, karena menurut saya genre musik itu tidak penting. Yang terpenting adalah: Anda membuat karya, lalu Anda melepasnya ke khalayak umum. Terkait interpretasi masyarakat mengenai karya Anda, itu adalah hak masyarakat menyampaikan pendapat. Yang penting Anda telah berkarya karena dengan berkarya berarti Anda telah menggunakan dan mensyukuri karunia Tuhan yang diberikan kepada Anda.
Ahhh, pembicaraan jadi melebar selebar perut saya, saudara-saudara. Baiklah langsung back to the point saja.
Album ini adalah
"the real album" dari mereka. Mereka sebenarnya telah menelurkan beberapa album, antara lain:
Stop Kontak Nemplek Irung (Agustus 2011),
Gedang Goreng (September 2011), 1
7+ Campursaru (Oktober 2011),
Rekaman With Amek&Topik (Oktober 2011),
Drei Kembang (November 2011),
single untuk Pemilu FISIP 2011 (Desember 2011) dan
Siluman Tengkorak (Januari 2012). Akan tetapi album-album tersebut direkam dengan menggunakan media handphone sehingga kualitas suara yang dihasilkan tidak jernih. Dan di album The Best of inilah momentum mereka untuk menghasilkan suatu karya yang layak disimak (baik audio maupun visual) dan layak untuk didapatkan. Sama seperti album The Best of dari musisi-musisi lain yang menampilkan lagu-lagu terbaik yang pernah dibuat, album ini diisi oleh 14 lagu. ciamik dari mereka. Dan ketika Anda baru petama kali mendengarkan mereka, ada dua hal yang terlintas: bingung dan tertawa geli. Anda layak bingung karena mereka nampaknya band yang berpikir cepat secepat lagu mereka. Dan nampaknya durasi lagu yang panjang menurut mereka adalah hal yang sangat mainstream sehingga mereka membuat antimainstream-nya yaitu membuat lagu-lagu dibawah titik mainstream. Lagu terlama mereka adalah 1:40, dan yang tercepat adalah 0:10! Jika diibaratkan berhubungan sex, itu berarti Anda langsung mencapai orgasme ketika Anda baru melakukannya, dan hal itu nampaknya harus menjadi alasan Anda untuk pergi ke On Clinic sesuai anjuran Ikang Fawzi. Dan jika mereka tampil live, yang paling "menderita" adalah crowd, karena baru sekali gerakan pogo lagu sudah habis. Jika Anda pogo untuk mencari keringat, saya sarankan jangan pogo ketika FISIP Meraung tampil, karena tidak banyak keringat yang terkuras. Lebih baik Anda membeli peralatan olahraga yang iklannya mendominasi televisi lokal Solo.
Dalam depertemen lirik, mereka dominan menggunakan lirik berbahasa Jawa. Dan penulisan lirik pun cenderung klise. Tapi justru ke-klise-annyalah yang membuat Anda tertawa geli. Bagaimana tidak, lirik-lirik yang mereka tulis bisa dikatakan
ngayelke-ngayelke ra mutu. Itu justru menjadi poin plus dan menjadi ciri khas mereka. Bagi Anda yang bukan menyandang status sebagai seorang Jawa, nampaknya Anda harus membeli kamus Bahasa Jawa-Bahasa Indonesia untuk mengerti lirik-lirik yang mereka sampaikan. Obyek inspirasi penulisan lirik merekapun bisa kita jumpai sehari-hari. Ambil contoh dalam lagu
Wayer Mubeng-Mubeng, mereka mencoba mengeksplor kipas angin yang berputar-putar, dan dari kipas angin tersebut akhirnya lirik didapatkan, tidak membutuhkan waktu berjam-berjam dalam penulisan lagu tersebut menurut mereka. Coba dengarkan Track 04, di sana dihuni oleh sebuah lagu berjudul
Es Teh, dan FYI saja ini adalah lagu favorit saya. Saya memfavoritkan lagu ini karena dialog sebelum lagu ini dimulai, itu sangat-sangat
mbuh sekali. Sehingga deskripsi dengan kata-kata sangatlah tidak afdol, lebih afdol jika Anda mendengarkannya sendiri. Dan dialog di lagu tersebut sekarang sedang menjadi trend bagi teman-teman saya. Lalu di track 05
Ngentasi Memean, karena mendapatkan perintah dari otak, otak saya merespon output suara yang ditangkap oleh kuping saya maka saya hanya bisa membiarkan bibir dan pita suara saya bekerja untuk melakukan sebuah hal yang akhir-akhir ini dikenal dengan tulisan LOL. LOL terjadi karena adanya stimulus dari dialog yang
nggapleki. Satu lagu yang substansinya sangat tersampaikan dan menurut saya di track ini adalah lagu yang paling "serius", karena menggambarkan seorang Bandi yang dirinya
"...pride gonna be working class...". Sudah seharusnya para buruh mendapatkan kehidupan yang layak, bung!
Anda pasti
"misuh-misuh" karena mendengarkan track 11 yaitu
Eeaa! Ini adalah track paling fenomenal menurut saya, sama fenomenalnya dengan video porno dari Ariel Peterpan. Semua sudah punyakan videonya? Dengarkan sendiri track 11 ini, Anda pasti shock mendengarkannya. Mereka juga meng-cover sebuah lagu dari F4 berjudul
Jepawe, tapi cover version tersebut adalah ala mereka. Jadi tidak usah ditanyakan
nggrantes atau tidaknya lagu tersebut sama dengan versi aslinya. Dan lagu dari album The Best of ini mencapai klimaks karena lagu ini diakhiri dengan sebuah lagu yang merupakan ode bagi Anda-Anda yang takut berzina, dan tangan adalah media paling pas untuk merealisasikan sejumlah imajinasi kotor di otak.
Dalam segi packaging, mereka pantas diacungi jempol. Karena packaging dikonsep secara unik, dan saking uniknya, mungkin membuat orang bertanya-tanya dan mungkin
"misuh-misuh". Ya pantas saja orang melakukan tindakan seperti itu karena album tersebut dibuat seperti map dan ditambah lagi mereka memasukkanya ke dalam amplop. Jika diibaratkan, packaging tersebut seperti kita membeli sebuah barang dari olshop. Di dalam map jahanam tersebut terdapat foto-foto para personelnya pada saat
take, wajah mereka tampak imut, tapi masih kalah imut dengan Cherrybelle. Di bagian kanan dari foto tersebut ada kumpulan lirik-lirik yang diimbangi dengan ilustrasi-ilustrasi yang juga
ngayelke. Saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, maka silakan
pencet disini untuk melihat bagaimana bentuk album fisik mereka.
Jangan harap ada bonus sticker di dalam packaging album mereka, karena mereka memberikan bonus berupa teh celup yang mereka namai dengan Teh FM. Mungkin teh ini adalah sebuah teh yang diramu dengan rumus SPSS che square ditambah dengan teori semiotik dan teori sosiologi pos modern, yang menyebabkan ketika Anda meminum teh tersebut dan pada posisi Anda mengerjakan tugas kuliah, Anda langsung bisa mendapatkan inspirasi untuk mengurai kata-kata sesuai minimal target halaman yang diberikan oleh dosen Anda.
Secara musikal,saya tidak bisa menjelaskan karena biarkanlah reviewer majalah musik yang membuat ulasan mengenai album ini, kecuali jika saya dikontrak oleh majalah musik sebagai reviewer album-album rilisan dari para musisi-musisi.
Dan mengakhiri tulisan ini, saya berpesan kepada Amek, Topik dan Athif karena saya selaku kakak tingkat mereka, untuk tetap kuliah, belajar dan berdoa agar lulus seperti standar S1. Jangan seperti kakak tingkatmu ini yang insyallah lulus di semester 8 plus 2. Nge-band itu hak bagi semua orang, tapi lulus sesuai standar itu adalah kewajiban kita kepada orangtua yang membiayai kita. (Aku sangar ya iso ngomong kaya ngene?)