Dec 22, 2011

Suara-Suara Aneh

Pyaaaarrr…

Terdengar sebuah kaca pecah, suaranya terlalu indah untuk dirasakan, tak merasa kalau beling-beling tersebut adalah berada pada posisi vertical, siap menancap bagi siapa saja yang tak tahu arah. Biarkanlah saja, toh hanya orang yang tak tahu arah saja yang bakal kena. Kalau dipikir-pikir, asyik juga jika kita mengambil beling-beling tersebut lalu kita goreskan ke pergalangan tangan kita, hingga nadi kita terkelupas, hingga darah menetes dengan sempurna dan akhirnya akan membentuk sebuah symbol yaitu: SOS…

Gedebukk..

Apa itu? Ohhhh ternyata ada malaikat yang jatuh dari surga. Sayapnya terbelah menjadi beberapa inci. Sayapnya yang kanan tersangkut di pagar listrik bertuliskan: HIGH VOLTAGE, dan sekarang sayapnya tersebut telah menjadi arang. Usai sudah masa-masa kejayaannya di mana ketika itu sayapnya yang kanan berhasil membawanya ke surga. Sayapnya yang kiri lain cerita, ternyata karena telah infeksi ia terpaksa merobek sayapnya tersebut. Sekarang sayapnya telah dimakan burung pemakan bangkai di pojokan jalan itu. Usai sudah masa-masa kejayaannya di mana ketika itu sayapnya yang kiri berhasil membawanya ke surga. Kini malaikat itu terpaksa menjadi manusia tulen, turun kasta adalah kata paling indah untuknya. Kini ia hanya meratapi kesalahannya, dan tak tahukah ia bahwa perjalanan ke surga adalah kilometer tak terbatas? Kini ia terjebak dalam dimensi antah berantah. Konon, ini adalah sebuah dimensi yang terkejam, yang pernah Tuhan buat. Dimensi ini bernama: dunia. Kini ia terjebak, tak akan pernah bisa keluar, menunggu hingga hari akhir, menunggu datangnya seorang Messiah dan apa yang akan ia perbuat akan dicatat sebagai seorang manusia bukan malaikat. Kabar terakhir dari malaikat tersebut adalah, ia akhirnya memilih gantung diri di bawah pohon pinus di areal pegunungan. Pesan terakhir yang ia buat adalah, “Lebih baik aku mati bunuh diri daripada hidup tapi sia-sia dan tanpa arti. Apa yang aku jalani adalah kesalahan untuk hidupku sendiri.”

Kriciiikkk kriicciikkk..

Apa itu? Ahhhh.. pasti engkau sudah tahu..

FLYAWAY

22 desember 2011

Jan 3, 2011

Mencari Sosok Veronica Guerin Ala Indonesia

Siang hari tadi, saya menonton film yang saya pinjam dari persewaan VCD. Sebuah film produksi tahun 2003, disutradarai oleh Joel Schumacher dan dibintangi Cate Blachett, film ini diangkat dari kisah nyata. Fim ini berjudul "Veronica Guerin". Guerin, adalah seorang jurnalis asal Irlandia, pada medio 1996 di Irlandia pada saat itu angka penggunaan narkoba begitu tinggi, baik dari pecandu maupun pengedar angkanya begitu tinggi. Tingkat kematian pun melonjak drastis. Inilah yang dicoba diangkat oleh Guerin pada saat itu. Ia ingin membongkar jaringan narkoba di negaranya dengan tulisan-tulisannya yang tajam. Akan tetapi ia mendapatkan intimidasi dalam mengungkap fakta itu, dan klimaksnya adalah ia dibunuh oleh orang yang berusaha ia angkat kasusnya.

Inilah kondisi yang coba saya angkat melalui tulisan ini berkaca dari kisah Veronica Guerin tadi. Seorang jurnalis, dalam menulis berita tidak hanya menyertakan unsur 5W+1H, akan tetapi dalam penulisan beritanya ia harus menyertakan unsur kebenaran dan kejujuran. Kebenaran dan kejujuran, dua kata yang sulit dijumpai akhir-akhir ini. Kenapa begitu? Karena menurut kacamata saya para jurnalis di Indonesia kurang berani dalam mengungkap kasus yang sedang in maupun kasus-kasus underratted. Tulisan ini tidak mendiskreditkan peran seorang jurnalis atau kinerja seorang jurnalis sekarang, akan tetapi tulisan ini adalah harapan kedepannya.

Melihat fenomena di Indonesia, peran jurnalis bisa begitu sangat sentral. Karena seperti di Irlandia pada saat itu, Indonesia juga sedang "sakit". Dan jurnalis adalah salah obat mujarab untuk menyembuhkannya. Begitu banyak kasus yang terkesan mandek, tidak ada progress dalam kasus tersebut. Inilah tugas jurnalis untuk bisa menelusurinya. Saya sangat tertarik melihat tulisan majalah Tempo dengan covernya yang kontroversial itu tentang rekening pajak petinggi di Polri. Ini merupakan ulasan kritis tentang suatu kondisi. Walaupun pada akhirnya tulisan-tulisan itu seakan membentur tembok. Oknum-oknum yang bersangkutan begitu rapat pertahanannya sehingga berita itu tidak terlalu lama dikonsumsi masyarakat.

Spirit "pembangkangan" harus dimiliki oleh jurnalis-jurnalis di Indonesia. Mereka bisa saya katakan kurang berani dalam mendalami suatu kasus. Ketika mereka sudah mendalami kasus tersebut, muncul hambatan baru, yaitu bisa dibilang intimidasi. Atau mungkin ketakutan pimpinan media tersebut yang takut untuk dibredel oleh pemerintah. Ini semua adalah paradigma usang yang harus diganti. Karena perubahan itu berada di tangan jurnalis. Seperti yang telah diajarkan oleh Veronica Guerin, walaupun ia diintamidasi oleh berbagai pihak akan tetapi karena spiritnya untuk melakukan suatu perubahan tersebut ia tetap menjalani pekerjaannya tersebut dengan segala konsekuensinya.

Ada banyak spot-spot yang bisa diangkat oleh seorang jurnalis di Indonesia, jangan cuma mengangkat atau melambungkan kasus video porno, artis yang ditangkap karena berkelahi, atau pernikahan artis, atau pemberitaan yang berlebihan pada Timnas, tapi cobalah lebih mendalami kasus-kasus yang dirindukan oleh masyarakat Indonesia akan kebenarannya, seperti kasus pembunuhan Nasaruddin Zulkarnaen, kasus Lapindo, kasus penyelewengan pajak Ical, kasus mundurnya Sri Mulyani dari kabinet, kondisi polisi sekaran ini, kasus Munir,dll. Sebegitu banyaknya kasus-kasus "menarik" di Indonesia, akan tetapi kasus-kasus tersebut kurang dieksekusi secara baik oleh para jurnalis, dan membiarkan masyarakat beropini sendiri seperti obrolan-obrolan mereka di wedangan, di pos ronda.

Kita tidak butuh politisi-politisi yang berkoar-koar tentang kondisi negara. Sekarang ini yang dibutuhkan negara ini adalah sesosok jurnalis yang baik dan jujur. Jujur dalam penyampaiannya, tidak dilebihkan maupun dikurangi, dan jujur yang tidak ada nilai tendensi di dalamnya. Berani membuat gebrakan itu perlu. Seandainya saya melanjutkan studi di ilmu komunikasi maka mata kuliah jurnalistik akan menjadi mata kuliah favorit saya. Akan tetapi saya kuliah di jurusan sosiologi, tapi muncul cita-cita baru saya yaitu sebagai jurnalis.

HANYA ADA SATU KATA:LAWAN !!!

tulisan ini saya dedikasikan kepada Veronica Guerin dan orang-orang yang telah berani membuat gebrakan melalui tulisanyya maupun liputannya.

R.I.P Veronica Guerin (5 July 1958 - 26 June 1996)