Pernahkah
kamu diklakson pengendara di belakangmu karena APILL telah menghijau meski baru
sepersekian detik? Saya kerap dibegitukan. Sebal rasanya dengan ulah
pengendara-pengendara ngehek seperti
itu. Dipikir jalan raya itu kepunyaan embah buyutnya nenek buyut mereka apa?
Dongkol
memang melihat tabiat pengendara di Indonesia. Sebagai pengendara motor solois yang-jok-belakangnya-selalu-kosong-dan-berdebu,
saya merasa dizalimi. Ingin rasanya membalas perlakuan mereka dengan meneriakkan
kalimat: “Apa kontribusimu bagi negara?" Cakep.
Mereka-mereka
ini seyogianya dimasukkan ke dalam golongan makhluk yang tak punya kesabaran. Coba bayangkan, di depan saya masih
ada pengendara-pengendara lain yang belum beranjak. Eh, dia seenak udelnya
memencet klakson dengan penuh tenaga. Bajinguk
banget, bukan?
Namun,
sebagai fans karbitan Mario Teguh,
saya berusaha berpikiran positif terhadap mereka. Ya, mungkin saja mereka
terburu-buru.
Eh,
omong-omong soal terburu-buru, sepertinya manusia telah digariskan menjadi
makhluk yang mahaterburu-buru, ya? Contohnya pengendara ngehek. Mereka dengan entengnya menekan klakson supaya cepat-cepat terbebas
dari siksaan durasi panjang traffic light.
Coba bayangkan, jika mereka bisa menahan sedikit saja egonya, pasti jalan
raya bakal jadi tempat penuh senyum dan tidak dipenuhi wajah-wajah kemrungsung, mecucu, dan mbesengut.
Saya
malah teringat pengalaman sewaktu jadi mahasiswa. Waktu itu saya sedang
malas-malasnya menjadi mahasiswa taat. Singkat cerita, ada dosen yang memberi
tugas meringkas satu buku. Tugas dikumpulkan di pertemuan selanjutnya.
Bagi
orang-orang yang tidak berotak slenco, seminggu
adalah waktu ideal untuk merampungkan tugas itu. Namun, karena saat itu saya lagi
bosan jadi mahasiswa pintar dan rajin, akhirnya saya mengerjakan tugas itu H-12 jam dari tenggat pengumpulan.
Sesampainya
di kelas, saya hanya bisa senyam-senyum kecut pas melihat garapan teman-teman
saya. “Kowe pirang lembar?” tanya
saya. Sebenarnya saya sudah bisa menjawab sendiri pertanyaan itu hanya dengan
melihat tumpukan tebal milik mereka yang diberi penjepit.
Saya?
Kalau tidak salah ingat, saya cuma nge-print
sebanyak 4-5 lembar. Anti-mainstream,
ya?
Ya,
namanya juga mahasiswa. Sebenarnya, setiap mahasiswa adalah titisan Bandung Bondowoso. Coba kamu tanya teman – atau
mungkin kamu pernah mengalami – bagaimana sensasi menyelesaikan tugas hanya
dalam waktu beberapa jam sebelum batas akhir.
Beberapa teman menganggap hal itu sebagai pemacu adrenalin.
Banyak
cerita lain yang bisa kamu dapati, misalnya tentang efek pengambilan keputusan
yang terburu-buru, orang-orang yang meregang nyawa di jalan sebab terburu-buru,
dan jangan lupakan juga problematika krusial generasi 2.0: terburu-buru
mengungkapkan perasaan.
Nah,
dari sini sudah semakin jelas kalau manusia sudah ditakdirkan menjadi makhluk
yang mahaterburu-buru, kan?
Saya
jadi berpikir, apabila jiwa manusia berbentuk kotak, dalam kotak itu ada panel-panel
yang mengatur rohaniah kita, apakah mungkin baut di panel kesabaran memang
sengaja dilonggarkan? Atau mungkin
jangan-jangan, terburu-buru itu timbul karena petugas penjaga kesabaran sedang
cuti? Bisa jadi juga, terburu-buru itu ada disebabkan sungai kesabaran sedang
kering kerontang karena mengalami musim kemarau.
Entahlah.
Yang jelas, terburu-buru itu tidak enak. Semoga mencintaimu bukanlah
keterburu-buruan. Eeeaaaa.