Apr 28, 2013

(Tidak Ingin) Menjadi Dewasa

26 April adalah tanggal yang bersejarah bagi saya setiap tahunnya. Setelah proses kontraksi terjadi, seorang bayi laki-laki mungil keluar dari rahim ibunya. Diasuh dengan diberi kasih sayang, bayi mungil itu akhirnya memasuki masa balita, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, hingga akhirnya mantan bayi tersebut, sekarang, bisa menuliskan tulisan ini dalam usia 23 tahun.

Yap, dua hari yang lalu saya menapaki sebuah usia baru. Sebuah usia yang tidak bisa lagi dibuat untuk main-main. Karena dewasa berarti siap, mandiri, dan tahan banting. Tapi persetan dengan semua itu! Menjadi dewasa itu melelahkan dan menjemukan, bukan? Dengan segala kompleksitas hidup yang terus meningkat, dengan beragam tanggungjawab yang harus dibuat, dengan bermacam-macam tuntutan yang kadang membuat kita tidak mengenali diri kita sendiri. 

Menjadi seorang yang skeptis terhadap masa dewasa merupakan sebuah blunder. Kita tidak bisa mungkin lepas dari masa ini karena ini merupakan takdir yang harus kita jalani. Atau mungkin rasa skeptis yang muncul dalam diri saya adalah sebuah kamuflase dari ketakutan-ketakutan yang saya buat sendiri? Saya memang pantas pantas takut karena saya rasa saya belum siap untuk melaju dalam lintasan yang orang menyebutnya dengan dewasa. Secara fisik memang saya siap memasuki masa dewasa, tapi secara pemikiran dan tindakan, bisa dibilang belum.

Ya, ya, ya, nampaknya sikap skeptikal (atau mungkin bisa disebut ketakutan?) saya sudah semakin memuncak. Silakan anggap saya sebagai seorang yang tidak mempunyai kepercayaan diri, tidak mempunyai keberanian, pengecut atau kata-kata merendahkan lainnya. Tapi setiap orang pasti mempunyai rasa skeptis terhadap sesuatu, bukan? Tapi setiap orang pasti mempunyai ketakutannya sendiri, bukan? Dan ketakutannya adalah suatu hal yang nyata. Yang saya takutkan hanyalah jika ketakutan-ketakutan saya ini menjadi phobia. Phobia terhadap sesuatu boleh-boleh saja, tapi kalau phobia terhadap hidup? Dokter mana yang akan menyembuhkan? Hahaha... Di Facebook dan Twitter, banyak teman saya yang mendoakan dan memberi ucapan supaya saya sukses, diberi kesehatan, dan cepat lulus kuliah. Itu baik. Tapi seharusnya kalian juga berdoa supaya kelak saya tidak mengidap psikosomatis, hahaha... 

Ketika membaca paragraf sebelum ini, pasti kamu menganggap saya sedang mencari pembenaran, bukan? Dan selamat, anggapanmu benar :)




"...Finally, I could hope for a better day.
No longer holding on to all the things that cloud my mind.
Maybe then the weight of the world wouldn't seem so heavy.
But then again I'll probably always feel this way..."

(City And Colour-The Death of Me)


Apr 26, 2013

Perasaan Itu...

Ketika musik ending mengalun, ketika lampu perlahan fade out, dan adegan terakhir selesai diperankan, seketika itu juga penonton bertepuk tangan. Riuh. Entah apakah mereka menyukai pementasan yang mereka tonton, atau hanya sebuah formalitas ketika pementasan berakhir tanda sebuah penghormatan. Yang jelas pada saat itu mereka yang memainkan musik, mengoperasikan dimmer, memerankan tokoh atau siapa saja orang yang berada dalam lingkaran pementasan itu, ada yang tertawa gembira, tersenyum kecil, berfoto dengan teman-temannya dan hal-hal lain yang lumrah dilakukan pada saat sebuah pementasan telah berhasil dilangsungkan.

Saya juga pernah mengalami hal-hal yang tertulis di atas. Tapi itu dulu. Walaupun tiga hari yang lalu saya dan teman-teman Teater SOPO telah berhasil melangsungkan Bikin Bikin XIX, yang mana pementasan tersebut mendapatkan apresiasi tinggi dari penonton, tapi entah kenapa setelah selesai pentas, gegap gempita panggung dan penonton yang akhirnya terakumulasi menjadi euforia, tidak bisa saya dapatkan. Saya hanya bisa termenung, jauh dari keriuhan, dan mencoba mengabaikan. 

Tidak ada bahagia, tidak ada kecewa, hanya sebuah kesedihan. Ya, saya sedih, ini bukan hiperbola, dan saya tidak bisa menyangkal itu. Perasaan itu ada karena suatu saat saya harus meninggalkan itu semua, meninggalkan kelompok yang memberikan saya pelajaran. Perasaan itu ada karena saya berpikir apakah saya bisa berproses dengan mereka ke depannya ketika saya dihadapkan dengan kewajiban bernama studi. Perasaan itu ada karena pertanyaan dalam diri apakah saya bisa memberikan contoh dan berbagi ilmu dengan teman-teman angkatan di bawah saya. Menjadi seorang tua di dalam sebuah kelompok akibat studi yang belum selesai adalah sebuah hal yang berat. Tua berarti menjadi teladan, memberikan contoh, pemecah masalah dengan solusi, tapi itu semua belum ada dalam diri saya. Pergolakan batin ini semakin menjadi karena tuntutan orangtua untuk segera menyelesaikan kuliah, sehingga saya mempertanyakan diri saya sendiri, "Masih siapkah dirimu untuk menjaga eksistensi dan loyalitas? Kuliah atau teater?" Sebuah kalimat retoris menjadi akhir sebuah paragraf yang berisi tentang kegundahan.

Memang ada sebuah masa di mana kita harus memasuki sesuatu yang baru dan meninggalkan (walaupun dengan terpaksa) sesuatu yang telah lama kita jalani. Ketika satu proses telah terlewati, maka akan ada proses-proses selanjutnya yang menggantikan. Itulah hidup. Jika memang pada saatnya nanti kisah saya dalam kelompok tersebut berakhir, saya ingin mengakhirinya dengan akhir yang bahagia. Berbagi kebahagiaan atas segala memori yang terekam. 

Terimakasih Teater SOPO...
Cheers!


*Oh ya, jika kamu membaca tulisan ini, alangkah lebih baiknya jika kamu memberi backsound lagunya Peterpan berjudul "Semua Tentang Kita", semua perasaan yang tak tertuliskan di tulisan ini telah terwakilkan di lagu itu.

Apr 25, 2013

Puja Benda Mati! Puja!

Kali ini saya hanya ingin bercerita. Cerita saya kali ini bukan mengajak kamu untuk mempercayai kekuatan di dalam sebuah benda. Ini bukan tulisan yang membahas hal magis yang mana sebuah benda dikultuskan karena kesakralannya. Jika kamu benar-benar melakukannya, hati-hati saja, kamu nanti bisa dimarahi Tuhan, begitu kata Anang Hermansyah dan Aurel.

Saya bukan seorang penganut dinamisme, tapi di dalam hati kecil saya, saya percaya bahwa suatu benda mempunyai jiwa dan nyawa. Kamu pernah menonton film Herbie Fully Loaded? Kira-kira seperti itulah pernggambarannya dalam sudut pandang film.

Tulisan ini didasari oleh kisah nyata, berulang kali saya berurusan dengan benda-benda yang "seperti itu". Contoh kecilnya adalah motor saya. Sudah berulang kali saya dibuat naik pitam karena ulah motor saya. Yang paling baru adalah kemarin siang. Kemarin siang, motor saya ngambek. Ngambeknya bukan main, sampai-sampai saya harus mengeluarkan Rp 36.000,00 untuk "pengobatan" motor saya. Pengobatan adalah kiasan, dalam bahasa yang bukan kiasan adalah mengganti ban dalam akibat dop-nya bocor. Pernah juga saya harus menambal ban sebanyak tiga hari dalam satu hari, lebih mengesankannya, itu terjadi ketika perjalanan ke luar kota.

Dari kedua peristiwa tersebut akhirnya saya mempunyai kesimpulan bahwa yang menyebabkan motor saya ngambek adalah karena saya jarang merawatnya. Ketika kedua peristiwa tersebut terjadi, motor saya tidak dalam kondisi good looking alias dalam keadaan kotor. Hampir sama dengan ritual jamasan (memandikan) keris atau barang-barang pusaka lainnya pada saat hari-hari tertentu, konon katanya jika tidak dimandikan maka benda tersebut akan mendatangkan bala' atau peristiwa yang merugikan si empunya. Mungkin motor saya mengadopsi pola pikir keris pusaka tersebut, sehingga ketika ia jarang saya rawat, maka ia akan "menegur" si empunya agar memperhatikan dan merawatnya.

Saya jadi teringat kalimat yang dilontarkan oleh seorang alumni teater di tempat saya, "Alat itu tidak pernah salah, manusianyalah yang salah.", begitu kalimatnya. Jika ditelaah dan direnungkan, memang benar, alat tidak pernah salah. Alat adalah benda mati, bisa juga disebut dengan mesin. Mana mungkin benda mati merawat dirinya sendiri? Perlu perhatian dari kita sebagai makhluk yang sempurna supaya merawat benda-benda yang kita buat untuk memudahkan pekerjaan kita. Ketika ada, misal, sebuah kecelakaan yang terjadi, orang-orang langsung memberikan judge kepada mesin. Padahal mesin bisa seperti itu karena ulah manusia sendiri, bukan? 

Di era modern seperti ini, benda-benda mati, termasuk mesin, adalah sahabat manusia. Sudah saatnyalah kita memperlakukan mereka sebagai teman bukan sebagai mesin atau benda mati. Karena saya yakin, setiap benda itu mempunyai jiwa. Merawat mereka adalah sebuah ucapan terimakasih kita kepada benda mati dan kepada Tuhan, yang karenaNya kita sebagai manusia bisa membuat benda mati tersebut untuk memudahkan kita. Bagaimana jika kita tetap kekeh untuk tidak merawat mereka? Tunggu saja, ada suatu masa di mana manusia akan bertempur dengan mesin ciptaannya... Aahhh, tapi itu terlalu fiksi ilmiah...