Feb 4, 2018

Mencintai Rasa Baru Payung Teduh


“Belakangan ini kami ganti nama jadi band Akad, bukan Payung Teduh. Kami juga bukan band Resah karena sudah bahagia,” celetuk sang vokalis-gitaris, Mohammad Istiqamah Djamad alias Is, di jeda pergantian lagu.

12 November 2017 malam, Payung Teduh main lagi di Kota Solo. Mereka menjadi salah satu bintang tamu utama yang memeriahkan event bazar clothing. Penampilan itu hanya berjarak tiga bulan pasca mereka didaulat sebagai headliner di sebuah pensi kampus swasta di Solo.

Hebatnya, dua panggung Payung Teduh tersebut berhasil mendatangkan penonton yang tidak sedikit. Bedanya, saat manggung di bulan November, mereka punya amunisi baru bernama “Akad” yang diposisikan sebagai lagu penutup. Karya tergres itu sukses menciptakan koor massal paling keras.

“Akad” adalah fenomena bagi karir Payung Teduh..Jika dilihat dari seberapa banyak orang memutar dan menyanyikan ulang, bisa dibilang ini adalah karya terbesar Is dkk. Gara-gara “Akad”, Payung Teduh lebih dikenal orang. Mereka kini “ada” pada tiap acara resepsi pernikahan, “hadir” di lapak-lapak VCD bajakan, dan “masuk” dalam setlist penyanyi dangdut koplo. Maka tak salah jika Is mengucapkan kalimat yang menjadi pembuka tulisan ini. Nama Payung Teduh semakin besar berkat “Akad”.

Ya, mereka telah mengubah takdirnya sendiri. Jika dahulu Payung Teduh dikenal sebagai band teater-dengan-lagu-romansa-berlirik-puitis-yang-menyayat-sisi-kalbu, kali ini mereka menanggalkan atribut itu. Lewat “Akad”, Payung Teduh terdengar seperti mempunyai jiwa baru yang segar dan kekinian banget.

Kode bahwa suasana musikal band-nya akan berubah sudah Is sampaikan dalam meet and greet di Kota Solo pada Agustus lalu. Saat itu, “Akad” belum dirilis. “Siap-siap bosan dengan album ketiga Payung Teduh. Dan siap-siap juga karena kami berubah total. Enjoy to the next journey,” katanya.

Pemain kontra bas Payung Teduh, Abdul Aziz Turhan Kariko, punya pandangan yang sama dengan rekannya. “Kalau kami gitu-gitu saja, justru bosan mendengarnya. Makanya kami coba warna baru,” tutur lelaki yang kerap disapa Comi itu.

Ada satu pernyataan Is yang lumayan menohok terkait album baru mereka. “Pelan-pelan kami mengemas Payung Teduh menjadi berjalan ke arah mana pun yang kami mau. Jadi, kalau teman-teman suka atau tidak suka, kami menyampingkan itu. Ini adalah jenjang eksistensi kami. Dari ini kami belajar banyak. Kalau begitu lagi begitu lagi pastinya stagnan,” ungkapnya.

Bagi musisi, perubahan arah musikal yang drastis adalah hal wajar. Saya teringat bagaimana Linkin Park memporak-porandakan saya selepas album Minutes to Midnight. Namun bagaimanapun, sebagai penggemar, saya tetap menikmati lagu mereka. Saya tidak murni kecewa karena masih ada lagu-lagu asyik dan tetap membekas bagi saya. Toh, sekeras apa pun membenci, selama musisi idola enjoy aja, kita tidak bisa berbuat apa-apa karena hanyalah penikmat, bukan pembuat.

Sama halnya dengan “Akad”. Begitu dilepas, ada niat untuk menghujat. Sebagai pendengar lama, ingin sekali rasanya memberikan komentar “Kenapa?”. Saya menggemari Payung Teduh karena lirik-lirik yang aduhai pun dengan musiknya. Mendengarkan Payung Teduh sama dengan merayakan romansa nan elegan. Namun, sehabis “Akad” lahir, hal itu runtuh. Bagi saya, “Akad” adalah roman picisan, tak ada sisi indahnya untuk dinikmati, lebih-lebih dirayakan.

Akan tetapi, semakin besar saya menolak, semakin tinggi pula lagu itu dikonsumsi orang. Mau tak mau saya dipaksa untuk mendengarkannya hingga tuntas. Efeknya, lagu ini telah hinggap di dalam kepala saya tanpa permisi.

“Akad” adalah persamaan “Someone Like You”-nya Adele atau “All of Me” milik John Legend. Dua lagu Barat itu juga terngiang-ngiang di kepala saya tanpa sengaja karena selalu hadir di tiap sudut. Lagu sejuta umat, sebut saja begitu.

Sekarang, saya tak kuasa menahan gempuran “Akad”. Munafik rasanya jika terus menolak karena kadangkala sewaktu mandi, entah kenapa ada bisikian untuk mengucap “bila nanti saatnya telah tiba….”

Rasa Baru Payung Teduh
Lewat Payung Teduh (2010) dan Dunia Batas (2012), band yang beranggotakan Is, Comi, Alejandro Saksame (drum), dan Ivan Penwyn Panjaitan (guitalele, terompet) ini menjadi salah satu garda depan folk revival di Indonesia. Bermodal musik folk, jaz, pop, keroncong yang mayoritas diselipi lirik puitis tentang cinta, mereka dengan mudah menarik hati massa.

Namun, pada 2017 ini, Payung Teduh mengganti jubahnya. Wujud metamorfosis Payung Teduh bernama Ruang Tunggu. Album ketiga yang telah dirilis pada 19 Desember ini terdengar lebih modern dan megah dari dua album sebelumnya.

Sebelum melepas Ruang Tunggu, Payung Teduh lebih dulu mengeluarkan Live at Yamaha Live and Loud. Jika dicermati, album itu ternyata menjadi kode atas perubahan musikal Payung Teduh. Mereka kini lebih bereksplorasi.

Selain ranah musikal, Payung Teduh juga bereskplorasi dari sisi distribusi. Album fisik Ruang Tunggu diedarkan oleh salah satu gerai ayam cepat saji. Ini jelas bahwa Is dkk. ingin menyasar pendengar yang lebih banyak.

Mungkin pertanyaan akan muncul dari langkah yang ditempuh Payung Teduh ini: Kenapa Payung Teduh tidak indie lagi? Apabila ada pertanyaan seperti itu, jawabannya hanya satu: Jika kamu pencinta musik sejati, hanya ada dua hal dalam musik, yakni musik enak dan tidak enak. Lagu-lagu mainstream tidak selamanya tidak enak, dan indie juga bukan berarti tempatnya musik-musik sedap. Karena musik adalah selera. mainstream maupun indie hanya masalah distribusinya.

Lalu, seperti apa rasa baru Payung Teduh?

Ada sembilan lagu di album ini. Ruang Tunggu langsung dibuka oleh “Akad”. Mungkin dari sini Payung Teduh ingin menyampaikan bahwa “inilah jiwa baru kami”.

Namun, penempatan “Akad” sebagai lagu pertama bisa jadi adalah jebakan karena setelahnya gaya bertutur Is sebagai penulis lirik utama di album ini menjadi bernas dan tidak lagi picisan seperti “Akad”.

Suasana lagu pertama dan kedua juga sangat kontras. “Di Atas Meja” terasa murung dan depresif. Akan tetapi, memasuki bagian chorus, Payung Teduh memberikan pencerahan melalui “Akan selalu ada tenang di sela-sela gelisah yang menunggu reda.” diiringi harmonisasi petikan gitar nilon dan pipe organ. FYI, lagu ini menjadi single kedua Ruang Tunggu.

Dari sembilan track di Ruang Tunggu, “Selalu Muda” rasa-rasanya menjadi lagu paling ringan dan halus. Ada sedikit nafas Payung Teduh zaman old di sini. Lalu di lagu keempat, “Mari Bercerita”, yang story telling-nya sangat mengalir, Is mengajarkan satu hal: seorang laki-laki absurd ternyata juga bisa bersahaja. Saya memang tidak mengenal Is secara personal, tapi saat melihat aksi panggungnya, dia kerap melontarkan candaan absurd. Jika tidak absurd, kenapa ada ikan paus di lagu ini?

Kemudian di track lima dan enam, pendengar disajikan dua hal yang sangat berbeda. “Muram” yang elektrik dan paling berisik, serta “Puan Bermain Hujan” yang memasukkan keroncong. Payung Teduh menepati janjinya pada lagu “Muram”. “Musiknya agak ada ke-Jepang-jepang-an, ada rock klasiknya juga, dan berisik,” terang Is saat meet and greet di Kota Solo pada Agustus lalu.

Berbeda dengan lagu sebelumnya, “Puan Bermain Hujan” mengajak pendengar meratapi hujan menggunakan musik keroncong. Tembang ini adalah yang paling punya identitas Payung Teduh rasa lama. Bedanya, keroncong yang mereka mainkan kali ini terasa lebih jernih.

Di telinga saya, Ruang Tunggu adalah pustaka musik Payung Teduh. Karena ada banyak warna musik yang dimainkan. Setelah pop hingga keroncong, di “Sisa Kebahagiaan”, mereka membumbuinya dengan sedikit bossa nova yang dicampur orkestra. Sedangkan di lagu “Kita Hanya Sebentar”, suasana jaz retro mengiringi Is mengucapkan kata demi kata secara malas-malasan. Sebenarnya, lagu ini bakal terasa lebih syahdu jika ada seorang penyanyi wanita yang menjadi teman duet Is.

Sebagai penutup Ruang Tunggu, Payung Teduh menempatkan “Kerinduan”. Lagu ini klimaks menjelang akhir. Seakan-akan penggemar diajak untuk merayakan kerinduan yang bakal mereka rasakan. “Hanya tersisa kerinduan bersama kehampaan. Berjalan dengan kerinduan.

Ya, selepas 31 Desember 2017, Payung Teduh kabarnya akan vakum setelah dua pendirinya, Is dan Comi, mengundurkan diri.

Jam Dinding
Memang cukup mengejutkan tatkala mendengar berita bahwa Is dan Comi berpisah dari Payung Teduh. Namun, bukan band namanya jika tidak dilanda badai.

Setidaknya, di akhir tutup bukunya, Payung Teduh telah memberikan kenangan manis berupa Ruang Tunggu. Album ini bakal benar-benar menjadi tempat penantian tak berujung bagi penggemar demi melihat sang pujaan berkarya lagi.

Mungkin itulah maksud dari jam dinding tanpa jarum yang ada di artwork album. Ada satu kemungkinan lainnya: walaupun Is, Comi, Cito, dan Ale tak akan pernah mengusung bendera Payung Teduh lagi, tapi selalu ada telinga dan hati yang terbuka untuk lagu-lagu mereka.


Seperti kata Cholil Mahmud: “Hidup itu pendek, seni itu panjang”, maka abadilah.