Jul 19, 2020

If I Saw You on YouTube, Would I Have You in My Gig Tonight?


Foto: dokumentasi pribadi


YouTube recommendation memang berengsek. Bagaimana tidak, sewaktu nonton video yang disuka, dia secara mak jegagik menyuguhkan thumbnail dan judul yang menghipnotis pengguna untuk mengeklik. Lagi dan lagi, hingga berulang kali. Gara-gara fitur itu, niscaya rebahan kita semakin kafah.

Andai kata YouTube recommendation tidak ada, mungkin saya tak akan pernah berkenalan dengan Alvvays. Perjumpaan perdana itu terjadi pada 2017. Selagi mengulik band-band dream pop, indie pop, dan serumpunnya, video klip “Dreams Tonite” nongol di rekomendasi daftar putar. Saya iseng men-dudul-nya, tanpa ekspektasi apa pun. Beberapa detik berselang, alamak, saya langsung terpana. Eh, bukan, ini sudah tahap jatuh cinta pada pandangan pertama.

Iki aku banget,” pikir saya kala itu. Salah satu single dari album Antisocialites tersebut begitu manis, tetapi memberikan kesan rapuh sekaligus melankolis. Nuansa lagu terasa retro. Apalagi ada efek-efek lo-fi yang bikin konsepnya lebih menggigit. Ditambah dengan video klip yang menampilkan suasana theme park di Montreal, Kanada, semasa era ’60-an. Hebatnya, para personelnya bisa dimunculkan dalam footage lawas koleksi National Film Board of Canada dan Prelinger Archive itu.

Momen terbaik dan yang paling membuat terngiang-terngiang dari video klip “Dreams Tonite” adalah saat monorail melintas di depan dinding warna-warni berlatar suara Molly Rankin menyanyikan bridge, Live your life on merry-go-round. Who starts a fire just to let it go out?” Lalu, kamera menampakkan  Molly yang mengenakan tweed jacket merah sedang menyanyikan chorus, If I saw you on the street, would I have you in my dreams tonight?” Saking terkesimanya, potongan video klip tersebut saya unggah ke Instagram. Ini menjadi bukti bahwa saya menyukai band asal Negeri Pecahan Es itu.

Ya, semakin dalam menyelami, rasa gandrung saya terhadap Alvvays bertumbuh besar. Pastinya bakalan menyenangkan saat bisa menyaksikan mereka tepat di depan mata.
Dan harapan itu pun terjawab sekitar dua tahun kemudian.

Deg-degan, Kampret!
Seusai menemukan permata itu, hampir tiap Minggu, saya menyetel lagu-lagunya. Saya menobati tembang-tembang dari album pertama dan kedua mereka sebagai lagu kebebasan plus weekend anthem. Entah mengapa “Next of Kin”, “Archie, Marry Me”, “In Undertow”, “Lollipop (Ode to Jim)” dan lainnya memberikan warna beda di akhir pekan. Mungkin terdengar klise dan ndakik-ndakik, tetapi ini betul-betul terjadi. Meski penuh infinite sadness, lagu-lagu tersebut seperti merelaksasi tubuh dan pikiran setelah hari-hari sebelumnya diperbudak oleh kerja-kerja-kerja.

Seiring track demi track dilahap, keinginan untuk menonton mereka secara langsung makin menguat. Tak ada angin pun hujan, saya tiba-tiba membuka akun Instagram We the Fest. Ini terjadi pada minggu akhir Februari 2019. Di salah satu unggahannya, mereka sedang memberikan petunjuk tentang tiga belas artis internasional yang bakal main di festival tahun itu. 


Tangkapan layar unggahan akun Instagram @we.the.fest

Awalnya saya cuma, “Oh…” Begitu membuka kolom komentar, banyak yang bilang Alvvays-Alvvays-Alvvays. Sebenarnya saya maido di awal. Eh, lha kok sialnya, saya ikut tersugesti. Apalagi wajah seorang bermasker di pojok kiri atas itu mirip Molly Rankin, vokalis-gitaris Alvvays. Alhasil saya terjerembab dalam kebimbangan.

Line-up fase pertama itu bakal dikuak keesokan harinya (22 Februari). Menunggu pengumuman, jam berdetak begitu panjang. Setiap detiknya beradu dengan irama jantung yang berpacu. Kegelisahan menggelayuti, pikiran tak tentu. Akankah bersambut harapan itu?

Jawabannya iya. Bersama Cigarettes After Sex, Yaeji, Rae Sremund, dan sembilan nama lainnya, Alvvays masuk dalam daftar penampil tahap pertama yang diumumkan. Oh, puja kerang ajaib!
Tanpa berpikir ini-itu, saya memutuskan fix budhal. Sekarang atau tidak sama sekali. Nawaitu niat ingsun nonton Alvvays.

Molly, the Cotton Candy Lady
Sejujurnya, We the Fest (WTF) bukanlah tipe festival yang “gue banget”. Amat gegap-gempita dengan segala hypebeast-nya, pergi ke WTF ibarat meluncur ke medan laga. Terdengar sinis dan konservatif sekali, ya? Hahaha.

Benar saja, sesampai di lokasi konser, JIExpo Kemayoran, saya terasing. Saya terlalu Metallica di antara rerimbunan Coachella. Apalagi waktu itu tiada teman menemani. Akan tetapi, demi merayakan perjumpaan dengan Alvvays, hanya ada dua kata: bodo amat.

Band pujaan saya itu dijadwalkan naik pentas pukul 20.45 di This Stage Is Bananas. Sembari menunggu jam bersua, saya menikmati bintang tamu hari pertama lainnya (19 Juli 2019): Glaskaca, Dewa 19 feat Ari Lasso dan Dul Jaelani, Dean, serta The Adams. Nama terakhir yang disebut tampil di panggung yang sama sebelum Alvvays.

Selepas The Adams merampungkan aksinya, massa makin menyemut di This Stage Is Bananas. “Wih, banyak sekali jamaah Alvvaysiyah,” ujar saya dalam hati. Saya nyempil ke depan-tengah, mencari posisi yang bisa segaris lurus dengan panggung. Saya berhenti di atas instalasi kabel yang mengarah ke FOH, sehingga sedikit lebih tinggi dari penonton lainnya. Kelak, tempat nan pewe ini bakalan mendatangkan rasa ge-er terhadap Molly. Nanti saya ceritakan.

Susah buat tidak deg-degan menunggu momen itu, terlebih pada saat check line, empat anggota Alvvays: Alec O’Hanley (gitar), Kerri MacLellan (kibor, synth), Brian Murphy (bas), dan Sheridan Riley (drum) tampak di panggung untuk menyiapkan alat-alatnya secara mandiri, soalnya mereka tidak membawa kru.

Kemunculan mereka membuat penonton bertambah riuh. Banyak yang memanggil-manggil Molly, bertepuk tangan, atau berceloteh biar menarik perhatian personel. Saya tidak ikut-ikutan dan hanya diam. Mematung lebih tepatnya sambil melayangkan pikiran, “Saya tidak sedang menonton YouTube. Ini bukan mimpi!”

Jatah pemasangan dan pengecekan alat selesai. Personel keluar, lampu panggung dimatikan. Sesaat kemudian, “Indonesia Raya” berkumandang. Lalu, waktu yang dinantikan para Sahabat Alvvays tiba. Personel masuk lagi, dan kini mereka mengajak Molly. Ia unjuk diri paling akhir. Perempuan kelahiran 27 Juli 1987 itu mendapat sambutan paling meriah.

Tatkala Molly menampakkan batang hidungnya, saya cuma bisa bungah dan senyam-senyum sambil mbatin, “Oh, ini to Molly.” Sebagai frontwoman, Molly memang cocok didambakan. Ia juga pas menjadi ikon Alvvays. Salah satu yang menjadi daya tariknya adalah rambut pirang keabu-abuannya. Saya pernah membaca sebuah komentar netizen di  YouTube yang bilang rambut Molly mirip permen kapas. Saya mengamini. Sejak memperhatikannya, saya berpikiran sama seperti si netizen.

Malam itu, wanita berambut permen kapas tersebut hadir di depan mata. Yang bikin kebahagiaan berlapis-lapis, warna baju kami sama-sama kuning. Ah, semesta benar-benar mendukung.

Foto: dokumentasi pribadi

Alvvays membuka pertunjukan perdananya di Indonesia dengan “Hey”. Lagu dari album Antisocialites ini tepat dijadikan sebagai pembuka konser karena iramanya yang rancak. Di bagian intro, seluruh alat musik dimainkan, sehingga bisa sekalian mengecek kualitas sound. Setibanya di part vokal, Alvvayslicious serentak berteriak, “Hey…” Amboi, saya merinding!

Arena WTF kembali dipanaskan dengan tembang menghentak, “Adult Diversion”. “Terima kasih telah sing along bersama kami,” kata Molly.

Sebenarnya sempat ada perasaan was-was terkait durasi. Bermain di festival, waktu sangat terbatas. Apalagi mereka bukan headliner. Saya takut jangan-jangan Alvvays hanya bisa memainkan sembilan hingga sepuluh lagu saja. Maklum, mereka cuma memperoleh jatah beraksi kurang lebih satu jam.

Saya sudah bersiap jika itu terjadi. Eh, ternyata Alvvays cukup cerdik mengakalinya. Caranya mereka langsung tancap gas tanpa ba-bi-bu, bermain dengan ketat, dan meminimalkan berbincang bareng penonton.  Tanpa saya nyana, band yang dibentuk tahun 2011 ini berhasil menyajikan enam belas lagu! Itu termasuk dengan cover version “Divine Hammer” dari The Breeders. “Kami akan memainkan lagu dari The Breeders. Kalian tahu The Breeders? Tahu dari mana? Oh, iya, YouTube,” canda Molly.

Di empat nomor terakhir – yang menjadi hits mereka: “Archie, Marry Me”, “Dreams Tonite”, “Party Police”, dan “Next of Kin”, penonton bertambah panas. Crowd surfing mulai terlihat, jingkrak-jingkrak dan angguk-angguk kepala semakin intens, serta karaoke massal kian bergemuruh. Hari itu, kami merayakan kesenduan bersama-sama. Memang benar kata orang-orang, “Perkara ati paling penak dijogeti.

“Next of Kin” menjadi lagu pamungkas. Seusai melambaikan tangan, Molly dan teman-temannya meninggalkan panggung dengan iringan teriakan we want more. Saya termasuk yang masih berdiam di depan panggung, berharap mereka muncul lagi dan membawakan lagu encore “Saved by a Waif”, seperti yang kerap mereka lakukan. Namun, mereka tak kembali.

Ah, ya sudahlah, tak jadi soal. Toh, kadar suka cita saya sudah membeludak karena bisa menyaksikan idola. Hari itu adalah salah satu yang terbaik dalam hidup.

Tahukah kenapa kebahagiaan saya sampai tumpah-tumpah? Dari setlist yang dihidangkan, yang paling terkenang hingga sekarang adalah ketika “Lollipop (Ode to Jim)” dibawakan. Di lagu kelima ini, saya ge-er banget sama Molly. Alkisah sewaktu menyanyikan lirik, “You’re alone in this picture…,” sambil tersenyum, Molly menunjuk ke arah tengah penonoton. Karena posisi saya lebih tinggi dari penonton lainnya – ditambah bibir saya terus komat-kamit di tiap lagu, telunjuk itu rasa-rasanya tertuju tepat ke saya.  Saya beranggapan itu adalah reward yang Molly berikan karena saya hafal lagunya. Alhasil saya sumringah. Senyuman Molly saya balas dengan senyuman termanis yang saya miliki.

Tolong, bagi siapa pun, jangan patahkan kegembiraan ini. Saya juga meminta usah mengocehi bahwa saya sedang halu. Dan mohon pantang bisikkan kalau saya tengah berandai-andai karena itu adalah pelita bagi jiwa saya yang ditumbuhi lara.

Mampus, kau, dikoyak-koyak bucin!

May 30, 2020

Selamat Ulang Tahun, Sebuah Ode Menuju Dewasa



Tirai panggung tersingkap. Di bawah lampu sorot, seorang gadis bergaun putih berjalan tanpa gontai. Di latar pentas, terpampang kolase fotonya sedari kecil hingga remaja. Dia berhenti di satu titik, lantas berucap, “Berbaring, tersentak, tertawa. Tertawa dengan air mata. Mengingat bodohnya dunia. Dan kita yang masih saja berusaha.

Mata perempuan itu menatap tajam ke depan. Romannya penuh keyakinan. Selintas senyum mendarat di bibirnya. Seiring cahaya memudar, ia berkata dalam hati, “Aku siap.”

Kelir mulai tertutup. Tepukan tangan penonton riuh membahana. Berkali-kali namanya dielu-elukan. Hari itu, Nadin Amizah berhasil menyihir lewat pementasannya yang berjudul “Beranjak Dewasa”.

Andaikan “Beranjak Dewasa” diangkat ke panggung pertunjukan, seperti itulah gambaran di benak saya. Sebuah ode manis nan teatrikal bagi mereka yang selangkah lagi mentas dari masa remaja.

Lagu tersebut merupakan secuil kebahagiaan dari kelahiran sang perdana, Selamat Ulang Tahun. Album ini dirilis pada 28 Mei 2020 bertepatan saat Nadin menggenapi dua dekadenya. Kata Nadin, di takarir Instagram-nya, karyanya ini adalah rangkaian padat dari fase remajanya. “Satu untuk yang terakhir dari masa remajaku,” tulisnya.

Kemunculan Selamat Ulang Tahun di masa-masa penuh keprihatinan ini tak ubahnya pendar suar di lorong panjang kegelapan. Ia turut pula menjelma teh hangat yang disesap kala butir hujan turun dengan rapat. Ia membawa kabar gembira bagi pendengarnya yang telah menunggu lama. Pun ia meninggikan harapan di derasnya kecamuk badai kehidupan. Tak perlu bedil tak perlu senjata, melainkan hanya butuh, “Tapi kita punya kita yang akan melawan dunia.

Paragraf di atas bukan suatu yang mengada-ada. Memang benar Selamat Ulang Tahun dikemas sederhana, tetapi dia tak apa adanya. Justru keminimalisan itulah yang membentuk sisi magis. Materi-materinya tidak ada yang mubazir. Mereka saling mengisi dan menguatkan serta masing-masing punya keunikan. Ambil contoh “Kereta Ini Melaju Cepat”, denting piano yang ditimpali vokal melambai, sangat serasi menjadi pengiring kala rinai membasahi jendela. Atau “Bertaut”, ini paling favorit. Dengarkanlah bersama orang terkasih; dia yang menguatkan, membasuh luka, dan memberikan nyawa dari bajingannya hidup.

Selainnya, album ini cemerlang berkat penggunaan lirik yang rupawan. Nadin lihai menari-nari di atas pena. Dalam imannya kepada rima, dia mencuplik tawa, membingkai  lara, dan menumbuhkan asa menjadi kalimat-kalimat yang eloknya semirip surga.

Barang siapa dengan khidmat menyimaknya akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan usai album ini diputar hingga detik terakhir, entah mengapa ada perasaan lega dan helaan nafas bahagia. Demi apa pun, Nadin, jampi-jampimu memikat kalbu.

Dalam Selamat Ulang Tahun, Nadin menyampaikan episode-episode hayatnya secara jujur. Ada yang manis, begitu juga getir. Bagi beberapa orang, fragmen menyayat itu akan lebih baik bila dipendam jauh. Namun, Nadin memilih jalan beda. Dia tak berusaha menutup-nutupi dan sepakat berdamai dengan masa lalu dan diri. Lewat “Taruh”, “Cermin”, “Mendarah”, kita tahu bahwa Nadin pernah melewati babak-babak penuh pergulatan. Menjadi jujur adalah hal berat. Sungguh, ini merupakan tapakan berarti dalam tahap mendewasa.

Selebihnya, terima kasih atas Selamat Ulang Tahun, Nadin. Semoga tuturmu menjadi pijakan bagi mereka yang turut bertumbuh. Sentosa selalu di dua dasawarsamu. Masa depan cerah menanti dan semesta memberkati. Teruslah bersinar.

Nov 9, 2019

Lirih

Laku tutur bijakmu
Dalam ucap lirih desaumu
Bukan tak mungkin kau kemilaukan malam

Jejak mungil harapmu
Dalam bisik basah rintikmu
Tak terasa masa berputar tak karuan

Dunia sedang tidak baik-baik saja
Malu berkata itu aku juga

Namun, bila kau punya segala benua
Akankah kau goncangkan semesta?

Jika andai itu nyata
Mungkin lembar ini tertulis beda
Jika sisa dulu tanpa bekas
Mungkin kini kutertawa lepas

Sep 27, 2019

Rambut Kribo Itu Sugoi!




“Mas, tak mat-matke, sampeyan ternyata mirip Mohammed Salah, ya?” kata tukang cukur yang sedang memangkas rambut belakang saya.

Kala itu, Mo Salah sedang panas-panasnya. Pesepakbola Mesir yang bermain di Liverpool itu punya (sedikit) kesamaan dengan saya. Rambut kami sama. Wajah saya pun banyak dibilang mirip orang Timur Tengah. Ya, jadi saya maklum kalau si mas tukang cukur ngomong seperti itu sama saya. Yang membedakan saya dengan Mo Salah cuma nasib: dia kaya, saya papa.

Eh, betewe, baru kali itu, lo, ada orang dari golongan mayoritas (baca: berambut lurus) yang menyebut saya mirip Salah. Kebanyakan yang saya temui mengatakan kalau saya 11-12 dengan Kunto Aji. Versi ini lebih saya “terima”. Dari sisi rambut jelas tak disangkal. Hidung kami juga agak lebar, pun kami sama-sama berkacamata.

Yang cukup menantang adalah saat saya nonton penampilan live Kunto Aji. Di mana pun bumi dipijak, di situ ada saja orang-orang yang berbisik-bisik agak keras ke temannya, “Eh, Kunto Aji, Kunto Aji,” sewaktu saya melintas di depan mereka.

Pernah suatu kali saya berkesempatan foto bareng alumni Indonesian Idol itu. Setelah saya unggah ke Instagram, banyak yang berkomentar seperti yang sudah-sudah. “Yang kiri Kunto Aji, yang kanan Kunto Ejak,” tulis salah satu teman.

Sebagai seorang yang berambut sedikit keriting banyak kribonya, saya sudah kenyang dibanding-bandingkan dengan artis atau tokoh tertentu. Sebelum dua nama di atas, saya pernah dipanggil Giring Nidji dan Achmad Albar.

Tahukah kamu, sebenarnya punya rambut keriting/kribo itu bisa menjadi indikator seberapa terkenalkah seorang artis atau tokoh. Ambil contoh Kunto Aji. Tak sedikit yang melabelinya sebagai salah satu solois pria terfavorit di Indonesia untuk saat ini. Album keduanya, Mantra Mantra, menuai respon positif dari media dan pengulas musik.

Karena Aji mendapat banyak sorotan, ditambah lagi dia kerap nongol sebagai model iklan dan bintang tamu di beberapa program hiburan, orang-orang mulai mengenal dan memerhatikannya. Jika itu terus-menerus diulang, orang akan semakin familiar dengan perawakannya. Makanya, saat mereka melihat saya, orang bakal dengan mudah menyebut saya dengan, “Eh, Mas Kunto Aji.”

Hal ini juga berlaku kepada Giring Ganesha alias Giring (eks) Nidji. Di era keemasannya bersama Nidji, saya sering menjumpai orang-orang yang memanggil saya dengan Giring. Sehabis Giring memotong rambut, hampir tidak ada lagi yang bilang seperti itu. Apalagi saat dia berganti halauan menjadi politisi, belum ada seorang pun menyapa saya dengan, “Halo, Mas Giring PSI.”

Padahal masih banyak, lo, artis pria berambut keriting/kribo lainnya. Tapi kenapa selalu Kunto Aji dan Giring yang selalu disebut? Jangan-jangan dua artis itu berada di kasta teratas artis-berambut-keriting/kribo-terbaik? Entahlah.  

Pemilik rambut kribo/keriting/ikal juga dapat menerka dari generasi mana seseorang berasal. Berdasar pengamatan, yang menyebut saya Kunto Aji pasti adalah generasi Y, persebaran usianya mulai dari 20 sampai 30-an tahun. Sebenarnya Giring juga sama. Untuk Giring, rentang umurnya ditambah sampai 40-an.

Lalu, orang-orang di atas generasi Y apakah memanggil saya dengan dua nama itu? Tidak. Mereka punya “idolanya” sendiri, yakni Achmad Albar. Memang populasi mereka lebih sedikit. Dan sampai 2019 ini pun, masih ada segelintir orang yang menyapa saya dengan nama vokalis band God Bless itu.

Ini menandakan dua hal: Pertama, Achmad Albar memang benar-benar living legend; Kedua, tingkat perhatian mereka ke dunia showbiz Tanah Air rendah. Di kalangan ini, televisi dan YouTube sepertinya kalah bersaing dengan grup WhatsApp dan status teman Facebook.

Sedikit tambahan, ada juga sebagian kecil dari mereka yang menyebut saya  Giring, tetapi tidak dengan Kunto Aji.

Sebagai lelaki berambut kribo/ikal yang lahir di tahun 1990, saya punya keinginan mengunjungi akhir era ’60-an dan awal ’70-an. Berdasar buku Dilarang Gondrong, di tahun-tahun itu pemerintah Orde Baru sedang gencar-gencarnya merazia rambut gondrong.

Mengutip tulisan Aria Wiratma Yudhistira di halaman 106, pada 1 Oktober 1973 di sebuah acara bincang-bincang di TVRI, Pangkopkamtib Soemitro menjelaskan, “Mode rambut gondrong merupakan bagian dari gaya hidup yang menurut mereka urakan, yang menyimbolkan ketidakacuhan anak-anak muda terhadap keadaan di sekitarnya, terutama masa depan yang bakal dihadapinya sebagai ‘harapan bangsa’.”

Saya ingin mampir ke era itu karena saya mau menjajal peruntungan apakah rambut saya lolos dari razia aparat. Karena menurut KBBI, gondrong berarti panjang karena lama tidak dipangkas.  Ini sangat berlainan dengan kribo. Kribo itu tidak memanjang, melainkan melebar – atau lebih tepat dikatakan mengembang. Ditambah lagi, di buku itu, hanya orang-orang berambut gondronglah yang kena razia. Kribo tidak. Mungkin ini menjelaskan bahwa rambut kribo punya semestanya sendiri.

Keuntungan lain memiliki rambut minoritas adalah saya tidak perlu capek-capek memikirkan rambut bercabang, lepek, kucel, kusam, lembab, ketombean, rontok, kering, rapuh, berminyak, dan segala ke-grundelan lainnya dari para pemilik rambut panjang. Otomatis saya tidak perlu memikirkan perawatan, segala merk sampo pun bisa dipakai, dan yang jelas bisa menghemat pengeluaran.  Piye, penak rambutku, to?

Namun, kekurangan dari rambut kribo adalah saya tidak bisa mengunggah ke sosial media foto muka kusam saya yang ber-caption, “Aduh, bad hair day, nih.”



Jul 17, 2018

Menggelorakan Semangat Asian Games Lewat Mural





Sudah lebih dari sebulan, Irul Hidayat bersama kawan-kawannya meluapkan kreativitas di dinding dan jalanan kampung. Mereka biasanya memulai pekerjaan itu satu jam selepas senja hingga dini hari.

Contohnya Kamis, 12 Juli 2018 malam. Ditemani “Bittersweet Symphony” dari The Verve, salah seorang seniman, Sony Hendrawan, menarikan kuasnya di atas jalanan kampung. Ia sedang menggambar kok. “Aja lali turu, mas [Jangan lupa tidur, mas],” canda saya kepadanya.

Seniman-seniman tersebut sedang menyelesaikan karya-karya mural. Atas ide Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mereka diajak menghiasi Kampung Pucangsawit dengan mural tiga dimensi. Ada satu tema khusus yang diangkat: Asian Games 2018. 

Mural-mural yang disiapkan untuk menyambut Asian Games 2018 itu terpampang di tembok kampung sepanjang 200 meter. Jika kamu melintas di Jl. Candi Bodro, Puncangsawit, kamu bakal disambut oleh pahlawan-pahlawan yang mengharumkan Indonesia melalui olahraga.

Ada Liem Tjien Siong, pebasket Indonesia yang menjadi terbaik di Asia pada 1967. Kemudian Pino Bahari, petinju muda – kala itu berumur 17 tahun – yang berhasil memperoleh medali emas pada Asian Games 1990.

Lalu Richard Sambera, perenang yang meraih medali perunggu di Asian Games 1990. Petenis yang punya prestasi mentereng di kancah internasional, Yayuk Basuki, juga tak luput diabadikan.

Air mata bahagia Susi Susanti saat “Indonesia Raya” berkumandang di Olimpiade Barcelona 1992 juga ikut ditampilkan. Tak ketinggalan jagoan Kota Solo yang moncer sebagai atlet BMX, Toni Syarifudin, ikut dimunculkan.

Olahragawan Indonesia yang paling baru dimuralkan adalah Lalu Muhammad Zuhri, atlet muda yang bikin heboh se-Tanah Air berkat keberhasilannya menggondol juara pertama dalam nomor lari 100 meter di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 yang berlangsung di Tampere, Finlandia.

“Semua yang ada di sini adalah ikon-ikon olahraga di Indonesia. Yang kami lakukan ini adalah penghargaan bagi para atlet. Jarang-jarang atlet diangkat dalam karya mural. Kami juga ingin mengingatkan lagi kepada masyarakat bahwa ada banyak atlet Indonesia yang beprestasi,” kata Irul.


Event Monumental
Bisa jadi Kampung Asian Games ini tidak terlaksana apabila tidak ada diskusi antara dirinya dan Rudy (sapaan Wali Kota Solo). Awalnya Pucangsawit mau dibikin Kampung Piala Dunia.

“Namun, Asian Games punya makna yang lebih besar ketimbang Piala Dunia. Di Piala Dunia kita hanya menjadi penonton dan tidak bisa merasakan langsung. Ditambah lagi ini adalah kali kedua Indonesia menjadi tuan rumah sejak 1962,” tambahnya.

Sebagai koordinator muralis dan penikmat tayangan olahraga, lelaki yang sebentar lagi menyelesaikan studinya di Institut Kesenian Jakarta ini merasa bangga bisa mendukung Asian Games 2018, meski tidak secara langsung. Apalagi di mata Irul, Asian Games adalah event yang monumental. Ia mencontohkan pada 1962 lalu ketika Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Asian Games.

“Sebagai negara muda yang baru berumur 17 tahun, Indonesia bisa menampar dunia dengan membuat stadion megah, memunculkan atlet-atlet muda, dan berprestasi. Dan jangan lupakan juga, lewat Asian Games 1962, masyarakat yang mulanya berlainan ideologi dan politik bisa bersatu. Spirit itu yang kami harapkan bisa terjadi juga di Asian Games kali ini,” terang Irul.