Konon katanya “grunge is dead” seiring kematian Kurt
Cobain. Benarkah demikian?
Saya teringat tulisan Che
Cupumanik tentang dialog imajinernya dengan Kurt. Kurt menyampaikan bahwa dia akan datang saat
“Something in the Way” dimainkan. Dan sebelum dia “pergi”, Kurt tampak
tersenyum melihat atribut yang dikenakan Che: sepatu Converse lusuh, celana jeans sobek di bagian lutut, flannel motif kotak berwarna
hitam-putih, dan kaos bergambar cover album
Nevermind. Mungkin senyuman Kurt
tersebut merupakan ungkapan “kebahagiaan” bahwa warisannya (musik, attitude, dan atribut) abadi hingga
kini.
Dialog Che dengan Kurt lebih dari
sekedar “dialog seandainya” ataupun “andaikata”. Kerinduan yang dibatasi oleh
ruang dan waktu terhadap sesosok tokoh, menyebabkan seseorang melakukan dialog
imajiner. Fisik memang fana, tapi sikap serta pemikiran adalah kekekalan. Dan jika
kebangkitan kedua pasca kematian adalah keniscayaan, maka Kurt telah menjadikan
Che sebagai persemayamannya.
Maka tak salah jika “Grunge Harga
Mati” yang dirilis 2010 lalu, merupakan esprit
de corps yang digemborkan oleh Cupumanik sebagai kesetiaan mereka kepada
grunge. Dan tak salah pula ketika lagu tersebut dijadikan track pembuka di album kedua mereka, Menggugat. Mungkin ada maksud tertentu menempatkan lagu tersebut di
awal. Sebagai jawaban bagi orang-orang yang beranggapan bahwa grunge telah
mati, mungkin? Namun yang pasti, mereka telah siap menjadikan grunge sebagai
media penggugatan dan perlawanan.
Menggugat rilis sekitar dua minggu yang lalu. Jika album pertama
diibaratkan sebagai pencarian jati diri, maka di album kedua ini mereka telah
berubah menjadi para berandal yang menolak apatis terhadap kondisi. Namun satu
yang menarik: walaupun telah mengalami masa transisi, tapi jati diri mereka
yang lama tidak ditinggal begitu saja. Ya, lagu seperti “Aksara Alam”, “Broken
Home”, dan “Syair Manunggal” mempunyai peran penting sebagai penyeimbang dan “rest area” di tengah keriuhan “Grunge
Harga Mati”, “Garuda Berdarah”, “Omong Kosong Darah Biru”, “PBB (Perserikatan
Bangsat-Bangsat)”, dan “Luka Bernegara” yang cenderung mempunyai suasana sludgy a la The Melvins dan sound yang raw a la Nirvana. Di album ini Che lebih banyak berteriak, persis seperti yang dilakukan Kurt Cobain. Tapi di beberapa lagu dengan tempo rendah, Eddie Vedder masih menjadi influece utamanya dalam bernyanyi.
Bagi saya, lima lagu yang disebut
di akhir memang terkesan macho, liar,
dan jauh dari kata “sopan”. Namun entah mengapa, kelugasan dan keberanian Che
dalam menuliskan lirik, menyisakan kecanggungan bagi saya. Saya harus meraba
untuk berada di posisi nyaman ketika mendengarkan lagu-lagu tadi. Salahkan saya
karena terlalu menyenangi lirik-lirik dengan makna yang dikaburkan, dan terlalu
menganggap Cupumanik sebagai band “gelap”. Jujur, feel lebih keluar ketika mereka memainkan nomor dengan lirik semi
puitis, seperti yang mereka lakukan di album pertama.
Agenda Gugatan Cupumanik: Polit(r)ik
Terlepas dari tulisan saya di
paragraf atas, Menggugat sangat layak
dengar. Walaupun dalam liner notes disebutkan
bahwa mereka, “…urung menjelaskan dengan
terang tema apa saja yang digugat, karena setiap lagu memiliki kemampuan
mengenalkan dirinya sendiri, setiap lagu punya bahasanya sendiri…”, tapi menurut
pandangan saya, album ini merupakan katarsis Cupumanik (atau mungkin Che?)
dalam membentuk konsep tatanan ideal. Ideal dalam hubungannya dengan diri
sendiri, keluarga, masyarakat, serta alam. Jika kondisi tidak ideal menuju
ideal harus membutuhkan proses, maka protes bisa jadi solusinya.
Berbicara mengenai sosial-politik
dan momentum, adakah korelasi antarkeduanya? Ada, Menggugat adalah contohnya. Entah ada skenario atau tidak, album
ini rilis di tahun dan bulan yang “tepat”. Dinamika sosial-politik negara ini
sedang berada di level siaga. Kondisi masyarakat Indonesia yang bersumbu
pendek, akan mempermudah terjadinya anarkisme. Masyarakat butuh katup
penyelamat, maka album ini menjadi pilihan untuk melatih intuisi dan menjadi
warga negara yang cerdas.
21 Mei 2014, dua minggu pasca Menggugat rilis, reformasi berusia 16
tahun, merupakan usia remaja pertengahan – jika dianalogikan sebagai manusia.
Dalam periode ini, kepribadian masih kekanak-kanakan, tapi level kesadaran
sudah berkembang. Tidak hanya fisik yang tumbuh, rasa percaya diri pun juga
mulai terlihat, sehingga itu merupakan langkah baru untuk menemukan jati diri –
walaupun harus melalui perenungan dan konflik batin. Begitu pula dengan negara
ini. Negara ini sedang-dalam-perjalanan-mencari-jati diri. Dan tepat dua minggu
pula pasca album ini diedarkan, para nahkoda yang akan membawa ke mana negara ini,
mendeklarasikan diri untuk bertarung pada Pilpres, Juli mendatang. Cupumanik dalam
“Garuda Berdarah” menuliskan, “… Di
manakah wakil Tuhan yang nyata membawa harapan? Janji dibuktikan…” Inilah
konsepsi pemimpin ideal yang Cupumanik cari. Dia bukan seorang yang buta akal
dan rasa. Pemimpin yang baik adalah representasi Tuhan: dia berkuasa tapi mengasihi
serta memberikan keselamatan dan kesejahteraan.
Bagi saya ajang Pemilu tak lebih
bagus dari ajang pencarian bakat di TV. Spektakel yang tercipta berkat “strategi
marketing” dengan menambahkan label “satriya
piningit”, “Soekarno muda”, “Macan Asia”, atau bla bla bla yang lain, seperti
menyihir massa untuk melupakan drama yang terjadi di belakangnya. Mari sedikit
berteori konspirasi: Apa jadinya jika mereka adalah agen “PBB (Perserikatan
Bangsat-Bangsat)”? Yang mana mereka menggurita bersama antek-anteknya dengan kejahatan,
“…kujalankan terorganisir. Aku berada di
luar ruang yuridis. Aku berdaulat, bebas, kebal hukum…” Oke, lupakan teori konspirasi, karena sesungguhnya para aktor intlektual tersebut sudah benar-benar ada di negeri ini.
Dagelan mana yang lebih lucu dari
black campaign, pencitraan, suara
yang bisa dibeli, dan beberapa tetek
bengek lain? Saya mungkin seorang yang apatis terhadap Pemilu, tapi saya menaruh
hormat kepada calon pemimpin negara ini yang benar-benar berniat untuk
memperbaiki (baca: mengubah) keadaan menjadi lebih baik. Saya tidak sangsi
dengan konspirasi semesta a la Paulo
Coelho, maka yang dituliskan Cupumanik dalam “Aksara Alam” bahwa, “…Sabda
alam tak pernah ingkar, bahasa mereka tak lahirkan rekayasa. Alam raya
ungkapkan isyarat. Rasa memberikan estetika jiwa…” adalah suatu kebenaran. Alam
negara ini menyimpan keberkahan. Jika pemimpin kita kelak bisa bersinergi
dengan alam, maka jangan kaget jika Nusantara akan bangkit kembali. Namun jika
setahun, dua tahun, hingga periodenya usai tidak ada perubahan sama sekali,
ingatlah “Luka Bernegara”, sebuah, “…suara
kebebasan, sebuah sikap deklarasi kebebasan. Tinggal di Negara yang sakit, kami
harus menjaga diri kami tetap waras! Ya, ini cara kami bernegara.”
Selamat memilih atau tidak
memilih!
