Adalah sebuah kenekatan yang diorganisir oleh keinginan, maka tulisan ini dibuatlah. Benar-benar sebuah kenekatan dikala tidak selamanya jatuh cinta itu pada pandangan pertama melainkan ketiga, adalah perumpaan yang saya gunakan dalam pertemuan dengan Melancholic Bitch (Melbi). Lewati Anamnesis dan Balada Joni dan Susi, cinta itu bersemi di album ketiga mereka Re-anamnesis. Segala gegap gempita dan puji-pujian kepada Balada Joni dan Susi hanya saya simak kala itu, maka termasuklah saya ke dalam golongan manusia bodoh. Benar-benar sebuah kenekatan dikala belum pernah ada pertemuan tetapi sudah bisa mencintai, begitulah kiranya saya dan Melbi. Saya belum pernah menemui mereka dalam sebuah acara, dan hanya lewat Youtube-lah omongan orang tentang mereka saya buktikan, hanya saja saya belum bisa merasakan atmosfer dan euforianya. Benar-benar sebuah kenekatan dikala membaca departemen lirik mereka seakan saya dan juga kamu berada dalam ruangan penuh sesak dengan bahasa, sastra dan filsafat. Jika diasosiasikan, Melbi cocok dengan ungkapan: mengernyitkan dahi. Ugoran Prasad adalah aktor intelektual di balik lirik-lirik yang tercipta. Di album ini mereka “berkolaborasi” dengan Rudyard Kipling dan Sapardi Djoko Darmono, dan sungguhlah, mereka layak mendirikan Persaudaraan Penyair. Akan sangat sia-sia jika setiap keindahan lirik yang tertulis yang merupakan sebuah nilai artistik, tidak diinterpretasi dengan “liar”. Maka marilah kita membebaskan pikiran pada saat mengarungi lautan bahasa di dalam sebuah bahtera bernama Melancholic Bitch.
Kita telaah terlebih dahulu apa
arti anamnesis. Anamnesis adalah sebuah teknik pemeriksaan dalam kedokteran,
pemeriksaan tersebut dilakukan lewat suatu percakapan antara seorang dokter
dengan pasiennya secara langsung atau dengan orang lain yang mengetahui tentang
kondisi pasien, untuk mendapatkan data pasien beserta permasalahan medisnya.
Anamnesis dilakukan untuk memperoleh sebuah diagnosa. Jadi apa yang mereka
rilis pada 2004 lalu, adalah suatu bentuk “percakapan” (baca: observasi) mereka
terhadap kondisi-kondisi masyarakat yang sudah tergejala, dan dimungkinkah
hampir atau sudah menjadi pesakitan. Melalui kaset pita yang didistribusikan,
mereka mencoba mengajak pendengarnya untuk merasakan gejala-gejala tersebut. Goal-nya adalah bersama-sama
mendiagnosanya. Tapi entahlah, apakah gejala-gejala tersebut bisa dicarikan
obatnya atau tidak? Saya cenderung skeptis.
Beberapa bulan lalu, mereka
kembali membuat “percakapan” dengan pendengarnya. Istilah “kemungkinan” itu
berada di sebuah lingkaran besar bernama “kemutlakan”. Anamnesis dikonstruksi ulang agar fleksibel dengan zaman. Teknologi
kaset pita dinilai telah uzur, dan digantikan dengan cakram CD. Packaging dan artwork dibenahi untuk memperkuat rasa percakapan kepada pendengar.
Tiga tracks baru ditambahkan untuk
menambah perspektif pendengar. Distribusi yang lebih besar dilakukan untuk mencakup
massa yang lebih massif dan pendengar “baru”. Sehingga beberapa pertanyaan yang
berkaitan dengan kemungkinan, bisa mereka coret dan menggantinya dengan
kemutlakan. Sebuah prasasti lama yang merupakan “awal peradaban” dapat terjaga
dan terbaca oleh zaman yang lebih baru.
Prasasti itu mulai terdengar dan
terbaca dari Departemental Deitiess and
Other Verses (General Summary). Adalah sebuah pilihan tepat memasukkan
tulisan Rudyard Kipling dan menempatkannya sebagai pembuka. Sebuah perjalanan
hidup manusia yang terangkum secara rapi. Intro
di lagu ini berusaha menampilkan jejak-jejak sejarah tersebut dalam bentuk
diorama, dan diakhiri dengan Ugoran Prasad berlutut di altar yang dikelilingi
lilin sambil membawa buku yang sampul dan isinya hanya terdapat tulisan “Cogito ergo sum”. Sambil berlutut ia
mengucap, “….O’ Lord, please lead me; from
the unreal, from the real; lead me from darkness, from the light; from death,
nor eternal life…”. Lagu yang bernuansa kelam ini cocok sebagai media
perenungan, apa jadinya kita jika zaman pra sejarah itu abadi?
Sepasang Kekasih yang Bercinta di Luar Angkasa. Lagu ini identik
dengan Frau, dan orang pasti lebih menyukai lagu ini versi Frau, tapi
sebenarnya Frau hanya menyajikan perspektif baru bagi pendengar. Di tangan
penyanyi aslinya, lagu ini seakan soundtrack
opera tanpa dialog. Permainan piano, ketukan drum, petikan bass dan Ugo
yang bernyanyi cukup membentuk suasana sepasang sejoli yang disengaja dikirim
pemerintah ke luar angkasa karena mereka mengidap virus menular yang mematikan.
Setelah di luar angkasa, dan berjuang melawan virusnya, akhirnya salah satu
dari mereka meninggal. Hanya kehampaan dan bayangan kematianlah yang menemani
satu orang tersisa tersebut.
Sebuah perpaduan yang manis
antara Melbi dan Leilani Hermiasih atau yang lebih dikenal dengan Frau di lagu Off Her Love Letter. Karakter vokal Ugo
yang berat diimbangi suara manis Frau menjadikan lagu seperti sebuah kepastian
bahwa, “Wake up, don’t you hide now.
Sometime this morning someone will take you on the run”. Dan sebuah akhir
yang dramatis dan kadang membuat kepastian terasa menjengkelkan dengan teriakan,
“Somebody someone to feel you, somebody someone
to heal you, somebody someone to kill you, ever and ever”.
Mendengarkan On Genealogy of Melancholia membuat kita seperti diinterogasi di
sebuah ruangan gelap, hanya ada meja, kursi, dan lampu 5 watt yang digantung,
sementara tangan kita diikat di belakang. Sang interogator menyatakan, “Violence is what you are, is what you’ll
be, is what you’ll take in everyday”. Pernyataan dan refrain yang catchy. Dalam
Kitab disebutkan bahwa manusia adalah pemimpin di muka bumi tapi ternyata sekarang
kita malah membuat kerusakan lagi, lagi, dan lagi.
Entah mengapa ketika mendengarkan
Tentang Cinta saya jadi kepikiran Lagu Hujan-nya Koil dan Cinta Melulu-nya Efek Rumah Kaca. Lagu yang
manis dengan lirik yang manis pula, walau kadang jika terlalu manis bisa
berubah pahit. Yah, cinta. Semua orang pasti merasakan cinta. Tapi sekarang malah
banyak orang yang menyalahi aturan cinta sehingga membuat cinta tidak natural
dan terkesan seperti “barang jualan”. “Jika
saja ada jendela dan jika saja ada jendela” adalah pelarian yang tepat.
Efek gitar di Debu Hologram benar-benar memenuhi kepala,
menambah rasa skeptis kepada hidup dengan kalimat, “Yang kau inginkah takkan kau dapatkan”.
Sebuah ode kepada hidup yang
telah mati dalam Requiem. Dengan
tempo pelan ditambah efek-efek bebunyian benar-benar membuat hidup penuh
kenangan dan realitas yang buruk. Tapi dalam sisa-sisa itu muncul sedikit
harapan dengan, “Bernapaslah denganku,
kuberjanji kita tak akan terengah”.
“Kabut yang likang dan kabut yang pupu. Lekat dan gerimis pada
tiang-tiang jembatan. Matahari menggeliat dan kembali gugur. Tak lagi di langit
berpusing, di perih lautan.” Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika
mendengarkan lagu ini, yang bisa saya lakukan hanya melamun dan kadang menghela
nafas panjang. Lagu ini berjudul Kartu
Pos Bergambar Jembatan Golden Gate, San Fransisco. Melbi mencoba
menyenandungkan puisi karya Sapardi Djoko Darmono.
“Kita Adalah Batu” adalah salah satu tipikal manusia: bebal. Rasa
benci benar-benar terwujud lewat distorsi. Dan, entahlah, saya pikir lagu ini
cukup “keras”. Akan lebih menarik lagi jika Ugo meneriakkan “Kita adalah batu” dengan keras.
Membaca lirik “The Street” pikiran saya melayang
kepada novel karya J.R.R. Tolkien: The
Hobbit, ketika Bilbo dan segerombolan kurcaci melintasi Mirkwood. Mereka tidak
mematuhi perkataan Gandalf agar tetap berada di jalan setapak, dan akhirnya
petaka menghampiri mereka walaupun pada akhirnya mereka bisa keluar dari “kegelapan”.
Lagu ini Melbi terdengar nge-blues
dengan perpaduan efek pipe organ, menambah
catchy lagu ini.
Tiga lagu terakhir adalah Requiem Reprise versi Requiem dengan suasana lebih kelam, The Street Remix (di-remix oleh WVLV), Tentang Cinta Remsx (di-remix
oleh Bottlesmoker).
Satu hal yang harus dilakukan
ketika mendengarkan Melancholic Bitch adalah perlu pemahaman ekstra dan
lagu-lagu mereka bukanlah tipe lagu yang langsung klop dengan indera pendengaran kita. Kita perlu melakukan
pengulangan supaya kita merasa nyaman. Tutup mata, dengarkan, nikmati, rasakan.
Begitulah pola mendengarkan Melancholic Bitch. Dan akhirnya, selamat menyelami
ruangan penuh nilai artistik.

"Kita perlu melakukan pengulangan supaya kita merasa nyaman"
ReplyDeleteBener bgt mas ,
kupikir cuma aku yg berfikiran seperti itu .
Gabisa langsung jatuh cinta pada pandangan pertama . Harus nemu sampe titik nyaman baru bisa tergila-gila .