Jul 17, 2012

Merasa Bersalah

Pernahkah kamu merasa bersalah? 

Merasa bersalah kepada diri sendiri atau merasa bersalah kepada orangtua atau merasa bersalah kepada kawan, atau merasa bersalah kepada Tuhan mungkin? Itu yang saya rasakan sekarang. Untuk rasa bersalah yang hinggap  di diri saya sekarang adalah rasa bersalah nomor dua, yaitu rasa bersalah kepada orangtua. Terutama kepada ibu.

Kemarin saya semacam "disidang" oleh ibu saya. Penyebabnya adalah masalah kuliah, skripsi lebih tepatnya. Ibu saya menanyakan hal yang macam-macam tentang skripsi saya yang memang belum saya kerjakan sama sekali. Sudah diambil sebenarnya di KRS, tapi seperti itulah... Belum ada "sinar yang terang" yang membuat saya bergegas untuk mengerjakan skripsi.

Ibu saya kemudian membandingkan dengan teman-teman sepermainan saya yang sudah melilitkan ikat kepala ala orang Jepang untuk mengerjakan skripsi. Dan ketakutannya adalah jika saya harus bertahan di kampus dalam waktu yang lama. Dan yang membuat ibu saya jengkel adalah saya tidak menggubrisnya sama sekali. Saya tidak menjawab karena jika saya paparkan fakta yang sebenarnya tentang kuliah saya, beliau pasti langsung shock dan proses "persidangannya" semakin panjang dan melebar.

Ketakutan seorang ibu terhadap anaknya itu adalah hal yang lumrah. Itu adalah bentuk kasih sayangnya kepada sang anak. Dan sadarkah, segalak atau seprotektif apapun ibu kamu, itu dilakukan demi sang anak. Kekhawatiran itu ada. Apalagi yang menyangkut masa depan. Seorang ibu pastinya ingin agar anaknya mempunyai masa depan yang cerah. 

Dan hal itulah yang membuat saya merasa bersalah. Di saat orangtua saya bekerja keras demi masa depan saya, justru saya yang berleha-leha di atas jerih payah orangtua saya tanpa ada progress apapun. Kerja keras orangtua saya saya bakar dengan pribadi saya, hingga tak bersisa. Seharusnya kerja keras orangtua saya menjadikan inspirasi untuk saya. Sebegitu durhakanyakah saya? 

Yang lebih bikin nyesek dan sangat-sangat merasa bersalah adalah ketika ibu saya berkata kepada saya, "muga-muga suk mben kowe dadi wong apik, uripmu kepenak" , dalam versi Bahasa Indonesia-nya "semoga kelak kamu jadi orang baik, dan hidupmu tidak susah". Seketika itu saya seakan berkaca dan mendapati tubuh saya menjadi batu seperti Malin Kundang.

No comments:

Post a Comment