Jika mesin waktu/wormhole itu ada, entah bagaimana caranya saya harus bisa mendapatkannya sekarang. Saya sedang membutuhkan barang itu! Mungkin barang tersebut, untuk saat ini bagi saya, adalah barang kebutuhan primer.
Akhir Juli-awal Agustus tahun lalu adalah sebuah waktu yang tak bisa saya lupakan. Bersama 3 orang teman saya, kami menetap di Jogja selama kurang lebih 1,5 bulan untuk menjalani sebuah tugas dengan berat 2 SKS bernama: magang. Kami magang di sebuah yayasan di Jogja, Yayasan Pondok Rakyat itulah tempat magang saya dan teman-teman saya satu tahun yang lalu. Kampung Bumen yang terletak di Kotagede adalah tempat kami "praktek", di sanalah kami terjun lapangan. Manis, asam, asin, pahit bahkan, kami habiskan bersama. Kost kami di belakang benteng di Jalan Nagan Kulon adalah tempat kami berteduh. Saya masih ingat betul sampai sekarang bagaimana suasananya, bagaimana keadaan kamarnya, masih saja terngiang tentang itu. Sabtu pagi kami pulang ke Solo dan balik ke Jogja Minggu malam, aspal panas Solo-Jogja kami lumat selama 1,5 bulan tersebut. Belum lagi ketika Bulan Ramadhan datang, banyak kenangan di bulan tersebut. Saya baru merasakan bagaimana rasanya makan sahur tanpa keluarga, mencari makanan sendiri, dan akhirnya menikmati bersama teman-teman. Saya juga merasakan "kebejatan" teman-teman ketika sholat berjamaah tapi alangkah bejatnya kami karena waktu komunikasi dengan Tuhan tersebut kami gunakan sebagai "bahan bercandaan". Dan ditambah lagi ketika di perantauan saya sedang menderita galau, teman-teman saya dengan baik hatinya menghibur saya. Memori-memori yang tertulis di sini maupun yang tidak tertulis di sini, tidak akan pernah saya lupakan.
Ijinkanlah saya mengumpati diri saya sendiri, karena kebodohan saya yang teramat dalam, bahkan menuliskan bagaimana bodohnya saya dalam kata-kata sampai tak bisa, membuat memori-memori itu hanya sebagai titik kecil. Seharusnya memori-memori tersebut menjadikan saya tersenyum manis, akan tetapi sebaliknya, malah membuat diri ini menderita. Tak ada asap jika tak ada api. Semua pasti ada sebab-akibat. Karena, sekali lagi, kebodohan saya, akhirnya diri saya sendirilah yang membuat memori-memori itu hangus terbakar. Abunya masih saya simpan, tapi abu tersebut terlapisi oleh kebodohan saya. Sangat sulit melihat memori-memori tersebut secara langsung tanpa harus melewati bayangan kebodohan saya. Sangat-sangat sulit. Apalagi jika saya menoleh ke belakang, dimana orangtua saya bekerja keras demi saya, mengeluarkan banyak uang untuk membiayai saya, akan tetapi uang dan pengorbanan tersebut saya hambur-hamburkan tanpa suatu yang berarti.
Sekarang, tugas dengan berat 2 SKS tersebut harus kembali saya lakoni. Dengan wajah-wajah yang berbeda, dengan tempat yang berbeda, dengan kondisi yang berbeda, entah apakah ada kebodohan yang sama di diri saya..
No comments:
Post a Comment