Aug 23, 2016

Gemuruh Badai Itu Bernama Barasuara





Sebenarnya ada pergulatan dalam pikiran, apakah saya harus menuliskannya atau tidak. Di satu sisi saya sudah capek menatap laptop selama berjam-jam untuk merampungkan tulisan pertama. Lama tidak menulis panjang; otak, mata, leher, dan jemari sudah menemui titik jenuh nan menyebalkan. Namun jika tidak dituliskan, ada perasaan mengganjal.

Saat memantau tulisan kompetitor, earphone yang menyumbat kuping mengalunkan lagu-lagu mereka. Sengaja memang. Siapa tahu tembang-tembang mereka punya efek magis untuk menyusun energi ekstra di tenggat waktu yang semakin mepet. 

Akhirnya saya mengambil keputusan: Baiklah saya akan menulisnya!

Mimpi Itu Menjadi Nyata
Bagi Iga Massardi, impian punya bus pribadi yang digunakan buat tur akhirnya terwujud pada Mei 2016 lalu. Walaupun masih menyewa, tetapi paling tidak mimpi bertandang dari satu kota ke kota lain menggunakan bus, terealisasi. 

Bersama rekan-rekannya dari Barasuara, Iga dkk. menjelajah enam kota di Pulau Jawa secara maraton dari tanggal 2-15 Mei 2016. Petualangan itu terangkum dalam Taifun Tour. Tur perdana Barasuara ini ibaratnya menjadi poin pelengkap kegemilangan karir mereka usai merilis debut album fenomenal, Taifun, pada 2015.

Pasca Taifun beredar, nama Barasuara semakin meroket. “Barasuara adalah pengalaman yang luar biasa. Banyak sekali yang harus disyukuri. Wong modal awalnya cuma cinta dan nekat, tanpa rencana yang hebat serta tanpa ekspektasi yang tinggi. Latihan, latihan, latihan, cuma itu saja [kuncinya]," tulis Iga dalam salah satu unggahan fotonya di Instagram.

Kualitas adalah prioritas mereka. Berbicara mengenai kualitas, salah satu yang disorot dari Barasuara adalah kedahsyatan saat tampil live. Di kamus hidup Barasuara, performa apik menjadi kewajiban. Semangat itulah yang dibawa dalam Taifun Tour. 

Barasuara berjanji Taifun Tour bakalan berbeda dari panggung-panggung regulernya. Di edisi spesial ini mereka memanjakan penggemar dengan tata artistik panggung dan tata cahaya yang selaras dengan konsep musik Barasuara. 

Untuk itu, Barasuara menggandeng dua orang yang jago di bidangnya: Ezar P. Darnady sebagai Stage Designer dan Lighting Designer, serta Isha Hening yang menjabat Visual Animation Artist.

Taifun Bergemuruh di Solo
Salah satu destinasi yang disinggahi Barasuara dalam Taifun Tour adalah Solo. Pentas di Kota Bengawan digelar di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, 10 Mei 2016.

Dalam hati sebenarnya ada keraguan: Apakah bisa Taifun Tour mendatangkan banyak penonton? Pasalnya, panggung perdana Barasuara di Kota Solo hanya berjarak satu bulan sebelum Taifun Tour digelar. Namun, dugaan saya salah. Penonton membludak. Bahkan, dari kabar yang saya dapat, tiket konser tak meninggalkan sisa.

Lalu pertanyaan kedua menghampiri: Seperti apa performa Barasuara di Taifun Tour ini? Apakah janji untuk tampil prima akan dipenuhi, atau itu hanya menjadi strategi marketing belaka?

Jawaban itu mulai muncul pada jam 19.30 WIB. Derau angin yang keluar dari soundsystem mengiringi langkah sepasang kakak-beradik, Marco Stefianno dan Enrico Octaviano, memasuki panggung. Usai duduk di balik set drum, mereka langsung menghentakkan pukulan eksplosif yang membuat lantai Teater Arena bergetar. Kombinasi pukulan drum dan lighting menjadi menu pembuka yang manis.

Pukulan itu kemudian melebur menjadi nomor pembuka, “Hagia”. Saat Iga beserta dua biduan Barasuara, Puti Chitara dan Cabrini Asteriska, menyanyikan lirik yang dikutip dari Doa Bapa Kami, bulu kuduk saya tiba-tiba berdiri. “Hagia” versi Taifun Tour terasa menyayat dan lebih menampar dibanding versi album.

Di dua nomor selanjutnya, “Nyala Suara” dan “Tarintih”, Puti dan Asteriska semakin menjadi-jadi dalam tariannya. Terkhusus di judul yang disebut di akhir, hentakan rancak drum Marco yang ditambah perpaduan irama gitar memabukkan milik Iga dan TJ Kusuma, membuat penonton tak segan untuk bergoyang. Jangan lupakan pula peran Si Lincah pembetot bas, Gerald Situmorang, yang menjadi pemantik massa untuk headbang.

Kini giliran lagu paling favorit saya yang dikumandangkan. “Taifun”, lagu paling kontemplatif yang ada di album, didendangkan dengan lirih oleh tiga vokalis. Seketika lagu ini melumat ingar-bingar nomor-nomor sebelumnya.

Bebunyian blues padang pasir menemani saya merenungi ucapan Iga yang dihantarkan sebelum lagu ini dimulai. “Ini lagu paling sunyi di album Taifun. Karena dalam kesunyian ada rintihan paling dalam,” katanya.

Lagu favorit lain di album Taifun, “Mengunci Ingatan”, didendangkan penuh melankolia. Suasana sendu semakin membuncah berkat tempo yang dipelankan. Diterangi lighting berwarna biru, lirik lagu ini memberi bogem mentah kepada diri saya. Alhasil, mulut yang sedianya kepingin ber-sing along hanya bisa mengatup.

Dalam Taifun Tour, Barasuara turut memamerkan karya terbarunya yang diberi judul “Samara”. Jika diperhatikan dari penulisan lirik, lagu ini rasanya masih punya benang merah dengan lagu-lagu lain di album Taifun. Nomor paling gres ini dipenuhi irama funk.

Di lagu “Menunggang Badai”, Gerald Situmorang menunjukkan gemuruh permainan basnya. Sedangkan “Sendu Melagu”, menjadi arena Iga untuk unjuk kebolehan.

Teater Arena yang sedang gerah-gerahnya semakin dibakar oleh Barasuara. “Api dan Lentera” adalah  pemantiknya. Tak bisa dipungkiri lagu ini mempunyai daya destruktif tinggi. Apalagi saat berada di lirik “Lepaskan rantai yang membelenggu, nyalakan api dan lenteramu”, penonton ibarat berada dalam posisi trance.

Sisa-sisa energi yang dipunyai penampil maupun penonton akhirnya dilampiaskan di nomor penutup, “Bahas Bahasa”. Bukannya melambat, mereka malah semakin meliar. Bahkan, Iga dan Gerald sempat berseluncur di antara kerumunan penonton sambil memainkan instrumennya. Epic! 

Melihat respon masyarakat, sepertinya Iga dan kawan-kawan harus merevisi mimpinya. Impian punya tour bus saya rasa terlalu ringan bagi band sekelas Barasuara. Sekarang adalah saat yang tepat bagi mereka untuk bermimpi menjadi legenda musik Indonesia.

No comments:

Post a Comment