Aug 22, 2016

UMRAHNYA SANG FANS KARBITAN






“Assalamualaikum, motherfucker!”

Tujuh tahun lalu saya kali pertama mendengarnya. Sampai saat ini kalimat itu masih membekas di ingatan. Terasa ngehek, tapi manis. Kasar sekaligus cerdas. 

Tiada yang pantas mengucapkan kalimat itu kecuali jika dia bernama David Randall “Randy” Blythe. Sang entertainer kelahiran 21 Februari 1971 itu paham cara menunaikan tugas sebagai frontman. Tampil perdana di bumi Indonesia, ia tahu bagaimana menyapa penonton dengan sapaan yang tidak biasa-biasa saja. Ya, Randy tetaplah Randy. Kontroversi adalah nama tengahnya.

Kalimat itu merupakan satu dari sekian kenangan yang terendap di memori; tentang sebuah huru-hara nan memikat bernama Lamb of God: Wrath Tour. Randy (vokalis) bersama empat rekannya: Mark Morton (gitar), Willie Adler (gitar), John Campbell (bas), dan Chris Addler (drum) menggoyang Jakarta untuk kali pertama pada 9 Maret 2009 silam.

Ribuan metalheads yang berkerumun di Tenis Outdoor Senayan menjadi saksi betapa dahsyatnya band asal Richmond, Virginia, Amerika Serikat itu. Saya turut menjadi bagian dalam umrah metal tersebut.

Fans Karbitan
Saya sesungguhnya adalah  fans Linkin Park garis keras. Berkat Linkin Park-lah, saya mengenal band-band yang lebih ekstrem dari mereka. Bahkan, saya lebih dulu mengenal Linkin Park daripada Metallica. Janggal, ya? 

Memasuki SMA, referensi musik saya semakin meluas. Selain dari teman-teman, serapan musik ekstrem didapat dari salah satu program radio di Kota Solo. Smash Your Ass adalah nama acaranya. Dari program yang menggerinda setiap Kamis malam ini saya mulai tahu Lamb of God.

Di bangku perkuliahan, kosakata musikal saya semakin bertambah berkat seorang teman. Beny namanya. Laptopnya bak kamus musik. Salah satu yang saya gemari adalah video unduhan Lamb of God saat tampil membawakan “Redneck” di Download Festival 2007. Dari situlah saya kepikiran, “Kapan ya mereka main di Indonesia?”

Pertanyaan itu akhirnya terjawab beberapa bulan jelang konser. Pamflet digital Wrath Tour Lamb of God di Jakarta berseliweran di beranda Facebook. Mengetahui itu, saya langsung mengajak Beny. Dia menyanggupi. 

Bermodal New American Gospel, As The Palaces Burn, Ashes of the Wake, Sacrament, dan Wrath yang didapat secara ilegal, saya memantapkan niat untuk menonton Lamb of God. Yang ada di pikiran saat itu adalah nonton konser Lamb of God dapat menaikkan derajat sebagai metalheads dan menambah jiwa maskulin. Kalimat sebelum ini bisa disingkat dengan: pamer.

Jiwa pamer saya semakin meluap saat sepuluh hari jelang konser. Setiap harinya saya menuliskan countdown di Facebook. Ketika itu saya berharap agar teman-teman tahu kalau saya mau nonton konser Lamb of God. Bagi fans karbitan seperti saya, pengakuan dari orang lain adalah satu hal yang paling dicari.

Berbeda dari metalheads betulan, perjalanan menuju konser Wrath Tour di Jakarta tidak saya lalui dengan berdarah-darah. Saya memang menabung, tapi cuma 30 persen saja. Sisanya dibiayai orangtua. Selama di Jakarta, nebeng hidup bersama kakak adalah solusi sebagai metalheads manja. Modal saya hanya satu: yang penting eksis.

The Show
Wrath Tour adalah konser internasional pertama yang saya saksikan. Walaupun berjubah sebagai fans karbitan, tapi tetap ada rasa merinding saat saya sampai di venue. Nama besar Lamb of God adalah penyebabnya. “Lamb of God, bro,” kata saya kepada Beny.

Sebelum menyaksikan junjungan kami, penonton digempur aksi unit death metal Ibukota yang kelak menjadi salah satu band yang disegani di kancah musik metal. Mereka adalah Deadsquad. Malam itu, Stevie Item dkk. memuntahkan nomor-nomor ganjil penuh kebisingan dari album perdananya, Horror Vision.

Perasaan yang tak biasa muncul seusai Deadsquad menyelesaikan repertoarnya. “Edan, bar iki Lamb of God [Gila, sebentar lagi Lamb of God],” kata saya dalam hati.

Sebagai band yang telah hilir-mudik dari panggung ke panggung, sepertinya Lamb of God pandai dalam menyiasati kebosanan penonton sewaktu check line. Sang kru tidak menggunakan metode konvensional. Dalam mengecek kualitas sound,  malahan ia bercakap-cakap dengan penonton. Ia membicarakan banyak hal, salah satu yang saya ingat adalah tentang red-light district.

Setelah dirasa pas, panggung kembali dalam keadaan redup. Samar-samar terlihat bendera kebangsaan Lamb of God yang dipasang sebagai background. Entrance song menggema di corong-corong sound system, dan boom…tak berselang lama “Hourglass” tampil sebagai pembuka. Masa langsung bertindak beringas. Pesta telah dimulai, dan fans karbitan ini resmi menjalani umrah metalnya.

Jujur, saat itu saya hanya mengenal lagu-lagu dari album Wrath dan beberapa nomor hits seperti “Walk with Me in Hell”,  “Now You’ve Got Something to Die For”, “Vigil”, “Redneck”, dan “Black Label”. Sisanya, saya bagaikan butiran debu di tengah massa yang meliar. 

Walaupun menjadi alien, tetapi saya terus menikmati betapa berengseknya Lamb of God saat melumat ribuan fans-nya. Dari atas panggung, tubuh kerempeng Randy tak pernah berhenti bergerak. Semangatnya berhasil menular kepada penonton. Dansa liar tak terhindarkan.

Di tiga lagu terakhir: “Vigil”, “Redneck”, dan “Black Label”, adrenalin saya memuncak. Tak elok rasanya jika tidak terjun ke pit. Apalagi saat “Redneck” dimainkan, saya bakalan merugi jika tidak turut bergabung dalam circle pit. Wall of death di “Black Label” pun saya lalui secara khusyuk.

Umrah metal kala itu saya lalui secara klimaks.

Masa Sekarang
Jika mengingat peristiwa tujuh tahun lalu, ada senyum geli yang bersarang di bibir. “Kok bisa ya saya senekat itu hanya demi mencari eksistensi dan identitas?
Walaupun saat itu menyandang sebagai fans karbitan, tapi saya bersyukur bisa menyaksikan Lamb of God dari jarak dekat, sehingga rasa penasaran saya tidak saya kicaukan lewat tweet ke Randy Blyhte, “Hai Randy, kapan kamu manggung di Indonesia?”



No comments:

Post a Comment