“Assalamualaikum,
motherfucker!”
Tujuh
tahun lalu saya kali pertama mendengarnya. Sampai saat ini kalimat itu masih
membekas di ingatan. Terasa ngehek, tapi
manis. Kasar sekaligus cerdas.
Tiada
yang pantas mengucapkan kalimat itu kecuali jika dia bernama David Randall “Randy”
Blythe. Sang entertainer kelahiran 21
Februari 1971 itu paham cara menunaikan tugas sebagai frontman. Tampil perdana di bumi Indonesia, ia tahu bagaimana menyapa
penonton dengan sapaan yang tidak biasa-biasa saja. Ya, Randy tetaplah Randy. Kontroversi
adalah nama tengahnya.
Kalimat
itu merupakan satu dari sekian kenangan yang terendap di memori; tentang sebuah
huru-hara nan memikat bernama Lamb of
God: Wrath Tour. Randy (vokalis) bersama empat rekannya: Mark Morton
(gitar), Willie Adler (gitar), John Campbell (bas), dan Chris Addler (drum)
menggoyang Jakarta untuk kali pertama pada 9 Maret 2009 silam.
Ribuan
metalheads yang berkerumun di Tenis
Outdoor Senayan menjadi saksi betapa dahsyatnya band asal Richmond, Virginia, Amerika Serikat itu. Saya turut
menjadi bagian dalam umrah metal tersebut.
Fans Karbitan
Saya
sesungguhnya adalah fans Linkin Park garis keras. Berkat Linkin Park-lah, saya mengenal
band-band yang lebih ekstrem dari
mereka. Bahkan, saya lebih dulu mengenal Linkin Park daripada Metallica.
Janggal, ya?
Memasuki
SMA, referensi musik saya semakin meluas. Selain dari teman-teman, serapan
musik ekstrem didapat dari salah satu program radio di Kota Solo. Smash Your Ass adalah nama acaranya. Dari
program yang menggerinda setiap Kamis malam ini saya mulai tahu Lamb of God.
Di
bangku perkuliahan, kosakata musikal saya semakin bertambah berkat seorang
teman. Beny namanya. Laptopnya bak kamus musik. Salah satu yang saya gemari
adalah video unduhan Lamb of God saat tampil membawakan “Redneck” di Download Festival 2007. Dari situlah
saya kepikiran, “Kapan ya mereka main di Indonesia?”
Pertanyaan
itu akhirnya terjawab beberapa bulan jelang konser. Pamflet digital Wrath Tour Lamb of God di Jakarta
berseliweran di beranda Facebook. Mengetahui
itu, saya langsung mengajak Beny. Dia menyanggupi.
Bermodal
New American Gospel, As The Palaces Burn,
Ashes of the Wake, Sacrament, dan Wrath
yang didapat secara ilegal, saya memantapkan niat untuk menonton Lamb of
God. Yang ada di pikiran saat itu adalah nonton konser Lamb of God dapat
menaikkan derajat sebagai metalheads dan
menambah jiwa maskulin. Kalimat sebelum ini bisa disingkat dengan: pamer.
Jiwa
pamer saya semakin meluap saat sepuluh hari jelang konser. Setiap harinya saya
menuliskan countdown di Facebook. Ketika itu saya berharap agar
teman-teman tahu kalau saya mau nonton konser Lamb of God. Bagi fans karbitan seperti saya, pengakuan
dari orang lain adalah satu hal yang paling dicari.
Berbeda
dari metalheads betulan, perjalanan
menuju konser Wrath Tour di Jakarta
tidak saya lalui dengan berdarah-darah. Saya memang menabung, tapi cuma 30
persen saja. Sisanya dibiayai orangtua. Selama di Jakarta, nebeng hidup bersama
kakak adalah solusi sebagai metalheads manja.
Modal saya hanya satu: yang penting eksis.
The Show
Wrath Tour adalah konser internasional
pertama yang saya saksikan. Walaupun berjubah sebagai fans karbitan, tapi tetap ada rasa merinding saat saya sampai di venue. Nama besar Lamb of God adalah
penyebabnya. “Lamb of God, bro,” kata saya kepada Beny.
Sebelum
menyaksikan junjungan kami, penonton digempur aksi unit death metal Ibukota yang kelak menjadi salah satu band yang disegani di kancah musik
metal. Mereka adalah Deadsquad. Malam itu, Stevie Item dkk. memuntahkan
nomor-nomor ganjil penuh kebisingan dari album perdananya, Horror Vision.
Perasaan
yang tak biasa muncul seusai Deadsquad menyelesaikan repertoarnya. “Edan, bar iki Lamb of God [Gila, sebentar lagi Lamb of God],” kata
saya dalam hati.
Sebagai
band yang telah hilir-mudik dari
panggung ke panggung, sepertinya Lamb of God pandai dalam menyiasati kebosanan
penonton sewaktu check line. Sang kru
tidak menggunakan metode konvensional. Dalam mengecek kualitas sound, malahan ia bercakap-cakap dengan penonton.
Ia membicarakan banyak hal, salah satu yang saya ingat adalah tentang red-light district.
Setelah
dirasa pas, panggung kembali dalam keadaan redup. Samar-samar terlihat bendera
kebangsaan Lamb of God yang dipasang sebagai background. Entrance song menggema di corong-corong sound system, dan boom…tak berselang
lama “Hourglass” tampil sebagai pembuka. Masa langsung bertindak beringas.
Pesta telah dimulai, dan fans karbitan
ini resmi menjalani umrah metalnya.
Jujur,
saat itu saya hanya mengenal lagu-lagu dari album Wrath dan beberapa nomor hits
seperti “Walk with Me in Hell”, “Now
You’ve Got Something to Die For”, “Vigil”, “Redneck”, dan “Black Label”.
Sisanya, saya bagaikan butiran debu di tengah massa yang meliar.
Walaupun
menjadi alien, tetapi saya terus menikmati betapa berengseknya Lamb of God saat
melumat ribuan fans-nya. Dari atas
panggung, tubuh kerempeng Randy tak pernah berhenti bergerak. Semangatnya berhasil
menular kepada penonton. Dansa liar tak terhindarkan.
Di
tiga lagu terakhir: “Vigil”, “Redneck”, dan “Black Label”, adrenalin saya
memuncak. Tak elok rasanya jika tidak terjun ke pit. Apalagi saat “Redneck” dimainkan, saya bakalan merugi jika
tidak turut bergabung dalam circle pit. Wall
of death di “Black Label” pun saya lalui secara khusyuk.
Umrah
metal kala itu saya lalui secara klimaks.
Masa Sekarang
Jika
mengingat peristiwa tujuh tahun lalu, ada senyum geli yang bersarang di bibir. “Kok
bisa ya saya senekat itu hanya demi mencari eksistensi dan identitas?
”
Walaupun
saat itu menyandang sebagai fans karbitan,
tapi saya bersyukur bisa menyaksikan Lamb of God dari jarak dekat, sehingga
rasa penasaran saya tidak saya kicaukan lewat tweet ke Randy Blyhte, “Hai Randy, kapan kamu manggung di
Indonesia?”


No comments:
Post a Comment