Oct 1, 2013

Deadline


Ketika tulisan ini dibuat, Bulan Oktober sudah menginjak jam ke-17 di hari pertamanya. September seperti tak sempat mengucap perpisahan. Apakah hanya perasaan saya saja yang berpendapat bahwa Bulan September kemarin berlalu dengan cepat sekali? Bagaimana denganmu? Kemarin banyak orang yang menuliskan “Wake me up when September ends” di linimasa Twitter mereka.  Sungguh, nampaknya orang-orang tak rela ditinggalkan oleh bulan kemarin. Begitu juga dengan saya.  Banyak agenda yang terbengkalai karena saya tergejala inkonsistensi. Saya masih ingat, di awal September, saya merencanakan beberapa agenda. Tapi semuanya (lagi-lagi) berakhir sebagai wacana. Salah satu agenda yang saya buat adalah merampungkan proposal skripsi dan maju konsul ke hadapan dosen pembimbing. Namun, ya, begitulah pada akhirnya, hahahaha.

Setiap agenda atau pekerjaan yang dijalani pastinya mempunyai batas akhir. Batas akhir biasa orang sebut dengan deadline. Ada orang yang bisa bersahabat dengannya, dan ada juga yang tidak. Saya termasuk tipe nomor dua. Sudah berkali-kali saya jatuh ke lubang yang sama gara-gara deadline. Satu contohnya ada di paragraf pertama. Orang memang mudah merencanakan, orang memang mudah memulai suatu pekerjaan, tapi kadang orang tidak berhenti di finish line dengan posisi yang sempurna. Dan itu dibuat oleh kebodohan kita sendiri, bukan? Kebodohan yang kita buat gara-gara sifat pemalasnya kita, ada kebodohan yang dibuat karena ucapan: “Esok masih ada hari”, atau kebodohan yang memang benar-benar mengalir dalam darah kita yang merupakan sisa-sisa gen nenek moyang dari zaman batu.

Saya jadi ingat waktu saya masih aktif mengikuti kuliah beberapa semester kemarin. Deadline tugas adalah teman setia seorang mahasiswa. Karena ucapan “Esok masih ada hari”-lah yang menyebabkan mahasiswa menjadi, kata teman saya: pesulap. Menyulap tugas yang tadinya tidak ada menjadi ada hanya dalam hitungan jam. Ketika berada di posisi ini, semua jadi terasa tidak ada yang tidak mungkin. Yang selanjutnya bisa ditebak: mematung di antara monitor, keyboard, dan Google. Jika tidak kunjung mendapat inspirasi, sosial media menjadi curahan hati. Dalam hitungan jam, seorang dosen bisa menjadi public enemy, mengata-ngatai dosen di sosial media, menuduh dosen sebagai makhluk Tuhan paling kejam, mendeskripsikan dosen layaknya mimpi buruk ala Freddy Krueger dalam A Nightmare on Elm Street. Sudahlah, jangan seperti itu. Jangan tiru kelakukan saya dulu. Worship them or die!

Mahasiswa itu jika diibaratkan seperti tagline sebuah iklan rokok: My life, my adventure. Setiap petualangan – petualangan menuju wisuda lebih tepatnya – pastinya mempunyai sisi adrenalin tersendiri. Adrenalin akan terpacu ketika mengerjakan tugas mepet dengan deadline. Pernahkah kamu merasakan itu? Saya pernah. Ada rasa deg-degan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata pokoknya, apalagi mendekati deadline dan ternyata halaman papper atau makalah belum memenuhi target.  Belum lagi ditambah listrik mati atau file hilang terkena virus, maka jika itu terjadi, mengumpat rasanya menjadi suatu yang tidak dilarang. Namun ketika mendekati deadline, kadang kita melupakan hak kita sebagai manusia. Ya, manusia butuh bersenang-senang, manusia butuh beristirahat, kadang tugas membuat kita terasing dari diri kita sendiri. Dan kadang, tugas juga mengacaukan sisi rasionalitas kita. Maukah kamu terasing dari kehidupanmu hanya demi 5-10 lembar tugas papper yang belum jelas mendapat nilai apa? Jadi walaupun kamu mengejar deadline, coba hargailah dirimu sendiri. Seperti kata Dialog Dini Hari, “Rehat sekejap sebelum lelah, rebahkan diri sebentar. Basuh tanganmu bersihkan debu, hilangkan dahaga di sela waktu.”

Bukan hanya mahasiswa saja yang bergelut dengan deadline. Semua pekerjaan pastilah akrab dengan deadline. Di dunia kerja, deadline lebih mencekik, karena deadline merupakan konsekuensi kita dan kita harus mempertanggungjawabkan sesuatu bernama: gaji. Apa yang saya alami sekarangpun berhubungan dengan kegagalan saya menjalankan deadline. Saya lebih “senang” diberi deadline oleh orang daripada harus men­-deadline diri sendiri. Ketika kita men-deadline diri kita sendiri, tantangan untuk tidak menepatinya lebih besar, atau bisa dikatakan kita terlalu menyepelekan. Dalam kondisi seperti ini, membuat saya antipati terhadap deadline. Deadline ibarat fobia baru di dunia modern sekarang. Ya, saya menjadi seorang yang skeptis terhadap kemampuan diri saya dalam menyelesaikan sebuah deadline. Ada ketakutan ketika saya dihampiri oleh sebuah deadline, lalu pertanyaan retoris pun muncul, “Apakah saya bisa menyelesaikannya?” Kondisi saya ini pernah saya bahas dengan koordinator program di tempat saya magang dulu. Saya berbicara kepada dia bahwa saya adalah seorang yang tidak suka dengan sebuah deadline. Lalu permasalahan saya ini dia jawab lewat sebuah surat yang ia berikan kepada saya waktu saya dan teman-teman selesai magang. Dalam suratnya tersebut, di sebuah kalimat yang masih terngiang-ngiang hingga kini, dia menulis, “…Aku harap, selama di sini ada berbagai hal yang bisa kau jadikan proses pembelajaran bagi kehidupanmu dan kedewasaanmu…” Bukan hanya itu saja, di sebuah amplop, yang berisi “uang lelah”, ia tak lupa menulis, “To: Reza. Maturnuwun sudah berproses selama 1 bulan ini. Jangan takut lagi dengan deadline ya” Kalimat itu diakhiri dengan smiley titik dua tutup kurung.

No comments:

Post a Comment