Ketika tulisan ini dibuat, Bulan
Oktober sudah menginjak jam ke-17 di hari pertamanya. September seperti tak
sempat mengucap perpisahan. Apakah hanya perasaan saya saja yang berpendapat
bahwa Bulan September kemarin berlalu dengan cepat sekali? Bagaimana denganmu? Kemarin
banyak orang yang menuliskan “Wake me up
when September ends” di linimasa Twitter mereka. Sungguh, nampaknya orang-orang tak rela
ditinggalkan oleh bulan kemarin. Begitu juga dengan saya. Banyak agenda yang terbengkalai karena saya
tergejala inkonsistensi. Saya masih ingat, di awal September, saya merencanakan
beberapa agenda. Tapi semuanya (lagi-lagi) berakhir sebagai wacana. Salah satu
agenda yang saya buat adalah merampungkan proposal skripsi dan maju konsul ke
hadapan dosen pembimbing. Namun, ya, begitulah pada akhirnya, hahahaha.
Setiap agenda atau pekerjaan yang
dijalani pastinya mempunyai batas akhir. Batas akhir biasa orang sebut dengan deadline. Ada orang yang bisa bersahabat
dengannya, dan ada juga yang tidak. Saya termasuk tipe nomor dua. Sudah
berkali-kali saya jatuh ke lubang yang sama gara-gara deadline. Satu contohnya ada di paragraf pertama. Orang memang
mudah merencanakan, orang memang mudah memulai suatu pekerjaan, tapi kadang
orang tidak berhenti di finish line dengan
posisi yang sempurna. Dan itu dibuat oleh kebodohan kita sendiri, bukan?
Kebodohan yang kita buat gara-gara sifat pemalasnya kita, ada kebodohan yang
dibuat karena ucapan: “Esok masih ada hari”, atau kebodohan yang memang
benar-benar mengalir dalam darah kita yang merupakan sisa-sisa gen nenek moyang
dari zaman batu.
Saya jadi ingat waktu saya masih
aktif mengikuti kuliah beberapa semester kemarin. Deadline tugas adalah teman setia seorang mahasiswa. Karena ucapan
“Esok masih ada hari”-lah yang menyebabkan mahasiswa menjadi, kata teman saya: pesulap.
Menyulap tugas yang tadinya tidak ada menjadi ada hanya dalam hitungan jam.
Ketika berada di posisi ini, semua jadi terasa tidak ada yang tidak mungkin.
Yang selanjutnya bisa ditebak: mematung di antara monitor, keyboard, dan Google. Jika tidak kunjung mendapat inspirasi, sosial
media menjadi curahan hati. Dalam hitungan jam, seorang dosen bisa menjadi public enemy, mengata-ngatai dosen di
sosial media, menuduh dosen sebagai makhluk Tuhan paling kejam, mendeskripsikan
dosen layaknya mimpi buruk ala Freddy Krueger dalam A Nightmare on Elm Street. Sudahlah, jangan seperti itu. Jangan tiru
kelakukan saya dulu. Worship them or die!
Mahasiswa itu jika diibaratkan
seperti tagline sebuah iklan rokok: My life, my adventure. Setiap
petualangan – petualangan menuju wisuda lebih tepatnya – pastinya mempunyai
sisi adrenalin tersendiri. Adrenalin akan terpacu ketika mengerjakan tugas
mepet dengan deadline. Pernahkah kamu
merasakan itu? Saya pernah. Ada rasa deg-degan yang tidak bisa diungkapkan
dengan kata-kata pokoknya, apalagi mendekati deadline dan ternyata halaman papper
atau makalah belum memenuhi target. Belum lagi ditambah listrik mati atau file hilang terkena virus, maka jika itu
terjadi, mengumpat rasanya menjadi suatu yang tidak dilarang. Namun ketika mendekati
deadline, kadang kita melupakan hak kita
sebagai manusia. Ya, manusia butuh bersenang-senang, manusia butuh
beristirahat, kadang tugas membuat kita terasing dari diri kita sendiri. Dan
kadang, tugas juga mengacaukan sisi rasionalitas kita. Maukah kamu terasing
dari kehidupanmu hanya demi 5-10 lembar tugas papper yang belum jelas mendapat nilai apa? Jadi walaupun kamu
mengejar deadline, coba hargailah
dirimu sendiri. Seperti kata Dialog Dini Hari, “Rehat sekejap sebelum lelah, rebahkan diri sebentar. Basuh tanganmu
bersihkan debu, hilangkan dahaga di sela waktu.”
Bukan hanya mahasiswa saja yang
bergelut dengan deadline. Semua
pekerjaan pastilah akrab dengan deadline.
Di dunia kerja, deadline lebih
mencekik, karena deadline merupakan
konsekuensi kita dan kita harus mempertanggungjawabkan sesuatu bernama: gaji. Apa
yang saya alami sekarangpun berhubungan dengan kegagalan saya menjalankan deadline. Saya lebih “senang” diberi deadline oleh orang daripada harus men-deadline diri sendiri. Ketika kita men-deadline diri kita sendiri, tantangan
untuk tidak menepatinya lebih besar, atau bisa dikatakan kita terlalu
menyepelekan. Dalam kondisi seperti ini, membuat saya antipati terhadap deadline. Deadline ibarat fobia baru di
dunia modern sekarang. Ya, saya menjadi seorang yang skeptis terhadap kemampuan
diri saya dalam menyelesaikan sebuah deadline.
Ada ketakutan ketika saya dihampiri oleh sebuah deadline, lalu pertanyaan retoris pun muncul, “Apakah saya bisa
menyelesaikannya?” Kondisi saya ini pernah saya bahas dengan koordinator program
di tempat saya magang dulu. Saya berbicara kepada dia bahwa saya adalah seorang
yang tidak suka dengan sebuah deadline. Lalu
permasalahan saya ini dia jawab lewat sebuah surat yang ia berikan kepada saya
waktu saya dan teman-teman selesai magang. Dalam suratnya tersebut, di sebuah
kalimat yang masih terngiang-ngiang hingga kini, dia menulis, “…Aku harap, selama di sini ada berbagai hal
yang bisa kau jadikan proses pembelajaran bagi kehidupanmu dan kedewasaanmu…” Bukan
hanya itu saja, di sebuah amplop, yang berisi “uang lelah”, ia tak lupa
menulis, “To: Reza. Maturnuwun sudah
berproses selama 1 bulan ini. Jangan takut lagi dengan deadline ya” Kalimat
itu diakhiri dengan smiley titik dua
tutup kurung.
No comments:
Post a Comment