Sep 26, 2013

Hanyalah Sebuah Wacana


“I got no motivation. Where is my motivation? No time for the motivation. Smoking my inspiration”. (Green Day-Longview)

Lagu dari Green Day tersebut mengalun lirih dari speaker komputer saya. Tombol repeat berada pada posisi on di player pemutar musik. Seperti sebuah soundtrack, “Longview” menemani saya ketika otak ini sudah mengalami “disfungsi” akibat hal-hal monoton yang saya lakukan di depan monitor 15 inchi. 

Tekan ngendi?” (Sampai mana?) merupakan pertanyaan yang sering saya dengar dari teman-teman saya. Saya tidak menjawab, paling hanya tersenyum dan tak jarang saya malah ngeles atau malah mengubah topik pembicaraan. Karena bagi saya adalah satu hal yang tabu menjawab pertanyaan seperti itu jika tidak ada progres maksimal yang saya lakukan. Progres merupakan suatu yang langka dan jarang saya temui akhir-akhir ini. Dan oh ya, kadang pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sensitif bagi orang-orang yang sedang memperjuangkan “itu”. Pertanyaan itu sama sensitifnya dengan pertanyaan seputar SARA, sehingga dibuatlah pengelompokan baru terkait hal-hal sensitif bernama SARAS (Suku Agama Ras Antargolongan Skripsi).

Tulisan ini berjudul “Hanyalah Sebuah Wacana”. Jika kamu membaca posting-an sebelum ini pastilah kamu tahu kenapa saya menulis ini. Entah mengapa bangunan yang saya susun tiba-tiba saja sudah berada pada posisi miring, tinggal menunggu waktu untuk ambruk. Begitulah versi tersirat dari niatan dan motivasi saya sekarang ini. Jika meminjam istilah Vicky Prasetyo, mungkin kondisi saya sekarang adalah sedang “mempertakut” dan “mempersuram” diri sendiri. Dan parahnya, ketika dalam kondisi ini, biasanya saya malah terjerumus terlalu dalam. Sehingga jawaban paragraf ketiga bisa kamu temui di paragraf ini.

Bisa jadi ketika membaca tulisan ini kamu berpikir, “Ahh, anak ini terlalu mendramatisir keadaan”. Bukan, saya bukan sedang mendramatisir keadaan, tapi memang beginilah adanya. Bukan juga melakukan sebuah pembelaan, tapi entahlah, saya ini seorang yang aneh. Ketika menulis ini wajah saya mati rasa, lalu saya berkaca, dan melihat ada seorang bodoh dan bebal di sana. Mmmm, ngomong-omong bagian ini terlalu depresif, ya? Hahaha.

Baiklah, doakan saja semoga “itu” tidak berakhir sebagai wacana. Sebaiknya saya berkaca lagi dan bertanya,”How far you can go, boy?”

No comments:

Post a Comment