Ada rasa haru jika mengingat senja hari itu
Kutinggalkan senyum-senyum yang telah
berkembang,
sisa-sisa sebuah ketegaran
Di persimpangan aku mengumpat, menghujat
Memaki langit yang bersinar muram
Berharap datangnya hujan,
untuk menghapus rasa gelisah yang tertinggal
Di persimpangan aku bertanya
“Apakah yakin dan suara hati bisa dibeli?”
“Apakah canda tawa akan terhapus dan terpupus
secara nyata?”
“Lalu apakah kita akan mati hanya karena
nurani?”
Dalam perjalanan aku tersadar
Rintik hujan adalah awal kehidupan
Mimpi-mimpi yang dijemur telah terpakai
kembali
Bersiap menantang narasi hidup ini
Di lain waktu, di lain hari
Jika saja luka itu telah terobati
Apakah tapakan bayangmu bisa mencuri senja
untuk sekali lagi?
P.S: “Against the Grain” dari City
and Colour menemani merampungkan tulisan tak penting ini.
No comments:
Post a Comment